NovelToon NovelToon
Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Duda / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2: Roti Coklat dan Luka Lama

Matahari Jakarta pagi hari adalah monster yang berbeda. Ia tidak hangat. Ia terik. Membakar.

Aira berjalan cepat di trotoar kawasan SCBD. Tas besar berisi pattern dan contoh kain tersampir di bahu. Ia memakai sneakers putih—satu-satunya sepatu yang ia punya untuk berjalan jauh. Rok span hitam dan kemeja putih lengan panjang. Sederhana. Tapi cukup.

Butik tempatnya bekerja bernama "Gadis Kinarya". Butik desainer terkenal di lantai dasar sebuah gedung perkantoran. Tepat pukul setengah delapan, Aira sudah sampai. Membuka pintu kaca. Menyalakan lampu. Menghidupkan AC. Menyiapkan mesin jahit untuk order hari itu.

"Pagiiii..."

Maya, asistennya, masuk dengan nasi bungkus dan kopi.

"Ini sarapan. Mba Aira pasti belum makan."

Aira tertawa. "Maya ini kayak induk ayam."

"Iya, iya. Eh, Mba. Ada klien baru. Request banget. Mau bikin baju untuk anaknya. Ultah. Katanya anaknya susah banget diajak ketemu orang. Jadi minta kita yang jahit datang ke rumah."

Aira mengangkat alis. "Ke rumah?"

"Iya. Di apartemen mewah. Pakai embel-embel 'The' segala gitu. Lupa namanya. Ini alamatnya."

Maya menyerahkan secarik kertas. Aira membaca. Namanya: Raka Pramana. Alamatnya: The Rosewood Residence, Tower Emerald. Penthouse.

"Maya aja yang pergi?"

"Mba! Aku enggak berani. Orang kaya gitu. Salah-salah. Lagipula, Mba Aira yang lebih ngerti ukuran dan model. Aku nganterin aja. Nanti Mba yang ngomong."

Aira menghela nafas. "Oke. Sore ini?"

"Iya. Jam empat."

Aira tak tahu. Sore itu, takdir sedang mengatur pertemuan.

---

Jam empat sore. Aira dan Maya berdiri di lobby apartemen mewah. Wangi. Mewah. AC dingin sekali sampai Maya menggigil. Security memeriksa identitas mereka teliti.

"Pak Raka bilang, silakan naik. Lantai 29."

Lift melaju cepat. Maya mencengkeram lengan Aira.

"Mba, aku deg-degan."

"Aku juga."

Pintu lift terbuka. Hanya satu unit di lantai ini. Pintu besar berwarna hitam doff dengan ukiran kayu. Seorang asisten rumah tangga—berseragam rapi—sudah menunggu.

"Selamat sore, Nona Aira? Mari, silakan. Pak Raka masih meeting sebentar. Tapi Arka—maksudnya Tuan Kecil—ada di ruang bermain."

Aira dan Maya masuk. Apartemen itu luas. Mewah. Tapi dingin. Seperti museum. Semuanya rapi. Semuanya mahal. Tapi tak ada nyawa. Tak ada foto keluarga di dinding. Tak ada mainan berserak. Hanya kesunyian yang dihias perabotan impor.

"Nona, silakan tunggu di ruang tamu. Saya panggilkan Arka."

Aira duduk di sofa kulit berwarna krem. Maya di sebelahnya. Mereka diam. Hanya suara air mancur kecil di sudut ruangan yang terdengar.

Beberapa menit kemudian, langkah kecil terdengar.

Seorang anak laki-laki muncul. Memakai baju tidur bergambar robot. Rambutnya agak panjang. Menutupi dahi. Matanya—matanya itu—sangat dalam. Tapi kosong. Seperti danau yang tak pernah disentuh angin.

"Ini Arka," kata asisten rumah tangga.

Aira berdiri. Berjongkok. Menyamakan tinggi dengan Arka.

"Halo, Arka. Namaku Aira. Panggil saja Aira."

Arka diam. Menatap Aira. Lama. Sangat lama. Maya di belakang mulai gelisah. Tapi Aira tenang. Ia tersenyum.

"Mau duduk? Kita lihat gambar baju yang mau dibuat?"

Arka tak menjawab. Tapi matanya beralih ke tas besar Aira. Ke kain-kain yang sedikit menyembul.

"Itu apa?"

Suaranya kecil. Hampir berbisik.

"Ini contoh kain. Mau lihat?"

Arka mengangguk pelan. Aira membuka tasnya. Mengeluarkan beberapa potong kain. Warna-warni. Arka mendekat. Jari kecilnya menyentuh kain flanel berwarna biru.

"Ini lembut."

"Iya. Itu flanel. Biasanya buat baju hangat."

Arka diam lagi. Lalu tiba-tiba ia bertanya, "Kamu mau jadi mama aku?"

Maya tersedak ludah. Asisten rumah tangga yang sedang menyiapkan minuman, berhenti. Aira membeku.

"Ibu aku pergi. Waktu aku tiga tahun. Bapak bilang Ibu sibuk. Tapi Bibi—pengasuhku—bilang Ibu punya suami baru. Kamu mau jadi mama aku?"

Pertanyaan itu. Pertanyaan yang terlalu berat untuk anak sekecil itu.

Aira menarik nafas. Matanya mulai berkaca-kaca. Tapi ia tahan.

"Arka, aku belum kenal Arka. Arka juga belum kenal aku. Tapi—" Aira meraih tangan kecil itu, "—aku bisa jadi teman Arka. Teman yang baik. Mau?"

Arka memiringkan kepala. Mempertimbangkan.

"Teman yang enggak pergi?"

"Teman yang enggak pergi," janji Aira.

Dan untuk pertama kalinya, Arka tersenyum. Senyum kecil. Tapi cukup untuk menghangatkan ruangan seluas 300 meter persegi itu.

Di ambang pintu, sesosok pria berdiri diam. Menyaksikan percakapan itu. Menyaksikan bagaimana seorang wanita asing bisa membuat anaknya tersenyum—sesuatu yang tak pernah ia lihat dalam setahun terakhir.

Raka tak tahu harus berkata apa.

---

1
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Pena Biru: terimakasih tapi yang ini sudah tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!