"Aku sudah lelah." desis Ribka menatap lambaian daun jambu di teras samping rumahnya. Sepasang mata milik Raymond melirik ajam.
"Aku lelah, selama ini telah mengalah!" ulang Ribka lagi. "Lelah menjadi lilin yang menerangi duniamu. Sudah saatnya aku pergi, mencari kebahagiaanku sendiri."
Ribka menarik kopernya. Diiringi tatapan sinis dari keluarga suaminya. yang selama ini tidak pernah menghargainya.
Cinta di ujung senja. Perjalanan Ribka mencari kebahagiaannya setelah bercerai dengan suaminya. Berhasilkah Ribka menemukan kebahagiaannya?
"Aku pergi bukan untuk kembali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Ribka melawan.
Ribka kaget mendengar ucapan Kenny. Ditatapnya wajah pria muda di hadapannya. "Kenny, jangan libatkan dirimu dalam masalah Tante ya."
"Kenny tidak suka ada yang menyakiti Tante."
"Iya, Tante bisa jaga diri. Kamu jangan khawatir. Sekarang, Tante pulang dulu."
"Kenny antar Tante pulang." Ribka mengangguk.
Selama dalam perjalanan pulang. Ribka lebih memilih diam. Hanya beberapa patah kata yang diucapkannya, saat menjawab pertanyaan Kenny. Selebihnya Ribka diam.
"Sampai disini saja Kenny. Tante jalan kaki saja ke rumah."
"Masih jauh Tante?"
"Tidak, sudah dekat kok. Gangnya terlalu sempit."
"Kalau begitu Kenny antar Tante, sampai depan rumah." Kenny bergerak hendak membuka pintu mobil.
"Tidak usah. Kamu pulang saja."
"Baiklah Tante. Besok Kenny akan kabari Tante lagi." Kenny akhirnya pamit dan melajukan mobilnya.
RIbka menyusuri jalan menuju rumahnya. Sebenarnya, jalan menuju ke rumahnya, muat untuk dilalui mobil. Tapi Ribka tidak ingin tetangganya salah paham saat melihatnya diantar, Kenny.
Ribka membuka pintu. Dilihatnya Raymond tengah duduk di di ruang tamu. Ribka sedikit gugup, namun dia berusaha bersikap biasa saja.
"Dari mana kamu?" tegur Raymond saat Ribka melintasinya.
"Aku ada urusan." sahut Ribka datar.
"Urusan apa, malam-malam begini?" Raymond berdiri. Menatap Ribka tajam.
"Sejak kapan kamu peduli padaku? Dan haruskah aku beritahukan?" balas Ribka menatap Raymond.
"Sejak kapan kamu menjadi kurang ajar begini, Rib. Aku masih suami kamu!"
"Sejak aku tau kamu berkhianat, bagiku kamu bukan siapa-siapaku lagi."
Deg!
"Oh, begitu ya?" Raymond menyambar lengan Ribka. Ribka merintih kesakitan.
"Lepaskan tanganmu!" teriak Ribka lantang. Raymond spontan melepaskan cekalan tangannya karena kaget.
"Maaf, Rib. Aku tidak bermaksud bersikap kasar. Sikapmu yang selalu memicu amarahku."
"Lalu bagaimana dengan sikapmu? Apakah itu tidak menyakiti hatiku? Dua puluh tahun lebih kita hidup bersama. Adakah sikapmu yang tidak menyakitiku?" ucap Ribka dingin. Tanpa menoleh ke arah Raymond, dia melangkah menuju kamar. Dan menguncinya dari dalam.
Raymond, mengepalkan tangannya. Dia sangat benci diperlakukan seperti ini. Diabaikan saat belum selesai bicara. Raymond ingin menyusul ke.kamar. Tapi saat mendengar pintu kamar dihempaskan. Percuma saja dia menyusul.
"Ah, sialan! " hempas Raymond di atas sofa. Tadi dia menelpon Alisya apa Ribka sudah pulang. Jawaban Alisya membuatnya marah karena istrinya belum pulang. Dan memaksa Alisya datang ke rumah sakit menggantikannya.
Baru sepuluh menit dia sampai di rumah, Ribka pulang. Tanpa bicara, melintasinya begitu saja. Seolah dia tidak ada padahal sudah jelas terlihat, tengah duduk di ruang tamu.
Raymond sangat tersinggung diperlakukan seperti itu. Bukankah dia selama ini melakukan hal seperti itu kepada istrinya?
Mengabaikannya juga. Bahkan sudah bertahun-tahun lamanya. Dan berakhir dengan menghianatinya. Saat istrinya bereaksi
Membalasnya dan tidak patuh lagi.
Tidak ada rasa takut lagi.
Tidak menunduk!
Malah berani menatapnya. Tatapan menantang!
Bahkan meninggalkannya saat percakapan belum usai.
Egonya sebagai seorang suami tersentil!
Entah dimana kepatuhan itu? Yang selama ini dia tunjukkan sebagai seorang istri. Seharusnya dia takut atau meminta maaf. Karena keluar rumah tanpa seizinnya.
