Alya Maheswari, seorang gadis dewasa yang harus menelan pahitnya percintaan. bagaimana tidak, kedua orang yang ia percaya, Randa sang pacar dan Relia adik kesayangannya. Keduanya tega bermain api di belakang dirinya.
Hingga suatu malam datang, di saat kedua orang tua Randa datang ke rumahnya, gadis itu sudah merasa berbunga-bunga, karena pasti kedatangan mereka ingin memintanya baik-baik.
Tapi kenyataannya tidak seperti itu, kedua orang tua Randa membawa kabar tentang gadis yang di maksud yaitu Ralia, sang adik yang saat ini tengah mengandung benih kekasihnya itu.
Hati Alya hancur, lebih parahnya lagi keluarganya sendiri menyuruhnya untuk mengalah dan menerima takdir ini, tanpa memikirkan perasaannya.
Karena sakit hati yang mendalam Alya pun memutuskan untuk ikut program transmigrasi ke suatu desa terpencil tanpa memberi tahu ke siapapun.
Di desa yang sejuk dan asri itu, Alya belajar bercocok tanam, untuk mengubah takdirnya, dari wanita yang tersakiti menjadi wanita tangguh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Pagi itu, kota belum sepenuhnya bangun ketika Alya membuka mata. Cahaya matahari menembus tirai tipis kamar kosnya, jatuh tepat di wajahnya yang sedang tersenyum kecil. Hari ini harusnya menjadi hari yang ia tunggu-tunggu, hari yang ia dan Randa jadwalkan untuk fitting baju tunangan.
Ia bangkit, merapikan rambutnya, lalu mengecek pesan di ponsel. Tidak ada chat dari Randa. Alya tidak curiga. Akhir-akhir ini Randa memang sering telat membalas pesan, katanya sibuk di kantor.
Ia menatap kalender kecil di dinding, tanggal yang dilingkari spidol merah tampak jelas.
'Sebentar lagi kami menikah,' batinnya hangat.
Alya mengambil kotak kecil dari laci meja. Di dalamnya, tersusun rapi uang tunangan yang ia dan Randa kumpulkan selama bertahun-tahun. Sedikit demi sedikit, mereka tabung bersama. Setiap lembar punya cerita. Setiap rupiah punya harapan.
“Dikit lagi, ya,” gumamnya sambil menutup kotak itu hati-hati.
Tepat saat ia hendak berpakaian, ponselnya bergetar.
Randa:
Sayang, nanti kita ketemu siang ya. Aku ada urusan bentar.
Alya tersenyum.
“Biasa. Dia memang suka dadakan,” katanya sambil membuka lemari.
Ia memilih blouse putih yang Randa suka, lalu memoles wajahnya tipis-tipis. Cermin memantulkan sosok gadis yang terlihat bahagia, percaya diri, dan tidak tahu bahwa hari itu sebenarnya adalah hari terakhir ia merasakan ketenangan.
Siang harinya, Alya menunggu di sebuah kafe kecil dekat toko bridal. Jam sudah lewat empat puluh menit dari waktu yang dijanjikan. Randa belum datang. Pesan belum dibalas.
“Macet kali,” ucapnya menenangkan diri.
Ia memainkan sendok, mencoba mengalihkan rasa gelisah. Di sekelilingnya, orang-orang terlihat sibuk dengan percakapan masing-masing, sementara di kepalanya justru muncul pertanyaan-pertanyaan aneh yang ia buang cepat-cepat.
Ketika pintu kafe terbuka, Randa masuk sambil menunduk, wajahnya lelah. Alya tersenyum lega dan berdiri menyambut.
“Kamu kenapa? Lembur lagi?” tanya Alya.
Randa hanya tersenyum tipis. “Iya… maaf ya, aku telat.”
Alya tidak memperpanjang. Ia meraih tangannya. Hangat—tapi terasa berbeda. Datar.
Seakan ada jarak yang tidak ia mengerti sejak beberapa bulan terakhir.
Mereka pergi ke bridal, mencoba beberapa baju, berdiri berdampingan, bercermin bersama. Dari luar, mereka tampak seperti pasangan yang sebentar lagi menikah. Tapi dari dekat… Randa sering mengalihkan pandangan, seolah matanya menyimpan sesuatu.
