"Dasar pria buta, dia cuma hidup dari sumbangan keluarga Wijaya!" cibir seorang wanita.
Sepertinya kehadiran Elang telah menjadi tontonan bagi mereka. Semua orang mengatainya sebagai pria tak berguna,
"Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan."
Entah naif atau bodoh, ucapan Nila berhasil menarik perhatian Elang.
Setelah kecelakaan 10 tahun lalu, pria itu kembali dari pengasingan panjang. Diam-diam bertingkah lemah demi membalaskan dendam,
Namun siapa sangka? di tengah sandiwara dia justru bertemu seorang gadis liar yang membuat hidupnya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemui Kakek
"Tenang saja, walau cuma sebentar...selama 1 tahun aku yang akan bertanggung jawab dan merawatmu dengan baik." sahut Nila bersungguh-sungguh,
"Bertanggung jawab? Hhh! Yang benar saja." dengus Elang mengoceh dalam hati, tak habis pikir dengan sikap gadis yang dinilai sok pahlawan.
"Kalian sudah sampai?" sapa Surya menyambut kedatangan cucunya dengan senyum hangat,
Mereka berdua berjalan masuk mendapati pria tua yang telah duduk menunggu di sofa ruang tamu. Minuman dingin serta camilan telah tersedia di atas meja,
Suasana terasa hening hanya ada mereka bertiga disana, Nila yang merasa heran sekilas mengamati sekeliling, namun mulai merasa gugup ketika menyadari tatapan mata yang terus mengarah padanya.
"Apa aku akan diintrogasi?" batin Nila menelan ludah,
Surya mengulurkan tangan, nyaris saja membuat gadis itu serangan jantung. Berpikir bahwa dirinya akan mendapat tamparan, tapi ternyata tangan tadi mendarat lembut membelai kepala,
"Nila, Terima kasih sudah mau mampir."
"..." Nila tersenyum membalas kehangatan yang didapat,
"Bagaimana resepsinya? Apa semua berjalan lancar?" berusaha mendekatkan diri,
"Maaf, karena tadi pulang cepat. Seharusnya kami mengikuti pesta sampai selesai," ujar Nila merendahkan suara, menunjukkan penyesalan.
"Tidak apa-apa, lagi pula disana terlalu banyak orang yang mengocehkan hal tidak perlu."
"Lebih baik kalian tidak disana karena hanya akan membuang waktu," bersikap tak acuh, pandangan Surya beralih menatap lengan Nila yang terus menggandeng pria di sampingnya.
"Aku bersyukur kamu mau mengurus Elang. Setelah kedua orangtuanya meninggal, aku tidak bisa berbuat banyak dan membiarkan dia sendiri tinggal di luar negeri." Tatapannya menunduk malu,
"Sudahlah, Kakek. Aku baik-baik saja karena selama ini kakek membiayai pengobatanku dan selali mengirimiku uang,"
"Jadi dia mendapatkan uang dari kakeknya?" gumam Nila dalam hati,
"Itu berarti, uang 500 juta yang dia kasih adalah hasil tabungannya?"
"Andai saja pamanmu bersikap lebih lembut kepadamu---" celetuk Surya merasa geram,
"Bagaimana kalau kamu kembali bekerja di perusahaan? Aku akan meminta pamanmu untuk mengurusnya,"
"Kerja dengan kondisi seperti ini? Seisi kantor hanya akan menertawakanku,"
"Kakek tidak perlu khawatir, serahkan saja kepada Nila. Dia akan merawatku dengan baik," sahut Elang disusul anggukan kepala istrinya.
"Nila? Jadi kamu yang akan bekerja?" tanya Surya mengangkat alis,
"Iya, serahkan saja kepadaku."
"Kalau begitu, dengar Elang...kamu tidak boleh malas! Bantu bereskan semua pekerjaan rumah, jangan sampai kamu membuang harga diri seorang pria." imbuhnya memberikan saran,
"Itu pasti, aku akan menjadi bapak rumah tangga yang baik."
Seminggu kemudian...
"Padahal aku sudah mendapatkan uang untuk biaya pengobatan. Tapi kenapa ayah tetap pergi?" gumam Nila meratapi kesedihan, diam termenung menatap gundukan tanah penuh bunga di depannya.
"Sebegitu besarkah cinta ayah pada ibu, sampai tega meninggalkanku."
"Apa kalian disana sudah bertemu?" rengeknya berusaha tersenyum,
Entah sudah berapa lama dia menangis. Genap 7 hari setelah kepergian ayahnya, namun setiap hari Nila terus berkunjung, maksud hati ingin mengobati rindu.
Tiupan angin menerpa helaian rambutnya, mengeringkan linangan air mata yang membasahi pipi.
"Padahal ada banyak hal yang ingin aku bicarakan."
"Bukannya ayah ingin sekali melihat aku menikah? Asal ayah tahu, aku sudah punya suami. Dan dia sangat tampan," seru Nila mencoba menguatkan diri,
"Aku tahu ini sangat mendadak. Tapi gak tahu kenapa, setiap melihatnya hatiku selalu membara---"
"Mungkin karena dia terlihat sangat lemah, jadi aku ingin melindunginya..." tambahnya tulus, mengingat pertemuan yang tak pernah disangka.
