⚠️Novel ini hanya karya fiksi semata ⚠️
Kesuciannya direnggut secara paksa oleh pria tak di kenal dalam semak-semak sepulang sekolah.
Dirinya yang ketahuan berbadan dua tak di terima dalam lapisan masyarakat, hingga ia berhenti sekolah dan di usir dari kampung halamannya.
Kedua orang tuanya yang hanya buruh lepas pemetik teh, terpaksa menikahkannya dengan sang tuan tanah yang telah memiliki istri namun tak punya keturunan.
“Aku hanya mau anak mu, setelah kau melahirkan kau akan ku ceraikan.” ucap Arash sang tuan tanah pengendali masyarakat setempat.
Bagaimana kisah hidup Ruby Maryam selanjutnya?
Akankah ia bahagia? Atau justru menderita?
Instagram : @saya_muchu
Ikuti terus alur novel Pelakor Tak Berdosa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reski Muchu Kissky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana
“Urus sisanya pak Raja, aku tak mau mereka ada di tempat ku. Dan kalau kau masih ingin menjabat sebagai payroll di kantor ku, cari pengganti mereka secepatnya, ku beri kau waktu 2 hari paling lama untuk membereskan segalanya.” Arash yang akan kembali ke mobilnya di cegat oleh Dahlan dengan berdiri di hadapan sang tuan besar.
“Terimakasih tuan, saya akan membawa keluarga saya untuk pergi dari desa ini, tapi bisakah tuan membatu saya lagi?” Dahlan yang segan dan takut pada Arash bicara tanpa melihat wajahnya.
“Tolong, beli sebidang tanah saya yang tak luas tuan, karena uangnya akan kami gunakan untuk modal menyambung hidup di tempat lain, dulu aku membelinya sebesar 10 juta, untuk tuan, hiks... asal tuan mau membelinya, ku jual 8 juta saja.”
Dahlan yang kurang pengetahuan tak tahu jika tambah tahun, harga tanah akan semakin mahal.
Arash yang mendengar tawaran dari Dahlan pun bersedia membelinya, karena uang 8 juta bagai 10.000 untuknya.
“Baik, nanti sore aku akan datang untuk melihat tanah mu bersama pak Raja,” ucap Arash.
“Terimaksih banyak tuan, terimakasih tuan.” setelah itu Dahlan menuju putrinya dengan hati-hati, sebab ia takut di pukul ramai-ramai oleh warga.
Arash yang melihat Dahlan membuka bajunya yang lusuh untuk menutupi tubuh putrinya pun merasa iba.
Ia yang memakai mantel berjalan menuju Dahlan dan Ruby.
“Ini.” Arash membuka mantel bulu bermerek nya.
Mendapat batuan dari sang tuan besar, Dahlan mengucapkan terimakasih seraya menitihkan air matanya.
Marisa sang ibu sambung menerima mantel lembut dan mahal itu.
Selanjutnya ia membantu Ruby untuk memakainya.
Setelah lekuk tubuh gadis malang itu tertutup sempurna, Marisa membantu putrinya untuk berdiri.
Ruby yang terus mengeluarkan air mata tanpa suara tak mau melihat wajah tuan tanah yang telah menyelamatkan nyawanya.
Arash mengerti, kalau Ruby malu, hanya saja, hatinya sedikit gusar saat melihat wajah Ruby yang biru, serta kedua lututnya yang berdarah.
Astaga, untung aku cepat datang, kalau tidak anak ini bisa mati tadi, batin Arash.
“Terimaksih banyak tuan,” ucap Marisa.
Kemudian ia pun membantu putrinya yang berjalan dengan cara menjinjit menuju rumah mereka.
Setalah keluarga malang itu pergi jauh, Arash pun masuk ke dalam mobilnya.
Sang warga yang masih di hadapan rumah kepala desa mulai protes.
“Apa kami bilang, membiarkannya disini akan membawa sial! Lihat sekarang, kita semua di pecat, ya Allah!” Siti berteriak, ia yang kini pengangguran bingung harus mencari kerja kemana.
“Ini bukan salah ku, andai kalian mau mendengarkan, pasti semua takkan jadi begini.” Raja yang mementingkan karirnya, tak mau menolong orang lain saat itu.
🏵️
Ruby dan kedua orang tuanya yang telah berada di dalam rumah, hanya diam satu sama lain.
Marisa yang biasa bawel juga tak memberi komentar seputar yang mereka alami tadi.
Kemudian Dahlan yang berduka memeluk istrinya, “Maaf, kau harus menghadapi semua ini.”
“Sudahlah, lupakan, lagi pula semua telah terjadi, yang penting sekarang, kita susun barang-barang kita, sebelum tuan Arash datang,” ujar Marisa.
Ruby yang ingin membantu pun bangkit dari duduknya.
“Diam saja disitu, kau tak perlu kemana-mana.” Marisa tak mau, terjadi sesuatu pada Ruby yang terluka.