“Kamu yakin? Kamu kelihatan capek banget,” kata Alya setelah fitting selesai.
Randa menggeleng cepat. “Nggak apa-apa. Kita lanjutin tabungan bulan ini, ya?”
Alya tersenyum. “Tentu. Lima tahun kita nabung, Ran. Dikit lagi kok.”
Lima tahun, iya? Lima tahun yang ia kira kokoh. Lima tahun yang ia kira tidak akan hancur dalam sekejap.
☘️☘️☘️☘️
Malamnya, Alya pulang ke rumah orang tuanya untuk mengantar beberapa dokumen. Rumah itu begitu hangat, bau masakan ibu, suara tawa ayah dari ruang TV. Tetapi ketika ia melewati kamar adiknya, Relia, ia mendengar suara isak pelan.
Alya berhenti.
“Rel? Kamu kenapa?”
Tidak ada jawaban. Hanya suara napas berat seperti orang menahan tangis.
Alya mengetuk pelan lagi. “Kalau butuh cerita, kakak di sini.”
Relia menjawab dari balik pintu dengan suara serak. “Aku… nggak apa-apa, Kak. Lagi pusing aja.”
Alya mengangguk, meski batinnya gelisah. Relia akhir-akhir ini memang sering terlihat murung, tapi ia tidak mau memaksa.
Ia tidak tahu, bahwa tangis itu adalah peringatan paling jelas akan badai yang siap merobek hidupnya esok hari.
Malam itu berakhir seperti biasa. Alya tidur dengan hati tenang, meyakini masa depannya sudah di depan mata. "Ya Allah semoga besok, hariku semakin indah," pintanya tanpa tahu dengan badai yang akan menerpa.
☘️☘️☘️☘️☘️
Keesokan paginya ia terbangun dengan tubuh yang begitu berat, ia tidak tahu kenapa tiba-tiba tubuhnya seperti merasa lelah seperti ini. Ia duduk di ruang tamu rumah orang tuanya dengan tangan saling menggenggam, berusaha menghangatkan diri meski udara tidak dingin. Ayahnya duduk di kursi seberang, wajahnya kaku. Ibunya mondar-mandir sejak tadi, seperti menunggu sesuatu yang enggan ia sambut.
“Kenapa semua kelihatan tegang?” tanya Alya akhirnya, memecah sunyi.
Ibunya berhenti melangkah. “Tunggu sebentar lagi. Ada yang mau dibicarakan.”
Jawaban itu membuat dada Alya mengencang. Belum sempat ia bertanya lebih jauh, suara ketukan terdengar di pintu. Tiga ketukan pelan, terlalu pelan untuk ukuran sebuah kunjungan biasa.
Ayah berdiri dan membukakan pintu. Randa masuk bersama orang tuanya.
Alya refleks berdiri. Senyumnya mengembang, meski hatinya bertanya-tanya. Ini bukan jadwal yang mereka bicarakan. Tidak ada janji. Tidak ada kabar sebelumnya.
“Ran?” Alya mendekat. “Kok nggak bilang mau ke sini?”
Randa tidak menatapnya. Kepalanya tertunduk, tangannya mengepal di sisi tubuh. Ibunya Randa duduk dengan wajah serius, sementara ayahnya langsung mengambil tasbih dan memutarnya pelan.
“Alya, duduk dulu,” suara ayah terdengar berat.
Nada itu membuat lutut Alya melemah. Ia duduk kembali, pandangannya beralih dari satu wajah ke wajah lain, mencari petunjuk. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan hangat. Bahkan Relia tidak terlihat di mana pun.
“Relia ke mana?” tanya Alya.
Ibunya menghela napas panjang, lalu berkata lirih, “Panggil adikmu ke sini.”
Beberapa menit kemudian, Relia keluar dari kamarnya. Wajahnya pucat, matanya sembab, dan langkahnya ragu. Saat melihat Randa, bahunya bergetar.
Alya berdiri lagi. Kali ini jantungnya berdegup tidak karuan.
“Ini kenapa sih?” suaranya mulai meninggi. “Kalian bikin aku takut.”
