Shafira Azzahra, tidak menyangka laki-laki yang dulu selalu baik dan royal berubah ketika dirinya sudah menikah dengan Aris Permana. Aris, suaminya menunjukkan sifat aslinya yang pelit dan perhitungan dengannya. Apalagi sikapnya yang lebih mengutamakan keluarganya dibandingkan dirinya yang sebagai istri.
Setiap hari Shafira akan dikasih jatah belanja 20 ribu sehari oleh suaminya, Aris. Setiap hari Shafira harus memutar otak, harus dibuat apa dengan uang 20 ribu rupiah. Jika lauk tak enak, Sharifa'lah yang akan mendapatkan makian dari mulut julid keluarga suaminya.
Akhirnya Shafira memanfaatkan waktunya dirumah dengan menulis novel dan berjualan online dengan nama pena dan nama tokonya memakai nama samaran agar suami dan keluarganya tidak tahu kalau Sahfira juga memiliki penghasilan.
Suatu hari Shafira tidak sengaja melihat sang suami sedang jalan dengan seorang wanita. Karena mencium bau bau perselingkuhan, Shafira pun mulai masa bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lima
Pagi hari setelah selesai sarapan, Shafira melihat suaminya memakai pakaian rapi seperti hendak keluar. Ia pun segera menghamipiri suaminya.
"Kamu mau kemana mas." tanya Shafira.
"Mas mau keluar, mau kerumah teman." jawab Aris sembari mengenakan jam tangannya.
"Kok rapi begini kalau cuma mau ke rumah teman?" ujar Shafira menyipitkan matanya.
"Ya... ya gak apa-apa kan rapi begini, kok kamu jadi curigaan gini sih sama mas." jawab Aris berusaha tetap terlihat tenang di depan istrinya.
"Ya gak biasanya aja kamu rapi banget gini kalau pergi kerumah temanmu. Mana pakai parfum nya sebotol lagi. Atau jangan-jangan kamu janjian sama perempuan ya?" tuding Shafira semakin menyipitkan matanya sembari berkacang pinggang.
"Kamu ngomong apa?! Ngaco aja. Dosa nuduh suami sembarang!" bentak Aris.
"Biasa aja kali kalau memang gak benar. Gak usah pakai bentak-bentak segala!" dengus Shafira kesal.
"Lagian kamu sih, suami baru pakai parfum sedikit, udah curiganya begitu." ucap Aris dengan sewot, tanpa merasa bersalah telah membentak istrinya.
Shafira yang keburu kesal dengan reaksi Aris, memilih meninggalkan suaminya. Dan melanjutkan pekerjaannya mencuci pakaian yang sudah menunggunya.
Dirumah itu, masih belum ada mesin cuci.
Suaminya yang pelit itu sangat enggan
mengeluarkan uangnya untuk membeli mesin cuci.
Padahal suaminya sangat mampu kalau hanya untuk membeli mesin cuci, apalagi sekarang jabatannya sudah naik, yang artinya gajinya pun otomatis naik.
Entahlah, Shafira pun tidak tau sekarang berapa gaji suaminya itu.
'Awas kamu mas, kalau kamu berani macam-macam. Lihat saja apa yang akan aku lakukan.' batin Shafira sambil mengucek ala kadarnya baju-baju yang ia cuci.
Setelah selesa mencuci dan menjemur pakaian. Shafira pun segera membersihkan dirinya. Ia hari ini ingin melihat sudah sejauh mana proses pembangunan rumahnya.
Karena sudah 2 minggu lebih, dan ia hanya bisa pergi sekali seminggu untuk melihatl apa saja yang kurang. Sebelumnya, ia sudah meminta izin pada Aris jika ia akan pergi kerumah Vinna.
Langkah kaki Shafira terhenti di jalur pejalan kaki taman kota. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena berjalan terlalu lama, melainkan karena pemandangan di depannya.
Aris, suaminya, lelaki yang selama ini selalu berdalih sibuk bekerja dan sering pulang larut malam. Kini, ia justru terlihat santai berjalan dengan seorang perempuan muda yang tampak begitu lengket di sisinya.
Shafira mengerjapkan mata, berharap ia hanya salah lihat. Tapi tidak. Itu jelas Aris, dengan kemeja polos yang tadi ia siapkan, celana jeans favoritnya, dan cara jalannya yang khas.
Tatapannya kemudian bergeser, melihat suaminya menggenggam erat jemari perempuan itu.
Ia tidak tahu siapa perempuan itu, tapi melihat bagaimana mereka tertawa bersama, seakan dunia hanya milik berdua, cukup untuk membuat hatinya mencelos.
"Shafira..."
Sentuhan ringan di lengannya membuatnya tersadar. Vinna menatapnya dengan wajah cemas.
"Lo baik-baik aja?"
Shafira menarik napas dalam. Matanya masih terpaku pada Aris, yang kini berhenti sejenak untuk membelai pipi perempuan itu sebelum mengucapkan sesuatu yang membuat perempuan itu tersenyum manja.
Vinna menggeram.
"Astaga! Kurang ajar sekali dia! Kita labrak sekarang saja, Ra!"
Shafira tidak langsung merespons. Ada bara yang membakar dadanya, tapi bukan kemarahan yang meledak-ledak. Ini adalah bara yang justru membuatnya berpikir lebih jernih.
"Aku ingin memastikan dulu." ucapnya pelan.