Setiap momen ketika Elang mendapat perlakuan buruk, hingga pertemuan singkat bersama pimpinan keluarga Wijaya.
"Kerja dengan kondisi seperti ini? Seisi kantor hanya akan menertawakanku," ucapan itu terbesit dalam pikiran,
Padahal dia sudah mengalami hal sulit, tapi rela mengeluarkan sejumlah uang besar hanya demi mendapatkan seorang istri. Kira-kira dari mana uang itu? Tentu saja dia menabung dari hasil kiriman yang diberi kakeknya, itulah tebakan Nila.
Membayar seorang gadis untuk menemaninya selama 1 tahun, "Kenapa?"
Mungkin saja dia ingin membuktikan pada mereka, bahwa dia juga bisa membangun keluarga seperti pria normal lainnya.
Tanpa Nila ketahui, pria buta yang dinikahinya sebenarnya seorang pemilik sekaligus pendiri perusahaan globar terbesar.
"Ayah, aku pamit ya..." lugasnya terbebas dari lamunan, berangkat pergi meninggalkan pemakaman.
Gadis itu berjalan sambil merogoh tas, dibukanya sebuah buku tabungan berisi nominal. Dengan seksama melihat jumlah uang yang tersisa,
"Sisa 350 juta, apa aku kembalikan saja?" pikirnya mulai kebingungan.
"Tapi aku harus ngomong apa?"
"Bagaimana kalau dia tersinggung dan menganggapku merendahkannya,"
Setelah mereka mendapat surat nikah, keduanya tidak tinggal dalam satu atap. Karena sebelum ini Elang menjelaskan bahwa dia hanya tinggal di sebuah kamar kos yang tak terlalu luas, jadi dia mengizinkan Nila untuk tetap tinggal di rumahnya.
Mengingat hal tersebut Nila pun terpikirkan sesuatu, bergegas pergi berniat menggunakan sisa uang yang dia punya untuk membeli sebuah rumah.
Kalau dipikir kenapa tidak tinggal saja di rumah peninggalan ayah Nila? Itu mustahil, karena belum ada orang di keluarganya yang mengetahui soal pernikahan tersebut.
Apalagi orang yang Nila nikahi hanyalah pria buta pengangguran, pasti akan terjadi keributan besar kalau mereka mengetahuinya.
Waktu berlalu...
Nila kini berdiri menatap gedung tinggi di depannya, terlihat senyum riang menghias wajah. "Semoga uangnya cukup buat beli rumah!"
"Untung-untung kalau ada sisa, nanti kan bisa buat beli perabotan," melangkah sambil bersuka cita,
Dia sudah membayangkan tempat baru yang akan mereka tempati nanti, karena sudah bertekad untuk menjaga suaminya dengan baik, jadi Nila harus bertanggung jawab dan mencarikan rumah layak serta nyaman.
"Ada yang bisa saya bantu?" sambut seorang pegawai wanita yang berjalan menghampirinya,
Tanpa dia ketahui, saat ini Nila telah mendatangi salah satu bisnis milik suaminya. DaungProperti sebuah bisnis yang menjual real estate,
Nila tersenyum membalas sambutan tadi, "Bisa tunjukkan beberapa model rumah kepada saya,"
"Baiklah." pegawai itu mengangguk, begitu sigap menyerahkan sebuah katalog harga.
Sedangkan di sisi lain, Herman yang tengah bertugas menemani tuannya menyadari kehadiran Nila.
"Bukankah itu nyonya?" tegur Herman tercengang mendapati gadis familiar di sisi lain.
Elang yang tengah keliling dengan penampilan normal sontak terkejut, begitu panik menyembunyikan diri di balik dinding. "Berikan tongkat dan kacamataku!"
Langsung dipakainya kacamata hitam serta tongkat yang selalu siap dibawa oleh asistennya, menghindari kejadian tak terduga seperti sekarang.
"Kenapa dia bisa ada disini?" berdiri diam mengamati,
"Sepertinya nyonya sedang melihat-lihat properti kita. Haruskah kita kesana?" ajak Herman tanpa ragu,
"Bodoh! Apa yang harus aku jelaskan kalau dia bertanya? Jangan sampai penyamaranku terbongkar." hardik Elang merasa geram,
Mereka berdua terus saja berdiri tak berpindah, mengintip dari balik dinding. Setelah melihat gerak-geriknya Elang justru dibuat semakin penasaran, tak sadar kakinya perlahan melangkah mendekat.
"Ng?" Herman mengangkat alis, mengikuti tuannya yang berjalan mengendap seperti pencuri.
"Sementara kita awasi dari sini." tegas Elang, bersembunyi dari balik banner berukuran besar yang berada tak jauh dari lokasi Nila.
Mereka sekarang bisa dengan jelas mendengar percakapan yang terjadi.
"Aku ingin tahu, keperluan apa yang membawanya kesini,"