Mana pergi dengan pria muda yang lebih layak disebut anaknya daripada pacar.
Raymond merasa aneh sendiri dengan perasaannya. Bukankah ini yang selalu dia tunggu? Supaya dia punya alasan menceraikan Ribka? Dan bisa hidup bersama dengan Khaty?
Tidak perlu lagi menutupi hubungannya yang selama ini disembunyikannya.
Tetapi kenapa ada sudut hatinya yang tidak terima. Saat Ribka mengutarakan niat hatinya bercerai darinya? Dan menganggap itu hanya gertakan semata!
Sikap kerasnya sudah tidak mempan lagi. Selalu saja ada kata balasan keluar dari mulutnya. Mengembalikan kata-kata yang dia hunjamkan.
Dia bersikap keras, istrinya melawan.
Mengabaikannya!
Membuatnya jadi serba salah.
Terlebih saat ibunya kembali masuk rumah sakit. Entah kelalaian siapa? Ibunya? Atau adiknya. Karena saat kejadian hanya ibunya dan Alisya di rumah.
Ataukah tudingan itu dialamatkan lagi kepada istrinya? Itu yang rencananya tadi hendak ia lakukan saat istrinya pulang.
Namun, semua kata-kata yang dia susun sejak dari rumah sakit. Menghilang begitu saja. Dia malah fokus memprotes sikap Ribka.
Istrinya tidak boleh seperti ini. Dia butuh Ribka untuk merawat ibunya. Dia tidak focus bekerja kalau ibunya ditinggal di rumah sakit. Hanya mengandalkan penjagaan perawat saja.
Dia harus membujuk Ribka malam ini. Menyelesaikan pertengkaran mereka. Tapi bagaimana caranya? Istrinya sudah marah besar.
Raymond mengetuk pintu kamar.
"Ribka, tolong bukain pintunya. Abang belum selesai bicara."
Sepi. Tidak ada sahutan. Raymond mengulanginya.
"Ribka, Abang tau kamu belum tidur. Bukain pintunya."
Terdengar suara langkah kaki diseret. Lalu pintu terbuka. Astaga! Suasana dalam kamar mereka masih kacau seperti saat ditinggalkannya tadi sore.
Ribka benar-benar tidak membereskannya. Malah tidur diatas tumpukan baju-bajunya.
"Mau bicara apalagi?" Ribka melihat tatapan suaminya ke dalam kamar. Melihat kekacauan yang dibuatnya tadi sore. Raymond mengatupkan kedua matanya.
"Banyak hal." sahut Raymond berusaha menahan gejolak hatinya. Jangan sampai dia terbawa emosi. Maka diabaikannya keadaan kamar yang berantakan. Toh itu tadi adalah ulahnya sendiri. Menambah pekerjaan Ribka.
Ribka keluar dari kamar, menuju teras samping. Dia juga butuh bicara. Sudah tidak ada alasan baginya lebih lama lagi untuk tinggal di rumah ini.
"Duduklah!" ucap Raymond yang sudah menyusul Ribka di teras. Ribka menurut. Dia duduk berseberangan dengan Raymond. Dia menatap pohon jambu yang tengah berbunga.
Daun dan putik jambu berguguran mengotori teras. Sudah hampir seminggu Ribka tidak pernah lagi membersihkannya.
"Abang mau minta maaf." ucap Raymond lirih. Tapi seperti suara mercon yang meledak dibawah kaki Ribka.
Refleks, Ribka menatap ke arah suaminya. Raymond meminta maaf? Ahai! Dalam rangka apa ini? Benak Ribka bertalu-talu curiga. Senyum sinis terlahir di sudut bibir Ribka.
Telat!
Semua itu hanya MODUS! Teriak hati Ribka.
"Untuk apa?" keluar juga pertanyaan sinis itu dari mulut Ribka.
Egh! Kerongkongan Raymond serasa tersumbat. Ya, untuk apa dia meminta maaf? Untuk perselingkuhannya? Atau tindakan arogannya sore tadi?
Raymond kesulitan untuk menjawab.
"Untuk semuanya?" sahut Raymond tanpa merinci.
"Termasuk karena telah membohongiku tentang Mirza dan Jason? Pantaskah kamu mendapat maafku?" ucap Ribka angkuh.
Raymond tersentak kaget mendengar ucapan Ribka. Apa maksud kata-kata itu. Apakah Ribka mengetahui sesuatu?
"Maksud kamu apa, Rib." suara Raymond semakin lirih.
"Memang ucapanku terdengar aneh ya. Sampai kamu tidak paham." tatap Ribka tepat ke manik mata Raymond. Seketika Raymond gelagapan. Bukan karena pertanyaan itu. Tapi aura yang diperlihatkan Ribka.
Aura gelap dari seorang istri yang selama ini diperlakukan tidak adil. Dia tengah menyusun kekuatan hendak melawan. Bangkit untuk membalas ketidak adilan yang selama ini, ditekankan kepadanya.
"Ribka! Ka-kamu berubah?" desisnya putus asa. Ribka mencelos.
"Kamu yang telah mengubahku!" ***