Ibunya mendekat, menggenggam tangan Alya erat, terlalu erat.
“Alya… dengarkan baik-baik.” Kalimat itu menjadi palu pertama yang memecah dunia Alya.
“Relia… hamil.”
Alya membeku. Kata itu bergema di kepalanya seperti gema di ruangan kosong.
"Hamil?" Ia menoleh ke adiknya. Relia menunduk, air mata jatuh satu per satu.
“Hamil siapa?” tanya Alya perlahan, suaranya nyaris tak terdengar.
Tidak ada yang menjawab. Hingga Randa berdiri. “Alya…” suaranya parau. “Maafin aku.”
Dunia Alya runtuh, orang yang ia anggap akan menjadi pelindung kini malah mengakui suatu hal yang tak pernah Alya inginkan sama sekali.
“Kamu… jangan bercanda,” ucap Alya sambil tertawa kecil, tawa yang bahkan tidak terdengar seperti miliknya sendiri. “Ini nggak lucu, Ran.”
Randa menggeleng. Matanya merah. “Aku yang salah. Aku khilaf.”
"Khilaf." Satu kata yang menghancurkan lima tahun kebersamaan mereka.
Alya melangkah mundur, menabrak kursi hingga hampir jatuh. Ibunya buru-buru memegang bahunya.
“Anaknya… anak Randa,” kata ibunya akhirnya, dengan suara yang terdengar seperti hukuman mati.
Alya menatap Randa lama, lelaki yang ia rencanakan hidup bersamanya. Lelaki yang menabung dengannya selama lima tahun dan lelaki yang setiap malam ia doakan ternyata ...
“Sejak kapan?” tanya Alya.
Relia terisak. “Setahun lalu…”
"Setahun." suara Alya bergetar
Berarti setiap senyum Randa belakangan ini palsu, setiap alasan lembur hanya untuk mencuri waktu berduaan, setiap jarak yang Alya coba pahami adalah kebohongan yang tak pernah ia sadari.
Tubuh Alya melemas dadanya bergetar hebat,
Alya tertawa lagi. Kali ini lebih keras, lebih kosong. “Jadi selama ini aku ini apa? Cadangan? Atau penutup malu?”
“Alya!” ibunya menegur.
Alya menoleh tajam. “Kenapa Ibu marah ke aku?”
Ruangan itu sunyi, mencengkam, ingin rasanya Alya berteriak dengan ketidak Adilan yang ia hadapi, namun semua tertahan di tenggorokannya.
Lalu ayah berbicara, suaranya berat dan dingin. “Kami sudah sepakat. Demi nama baik keluarga, Randa akan menikahi Relia.”
Deg!
Pernyataan sang ayah menghantam dada Alya lebih keras dari pengkhianatan itu sendiri.
“Sepakat?” Alya terengah. “Tanpa tanya aku?”
“Kamu kakaknya,” ibu berkata cepat. “Mengalah itu pahala.”
Alya mematung, seolah tidak percaya dengan ucapan sang ibu yang seolah tidak memikirkan perasaannya.
“Lima tahun aku pacaran sama dia,” suaranya bergetar. “Lima tahun aku bangun mimpi sama dia. Terus sekarang… aku disuruh ikhlas?”
Relia mendekat. “Kak… aku minta maaf. Aku nggak bermaksud—”
“Jangan panggil aku Kak,” potong Alya. Suaranya dingin. “Mulai hari ini, aku bukan apa-apa buat kamu.”
Randa mencoba mendekat, tapi Alya mundur.
“Pergi,” katanya lirih. “Kalian berdua… pergi dari hidup aku.”
Tidak ada yang mengejar ketika Alya berlari ke kamarnya. Tidak ada yang memeluknya. Tidak ada yang membela. Dan hari itu, Alya belajar satu hal pahit:
pengkhianatan tidak selalu datang dari orang asing. Kadang ia datang dari rumah sendiri.
Bersambung ....
Halo kakak ... Kali ini aku menulis novel dengan tema kreatif romansa pedesaan, minta dukungannya ya! 🙏🙏🙏🥰🥰🥰🥰
bikin alya lupa sama kisah pedih hidupnya
thor novelnya jgn trllu kaku dong