NovelToon NovelToon
CEO MISTERIUS ITU TERNYATA SUAMI SAYA

CEO MISTERIUS ITU TERNYATA SUAMI SAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Kekasih misterius
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Kazuki Taki

𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29 - Akhir di Avermont

Malam di Avermont terasa berbeda. Tidak ada lagi tawa wahana, Tidak ada suara langkah tergesa di koridor hotel. Yang tersisa hanya keheningan—hening yang terasa berat, seolah setiap detik tahu bahwa esok pagi akan membawa perpisahan.

Lampu kamar hotel menyala temaram, Vhiena berdiri di dekat jendela memandang keluar ke arah kota kecil yang kini tenggelam dalam cahaya kuning lembut. Rambutnya tergerai dan gaun tidurnya sederhana. Tidak ada riasan, tidak ada kemewahan—hanya dirinya yang paling jujur.

Rizuki duduk di tepi ranjang, punggungnya tegak, tangannya bertumpu di lutut. Wajahnya tenang seperti biasa, tapi ada sesuatu di matanya yang lebih gelap dari biasanya.

“Ki…” Vhiena akhirnya berbicara, suaranya nyaris bergetar. “Bolehkah… malam ini kita tidur di ranjang yang sama?”

Rizuki menoleh perlahan Permintaan itu sederhana namun maknanya tidak. Ia tidak langsung menjawab. Bukan karena ragu—melainkan karena ia tahu, jika ia mengangguk, maka malam ini akan menjadi kenangan yang paling sulit dilupakan.

“…kalau itu membuatmu merasa lebih tenang,” jawabnya akhirnya.

Vhiena menahan napas. “Terima kasih.”

Ia berjalan mendekat, duduk di sisi ranjang. Untuk beberapa detik, mereka hanya diam. Jarak di antara mereka tipis—cukup dekat untuk saling merasakan napas.

Saat mereka berbaring, Vhiena bergerak lebih dulu, Ia memeluk Rizuki erat. Tidak ragu, Tidak setengah-setengah. Kedua lengannya melingkar di tubuh Rizuki, wajahnya menempel di dada pria itu. Seolah takut jika ia melepaskan, maka esok akan datang lebih cepat.

Rizuki terkejut sepersekian detik. Lalu ia mengangkat tangannya—ragu—sebelum akhirnya meletakkannya di punggung Vhiena. Tidak menekan, Tidak menggenggam Hanya ada di sana dan Menenangkan.

Di dalam dadanya, ada sesuatu yang bergetar hebat - Kesedihan. Bukan kesedihan yang meledak, tapi yang diam-diam menggerogoti. Kesedihan karena ia tahu ia tidak bisa tinggal. Kesedihan karena ia tahu ia adalah orang yang harus pergi lebih dulu.

Namun Rizuki menahannya dan Ia selalu bisa menahan diri. “Nanti… kamu baik-baik saja,” katanya pelan, lebih seperti meyakinkan dirinya sendiri.

Vhiena menggeleng kecil, wajahnya masih tersembunyi di dada Rizuki. “Aku tahu,” bisiknya “Tapi malam ini… izinkan aku egois.”

Rizuki memejamkan mata, Malam semakin larut. Di luar, angin menggerakkan dedaunan. Di dalam kamar, waktu seolah melambat.

Vhiena mengangkat wajahnya perlahan, Matanya sedikit merah, namun tatapannya lembut. Ia menatap Rizuki—seolah menghafal setiap garis wajahnya.

“Ki…” bisik vhiena dengan suara lembut.

“ya?" Rizuki menjawab nya dengan sedikit ragu.

“Terima kasih sudah datang ke hidupku.” ucap vhiena lirih.

Kata-kata itu sederhana. Namun cukup untuk membuat pertahanan Rizuki retak sedikit.

Rizuki menatap Vhiena lama, Lalu—perlahan—ia mencondongkan wajahnya.

Ciuman itu singkat. Lembut, Tenang dan Penuh perasaan yang tidak perlu diucapkan.

Bukan ciuman yang terburu-buru. Bukan juga yang menuntut. Hanya sebuah janji tanpa kata: aku ada di sini malam ini.

Saat mereka berpisah, Vhiena tersenyum kecil—senyum yang penuh air mata.

“Selamat malam, Ki.” vhiena yang merasa mengantuk menundukkan kepala di dalam pelukan rizuki.

Jawaban tak langsung datang, “Selamat malam, Vhin. ”

Kepulangan dan Janji

Tiba saat Pagi datang perlahan di Avermont. Cahaya matahari menembus tirai kamar hotel, menyentuh lantai kayu dengan warna keemasan. Udara dingin khas pegunungan masih terasa, namun tidak lagi menusuk—seolah kota kecil itu pun tahu hari ini adalah hari perpisahan.

