Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Elia
Selesai makan malam bersama, Elia, Dave, dan Sarah berkumpul di halaman depan sambil menikmati kudapan manis buatan Sarah. Cuaca malam itu terasa begitu indah; langit cerah bertabur bintang, sementara angin sepoi-sepoi berhembus lembut, menambah suasana hangat dan menenangkan.
Kondisi tersebut membuat halaman rumah terasa semakin nyaman, sangat cocok untuk bersantai sejenak, berbincang ringan, dan menikmati kebersamaan di bawah dinginnya malam yang menenangkan.
Tak lama kemudian, Lisa datang menghampiri mereka dengan membawa sebuah nampan.
“Tuan, Nyonya. Ini kudapan manis,” ujar Lisa sopan sambil menata beberapa cup puding di atas meja.
Elia tampak terkejut sekaligus senang. “Wah, Lisa. Kau yang membuatnya?” tanyanya sambil tersenyum.
Lisa menggeleng pelan. “Bukan, Nyonya. Ini buatan Nyonya Sarah,” terangnya.
"Ya ampun, Mom. Aku jadi tidak enak. Seharusnya aku yang menyuguhkan hidangan untukmu, bukan sebaliknya,” ucap Elia dengan nada sungkan.
Sarah mengusap lembut rambut Elia, senyumnya penuh kehangatan. “Mom kan sudah bilang, Sayang. Ini tidak merepotkan sama sekali. Lagipula, Mom juga tidak sering ke sini,” ungkapnya lembut.
Elia memeluk Sarah dengan hangat, seakan tengah memeluk ibunya sendiri. Sedangkan Dave hanya memerhatikan sambil tersenyum. Meski ia sendiri merasa berada dalam kecanggungan hatinya.
Untuk mengisi suasana kumpul keluarga, Sarah mulai menceritakan masa-masa Dave saat masih kecil hingga beranjak dewasa.
“Dulu suamimu ini sangat cengeng,” katanya sambil menunjuk ke arah Dave. “Ia pernah menangis histeris hanya karena saat bangun tidur Mom tidak ada di sampingnya. Padahal waktu itu Mom hanya pergi ke dapur sebentar untuk menyiapkan sarapannya.”
Seketika suasana menjadi lebih hangat, tawa pun pecah di antara mereka, menghapus jarak dan membuat kebersamaan malam itu terasa semakin akrab.
“Itu karena aku takut kehilanganmu, Mom,” ungkap Dave pelan. “Apalagi saat Dad baru saja pergi untuk selama-lamanya,” lanjutnya.
Sarah menghela napas panjang, kedua matanya tampak berkaca-kaca. “Ya, Mom mengerti. Mungkin sekarang Daddy-mu sedang memperhatikan kita dari atas sana,” ucapnya lirih.
Elia segera mendekap Sarah lebih erat, mencoba menyalurkan kehangatan dan ketenangan. “Oh iya, bagaimana kalau kita pindah ke ruang keluarga saja? Kita bernyanyi,” ajaknya lembut, berusaha mengalihkan suasana.
Sarah mengerjap sesaat, lalu senyum antusias perlahan terbit di wajahnya. “Menyanyi? Wah, ide bagus. Aku ingin menyanyikan lagu kesukaanku saat masih muda,” katanya bersemangat.
“Ayo, kalau begitu kita masuk,” sahut Dave.
Sesampainya di ruang keluarga, Elia menyalakan televisi, pemutar lagu, serta menyiapkan dua buah mikrofon. Ia membuka aplikasi musik dan video, lalu mulai mencari lagu yang cocok untuk dinyanyikan bersama, membuat suasana rumah kembali dipenuhi tawa dan kehangatan.
Sarah terbatuk-batuk kecil saat mencoba mengikuti nada lagu yang cukup tinggi. Meski begitu, ia tetap berusaha menyelesaikannya hingga tuntas. Tepuk tangan kecil langsung terdengar dari Elia dan Dave.
“Wah, suara Mom bagus juga,” puji Elia tulus.
Sarah tersenyum bangga. “Kau tahu, Sayang. Dulu Mom pernah ikut kompetisi bernyanyi waktu masih gadis. Ya, meski tidak lolos,” ungkapnya jujur.
