Chen Li, pemuda desa yang tampak biasa-biasa saja, sebenarnya bukan anak miskin pada umumnya. Terpelajar dan cerdas, ia mengelola pabrik teh besar untuk Tuan Sun, sambil memahami kehidupan keras orang miskin. Ayahnya, seorang pemimpin pemberontakan, menghilang tanpa jejak, meninggalkan Chen Li dengan pelajaran hidup tentang keadilan, kemiskinan, dan batas-batas yang harus ia terima. Di sisi lain, ada Yun Xiao, gadis pemberani yang menentang ketidakadilan. Ia membenci mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lemah, dan tindakannya yang berani membuat para pejabat kekaisaran terus memperhatikannya. Suatu hari, puisi yang ditulis Yun Xiao diterbangkan angin hingga menarik perhatian putri bungsu kekaisaran. Putri itu langsung datang untuk menahannya, tapi Chen Li menghadangnya dengan berdebat hingga akhirnya Membuatnya di bawah ke istana, memaksanya memahami kekuasaan dan permainan politik yang rumit, penuh tipu muslihat bak catur hidup dan mati untuk hidup, tentang ayahny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa kamu mau?
Pada malam hari setelah Chen Li di bawa, madam Xu diam di depan lukisan, memperhatikan goresan-goresannya dan memikirkan tentang orang yang melukisnya, serta bagaimana perasaan pelukisnya saat membuat lukisan ini. Kenapa dia tidak melukis wajahnya atau punggungnya saja?
Angin dingin dari selatan berhembus. Madam Xu menghiru aroma hutan, rerumputan dan kota samar-samar. Dia kemudian membungkuk lalu menoleh ke arah taman.
Seekor burung hitam perlahan-lahan muncul dan akhirnya hinggap di pagar taman.
Madam Xu mendekat dan tanpa sedikit pun keraguan mengelus-elusnya. Rupanya burung itu sangat polos dan merasa nyaman dengan elusan itu.
Lalu tidak lama dia mengambil gulungan kecil dari lengan bajunya, mengikatkannya dan burung itu segera di lepas ke langit.
Mengepakkan sayapnya burung bergerak menjauh, melintasi desa yang penuh lampu-lampu, kemudian hutan rimbun dengan raungan monster, puncak gunung dengan satu kuil lalu akhirnya mulai menurun setelah melihat gerombongan tuan putri.
Chen Li sedang ada di dalam kurungannya, bersila dan menguap. Sesekali dia akan membunuh nyamuk yang datang. Sementara kusir sedang tidur sembari menunggu. Tuan putri sedang duduk di atas batu sedang menyantap makan malamnya. Pelayannya ada di samping berdiri mengawasinya.
Setelah berjalan setengah hari, akhirnya dia menemukan tempat yang sama ketika pertama kali di singgahinya. Tuan putri tahu ada tempat ini namun waktu itu dia sedikit tergesa-gesa, sekarang akhirnya dia bisa menikmatinya.
Dari sini dia bisa melihat lampu-lampu rumah penduduk desa di bawah, bintang-bintang bercahaya dan awan-awan yang bergerak. Tuan putri terlihat tenang dan kotak kayu ada di pangkuannya. Dia lebih banyak merenung atau menikmati suasana daripada makanannya.
Ketika burung itu turun, Pelayan di sampingnya melihat apa yang di bawanya dan sedikit menggerakkan jarinya. Cahaya muncul kemudian melesat.
Mata burung itu menjadi waspada dan merasakan bahaya yang akan datang. Dia mulai mempersiapkan kedua sayapnya lalu memfokuskan diri pada cahaya kuning yang muncul.
Dia menurunkan kepalanya dan mengepakkan sayapnya dengan cepat ke bawah.
Ketika melihat ini, Pelayan itu memperhatikannya.
Kemudian setelah dekat dengan cahaya itu, dengan gesit dia menyingkir lalu melesat dengan cepat ke arah Chen Li dan mendadak berhenti. Butuh usaha lebih agar dia dapat menyeimbangkan tubuhnya.
Chen Li mengangkat tangannya dan membiarkan burung itu hinggap di sana. Dia mengelus-elusnya beberapa kali sembari berkata, “Burung kecil, di dunia ini kejahatan tidak mengenal wajah, kamu harus berhati hati.”
Burung itu mengangguk lalu menatap tajam ke arah pelayan di dekat tuan putri. Matanya berkilat kebencian. Pelayan itu mendengus, dan menoleh memperhatikan pemandangan yang ada di depannya.
