NovelToon NovelToon
HATI EMAS

HATI EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.

Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:

• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.

Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.

Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Moving Waves

Kediaman selir Valerius — pagi hari

Cangkir porselen di tangan Heilen Valerius bergetar halus.

“Kerajaan Kairo… melamar putra mahkota?”

Pelayan di depannya menunduk.

“Ya, Yang Mulia Selir. Dan Archduke Aurelius… menyetujuinya.”

Retak.

Heilen menutup mata sesaat, lalu tersenyum—senyum tipis yang tidak pernah berarti baik.

“Jika itu terjadi,” gumamnya,

“maka posisi Alistair akan terkunci selamanya.”

Ia menatap ke luar jendela.

“Tidak. Aku tidak akan diam.”

Tangannya mengepal.

“Jika pernikahan itu terjadi… maka seseorang harus tersingkir.”

Nama itu tidak diucapkan.

Namun jelas.

Anthenia Blackwood.

Halaman latihan istana Araluen

Pedang beradu.

Tang—!

Anthenia mundur setengah langkah, lalu kembali maju dengan serangan cepat. William menangkis tanpa terlihat kesulitan—namun matanya tajam, fokus penuh.

“Kau terlambat sepersekian detik,” ucapnya datar.

“Aku tahu,” balas Anthenia, napasnya teratur.

“Tapi kau juga menahan serangan.”

William terdiam.

Ia memang menahan diri.

“Kau terdistraksi,” lanjut Anthenia, menurunkan pedangnya.

“Pikiranmu tidak di sini.”

William menatapnya.

“Dan kau terlalu gelisah untuk seseorang yang mengaku tidak peduli.”

Kalimat itu menghantam tepat sasaran.

Anthenia membeku.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan aneh.

“Lamaran Kairo akan diterima,” ucap William akhirnya.

“Itu kemungkinan terbesar.”

Anthenia tersenyum kecil—senyum yang rapi, terlalu rapi.

“Bukankah itu kabar baik?”

William melangkah mendekat satu langkah.

“Jika itu kabar baik… kenapa tanganmu gemetar?”

Anthenia menggenggam pedangnya lebih erat.

“Karena,” jawabnya pelan,

“aku membenci kehilangan kendali.”

William menatapnya lama.

Terlalu lama.

Koridor luar aula utama

Permaisuri Lunara berjalan berdampingan dengan Archduke Cedric Aurelius.

“Jika kau menekan Liam terlalu keras,” ucap Lunara, suaranya tertahan,

“kau mungkin kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga dari aliansi.”

Archduke berhenti melangkah.

“Perasaan bisa dilatih,” katanya dingin.

“Takhta tidak.”

Lunara menatap ayahnya.

“Dan jika yang kau latih itu… patah?”

Archduke tidak menjawab.

Namun sorot matanya sedikit berubah.

Kamar Anthenia — malam hari

Anthenia duduk di depan cermin. Rambutnya tergerai, wajahnya pucat diterpa cahaya lilin.

Dalam novel… aku seharusnya hanya figuran.

Ia menatap pantulan dirinya.

“Tapi kenapa aku justru berdiri di tengah badai?”

Ia mengingat kata-kata William.

Tatapannya.

Keheningan di antara mereka.

Dadanya kembali terasa sesak.

Dengan suara hampir tak terdengar, ia mengakui:

“Jika dia menikah… aku akan terluka.”

Air mata jatuh satu.

Lalu yang kedua.

Anthenia menutup wajahnya.

“Itu jawabannya, ya…”

bisiknya.

Lorong taman dalam — larut malam

Langit Araluen diselimuti awan tipis. Lampu-lampu taman menyala redup, menciptakan bayangan panjang di jalan setapak.

Anthenia berjalan tanpa tujuan jelas.

Ia seharusnya kembali ke kamarnya.

Namun kakinya membawanya ke sini—tempat yang terlalu sunyi untuk seseorang yang pikirannya ribut.

“Melarikan diri tidak cocok denganmu.”

Anthenia berhenti.

Ia menoleh perlahan.

William berdiri beberapa langkah darinya, mantel militernya terbuka, rambut peraknya tertiup angin malam.

“Sejak kapan Yang Mulia gemar menguntit?” tanya Anthenia ringan, mencoba menyembunyikan kegugupan.

“Sejak kau mulai berbohong pada dirimu sendiri,” jawab William datar.

Keheningan jatuh.

Anthenia menatap lampu taman.

“Jika kau datang untuk membicarakan Putri Kairo… aku tidak tertarik.”

“Kau berbohong lagi.”

Anthenia mengepalkan tangannya.

“Dan jika aku tidak?”

William melangkah lebih dekat. Tidak menyentuh—namun cukup dekat untuk membuat napas Anthenia terasa berat.

“Anthenia,” ucapnya rendah,

“aku tidak ingin kau mendengarnya dari orang lain.”

Ia berhenti sejenak, seolah menimbang setiap kata.

“Aku mungkin akan dipaksa menerima lamaran itu.”

Kata dipaksa terdengar jelas.

Anthenia tersenyum tipis.

“Seorang panglima perang… dipaksa menikah.”

“Itulah ironi takhta,” balas William.

Anthenia menunduk.

“Kalau begitu, terimalah.”

William membeku.

“Apa?”

“Itu keputusan paling rasional,” lanjut Anthenia, suaranya tenang namun rapuh.

“Kerajaan Kairo kuat. Araluen akan diuntungkan.”

William menatapnya tajam.

“Itu bukan jawaban yang kuharapkan darimu.”

Anthenia tertawa kecil—pahit.

“Sejak kapan kau peduli dengan harapan dariku?”