Elia dan Dave tertawa pelan mendengarnya. Sarah lalu meletakkan mikrofon di atas meja. “Lanjutkan dulu ya, Sayang. Mom mau ke toilet sebentar,” katanya.
“Mau nyanyi?” tanya Elia pada Dave.
Dave menggeleng cepat. “Aku tidak bisa nyanyi.”
“Ya sudah, kalau begitu aku saja,” ujar Elia sambil meraih remote dan mencari lagu berikutnya.
Tak lama kemudian, terpilihlah sebuah lagu berjudul My Everything yang dibawakan oleh penyanyi berbakat Ariana Grande. Elia mulai menyanyikannya, suaranya lembut dan penuh penghayatan, sesekali matanya melirik ke arah Dave.
Lagu itu bercerita tentang penyesalan tentang kesadaran yang datang terlambat akan betapa berharganya seseorang setelah ia pergi. Lirik-liriknya menjadi pengakuan batin, bahwa cinta tidak sepenuhnya dihargai hingga kehilangan itu terasa begitu menyakitkan.
Elia membawakan lagu tersebut dengan suara yang merdu dan emosional. Dave terdiam, tak menyangka istrinya menguasai begitu banyak hal yang tak pernah ia perhatikan sebelumnya. Ia memahami makna di balik setiap lirik yang dinyanyikan Elia. Hatinya terasa seperti pintu yang diketuk keras. ia mendengarnya, merasakannya, namun masih enggan untuk membukanya.
Suara lagu pun berhenti, menandakan Elia telah menyanyikannya hingga tuntas. Sarah dan Lisa yang sejak tadi memerhatikan dari kejauhan langsung bertepuk tangan.
“Aku tidak menyangka kalau kau punya suara sebagus itu, Sayang,” puji Sarah dengan wajah penuh kekaguman.
“Benar sekali, Nyonya. Saya sampai merinding mendengarnya,” timpal Lisa tulus.
Elia hanya tersenyum manis, pipinya sedikit merona. Ia menunduk sejenak, merasa canggung menerima pujian, sementara suasana ruang keluarga terasa hangat dan penuh apresiasi.
Klub malam itu semakin dipenuhi manusia. Dentuman musik kian menggila, lampu-lampu warna-warni berkelap-kelip mengikuti irama, membuat suasana terasa riuh dan panas. Erik masih asyik merayu Bianca, meski wanita itu menanggapinya dengan sikap biasa saja—tidak menolak, namun juga tak sepenuhnya terbawa suasana.
“Oh iya, Nona. Sejak tadi kita belum berkenalan, kan?” tanya Erik sambil tersenyum percaya diri. Mereka berjoget ringan sambil mengangkat gelas, seolah lupa bahwa nama pun belum saling diketahui.
“Aku Erik,” katanya seraya mengulurkan tangan.
“Aku Bianca,” jawab wanita itu singkat sambil menjabat tangannya.
“Aku Clara,” sahut gadis di sampingnya, ikut tersenyum.
Setelah saling mengenalkan diri, ketiganya tampak semakin akrab. Tawa kecil sesekali terdengar di sela musik yang menghentak.
Di sisi lain, James melirik jam di pergelangan tangannya. Jarum sudah menunjuk pukul dua belas malam. Wajahnya langsung mengeras. Mereka tidak boleh terlalu larut. Besok pagi mereka harus datang ke rumah sakit untuk praktik.
James mengangkat lengannya, memanggil salah satu pelayan yang berjaga di area itu. “Aku minta bill-nya,” pintanya singkat. Pelayan itu mengangguk dan segera berlalu.
“Bagaimana dengan Erik?” tanya Albert sambil menoleh ke arah lantai dansa. “Dia kelihatan betah dengan dua gadis itu.”
“Panggil dia kemari,” sahut James sambil memijat keningnya. “Kepalaku sudah terasa pening.”
Tak lama kemudian, pelayan tadi kembali dengan membawa bill dan mesin EDC. James mengeluarkan kartu dari dompetnya, lalu menempelkannya ke mesin. Bunyi singkat terdengar, menandakan pembayaran berhasil. Struk pun keluar.
