Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.
Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.
"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."
Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Cahaya di Ujung Labirin
"Aku mempercayaimu, Harry. Selalu," bisik Kayra di tengah isak tangisnya yang tertahan.
Suaranya gemetar, namun matanya menatap Harry dengan intensitas yang seolah menyerahkan seluruh hidup dan harapannya ke dalam tangan pria itu.
Harry mengangguk kecil, sebuah gerakan yang penuh dengan tekad. Ia melepaskan rangkulannya di bahu Kayra, lalu melangkah satu langkah ke depan, tepat di hadapan kamera pengawas yang menjadi mata Aris di ruangan itu.
Ia menurunkan senjatanya, bukan sebagai tanda menyerah, melainkan sebagai bagian dari strategi yang hanya ia dan Enzo yang pahami.
"Dengarkan aku, Aris," suara Harry menggema dingin, memantul di dinding marmer laboratorium yang steril. "Kau menginginkan formula penstabil dari Sofia Marcello? Kau akan mendapatkannya. Tapi bukan lewat data digital yang bisa kau salin dengan mudah.”
“Kayra adalah satu-satunya yang memegang algoritma finalnya di kepalanya. Buka pintu kaca itu, biarkan dia menstabilkan kondisi ayahnya, dan kau akan mendapatkan apa yang kau mau."
Tawa kering Aris terdengar melalui interkom. "Kau pikir aku bodoh, Harry? Begitu pintu itu terbuka, kau akan merangsek masuk dan menghancurkan segalanya. Aku lebih suka Kayra memasukkan kode enkripsinya dari terminal luar. Lakukan sekarang, atau aku akan menurunkan kadar oksigen Thomas menjadi nol dalam tiga detik."
"Tunggu!" teriak Kayra. Ia berlari ke terminal komputer di samping dinding kaca. Jemarinya menari di atas kibor dengan kecepatan yang luar biasa. "Aku sedang memasukkan kodenya. Lihat? Protokol Lumen in Tenebris sedang aktif.”
“Tapi sistem ini membutuhkan sinkronisasi dengan detak jantung subjek agar stabil. Aku harus berada di dalam untuk menyuntikkan katalisnya secara manual, Aris! Jika tidak, data ini akan mengunci diri secara permanen dan menghancurkan seluruh risetmu!"
Keheningan menyelimuti ruangan selama beberapa detik yang terasa mencekam. Aris tampak sedang menimbang risiko. Kayra benar-benar mempertaruhkan pengetahuannya sebagai alat tawar-menawar.
"Baiklah," suara Aris akhirnya terdengar, sedikit ragu namun keserakahan telah mengaburkan logikanya. "Pintu akan terbuka. Hanya Kayra yang masuk. Harry, jika kau melangkah satu senti saja mendekat, semuanya berakhir."
Suara desis udara terdengar saat segel pintu kaca antipeluru itu terbuka. Kayra menatap Harry sejenak, sebuah tatapan yang penuh pesan tersembunyi.
Harry hanya mengangguk tipis, tangannya diam-diam meraba saku belakangnya, menyentuh sebuah perangkat kecil yang tadi diberikan Enzo di helikopter.
Kayra melangkah masuk ke dalam ruang isolasi. Begitu ia berada di samping ranjang ayahnya, aroma antiseptik dan cairan kimia yang kuat menyerbu indra penciumannya. Ia melihat sosok yang dulu sangat ia puja, pria yang mengajarinya tentang cinta dan sains, kini tampak seperti mumi yang terjerat kabel.
"Ayah …," bisik Kayra lembut, tangannya menyentuh punggung tangan Thomas yang dingin dan kering. Air mata jatuh ke atas kulit ayahnya.
Tiba-tiba, mata Thomas terbuka sedikit. Sangat lemah, namun ada kilat pengenalan di sana. Bibirnya bergerak tanpa suara, mengucapkan satu kata: Lari.
Kayra menggeleng kecil. Ia tidak akan lari lagi. Dengan sigap, ia mengeluarkan botol kecil berisi cairan bening dari tas medisnya, bukan serum Genesis, melainkan cairan penawar yang sudah ia sempurnakan di Villa de Nebbia. Ia menyuntikkannya ke dalam jalur infus ayahnya.
Di luar, Harry melihat monitor sistem mulai berkedip merah. "Enzo, sekarang!" desisnya melalui earpiece.
Detik itu juga, ledakan kecil terjadi di server pusat laboratorium. Seluruh lampu di ruangan itu padam, berganti dengan lampu darurat berwarna merah yang berputar. Harry langsung merjang masuk ke dalam ruang isolasi, menarik Kayra dan ayahnya dari ranjang.
"Apa yang terjadi?!" raung Aris melalui sistem cadangan yang terputus-putus.
"Aku meretas sistem cadanganmu sejak awal, Aris! Sofia tidak hanya meninggalkan formula, dia meninggalkan pintu belakang pada sistem oksigen fasilitas ini!" jawab Harry sambil memanggul tubuh Thomas yang ringan di bahunya.