Vinna langsung menoleh, tidak percaya dengan reaksi tenangnya.
"Memastikan apa lagi? Itu jelas-jelas suamimu sedang mesra dengan perempuan lain!" serunya.
Shafira menggeleng.
"Aku butuh bukti. Aku tidak mau dia berkelit dan menyalahkanku nantinya. Aku ingin dia terjebak dalam kebohongannya sendiri." Shafira lalu merogoh ponselnya dengan tangan yang gemetar.
Dengan cepat, ia mengambil beberapa foto dari sudut yang cukup aman.
Foto itu menangkap momen Aris menggenggam tangan perempuan itu, mengusap pipinya, dan tertawa bersama.
"Ra, aku gak ngerti bagaimana kamu bisa setenang ini. Kalau aku jadi kamu, sudah ku lempar kepalanya menggunakan sandal!" ujar Vinna dengan gemas.
Shafira tersenyum miring.
"Kalau aku marah sekarang, dia akan menyadari kesalahannya dan mencari cara untuk menutupi semuanya. Aku akan membuatnya merasa aman, sebelum aku menjatuhkannya." ucap Shafira dengan mata berkilat dingin.
'Aris, kamu pikir aku istri bodoh yang tidak sadar akan semua kebohonganmu? Tunggu saja! batinnya.'
Malamnya, Shafira duduk didalam kamarnya dengan tatapan kosong. Foto-foto yang ia ambil tadi siang masih tersimpan rapi di ponselnya. Tangannya gemetar saat ia kembali membuka galeri, melihat satu per satu bukti pengkhianatan Aris.
Suaminya yang selama ini selalu beralasan sibuk, yang sering pulang larut dengan wajah lelah seolah bekerja keras untuk rumah tangga mereka, ternyata memiliki energi lebih untuk bersenang-senang dengan perempuan lain.
Pintu kamar terbuka, membuat Shafira buru-buru menutup ponselnya.
"Ra, mas pulang." suara Aris terdengar seperti biasa. Datang tanpa beban dan tanpa merasa bersalah.
Shafira menoleh dan tersenyum kecil.
"Kamu sudah makan?" tanyanya lembut.
Aris mendekat, lalu duduk di sampingnya.
"Belum, tapi Mas tidak lapar."
'Tentu saja tidak. Kamu pasti sudah makan enak dengan perempuan itu.' jeritnya dalam hati.
Shafira menyembunyikan sinisnya dan hanya mengangguk pelan. Ia tidak ingin menunjukkan sikap berbeda didepan Aris. Jika Aris curiga, rencananya bisa saja berantakan.
"Kamu kenapa? Kelihatan capek." Aris bertanya sambil mengusap puncak kepalanya.
itu. Shafira menahan diri agar tidak menepis tangan
"Aku hanya lelah, banyak pekerjaan hari ini."
Aris mengangguk, lalu bangkit.
"Mas mau mandi, lalu tidur. Besok ada meeting pagi-pagi."
"Um!"
Shafira memperhatikan punggung suaminya yang berjalan ke kamar mandi. Lelaki itu benar-benar tidak curiga. Masih percaya bahwa ia bisa mempermainkannya tanpa ketahuan.
Seminggu berlalu sejak Shafira mengetahui perselingkuhan Aris. Selama itu, ia terus mengumpulkan bukti.
Ia bahkan diam-diam mengecek pesan-pesan di ponsel Aris saat lelaki itu tertidur. Nama perempuan itu tersimpan sebagai Budi Kantor, seolah Aris cukup pintar untuk menyembunyikannya. Namun, Shafira lebih pintar. Ia mencatat nomor itu, menyimpannya dengan nama lain di ponselnya sendiri.
Keesokan harinya, ia kembali menghubungi Vinna.
"Vin, aku butuh bantuanmu." ucapnya pelan saat mereka bertemu di kafe kecil dekat rumah.
Vinna menatapnya dengan serius.
"Tentang Aris?"
Shafira mengangguk.
"Aku ingin tahu lebih banyak tentang perempuan itu. Aku sudah punya nomornya, tapi aku ingin tahu di mana mereka biasa bertemu dan kalau bisa, aku ingin foto mereka saat sedang berduaan."
Vinna menyeringai.
"Tenang, aku punya kenalan yang bisa membantumu."
Beberapa hari berikutnya, Vinna meminta bantuan seorang temannya yang bekerja sebagai pengemudi ojek online. Laki-laki itu setuju untuk mengawasi Aris.
Dua hari kemudian, Shafira menerima beberapa foto yang semakin membuka matanya.
Aris dan perempuan itu, yang akhirnya diketahui bernama Fela, terlihat sedang makan di warung tenda pinggir jalan.
Bukan restoran mewah, bukan kafe mahal, hanya warung biasa. Shafira hampir tertawa.
Tentu saja karena Aris memang pelit. Bahkan untuk berselingkuh pun, ia enggan mengeluarkan uangnya.
Di foto berikutnya, Aris dan Fela terlihat duduk di taman kota, makan gorengan dan minum es teh dalam plastik.
Shafira menggeleng-gelengkan kepalanya, bukan karena sedih, tapi karena geli.
"Dasar laki-laki pelit!" gumamnya.
Meski begitu, pengkhianatan tetaplah pengkhianatan. Dan ini sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan Aris dengan cara yang paling elegan.