Vhiena terbangun lebih dulu Ia tidak langsung bergerak. Lengan kirinya masih melingkar di tubuh Rizuki. Wajahnya berada sangat dekat dengan dada pria itu. Ia bisa mendengar detak jantungnya—tenang, stabil, seperti selalu.

Untuk sesaat, ia berharap waktu berhenti di sana Namun harapan itu terlalu rapuh.

Vhiena menarik napas dalam, lalu perlahan melepaskan pelukannya. Ia bangkit pelan agar tidak membangunkan Rizuki. Berdiri di tepi ranjang, ia menatap wajah pria itu untuk terakhir kalinya pagi ini.

“Terima kasih…,” bisiknya nyaris tak terdengar.

Ia berbalik menuju kamar mandi, meninggalkan Rizuki yang masih terlelap—atau setidaknya berpura-pura. Karena sejak Vhiena bergerak, Rizuki sudah terbangun. Ia hanya memilih diam.

#Kepulangan dari Avermont#

Mereka sarapan tanpa banyak bicara. Bukan karena tidak ada yang ingin diucapkan, melainkan karena terlalu banyak yang ingin disimpan.

Mobil jemputan untuk ke terminal bus sudah datang. Setelah sarapan pagi mereka bergegas untuk membereskan barang bawaan nya dan membawa nya ke dalam mobil.

Mobil melaju meninggalkan hotel itu, dan meninggalkan sejuta kenangan bagi vhiena dan rizuki. Tidak ada pembicaraan di dalam mobil. Mereka masing-masing hanya memikirkan kenangan yang telah terukir.

Mobil tiba di terminal bus. Mereka beranjak pindah dari mobil naik ke bus. Lalu kemudian, Bus yang membawa mereka kembali melaju perlahan menuruni pegunungan. Pemandangan pinus berganti lembah, lalu kota kecil yang semakin menjauh di kaca jendela.

Vhiena duduk di samping Rizuki, bahunya bersandar ringan. Tangannya menggenggam ujung jaket Rizuki tanpa sadar—kebiasaan kecil yang lahir selama beberapa hari terakhir.

Rizuki membiarkannya. Ia menatap ke luar jendela, matanya kosong namun pikirannya penuh. Tidak ada percakapan panjang, Hanya kehadiran Dan itu cukup.

Tiba di Rumah Vhiena

Sore itu, mereka akhirnya tiba di depan rumah Vhiena Rumah yang sederhana, hangat, dengan pagar kecil dan tanaman hijau yang terawat. Tidak mewah—namun terasa hidup.

Vhiena turun lebih dulu, menoleh ke arah Rizuki dengan senyum yang ia paksakan tetap cerah. “Kita sampai.” Rizuki mengangguk.

Namun sebelum ia turun, ia mengambil satu kotak kecil dari tas ranselnya—dibungkus rapi dengan pita tipis. Ia menyelipkannya ke dalam tas belanja biasa, tanpa logo, tanpa petunjuk apa pun. Vhiena tidak menyadari apa pun,

Pintu rumah terbuka, Ibu Vhiena menyambut dengan wajah terkejut sekaligus lega. Ayahnya berdiri di belakang, senyum tipis terukir di wajahnya—senyum seorang pria yang melihat putrinya pulang dengan selamat.

“Vhiena,” kata ibunya sambil memeluknya. “Kamu kelihatan… bahagia.”

Vhiena tersenyum. “Aku baik, Bu.”

Rizuki berdiri sedikit ke belakang,menunduk sedikit bersikap sopan seperti biasa.

“Terima kasih sudah mengantar Vhiena,” ujar ayahnya sambil mengulurkan tangan.

Rizuki menjabatnya dengan hormat. “Itu sudah seharusnya, Pak.”

Saat Vhiena masuk ke dalam rumah untuk mengganti pakaian, Rizuki mengeluarkan tas kecil yang ia bawa. “Ini… ada sedikit oleh-oleh,” katanya tenang.

Ibunya Vhiena terkejut saat membuka kotak itu. "Waahhh Kue, Terima kasih ya Nak." Ibu Vhiena menerima nya.

Bukan kue biasa, Kemasannya sederhana namun elegan. Aroma khas mentega dan cokelat berkualitas langsung tercium.

“Kue dari mana ini?” tanya ibunya.

Rizuki tersenyum tipis. “Tadi saya membelinya di toko saat perjalanan,” jawabnya—setengah jujur, setengah rahasia.

Tidak ada yang tahu bahwa kue itu datang jauh dari Paris. Dan memang tidak perlu tahu.

-Pesan Ayah Vhiena

Sore semakin turun. Ayah Vhiena mengajak Rizuki duduk di teras. Angin sore berhembus lembut. Tidak ada suasana tegang—hanya dua pria dengan peran berbeda dalam hidup seorang gadis.

