"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: GARIS YANG TIDAK TERLIHAT
Ruang interogasi itu sempit dan terlalu terang.
Lampu putih menggantung tepat di atas kepala pria yang duduk dengan tangan diborgol. Helm hitam yang tadi ia pakai kini tergeletak di meja besi, retak di bagian samping akibat benturan.
Namanya Raka.
Minimal itu yang tertulis di KTP yang ditemukan di dompetnya.
Arlan berdiri di balik kaca satu arah.
Diam.
Tidak menyela.
Tidak bertanya.
Ia hanya mengamati.
Pria itu bukan profesional kelas atas. Gerak tubuhnya menunjukkan kegelisahan. Keringatnya berlebihan. Tatapannya terlalu sering menghindar.
Berarti benar — dia hanya eksekutor.
“Siapa yang menyuruhmu?” tanya penyidik dengan suara datar.
Raka terdiam.
“Kalau kau pikir orang yang membayarmu akan menyelamatkanmu, kau salah.”
Tidak ada jawaban.
Arlan menatap lebih tajam.
Ia tidak butuh pria itu mengaku di ruangan ini.
Ia hanya butuh waktu.
Karena orang yang menyuruhnya pasti panik sekarang.
Dan orang panik… membuat kesalahan.
Ponselnya bergetar.
Pesan masuk.
Berhenti sebelum semuanya jadi tidak terkendali.
Nomor tidak dikenal.
Arlan tersenyum tipis.
Akhirnya.
Ia tidak membalas.
Ia mematikan layar.
“Lanjutkan,” katanya pada kepala keamanan yang berdiri di sampingnya.
“Tekan dia lewat jalur finansial. Lacak aliran dana. Jangan sentuh terlalu keras dulu.”
Ia tidak ingin Mahendra merasa terpojok terlalu cepat.
Permainan belum selesai.
Sementara itu, di lantai dua puluh tiga, Aira duduk sendirian di ruangannya.
Ia tidak pulang malam itu.
Setelah kejadian basement, Arlan memaksanya tetap di kantor sampai situasi aman.
Ia menolak diantar.
Menolak dibawa pulang.
Menolak ditahan.
Namun ia tetap di sana.
Bukan karena takut.
Tapi karena ia sadar — ini belum selesai.
Tangannya masih sedikit gemetar saat mengingat sorot lampu motor yang menyilaukan.
Dan pelukan itu.
Refleks.
Kuat.
Seolah Arlan tidak peduli siapa yang melihat.
Aira menutup matanya sejenak.
Itu tidak membantu.
Karena justru membuat detailnya semakin jelas.
Ia berdiri dan berjalan ke jendela.
Hujan belum berhenti.
Jakarta terlihat redup di bawah cahaya lampu jalan.
Ia mengeluarkan ponsel.
Tidak ada pesan pribadi.
Tidak ada pertanyaan.
Hanya jadwal kerja esok hari yang sudah ia atur dengan rapi.
Tiga puluh hari.
Sekarang tinggal dua puluh tujuh.
Ia tidak akan mundur.
Pagi berikutnya, suasana kantor terasa berbeda.
Pengamanan diperketat.
Beberapa staf berbisik ketika melihat tambahan petugas di lobi.
Berita tentang insiden itu belum bocor ke media.
Arlan memastikan itu.
Namun ketegangan tetap terasa.
Aira berjalan melewati lorong dengan kepala tegak.
Ia tidak ingin terlihat sebagai korban.
Ia tidak ingin dikasihani.
Ketika ia masuk ke ruang kerja utama untuk menyerahkan laporan harian, Arlan sudah berdiri menghadap jendela.
Ia tidak langsung berbalik.
“Pelakunya bicara?” tanya Aira tenang.
“Belum.”
“Dia tidak bekerja sendiri.”
“Tidak.”
Jawaban singkat.
Udara di antara mereka terasa padat.
Aira meletakkan dokumen di meja.
“Kita perlu audit internal.”
Arlan menoleh perlahan.
“Audit?”
“Akses basement. Sistem lampu. Jadwal keamanan. Terlalu kebetulan kalau listrik padam tepat saat saya turun.”
Ia tidak berkata “untuk menyerang saya.”
Tapi itu jelas.
Arlan menatapnya beberapa detik.
Itu bukan reaksi panik.
Itu analisis.
Dan untuk pertama kalinya sejak insiden, ia merasa sesuatu yang aneh—
Bangga.
“Kau pikir ada orang dalam?” tanyanya.
“Saya pikir tidak mungkin dua kejadian terjadi tanpa informasi jadwal.”
Itu masuk akal.
Dan masuk akal berarti berbahaya.
