kekuatannya menyebabkan dia bisa mengendalikan boneka tapi semakin sering ia menggunakannya ia pun mulai di Kendalikan oleh kekuatan sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Gema Masa Lalu dan Jeda yang Teruji
Bertahun-tahun berlalu sejak pertemuan besar di Aethelgard yang menyelesaikan konflik filosofis tentang Benang Asal. Kaelen, putra Ryo, kini telah mengambil alih tahta, memerintah dengan kebijaksanaan dan kepekaan yang diwarisinya dari kedua orang tuanya. Lyraea, sang putri, memimpin Ordo Penjaga Benang, menyebarkan ajaran tentang kehendak bebas dan keindahan anyaman kehidupan ke seluruh dunia. Ryo dan Lyra, meski masih aktif sebagai penasihat senior dan penjaga keseimbangan tertinggi, kini lebih banyak menghabiskan waktu di sebuah pertapaan di pegunungan, mengamati anyaman global dengan ketenangan seorang Dalang yang telah menemukan kedamaiannya.
Namun, bahkan di era yang paling damai sekalipun, masa lalu memiliki cara untuk kembali beresonansi. Suatu siang, saat Ryo tengah bermeditasi, ia merasakan sebuah getaran aneh dalam anyaman eterik. Bukan distorsi atau kehampaan baru, melainkan sebuah gema. Gema yang sangat tua, sangat familiar, dan sangat mengganggu.
Ia memproyeksikan kesadarannya lebih dalam, mengikuti gema itu. Itu berasal dari bagian paling terpencil di pegunungan timur, dekat dengan lokasi Mulut Jurang yang telah ia ikat, dan Lembah Distorsi Kresna. Benang itu terasa seperti sebuah benang yang dulunya sangat kuat, namun kini putus, terlupakan, dan baru sekarang mulai berdenyut lagi.
"Ada apa, suamiku?" Lyra bertanya, merasakan perubahan dalam aura Ryo.
"Aku merasakan sebuah kebangkitan," Ryo menjawab, matanya masih terpejam. "Sebuah benang yang dulunya terputus... kini mencoba merajut dirinya kembali. Sebuah benang... dari Elara."
Lyra terkesiap. Nama itu, meskipun telah menjadi pengingat yang damai dan sumber kekuatan bagi Ryo selama bertahun-tahun, masih membawa getaran kesedihan yang samar. Boneka Elara, yang selalu bersama Ryo, kini memancarkan cahaya yang sedikit lebih kuat, seolah merespon gema tersebut.
"Elara? Tapi... bagaimana mungkin?" Lyra bertanya, hatinya berdebar. Ingatan akan peristiwa tragis yang membentuk Ryo dan seluruh Aethelgard itu masih sangat jelas.
Ryo membuka matanya, menatap Lyra. "Aku tidak tahu. Benang itu tidak utuh. Ia seperti fragmen. Sebuah bagian dari jiwanya yang entah bagaimana... bertahan. Dan kini, dengan Benang Asal yang aktif, mungkin ada sebuah jalur."
Kaelen dan Lyraea segera dipanggil ke pertapaan. Mereka mendengarkan penjelasan Ryo dengan saksama. Kaelen, dengan pemahamannya tentang benang eterik, merasakan kompleksitas situasi. Lyraea, dengan empatinya, merasakan harapan dan bahaya yang bercampur aduk.
"Ayah," Kaelen bertanya. "Jika itu benar-benar fragmen dari jiwa Elara, apakah itu berarti... kita bisa membawanya kembali?"
Ryo menatap boneka itu, dan kemudian ke wajah anak-anaknya yang penuh harap. "Aku tidak tahu, Kaelen. Benang jiwa sangat rapuh. Mencoba merajut fragmen bisa berbahaya. Itu bisa menghancurkan apa yang tersisa, atau menciptakan sesuatu yang... tidak diinginkan."
Lyraea maju. "Tapi, jika ada kesempatan, betapapun kecilnya, untuk mengembalikan seseorang yang Ayah sangat cintai, bukankah kita harus mencobanya? Bukankah itu esensi dari Ordo Penjaga Benang? Untuk menghormati setiap jiwa?"
Pertanyaan Lyraea menusuk ke dalam inti filosofi Ryo. Ia telah menghabiskan hidupnya mengajarkan tentang kehendak bebas dan nilai setiap benang. Jika ada kesempatan untuk merajut kembali benang yang terputus, apakah ia tidak memiliki kewajiban untuk mencobanya, bahkan jika itu adalah benang dari masa lalunya sendiri?
"Ada sebuah lokasi," Ryo bergumam, memproyeksikan kesadarannya ke arah gema tersebut. "Sebuah reruntuhan kuno di dekat lembah Mulut Jurang. Sebuah kuil yang dulunya didedikasikan untuk 'Benang-Benang Takdir'. Mungkin ada energi atau artefak di sana yang dapat membantu."
Keputusan itu sulit, penuh risiko. Tetapi Ryo, dengan dukungan Lyra, dan semangat anak-anaknya, memutuskan untuk menyelidiki. Ini bukan lagi pertempuran untuk Aethelgard, atau bahkan alam semesta. Ini adalah perjalanan yang sangat pribadi, sebuah upaya untuk merajut kembali sebuah benang yang terputus dalam anyaman hatinya sendiri.
Mereka membentuk tim ekspedisi kecil: Ryo, Lyra, Kaelen, dan Lyraea. Bersama mereka ada beberapa anggota Ordo Penjaga Benang yang paling terpercaya, yang menguasai teknik penyembuhan dan perlindungan eterik. Ini adalah misi yang berbeda dari yang pernah mereka hadapi. Tidak ada musuh yang jelas, hanya misteri dan janji yang menyakitkan.
Perjalanan ke reruntuhan kuno itu membawa Ryo kembali ke masa lalunya. Setiap langkah mengingatkannya pada pahitnya pengasingan, pada bayang-bayang Kekosongan, dan pada tempat-tempat di mana ia pertama kali menemukan kekuatannya. Ryo merasakan benang-benang ingatannya sendiri berdenyut, teranyam dengan benang-benang harapan dan ketakutan akan apa yang akan mereka temukan.
Sesampainya di reruntuhan, mereka menemukan sebuah kuil batu yang sebagian besar terkubur, dengan ukiran kuno yang menceritakan tentang siklus kehidupan, kematian, dan reinkarnasi. Di tengah kuil, ada sebuah altar batu yang memancarkan cahaya eterik yang sangat samar, namun memiliki resonansi yang sama dengan gema yang Ryo rasakan dari Elara.
"Ini adalah tempatnya," Ryo berbisik, mendekati altar. "Energi di sini... bisa menjadi katalis."
Ia meletakkan boneka Elara di atas altar. Cahaya dari boneka itu menjadi lebih terang, berdenyut selaras dengan altar. Ryo merasakan fragmen jiwa Elara, seperti pecahan cermin, yang kini mulai bergetar, mencoba menyatukan diri.
Ini adalah saat yang menegangkan. Ryo, Lyra, dan anak-anak mereka berdiri di ambang keajaiban yang tak terduga, dan risiko yang sama besarnya. Mampukah Ryo merajut kembali benang yang terputus ini? Mampukah ia membawa kembali Elara, bukan sebagai ingatan yang menyakitkan, melainkan sebagai sebuah kehadiran yang utuh, setelah bertahun-tahun? Ini adalah ujian pamungkas bagi seorang Dalang Jiwa, seorang Raja, seorang suami, dan seorang ayah.