Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.
Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.
Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.
Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3: Darah Pertama dan Hukum Rimba
Sepuluh hari telah berlalu sejak Li Wei menghilang ke dalam Hutan Kabut Hijau.
Hutan ini bukanlah tempat bagi manusia biasa. Pohon-pohonnya menjulang setinggi menara, dengan akar-akar yang menonjol keluar dari tanah seperti ular raksasa yang membatu. Kabut tipis yang tidak pernah hilang menyelimuti segalanya, membatasi pandangan hanya sejauh sepuluh tombak.
Di atas dahan pohon Kayu ulin yang kokoh, sesosok tubuh kurus sedang berjongkok, tak bergerak seperti patung.
Itu adalah Li Wei.
Penampilannya telah berubah drastis dalam sepuluh hari. Pakaiannya yang sudah compang-camping kini ditambal dengan kulit kayu dan dedaunan. Rambutnya kusut, dan tubuhnya dilumuri lumpur untuk menutupi bau manusia. Namun, perubahan terbesar ada pada matanya.
Mata itu bukan lagi mata seorang anak petani yang naif. Itu adalah mata seorang pemburu.
"Target mendekat," batin Li Wei.
Di bawah pohon, seekor Babi Hutan Berduri sedang mengendus tanah. Ini bukan babi hutan biasa. Ukurannya sebesar kerbau dewasa, dengan bulu-bulu kasar yang keras seperti jarum besi. Taringnya yang melengkung memancarkan kilau logam redup.
Ini adalah Binatang Spiritual Tingkat Rendah (Low-Rank Spirit Beast). Setara dengan kultivator Qi Condensation Lapis 1.
Perut Li Wei berbunyi pelan. Persediaan makanan dari rumahnya sudah habis dua hari lalu. Jika dia tidak membunuh makhluk ini, dia akan kelaparan. Lebih penting lagi, daging binatang spiritual mengandung Qi yang bisa mempercepat kultivasinya.
Li Wei menarik napas dalam-dalam, mengalirkan Qi tipis dari Dantian nya ke lengan kanannya.
Sutra Hati Dao Abadi – Langkah Angin.
Wusss!
Li Wei melompat turun dari dahan setinggi lima meter. Tidak ada rasa takut. Gravitasi menariknya ke bawah, dan dia menggunakan momentum itu untuk melancarkan serangan.
Babi Hutan Berduri itu tersentak kaget. Ia mendongak, matanya yang merah menyala melihat ancaman yang jatuh dari langit. Binatang itu menggeram dan bukannya lari, ia justru menyeruduk ke atas, mengarahkan taringnya ke perut Li Wei.
"Mati!"
Di udara, Li Wei memutar tubuhnya dengan kelincahan yang mustahil bagi manusia biasa. Ia menghindari taring itu hanya selisih beberapa inci.
Tangan kanannya, yang kini diselimuti cahaya putih samar, menghantam leher babi hutan itu.
KRAK!
Suara tulang patah terdengar renyah.
Babi hutan itu menjerit melengking, kakinya goyah. Hantamannya kuat, tapi kulit binatang itu sekeras besi. Serangan Li Wei hanya meretakkan tulangnya, tidak membunuhnya seketika.
Binatang itu mengamuk. Ia memutar tubuhnya dan menabrakkan sisi badannya ke arah Li Wei.
Bam!
Li Wei terpental, menabrak batang pohon. Rasa sakit menjalar di punggungnya, tapi kali ini tidak ada tulang yang patah. Tubuhnya yang telah ditempa oleh energi Giok jauh lebih tangguh dari sebelumnya.
"Kulitnya terlalu tebal," analisis Li Wei cepat, mengabaikan rasa sakit. "Serangan tumpul tidak efektif. Aku harus menyerang bagian lunak."
Babi hutan itu bersiap menyeruduk lagi, kaki depannya menggaruk tanah.
Li Wei tidak mundur. Ia justru merendahkan kuda-kudanya.
Saat babi hutan itu berlari menerjang bagai kereta perang, Li Wei diam. Sepuluh meter. Lima meter. Dua meter.
Sekarang!
Li Wei menjatuhkan dirinya ke tanah, meluncur di bawah perut babi hutan itu yang terbuka.
Ia mengalirkan sisa Qi terakhirnya ke jari telunjuk dan tengahnya, membentuk tusukan pedang.
"Jari Penembus Batu!"
Ia menusuk tepat ke titik lembut di bawah leher binatang itu, tempat jantungnya berdetak.
Crot!
Darah panas menyembur membasahi wajah Li Wei. Ia berguling menjauh tepat saat tubuh besar babi hutan itu ambruk, meluncur beberapa meter karena inersia, lalu berhenti bergerak. Kejang-kejang sebentar, lalu mati.
Hutan kembali sunyi.
Li Wei terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Tangannya gemetar bukan karena takut, tapi karena kelelahan Qi (Qi exhaustion). Dantian nya kosong total.
Ia menatap mayat binatang buas itu, lalu menatap tangannya yang berlumuran darah.