William mengulurkan tangan, lalu menariknya kembali sebelum menyentuh.

“Sejak aku menyadari…”

Ia terdiam.

Sejak aku peduli.

Kalimat itu tak terucap.

Kediaman Selir Valerius — tengah malam

Heilen Valerius menerima seorang bangsawan wanita berpakaian sederhana. Wajahnya tersembunyi tudung.

“Putri Blackwood masih berada di istana?” tanya Heilen pelan.

“Ya.”

Heilen tersenyum.

“Bagus.”

Ia menuangkan teh.

“Jika aku tidak bisa menggoyahkan Putra Mahkota… maka aku akan menggoyahkan alasan dia menolak.”

Wanita itu ragu.

“Apa Yang Mulia yakin?”

Heilen menatap cangkirnya.

“Anthenia Blackwood terlalu menonjol.”

Ia mengangkat wajahnya, matanya dingin.

“Dan istana tidak pernah ramah pada wanita yang terlalu berarti.”

Kamar Permaisuri Lunara — malam semakin larut

Permaisuri Lunara duduk di sofa, Nelia bersandar di sisinya.

“Kak Liam terlihat berbeda,” ucap Nelia pelan.

“Seperti… jauh.”

Lunara mengelus rambut putrinya.

“Karena ia sedang belajar bahwa menjadi dewasa sering kali berarti kehilangan.”

Nelia mengangkat wajahnya.

“Apakah Kak Liam… menyukai Kak Anthenia?”

Pertanyaan itu jujur. Tanpa intrik.

Lunara terdiam lama.

“Ada perasaan yang bahkan tak berani dinamai,” jawabnya akhirnya.

Aula makan bangsawan — pagi hari

Suasana aula tampak normal.

Terlalu normal.

Para bangsawan wanita tertawa pelan, cangkir teh beradu halus. Namun begitu Anthenia Blackwood melangkah masuk, percakapan meredup sepersekian detik.

Tatapan mengikuti.

Berbisik.

“Dia masih di istana?”

“Bukankah seharusnya sudah kembali ke Blackwood?”

“Putri Kairo datang… tapi wanita ini masih di sini.”

Anthenia merasakannya.

Ia tidak menoleh, tidak bereaksi.

Tekanan sosial. Metode paling kuno.

Ia duduk di tempatnya, punggung tegak, wajah tenang.

Namun di sudut aula—

William Whiston berdiri.

Tatapannya menyapu ruangan.

Satu pandangan dingin saja sudah cukup membuat beberapa bangsawan menunduk gugup.

Bisik-bisik berhenti.

Anthenia menghela napas pelan.

Dia selalu seperti ini… tanpa sadar melindungi.

Koridor samping aula

Permaisuri Lunara menghentikan langkah Anthenia dengan lembut.

“Putri Blackwood.”

Anthenia menunduk hormat.

“Yang Mulia.”

Lunara menatapnya lama, seolah menimbang sesuatu yang berat.

“Kau sedang diperhatikan,” ucapnya akhirnya.

“Dan bukan semua perhatian itu baik.”

Anthenia tersenyum tipis.

“Aku sudah menduganya.”

“Kau tidak wajib menanggung ini,” lanjut Lunara pelan.

“Jika kau ingin kembali ke Blackwood… aku akan memastikannya.”

Anthenia terdiam.

Kembali.

Menjauh.

Aman.

Namun bayangan William kembali muncul—diam, tegar, sendirian di garis depan.

“Aku masih bisa bertahan,” jawab Anthenia akhirnya.

“Untuk sementara.”

Lunara menatapnya tajam—bukan sebagai permaisuri, tapi sebagai wanita yang pernah mencintai.

“Berhati-hatilah,” katanya lembut.

“Perasaan bisa membuatmu berani… atau ceroboh.”

Ruang strategi — siang hari

William berdiri di depan meja peta. Beberapa jenderal dan penasihat hadir.

“Yang Mulia,” salah satu penasihat membuka suara hati-hati,

“Kerajaan Kairo mengharapkan kepastian dalam waktu dekat.”

William mengangguk.

“Aku tahu.”

Ia menatap peta Araluen—lalu berhenti.

“Namun sebelum itu,” katanya datar,

“aku ingin satu hal dipastikan.”

Semua mata tertuju padanya.

“Tidak ada satu pun pihak—selir, bangsawan, atau faksi—yang berani menyentuh Putri Anthenia Blackwood.”

Keheningan jatuh.

Nada suaranya tenang.

Namun ancamannya jelas.

“Aku tidak peduli apa alasannya,” lanjut William.

“Siapa pun yang mencoba… akan berurusan denganku.”

Para jenderal menunduk.

Pesan itu akan menyebar.

Cepat.

Kediaman Selir Valerius — sore hari

Heilen Valerius menerima laporan dengan wajah mengeras.

“Putra Mahkota… memperingatkan seluruh istana?”

Pelayan mengangguk.

“Secara tidak langsung, Yang Mulia.”

Cangkir teh retak di genggamannya.

“Jadi sejauh itu,” gumam Heilen.

“Dia bahkan belum memilih… tapi sudah melindungi.”

Matanya menyipit.

“Kalau begitu,” ucapnya pelan,

“kita tidak menyerangnya secara langsung.”

Ia tersenyum tipis—dingin.

“Kita serang reputasinya.”

Bisik-bisik mulai berubah menjadi ancaman.

Perlindungan William kini terlihat jelas—terlalu jelas.

Dan Heilen memahami satu hal penting:

Anthenia Blackwood

bukan lagi sekadar putri duke.

Ia adalah titik lemah Putra Mahkota.

Dan itu cukup

untuk memulai permainan yang lebih kejam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!