“Rizuki,” ujar ayahnya pelan. “Aku tidak banyak bicara. Tapi aku melihat caramu memperlakukan Vhiena.”

Rizuki menatap lurus ke depan, mendengarkan dengan penuh hormat.

“Sebagai orang tua,” lanjutnya, “tugasku adalah menjaga dia. Namun suatu hari nanti… aku dan istriku mungkin tak lagi mampu melakukan itu.”

Ia berhenti sejenak, menarik napas. “Jika suatu saat hari itu tiba,” katanya serius, “aku berharap… orang yang berdiri di samping Vhiena adalah kamu.”

Rizuki terdiam. Kalimat itu bukan permintaan, Bukan pula paksaan. Itu harapan—yang lahir dari kepercayaan.

Rizuki menoleh, menatap ayah Vhiena dengan tatapan teguh. “Saya berjanji, Pak,” ucapnya pelan namun jelas. “Selama saya masih berdiri, Vhiena tidak akan pernah sendirian.”

Ayahnya mengangguk pelan. "Itu cukup." Ucap ayah vhiena dengan tegas.

-Perpisahan-

Matahari hampir tenggelam saat Rizuki bersiap pergi. Vhiena berdiri di depan pintu, kedua tangannya saling menggenggam. Senyumnya kecil, namun matanya berkaca-kaca. “Kamu langsung ke apartemen?” tanyanya.

“Iya.” rizuki memakai sepatunya dan bersiap pergi.

“Jaga diri kamu,”sambung rizuki namun suara nya lirih.

Vhiena mengangguk. “Kamu juga.”

Untuk sesaat, mereka saling menatap. Tidak ada pelukan panjang, Tidak ada drama. Hanya sebuah sentuhan singkat di tangan—cukup untuk mengatakan segalanya.

Rizuki melangkah pergi, Vhiena berdiri di sana sampai sosok itu menghilang di tikungan jalan. Dan di dalam dadanya, ia tahu—

Ini bukan akhir, Ini hanya jeda.

1
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Vhiena malu-malu kucing/Proud/
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧: Iyaa/Smirk/
total 2 replies
Andik Rifai
sukaa bangeeettt. biasanya tuh alur percintaan CEO sama orang biasa kan ntah di jodohin tapi ditolak ntah dramanya harus diculik, atau keluarga berantakan broken home dll. tp ini tuh mengalir damai tanpa banyak drama. ini real cowok dingin sih ga banyak bacot atau suka ngancem ceweknya. fav banget cerita ini.. btw aku cewek yaa
Kazuki Taki: terimakasih kk
total 1 replies
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Penyamaran yg bagus🙏😭

SMA kls 3, trnyta CEO😌
Kazuki Taki: 🥰❤, terimakasih kk
total 5 replies
Ananda Andin Angraini
Kebanyakan titik dan banyak lanjutan kata, alangkah baiknya jika d sambung jadi satu.

cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
Ananda Andin Angraini: Wokeh /Tongue//Facepalm/
total 2 replies
Ananda Andin Angraini
koreksi dkit ah
Kazuki Taki: koreksi di persilahkan kk 😀
total 1 replies
Ananda Andin Angraini
setinggi apa ya? /Shy/
Ananda Andin Angraini
/Doge/
Ananda Andin Angraini
berisik tapi ngangenin ya. /Joyful/
Ananda Andin Angraini
Untungnya bukan kata 'Y' doank /Facepalm/
Ananda Andin Angraini
"Mungkin." bisa iya, bisa tidak. /Chuckle/
Kazuki Taki: yang jelas iya, soalnya penasaran sama tu cwe🤭
total 1 replies
Kazuki Taki
sudahh kan 🤣
Ananda Andin Angraini
Tanda kutip kurang dan salah tempat kak, harusnya "Rizuki!" /Applaud/
Ananda Andin Angraini
Ah berharap pas dia jatuh d belakangnya ada Rizuki, /Proud/
Ananda Andin Angraini
iya nunggu ayank beb /Joyful/
Ananda Andin Angraini: hilal THR masih belum nampak /Chuckle/
total 2 replies
Ananda Andin Angraini
hmmm,
Ananda Andin Angraini
Da emnk bos muda. /Proud/
Ananda Andin Angraini
Singkat, jelas dan minta di lempar sendal. /Joyful/
Ananda Andin Angraini: Wah ternyata seperti itu /Chuckle/
total 2 replies
Ananda Andin Angraini
udah tanda2 nih Rizuki. /Proud/

kak skip titiknya /Whimper/
Ananda Andin Angraini
bagian akhir, kalau narasinya di satuin lebih baik kak. 🙏/Bye-Bye/
Ananda Andin Angraini
lebih menantang ya Vhin? /Grin/

Skip titiknya kak. /Bye-Bye/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!