Arlan berjalan mendekat.
Berhenti tidak terlalu jauh.
“Kau tetap ingin pergi setelah semua ini?”
Aira tidak menghindari tatapannya.
“Justru karena ini.”
“Kalau kau keluar, mereka akan lebih mudah mendekatimu.”
“Saya tidak akan berada di bawah bayang-bayang perusahaan ini lagi.”
Kalimat itu terdengar lebih dalam dari yang seharusnya.
Arlan memahami maksudnya.
Selama ini, Aira selalu berada dalam lingkupnya.
Dalam kendalinya.
Dalam sistemnya.
Jika ia keluar, ia tidak lagi bisa mengatur perlindungan secara langsung.
Dan itu membuatnya tidak nyaman.
Namun ia tidak menunjukkan itu.
“Aku akan menggandakan pengawasan sampai hari terakhirmu.”
“Tidak perlu.”
“Itu bukan permintaan.”
Nada itu kembali.
CEO.
Dingin.
Tegas.
Aira menarik napas pelan.
“Kalau Anda ingin melindungi saya, lakukan dengan cara yang tidak membuat saya terlihat lemah.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari yang terlihat.
Ia tidak butuh perlindungan berlebihan.
Ia butuh dihargai.
Hening kembali turun.
Arlan akhirnya mengangguk pelan.
“Baik.”
Namun dalam pikirannya, satu garis mulai terlihat.
Jika ada pengkhianat internal, berarti perang sudah masuk ke dalam.
Dan jika itu benar—
Maka bukan hanya Aira yang dalam bahaya.
Tapi fondasi yang ia bangun selama ini.
Sore hari, laporan keuangan masuk ke mejanya.
Ada pergerakan saham minoritas yang aneh.
Kecil.
Tapi konsisten.
Seolah seseorang mengumpulkan potongan perlahan.
Strategi klasik.
Menggerogoti dari bawah.
Arlan menatap angka-angka itu dengan ekspresi yang tak berubah.
Namun di balik itu, ia tahu—
Mahendra tidak lagi bermain kotor secara langsung.
Ia bermain cerdas.
Dan jika Aira keluar dari perusahaan dalam kondisi seperti ini…
Ia akan berada di luar jangkauan proteksi.
Garis yang tidak terlihat itu kini semakin jelas.
Ini bukan lagi soal balas dendam.
Ini soal siapa yang lebih dulu kehilangan sesuatu yang berharga.
Dan Arlan mulai menyadari—
ia sudah terlalu jauh terlibat.
Arlan tidak pernah menyukai perasaan tidak tahu.
Dan sekarang, ada terlalu banyak variabel yang belum ia kuasai.
Ia kembali ke ruangannya setelah menerima laporan pergerakan saham itu. Tirai jendela masih setengah terbuka, cahaya sore menyusup masuk dalam garis-garis tipis.
Di meja kerjanya, layar monitor menampilkan grafik.
Naik.
Turun.
Lalu pembelian kecil.
Teratur.
Disiplin.
Bukan gerakan panik.
Bukan juga kebetulan.
“Satu titik lima persen dalam dua minggu,” gumamnya pelan.
Kecil.
Tapi jika terus dibiarkan…
Bisa menjadi sesuatu.
Ia menekan interkom.
“Panggil kepala legal dan tim audit internal. Sekarang.”
Di sisi lain gedung, Aira menerima email notifikasi audit internal yang baru saja diumumkan.
Subjeknya singkat: Protokol Evaluasi Keamanan dan Sistem Akses.
Ia tahu itu bukan kebetulan.
Ia menatap layar beberapa detik lebih lama.
Berarti Arlan mendengarkannya.
Bukan sebagai bawahan.
Tapi sebagai analis.
Perasaan itu aneh.
Menyenangkan.
Dan menyakitkan di saat bersamaan.
Karena semakin ia melihat sisi rasional pria itu, semakin sulit untuk menjaga jarak.
Ia menutup laptopnya perlahan.
Fokus.
Dua puluh tujuh hari lagi.
Jangan goyah sekarang.
Rapat audit berlangsung tertutup.
Arlan duduk di ujung meja panjang. Di sisi kanan, kepala keamanan. Di sisi kiri, kepala legal dan dua staf audit.
“Basement kehilangan daya selama sembilan belas detik,” jelas kepala keamanan.
“Backup tidak aktif?”
“Aktif, tapi ada delay. Seolah sistem di-reset manual.”
Ruangan hening.
“Manual?” ulang Arlan.
“Ya, Pak. Dari dalam.”
Kepala legal mengernyit.
“Itu berarti akses administratif digunakan.”
Arlan tidak bereaksi.