“Ini, Tuan. Terima kasih,” ujar pelayan itu sopan sebelum berlalu.
James menghela napas pelan, lalu menatap Albert. “Sekarang tinggal satu masalah,” katanya sambil melirik ke arah Erik yang masih tertawa lepas. “Bagaimana caranya menarik dia pulang tanpa drama.”
James berdiri, berusaha menguatkan tubuhnya. Meski rasa pening sudah menjalar ke kepala, ia masih mampu mengendalikannya. Dengan langkah yang sedikit goyah, ia berjalan mendekati Erik yang tengah asyik mengobrol di tengah riuhnya musik.
“Erik!” serunya agak keras karena harus melawan dentuman suara. Erik tak menghiraukan. James pun menepuk bahu temannya itu.
Erik mendecak kesal. “Ada apa, sih? Kau ini mengganggu kesenanganku saja.”
“Sudah jam dua belas malam. Ayo pulang,” kata James sambil menarik lengan Erik.
“Kau tidak lihat aku sedang bersama dua gadis cantik?” sahut Erik seraya melirik Bianca dan Clara.
“Hei, kenalkan, ini temanku James,” lanjutnya santai.
Kedua wanita itu pun menjabat tangan James. Terutama Clara yang tampak sangat antusias saat melihat wajah tampan pria itu, bahkan menahan senyum lebih lama dari seharusnya.
“Ayo, Erik. Kita pulang sekarang,” paksa James, nadanya mulai tegas.
“Aku tidak mau!” Erik tetap bersikeras bertahan.
James menoleh ke arah Albert yang sejak tadi memerhatikan dari kejauhan. Ia melambaikan tangan, memberi kode agar temannya itu mendekat.
Dengan wajah malas, Albert akhirnya bangkit dari duduknya dan menghampiri mereka. Saat Albert berdiri di hadapan mereka, Bianca menatapnya lekat-lekat.
'Pria ini yang paling tampan di antara mereka berdua". gumam Bianca dalam hati.
“Erik, ayo kita pulang,” ajak Albert dengan suara datar.
Bianca segera mengambil alih suasana. Ia melangkah mendekat ke arah Albert. “Kalian buru-buru sekali. Ini masih sore,” katanya sambil tersenyum menggoda.
Albert hanya membalas dengan senyum tipis tanpa menanggapi.
“Oh iya, kenalkan. Aku Bianca,” ujar wanita itu dengan penuh kesadaran, mengulurkan tangan.
“Aku Albert,” jawabnya singkat sambil menjabat tangan Bianca.
Bianca menangkap arah pandang Clara yang tertuju pada James. Sebuah senyum tipis terbit di bibirnya. Ia pun membungkuk sedikit, membisikkan sesuatu ke telinga Clara. Clara menoleh sekilas ke arah James, lalu mengangguk paham.
“Oke,” ucap Clara singkat.
Tanpa memberi banyak kesempatan, Bianca menarik lengan Albert, sementara Clara menarik lengan James. Kedua pria itu sempat meronta kecil, terkejut dengan gerakan tiba-tiba tersebut.
“Hei,tunggu-” protes James setengah tertawa, kepalanya masih terasa berat.
“Sudah, ikut saja,” sela Clara sambil menariknya ke lantai dansa.
Albert pun tak kalah terkejut. “Bianca, kita benar-benar mau pulang” ucapnya, namun kata-katanya terpotong oleh dentuman musik dan tarikan tangan Bianca yang cukup kuat.
Tak butuh waktu lama, James dan Albert sudah terseret ke tengah keramaian. Lampu-lampu klub berpendar liar, musik semakin menghentak, dan keduanya pun akhirnya ikut bergerak, meski dengan ekspresi setengah pasrah.
Sementara itu, Erik hanya berdiri terpaku, menatap pemandangan di depannya dengan mata membelalak.
“Hei!” serunya sambil mengangkat kedua tangan.
“Kalian benar-benar melupakanku begitu saja?!”
Tak ada yang menggubris. Yang terdengar hanya tawa Bianca dan Clara yang larut dalam musik, meninggalkan Erik sendirian.
