Oskar Biru Arkais sorang pemuda yang berusaha mencari arti cinta Sejati,
Dan Si Mahira Elona Luis si Gadis Tomboy yang Tak Pernah Percaya akan Adanya cinta Sejati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
"Ada rasa yang bekerja tanpa suara seperti cahaya yang menempel di dinding tak meminta diperhatikan namun setia menjaga ruangan tetap hidup"
CERITA DI BALIK KEYAKINAN
Lampu bohlam yang sedikit redup menerangi ruang tamu rumah sederhana Elona. Udara sejuk malam hari masuk melalui celah jendela yang sedikit terbuka, menyertai suara kipas angin kuno yang berputar pelan. Nenek Elona duduk di kursi kayu tua yang selalu menjadi tempatnya setiap malam, mata terpaku pada layar TV yang sedang menayangkan sinetron kesayangannya – “Beri Cinta Waktu”
“Lihat dong Elona, Trian lagi mencari Adila yang diculik ia bahkan mengejarnya menggunakan motor!” ujar nenek dengan suara penuh semangat, tangan yang keriput menunjuk ke layar TV. “Sudah sepuluh tahun dia menunggu, tapi dia tidak pernah menyerah mencari cinta mereka!”
Elona yang baru saja selesai membersihkan dapur masuk dengan gelas teh hangat di tangan. Dia duduk di lantai dekat kaki neneknya, menyandarkan punggung pada sofa kecil yang sudah lapuk. “Iya Nenek, sudah banyak kali aku melihat adegan ini. Kamu selalu nangis setiap kali sampai bagian ini kan?”
Nenek hanya tersenyum dan mengusap mata yang mulai berkaca-kaca. “Aku suka melihat cerita cinta yang seperti ini sayang. Membuktikan bahwa cinta sejati memang ada dan bisa menunggu selama apapun.”
Elona menggelengkan kepala dengan lembut sambil menyendok teh hangatnya. “Cinta sejati memang ada di sinetron saja Nenek. Di dunia nyata, cinta itu hanya akan menyakitkan orang yang mempercayainya.”
Nenek menoleh ke arah cucunya dengan ekspresi yang penuh kasih sayang dan sedikit kesedihan. Dia mengambil tangan Elona dan memeluknya dengan lembut. “Kau masih tidak bisa melupakan masa lalu , sayang?”
Elona terdiam sejenak sebelum mulai berbicara dengan suara yang tenang tapi penuh beban. “Bagaimana aku bisa melupakannya Nenek? Aku masih ingat saat aku baru berusia sepuluh tahun, melihat ayahku datang pulang dengan wanita lain di malam hari. Aku melihat bagaimana ibuku menangis diam-diam di kamar, mencoba untuk tidak membuatku tahu tentang masalah mereka.”
Dia menghela napas panjang, mata mulai berkaca-kaca namun dia berusaha untuk tidak menangis. “Setelah mereka bercerai, ibuku sakit parah karena hati yang terluka. Dia selalu mengatakan bahwa dia tidak menyesal mencintai ayahku, tapi aku melihat bagaimana sakitnya itu membuatnya lemah setiap hari. Sampai akhirnya dia tidak bisa lagi bertahan dan pergi meninggalkanku.”
Nenek mengelus punggung Elona dengan lembut, mata juga sudah mulai berkaca-kaca mendengar cerita yang sudah tidak tahu berapa kali dia dengar tapi tetap menyakitkan setiap kali diingat. “Aku tahu betul bagaimana rasanya kehilangan orang tersayang sayang,” ujar nenek dengan suara yang sedikit bergetar. “Aku juga pernah merasakan sakit hati yang dalam ketika kakekmu pergi meninggalkanku untuk wanita lain.”
Elona melihat ke arah neneknya dengan mata yang penuh rasa ingin tahu. Ini adalah pertama kalinya neneknya berbicara tentang masa lalunya dengan terbuka.
“Nenek juga pernah merasakan hal yang sama ya Nenek?” tanya Elona dengan suara lembut.
Nenek mengangguk perlahan. “Ya sayang. Saat itu aku juga berpikir bahwa cinta itu hanya sebuah kebohongan yang dibuat untuk menyakiti orang. Aku bahkan berpikir bahwa aku tidak akan pernah bisa mencintai lagi atau mempercayai seorang pria.”
“Tapi mengapa kamu masih bisa percaya pada cinta sejati seperti yang ada di sinetron Nenek?” tanya Elona dengan rasa penasaran yang besar.
“Karena aku menyadari bahwa bukan cinta itu yang salah,” ujar nenek dengan suara yang lebih tegas. “Yang salah adalah orang yang tidak menghargai cinta yang diberikan padanya. Kakekmu tidak bisa menjaga cinta yang kita miliki, tapi itu tidak berarti bahwa cinta itu tidak nyata.”
Dia menarik Elona lebih dekat dan melihat ke dalam mata cucunya dengan penuh harapan. “Kau melihat bagaimana aku merawatmu dengan sepenuh hati selama ini kan? Itu juga bentuk cinta sayang. Cinta tidak selalu tentang hubungan asmara sayang. Ada cinta keluarga, cinta persahabatan, dan banyak bentuk cinta lain yang bisa membuat hidup kita lebih indah.”
Elona terdiam sejenak merenungkan kata-kata neneknya. Di layar TV, sinetron masih terus berjalan – adegan di mana Trian akhirnya bertemu kembali dengan Adila setelah sepuluh tahun lamanya. Suara musik romantis memenuhi ruangan, sementara neneknya kembali fokus menonton dengan mata yang penuh harapan.
“Aku tahu kamu mencoba melindungi dirimu sendiri dengan tidak percaya pada cinta,” ujar nenek tanpa melihat dari layar TV. “Tapi jangan biarkan rasa sakit masa lalu menghalangi kamu untuk merasakan kebahagiaan yang sebenarnya layak kamu dapatkan. Siapa tahu saja, mungkin saja ada seseorang yang akan datang dan membuktikan padamu bahwa cinta sejati memang ada di dunia nyata juga.”
Elona mengangguk perlahan, meskipun di dalam hatinya dia masih merasa ragu. Dia melihat foto kecil ibunya yang ditempelkan di dinding dekat TV – wajah ibunya yang tersenyum lembut seolah-olah sedang mengatakan bahwa dia selalu ada di sisinya.
“Terima kasih Nenek,” ujar Elona dengan suara lembut. “Aku akan coba untuk memahaminya. Tapi sekarang, mari kita lanjutkan menonton saja ya. Biar aku bisa tahu apakah Trian dan Adila akhirnya bisa bersama atau tidak.”
Nenek hanya tersenyum dan memberikan pelukan hangat pada cucunya. Kedua wanita itu kemudian duduk bersama, menyaksikan kisah cinta di layar TV yang sedang berlangsung, sementara di hati Elona mulai muncul benih-benih keraguan terhadap keyakinannya yang telah dia pegang erat selama bertahun-tahun lamanya.
Di sudut hatinya yang paling dalam, dia tidak bisa tidak berpikir tentang Biru – sosok ketua OSIS yang dingin namun sering menunjukkan sisi baik hatinya padanya. Mungkin saja neneknya benar, mungkin saja cinta tidak selalu seperti yang dia alami dari orang tuanya. Namun untuk saat ini, dia masih belum siap untuk membukakan hati sepenuhny