Tapi pikirannya bergerak cepat.
Akses administratif hanya dimiliki oleh tiga orang.
Dirinya.
Kepala keamanan.
Dan satu lagi—
Clarissa.
Ia tidak langsung menyebut nama itu.
Belum.
“Tinjau semua log akses. Jangan beri tahu siapa pun tentang temuan ini sampai saya perintahkan.”
Nada suaranya tenang.
Tapi siapa pun di ruangan itu tahu—tenang bukan berarti aman.
Sementara itu, Clarissa berdiri di pantry lantai dua puluh dua, mengaduk kopi dengan sendok kecil.
Wajahnya seperti biasa.
Tersenyum.
Ramah.
Namun matanya sedikit lebih waspada.
Ia melihat dua staf keamanan tambahan di dekat lift.
“Keamanan lagi diperketat ya?” tanyanya santai pada salah satu staf.
“Iya, Bu. Instruksi langsung dari Pak Arlan.”
Clarissa mengangguk.
Senyumnya tidak berubah.
Namun setelah ia berbalik, langkahnya sedikit lebih cepat.
Malamnya, Aira memeriksa kembali draft laporan terakhir yang harus ia selesaikan sebelum masa transisi.
Pintu ruangannya diketuk.
Ia mengira itu staf biasa.
Namun ketika ia mengangkat wajah—
Arlan berdiri di sana.
Tanpa sekretaris.
Tanpa pengumuman.
Hanya dia.
“Bisa bicara?”
Aira menutup laptopnya.
“Silakan.”
Ia masuk dan menutup pintu pelan.
Ruangan itu langsung terasa lebih kecil.
“Audit menunjukkan akses internal digunakan saat lampu padam.”
Aira terdiam beberapa detik.
“Jadi benar ada orang dalam.”
“Ya.”
Ia menatapnya.
“Kau sudah menduganya.”
“Saya hanya melihat pola.”
Hening.
Arlan melangkah lebih dekat, tapi tetap menjaga jarak profesional.
“Jika ternyata orang itu seseorang yang kau kenal, apa yang akan kau lakukan?”
Pertanyaan itu terdengar lebih dalam dari konteksnya.
Aira memahami maksudnya.
“Kalau dia bersalah, maka dia harus bertanggung jawab.”
“Tanpa pengecualian?”
“Tanpa pengecualian.”
Jawaban itu tegas.
Dan entah kenapa, Arlan merasa seolah kalimat itu juga bisa diarahkan padanya.
Seolah Aira sedang berkata: Jika kau pun bersalah suatu hari nanti… aku tidak akan membelamu tanpa alasan.
Itu membuat dadanya terasa berat.
“Ada hal yang belum pernah aku jelaskan padamu,” ucapnya tiba-tiba.
Aira menunggu.
Namun beberapa detik berlalu tanpa kelanjutan.
Arlan menahan diri.
Belum sekarang.
Belum waktunya membuka semuanya.
“Kau akan mendengarnya nanti,” katanya akhirnya.
Bukan penjelasan.
Hanya janji samar.
Dan Aira tidak menyukai janji yang tidak lengkap.
“Semoga tidak terlambat,” jawabnya pelan.
Kalimat itu menggantung di udara.
Arlan pergi tanpa menambahkan apa pun.
Di tempat lain, di dalam mobil hitam yang terparkir beberapa blok dari gedung itu, seorang pria menatap layar tablet dengan ekspresi santai.
Grafik saham yang sama terbuka di sana.
Ia tersenyum tipis.
“Mulai bergerak, ya…”
Mahendra bukan tipe yang tergesa.
Ia percaya pada tekanan perlahan.
Air yang menetes terus-menerus lebih efektif daripada satu hantaman besar.
Ponselnya bergetar.
Pesan masuk dari nomor anonim:
Audit internal dimulai.
Mahendra tidak terlihat terkejut.
Ia sudah memperhitungkan kemungkinan itu.
“Cepat sekali, Arlan,” gumamnya.
Ia membuka kontak lain.
Nama yang belum pernah ia hubungi langsung.
Aira Senja.
Ia tidak menekan tombol panggil.
Belum.
Permainan yang bagus selalu dimulai dengan timing yang tepat.
Dan menurutnya—
Waktu itu semakin dekat.
Malam turun sekali lagi.
Di dua tempat berbeda, dua orang memikirkan hal yang sama.
Arlan memikirkan bagaimana melindungi tanpa kehilangan kendali.
Aira memikirkan bagaimana pergi tanpa meninggalkan kebenaran.
Dan di antara mereka,
ada garis yang tidak terlihat—
yang perlahan ditarik oleh seseorang yang sabar.
sangat seru