James dan Albert tampak semakin risih dengan sikap kedua wanita itu yang mulai terlalu berani. Gerakan mereka kaku, senyum yang terbit pun lebih terasa sebagai basa-basi daripada kenikmatan.
Tiba-tiba, Bianca dengan lancang mendekat dan mencium bibir Albert secara sekilas. Albert terkejut, tubuhnya refleks menegang. Ia segera memalingkan wajah, ekspresinya jelas menunjukkan ketidaknyamanan.
“Bianca—” ucapnya tertahan, suaranya tenggelam oleh dentuman musik.
Di saat yang hampir bersamaan, Clara sengaja merebahkan kepalanya di dada James, seolah mencari sandaran. James sontak menarik napas dalam, kedua alisnya berkerut. Tangannya terangkat sedikit, ragu antara mendorong atau menjaga jarak tanpa mempermalukan.
“Cukup,” katanya tegas namun tertahan, mencoba menyingkirkan tubuh Clara secara halus. “Ini tidak nyaman.”
Sementara itu, kediaman Dave kembali diliputi kesunyian. Sarah telah masuk ke kamar yang disediakan untuknya dan beristirahat. Di kamar lain, Elia masih terjaga, bergelut dengan layar laptopnya. Jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik, menyusun sebuah campaign dengan ide-ide kreatif yang terus mengalir di kepalanya.
Dave yang sejak tadi berusaha memejamkan mata justru terbangun. Kelopak matanya terasa berat, namun pikirannya enggan mengantarnya ke pulau mimpi. Ia menoleh sekilas dan melihat cahaya redup dari arah meja kerja Elia.
“Kau sedang apa?” tanya Dave pelan, memperhatikan Elia yang tampak serius menatap layar, earphone terpasang di kedua telinganya. Elia sengaja mengenakannya agar suara video yang ia putar tidak mengganggu Dave.
Tak ada jawaban. Elia sama sekali tidak mendengar. Dave pun menyingkap selimutnya dan bangkit dari tempat tidur, melangkah mendekat ke arah meja.
Kedua mata Dave membulat saat melihat layar laptop Elia. Deretan kalimat dalam bahasa Inggris dan Prancis terpampang jelas, disertai sebuah logo merek ternama yang dikenal luas di dunia.
“Kau sungguh mampu mengerjakan ini?” tanyanya, nada suaranya terdengar campuran antara kaget dan ragu.
Elia akhirnya menyadari keberadaan Dave. Ia melepas salah satu earphone. “Ada apa?” tanyanya, karena suara Dave sebelumnya hanya terdengar samar.
“Kau sungguh mampu mengerjakan ini?” ulang Dave, kali ini lebih jelas.
Elia mengangguk mantap. “Tentu saja, Sayang—” ucapnya refleks, lalu seketika tersadar. Ia cepat membenahi ucapannya. “Eh, maksudku, tentu saja aku bisa melakukannya. Lihat,” lanjutnya sambil menunjuk layar laptop, “mereka bahkan memuji pekerjaanku.”
Dave mendekat sedikit, menatap layar dengan kening mengerut. Ia melihat komentar dan kalimat asing yang tak sepenuhnya ia pahami. Bahasa Prancis itu terasa seperti kode rahasia baginya.
“Apa isinya?” tanya Dave akhirnya.
Elia tersenyum tipis. “Mereka bilang konsepku kuat dan relevan dengan citra brand. Mereka ingin lanjut ke tahap berikutnya.”
Dave terdiam sejenak. Ada sesuatu yang bergerak pelan di dadanya. Antara kagum, heran, dan perasaan asing yang sulit ia definisikan. Untuk pertama kalinya malam itu, rasa kantuknya benar-benar lenyap.
Melihat itu, Dave kembali teringat pada penjualan kosmetiknya yang terus menurun. Angka-angka laporan seolah berputar di kepalanya. Mungkin aku harus belajar dari Elia, batinnya. Atau… meminta bantuannya saja?
Namun pikiran itu segera ia bantah sendiri. "Tidak, nanti Elia pasti meminta sesuatu dariku".