"Aku menang," bisiknya. "Aku yang memakanmu, bukan sebaliknya."
Ini adalah hukum rimba. Yang kuat memakan yang lemah. Li Wei memahami filosofi ini dengan cara yang brutal.
Ia tidak membuang waktu. Dengan pisau berkarat yang ia bawa dari reruntuhan desanya, ia mulai membedah babi hutan itu. Ia mengambil daging terbaik dan mencari sesuatu yang disebutkan dalam ingatan Giok: Inti Binatang (Beast Core).
Sayangnya, binatang tingkat rendah ini belum membentuk inti. Li Wei sedikit kecewa, tapi dagingnya saja sudah cukup berharga.
Ia memanggang daging itu di atas api kecil yang disembunyikan di dalam gua barunya. Saat ia memakan daging itu, sensasi hangat menyebar di perutnya. Qi dari daging binatang itu jauh lebih padat daripada Qi yang ia serap dari udara.
Malam itu, Li Wei bermeditasi. Energi dari daging babi hutan itu bergejolak, menabrak dinding pembatas di dalam tubuhnya.
Retak.
Sebuah suara halus terdengar di dalam jiwanya. Kabut Qi di Dantian nya menjadi sedikit lebih padat, ukurannya membesar dua kali lipat.
Li Wei membuka mata. Ada kilatan cahaya tajam di pupilnya.
"Qi Condensation Lapis Kedua."
Ia mengepalkan tangan. Kekuatannya meningkat lagi. Indranya semakin tajam. Dia bisa mendengar suara kepakan sayap burung hantu di kejauhan.
Namun, pendengaran tajamnya menangkap suara lain.
Bukan suara alam.
Suara langkah kaki. Cepat, terburu-buru, dan tersandung.
Lalu suara lain mengejarnya. Tawa kasar.
"Lari, Kelinci Kecil! Lari!"
Jantung Li Wei berdegup kencang. Suara tawa itu... ia mengenali nada arogansi itu. Itu adalah nada yang sama dengan bandit yang membantai orang tuanya.
Apakah mereka menemukannya?
Li Wei mematikan apinya dengan tanah. Ia bergerak keluar gua tanpa suara, menyatu dengan kegelapan malam. Ia merayap menuju sumber suara.
Di sebuah tanah lapang kecil di dekat sungai, Li Wei mengintip dari balik semak belukar.
Seorang gadis seusianya sedang terdesak. Pakaiannya sederhana, pakaian petani biasa berwarna biru pudar yang kini robek di beberapa tempat. Wajahnya cantik namun kotor oleh debu, dan ada tekad keras di matanya meskipun ia gemetar ketakutan.
Dia memegang sebuah sabit rumput di depannya sebagai senjata.
Di hadapannya, berdiri seorang pria dewasa. Dia mengenakan ikat kepala merah tanda khas Bandit Gunung Hitam.
"Jangan mendekat!" gadis itu berteriak. Suaranya jernih, dan anehnya, Li Wei merasakan getaran Qi lemah darinya.
Gadis ini juga seorang kultivator? Lapis Pertama?
"Oh, manis sekali," bandit itu menyeringai, memutar-mutar pisau belati di tangannya. "Bos kami sedang butuh pelayan baru untuk markas. Kau punya sedikit bakat kultivasi, harga jualmu pasti tinggi di pasar budak."
Bandit itu melangkah maju. Aura yang dipancarkannya berada di Qi Condensation Lapis 3. Jauh di atas gadis itu, dan satu tingkat di atas Li Wei.
Gadis itu mengayunkan sabitnya dengan panik. Bandit itu hanya menepisnya dengan mudah, lalu menendang perut gadis itu.
Buk!
Gadis itu terlempar ke tanah, mengerang kesakitan. Sabitnya terlepas.
"Sudah cukup main-mainnya," bandit itu membungkuk, tangannya menjulur untuk menjambak rambut gadis itu.
Di balik semak, Li Wei mencengkeram gagang pisau karatnya.
Logika berteriak padanya Jangan ikut campur. Musuh lebih kuat darimu. Lapis 3 melawan Lapis 2 adalah perbedaan besar. Kau akan mati konyol. Balas dendammu akan gagal.
Tapi kemudian, dia melihat mata gadis itu. Mata yang penuh ketakutan dan keputusasaan. Mata yang sama dengan ibunya sebelum pedang menembus punggungnya.
Hati Dao adalah Cermin Jiwa.
Jika dia lari sekarang, membiarkan tragedi yang sama terjadi di depan matanya, apakah dia masih manusia? Jika dia membuang kemanusiaannya demi kekuatan, apa bedanya dia dengan bandit itu?
"Persetan dengan logika," batin Li Wei.
Qi-nya bergejolak. Adrenalin membanjiri darahnya.
Saat bandit itu lengah, fokus sepenuhnya pada gadis di bawahnya, Li Wei melesat keluar dari kegelapan seperti macan tutul yang menyergap mangsa.
Pisau karatnya mengarah lurus ke leher bandit itu.
"MATI!"