Bukan karena sayang, ia hanya menghindari yang namanya repot.
Ruby yang merasa bersalah tak berani beranjak dari tempatnya karena tak ada yang memerlukan bantuannya.
Saat ibu dan ayahnya sibuk mengemas barang yang tak seberapa, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
Ruby yang duduk di depan pintu pun langsung menoleh.
“Ayu, Ida??” Ruby merasa senang saat melihat kedua sahabatnya datang menjenguknya.
Baik Ida mau pun Ayo tersentak melihat keadaan sahabat mereka.
“Ruby!! Apa yang terjadi?” Ayu masuk ke dalam rumah dan memeluk Ruby, begitu pula dengan Ida.
“Ruby, siapa yang melakukannya??” Ida meniup lutut sahabatnya yang terluka.
“Warga Da, Yu... hiks...” Ruby menangis sesungukan.
Saat mereka masih dalam berduka, Marisa datang.
“Apa orang tua kalian tak melarang kalian bergaul dengan Ruby??” Marisa yang sensitif merasa semua orang adalah penjahat.
“Tidak tante,” jawab Ida.
Kemudian Ayu dan Ida melihat Dahlan yang keluar membawa barang-barang dalam karung goni.
“Orang tante mau kemana?” tanya Ida.
“Entah kemana, kami juga masih bingung, karena belum ada tempat yang akan di tuju.” terang Marisa.
Ida sendiri tak tahu harus menyuruh keluarga sahabatnya kemana, sebab mereka yang tinggal di daerah terpencil sangat mudah mengenal satu sama lain.
Pasti infomasi kehamilan Ruby telah menyebar dengan cepat.
Tentunya takkan ada yang mengizinkan mereka untuk di daerah itu lagi.
“Paling cari tempat tinggal di luar kabupaten tan,” ujar Ayu.
“Tapi kalian tahu sendirikan, angkot hanya ada 2 kali seminggu untuk ke terminal,” ungkap Dahlan.
“Bahkan nanti malam, kami bingung harus tidur dimana. Menetap disini, kami takut di bakar saat tidur,” Marisa memijat kepalanya yang ingin meledak.
🏵️
Arash yang sudah sampai di dalam villa yang ada di tengah perkebunan teh menemui istrinya yang sedang memotret kawasan perkebunan mereka dari balkon lantai dua.
“Bunga, ada yang ingin ku katakan pada mu.” Arash berdiri tepat di sebelah istrinya.
“Mau bilang apa mas?” tanya Bunga seraya menoleh ke arah suaminya.
“Kau pernah bilang, akan mengadopsi anak kan?” Arash mengingatkan sang istri akan percakapan mereka 1 bulan yang lalu.
“Iya, lalu?”
“Aku setuju.”
“Setuju bagaimana mas?” tanya Bunga kembali.
“Salah satu anak karyawan kita hamil di luar nikah, tadi dia hampir mati di hajar warga, ku lihat mereka adalah orang kurang mampu, bahkan ku pikir sangat miskin, ku rasa mereka takkan mampu membesarkan anak itu dengan baik, bagaimana kalua kita beli bayi yang ada dalam kandungan wanita itu? Jujur saja, aku kasihan pada wanita itu,” terang Arash.
“Kasihan bagaimana mas?”
“Sepertinya dia masih anak-anak, pasti sulit untuknya membesarkan bayinya nanti,”ucap Arash.
“Memangnya pacarnya tak mau bertanggung jawab mas??” tanya bunga lebih lanjut.
“Dia di perkosa, bukan main dengan pacarnya Bunga. Dari pada mengadopsi anak yang sudah besar, lebih baik yang masih bayi, dan aku ingin anak yang ia kandung.” permintaan Arash sangat sulit untuk Bunga tolak.
Sebab, dirinya sendiri tak mampu memberi suaminya keturunan.
“Ku harap kau setuju, 10 tahun bukan waktu yang singkat, kau mengertikan maksud ku?” Arash bertekad ingin membeli anak Ruby.
Meski Bunga keberatan, namun ia sendiri tak bisa mengemukakan pendapatnya karena kekurangannya.
“Baiklah, kalau itu mau mu mas, tapi aku ada 1 syarat.” Bunga meminta satu hal pada suaminya.
“Apa itu?” tanya Arash.
“Tak ada pernikahan di antara kalian.” Bunga mengajukan demikian, karena ia takut, dirinya yang tak bisa mengandung, akan di tinggalkan oleh suaminya.
“Maaf, soal itu aku belum memutuskannya, aku memberitahu mu, karena menurut ku itu perlu, bukan berarti aku butuh restu mu untuk melakukan apapun.” Arash yang dingin selalu berhasil membuat Bunga mati kutu.
Namun kali ini berbeda, suami terkasihnya seolah ingin membunuhnya secara perlahan.
...Bersambung......