Chen Li menggeleng lalu mengambil surat di kakinya dan menyuruh burung itu untuk pergi dan berhati-hati. Burung itu mengangguk lalu melesat kembali dengan kecepatan yang tinggi. Pelayan itu tidak menyerangnya lagi dan diam saja.
Chen Li membaca surat itu kemudian memasukannya ke dalam bajunya.
“Aku tahu...” Gumamnya.
“Tahu apa?” tanya pelayan itu dengan nada mendominasi. Dia melangkah dan dengan lembut mendarat di depan Chen Li.
Pemuda itu masih bersila dan salah satu sudut bibirnya tertarik. “Tahu jika dunia ini luas.”
“Semua orang juga tahu itu. Katakan, apa yang akan kamu rencanakan? Jangan harap bisa meloloskan diri.”
“Jika aku mau, aku bisa melakukannya.”
Pelayan itu mendengus dan berkata sok.
Chen Li tersenyum. “Aku menyukai tuan putri kalian, karena itu aku tidak akan pergi.”
“Huh, jika kamu berencana ingin mendapatkan cinta tuan putri kami, maka kamu harus melupakannya. Tuan putri tidak akan menyukaimu, terlebih kamu anak seorang pemberontak.”
“Aku tidak berencana menikahinya, cuma hanya menyukainya. Lagi pula, istri mana yang egois seperti itu, makan sendiri bahkan tidak memberikanku sedikit pun.”
Pelayan itu ingin tertawa lalu berkata, “Siapa yang peduli denganmu, hanya seorang pemuda biasa.”
“Walaupun begitu aku juga penduduk kekaisar Zhao. Tega sekali tuan putrimu tidak memberi makan pada penduduknya yang terkurung seperti ini. Menurutmu apa pemerintahan yang baik seperti ini?”
“Kamu anak pemberontak, jadi seharusnya kamu bersyukur karena yang mulia tuan putri memberimu tempat. Seharusnya kamu di tarik saja dan diseret. Kamu tidak tahu untung.”
“Aku hanya anaknya, tapi yang melakukan pemberontakan adalah ayahku. Mengapa dunia ini tidak adil bagi aku orang miskin yang tidak tahu apa-apa?”
“Orang miskin?”
Pelayan itu berdecak terkejut. Dia ingat bagaimana serangannya di tangkis oleh kekuatan yang sangat kuat dan juga pemuda di depannya ini tidak seperti orang yang perlu di kasihanin.
Dia ingin melanjutkan, tapi tuan putri berkata, “Kamu ingin makan?”
Suaranya lembut dan tenang seperti bagaimana angin sore behenbus.
Tuan putri masih duduk dan menikmati pemandangan. Ketika pelayan itu mendengarnya dia terkejut namun tidak bisa berkata apa-apa.
Tuan putri berdiri dan mendekati Chen Li. Dia tersenyum lembut. “Aku hanya punya kotak makanan ini sekarang, dua lagi untuk pelayanku. Apa kamu mau berbagi denganku?”
Pelayan di sampingnya terkejut dan ingin protes namun tuan putri mengangkat tangannya dan menghentikannya.
Dia menatap Chen Li dengan intes, “Apa kamu mau?”
Chen Li diam sebenar. Ini bukan sesuatu yang diharapkannya; dia ingin melihat tuan putri marah dan kesal kemudian menghukumnya. Dia ingin berkata tapi tuan putri memotong
“Pemerintahan itu tembok luar masyarakat, jika ada angin maka tembok ini yang akan menyentuhnya terlebih dahulu. Makanan ini bukan buatakanku, karenanya demi melindungimu pemuda miskin, maka setiap potongan pertama akan aku gigit untuk memastikan keamanannya lalu memberimu.”
Chen Li mengerutkan keningnya dan melihat di kotak makanan itu dipenuhi kotak-kotak kecil yang dipenuhi satu kue dengan berbagai jenis. Jadi jika dia ingin makan, maka semuanya akan menjadi bekas gigitan tuan putri.
Pelayan di sampingnya tiba-tiba tersedak, tidak terima dan ingin berkata, tapi tuan putri lagi-lagi mengangkat tangannya.
Tuan putri lalu berkata, “Apa kamu mau?”
Chen Li butuh beberapa saat sebelum sedikit tersenyum. “Aku terima, tapi apa Tuan putri akan memberikannya dari luar?”
“Tentu saja. Di sini kamu harimau. Aku tidak akan mengambil risiko meskipun itu hewan peliharaanku sendiri.”
Chen Li semakin tegang. Dia menatap mata tuan putri beberapa saat lalu menghela nafas. “Baiklah, apa boleh buat, lagi pula anda sangat cantik dan wangi. Di rumahku yang kumuh menikmati aroma wangi adalah keberuntungan.”