Mereka berlari keluar dari ruang isolasi tepat saat gas pemadam api mulai memenuhi laboratorium. Enzo dan timnya muncul dari lorong samping, melepaskan tembakan ke arah robot-robot keamanan yang mulai aktif.
"Kita harus segera ke lift! Sektor Nol akan meledak dalam tiga menit!" teriak Enzo.
Harry berlari secepat yang ia bisa, meski luka di perutnya mulai berdenyut hebat. Darah kembali merembes di kemejanya, tapi ia tidak peduli. Ia melihat Kayra di sampingnya, berlari sambil memegangi tas medisnya, matanya terus tertuju pada sosok ayahnya yang berada di pundak Harry.
Mereka berhasil mencapai lift barang tepat saat dinding-dinding laboratorium mulai berguncang akibat ledakan berantai di tangki-tangki kimia. Di dalam lift yang bergerak naik dengan cepat, Harry meletakkan Thomas di lantai. Kayra langsung berlutut, memeriksa denyut nadi ayahnya.
"Dia stabil, Harry. Dia hidup!" tangis Kayra pecah, kali ini adalah tangisan lega yang luar biasa.
Harry menyandarkan punggungnya di dinding lift, wajahnya pucat pasi namun senyum kemenangan tersungging di bibirnya. Ia meraih tangan Kayra, menggenggamnya erat di tengah guncangan lift yang hebat.
"Aku sudah bilang, kan?" bisik Harry serak. "Aku akan membawanya pulang bersamamu."
Begitu pintu lift terbuka di permukaan, mereka disambut oleh angin dingin dan helikopter stealth yang sudah mendarat darurat di antara puing-pabrik. Sektor Nol di bawah mereka meledak dengan dahsyat, menciptakan lubang besar yang menelan seluruh dosa Aris dan Luca selama dua puluh tahun terakhir.
Di dalam helikopter yang mulai terbang menjauh dari kobaran api, Kayra menyandarkan kepalanya di bahu Harry. Ia menatap ayahnya yang sedang diberikan bantuan oksigen oleh tim medis Marcello, lalu menatap pria di sampingnya, pria yang telah mempertaruhkan segalanya demi dirinya.
"Harry," panggil Kayra pelan, jemarinya mengusap darah di pipi Harry.
"Ya, Sayang?"
"Setelah semua ini benar-benar berakhir ... apa kau masih ingin melihat matahari terbit denganku besok pagi?"
Harry menatap Kayra dengan sorot mata yang paling lembut yang pernah Kayra lihat. Ia menarik Kayra ke dalam pelukannya, mengecup keningnya lama sekali.
"Bukan hanya besok pagi, Kayra. Tapi setiap pagi di sisa hidupku. Apakah kau keberatan hidup selamanya dengan monster yang sudah kau jinakkan ini?"
Harry menatap Kayra lebih dalam, seolah ingin menyesap setiap gurat wajah wanita itu ke dalam ingatannya. Ia meraih tangan Kayra yang tadi mengusap pipinya, lalu mengecup telapak tangan itu dengan takzim, lama dan penuh perasaan.
"Sebenarnya, aku yang seharusnya bertanya," bisik Harry, suaranya kini sehalus sutra, kontras dengan deru mesin helikopter di sekeliling mereka. "Apakah kau keberatan menghabiskan sisa hidupmu dengan pria yang baru menyadari bahwa dunianya tidak lagi berputar pada kekuasaan, melainkan pada setiap helaan napasmu?"
Harry menyelipkan anak rambut Kayra ke belakang telinga, membiarkan jemarinya diam di sana sejenak. "Dulu aku berpikir rumah adalah tempat untuk bersembunyi. Tapi sekarang aku sadar, rumah adalah ketika aku melihat matamu dan merasa tidak perlu lagi memegang senjata. Kau bukan hanya menjinakkan monster ini, Kayra ... kau memberinya jiwa kembali."
Kayra merasa hatinya membuncah, rasa haru menyergap hingga ia sulit berkata-kata. Ia mengeratkan pelukannya pada pinggang Harry, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu yang berdegup dengan irama yang tenang namun pasti.
"Kalau begitu," Kayra mendongak, matanya berbinar meski masih basah oleh sisa air mata. “Bersiaplah, Tuan Marcello. Karena dokter ini tidak akan membiarkanmu pergi ke mana pun tanpa pengawasannya. Aku akan menjagamu seumur hidupku."
Harry tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar sangat bahagia di tengah kehancuran Sektor Nol di bawah mereka. Ia merengkuh Kayra lebih erat, seolah ingin menyatukan detak jantung mereka selamanya.
"Itu adalah vonis paling indah yang pernah kudengar," gumam Harry sebelum menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang manis, sebuah segel bagi masa depan yang baru saja mereka menangkan bersama.