Jika hanya berlian atau barang-barang mahal lainnya, Dave masih sanggup memenuhinya. Tapi jika permintaannya mengarah ke hal yang lebih intim? Ia menghela napas pelan. "Bagaimana kalau itu yang ia inginkan".
Dave menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Kebingungan jelas terlihat di wajahnya. Di sisi lain, ia sadar betul—jika terus diam dan tidak melakukan apa-apa, penjualan kosmetiknya akan semakin anjlok dan perusahaan bisa benar-benar mengalami penurunan.
“Eh… seberapa besar sebenarnya pengaruhmu saat bergabung dengan mereka?” tanya Dave akhirnya, berusaha terdengar santai meski rasa ingin tahunya tak bisa disembunyikan.
Elia memindahkan tampilan ke halaman lain. Ia memutar layar laptop sedikit ke arah Dave, memperlihatkan sebuah daftar peringkat para pembuat campaign. Nama Elia tercantum jelas di sana berhasil menduduki peringkat ketiga.
Dave terdiam sejenak. “Waw, itu luar biasa!” Pujian itu meluncur begitu saja dari mulutnya, spontan tanpa sempat ia saring.
Elia tersenyum senang, rona tipis muncul di wajahnya.
Baru menyadari ucapannya sendiri, Dave refleks menutup mulutnya lalu memalingkan wajah ke arah lain. Dadanya terasa sedikit berdesir. Ia baru saja memuji Elia bukan sekadar basa-basi, melainkan kekaguman yang jujur, yang muncul begitu saja dari dalam hatinya.
“Eh… jika aku meminta bantuanmu untuk perusahaanku, apakah kau berkenan?” tanya Dave akhirnya. Nadanya terdengar hati-hati. “Tenang saja, gajimu akan berbeda dari yang lain.” Ia berharap Elia akan menyepakati soal bayaran. Sesuatu yang jelas dan aman baginya.
Elia mengubah posisi duduk, kini sepenuhnya menghadap Dave. Tatapannya tenang, namun tegas. “Kita ini suami istri. Tidak boleh ada hitung-hitungan di antara kita,” ujarnya pelan.
Dave tersenyum tipis, ada kelegaan yang menyelinap. “Jadi… dengan kata lain kau mau membantuku di perusahaan?”
Elia mengangguk pelan. “Memang ada apa dengan perusahaanmu?” tanyanya.
Dave pun mulai menjelaskan masalah yang tengah dihadapinya. Penjualan yang menurun, strategi pemasaran yang stagnan, dan tekanan dari para pemegang saham. Elia menyimak setiap kata, tak memotong, menimbang-nimbang dalam diam sebelum memberi jawaban.
“Baiklah,” kata Elia akhirnya. “Aku akan membantumu di perusahaan. Tapi dengan satu syarat.”
“Apa?” tanya Dave spontan.
“Jika penjualan kosmetikmu kembali naik, kau harus selalu memakan bekal yang ku buat,” pinta Elia.
Sederhana, nyaris terdengar seperti gurauan.
Dave menghela napas lega dan terkekeh kecil. “Baiklah. Hanya itu saja,mudah.”
“Kata siapa?” Elia menimpali. “Ada satu lagi.”
Senyum Dave mengendur. “Apa lagi?”
Elia menarik napas, suaranya tertahan sesaat. “Aku—” ucapannya terjeda. Lalu dengan keberanian yang ia kumpulkan, ia melanjutkan, “Aku ingin kau menjadikanku istrimu seutuhnya.”
Tubuh Dave meremang. Tebakannya benar. Bukan uang, bukan perhiasan mahal. Melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam, lebih bermakna, dan lebih menakutkan baginya.
Dave tak menjawab. Ia bangkit, kembali ke tempat tidurnya, memunggungi Elia. Ia memejamkan mata, berusaha tidur, namun kata-kata Elia terus bergaung di kepalanya. Mengetuk-ngetuk kesadarannya, menolak untuk diabaikan.
Dave karakter sangat kuat sdngkn istri melohoyyy apa dia bias marah
kalau bisa Weh luar biasa lain ini Thor
kenal mama Reni ga
uhhh istri sah dapat Otong sisa 🤭
semoga berbeda ini cerita