Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 - HALUSINASI DI RAWA TENGKORAK
Udara di perbatasan Laboratorium Bunga Hitam berubah menjadi hijau kekuningan yang kental. Elara memberi isyarat agar mereka berhenti dan membagikan kain yang sudah direndam cairan penetral racun. "Ini Rawa Tengkorak," bisik Elara. "Bukan lumpur hisapnya yang mematikan, tapi spora jamur 'Mata Iblis' yang tumbuh di sini. Sekali kau menghirupnya, kau akan melihat apa yang paling kau takuti."
Kaelan mengikat kain itu di wajahnya, namun indra Domain Kesunyian miliknya sudah memperingatkannya. Getaran di udara di sini tidak stabil, seolah-olah ruang itu sendiri sedang berdenyut.
Baru saja mereka melangkah sepuluh meter ke dalam rawa, kabut tebal mulai memisahkan mereka. Kaelan mencoba meraih tangan Rian, namun jemarinya hanya menyentuh udara kosong. "Rian? Elara?"
Tidak ada jawaban. Hanya suara air yang bergejolak pelan dan bisikan-bisikan yang seolah keluar dari dalam tengkoraknya sendiri.
Tiba-tiba, pemandangan rawa menghilang. Kaelan mendapati dirinya kembali berada di dalam sel gelap yang sempit. Bau amis darah ular memenuhi indranya. Di depannya, muncul sosok-sosok yang sangat ia kenal: tiga puluh satu anak yang tewas di dalam lubang pelatihan bersamanya. Tubuh mereka busuk, mata mereka kosong, dan mereka merangkak ke arah Kaelan.
"Kenapa kau yang hidup, Kaelan?" bisik salah satu mayat itu dengan suara yang mirip dengan gadis yang ia bunuh di aula pembantaian. "Kenapa kau mencuri napas kami?"
Kaelan merasakan dadanya sesak. Qi es di dalam tubuhnya mulai bergejolak liar, mencoba membekukan halusinasi yang tidak nyata itu. Namun, semakin ia menyerang, semakin banyak sosok yang muncul. Ini bukan serangan fisik; ini adalah serangan pada jiwa yang terluka.
"Ini tidak nyata," gumam Kaelan, suaranya bergetar.
Namun, rasa sakit di bahunya—bekas luka dari duel dengan Tuan Besar—mulai berdenyut kencang. Ia melihat Tuan Besar berdiri di belakang mayat anak-anak itu, memegang rantai yang terikat di leher Kaelan. "Kau adalah anjingku, Kaelan. Kau tidak akan pernah bebas."
Kaelan jatuh berlutut. Untuk pertama kalinya sejak keluar dari sekte, ia merasakan ketakutan yang murni. Namun, di tengah kegelapan itu, ia merasakan sebuah getaran frekuensi rendah yang konsisten. Itu adalah detak jantung Rian.
"Domain Kesunyian... jangan lihat dengan mata," Kaelan memaksakan dirinya untuk tenang.
Ia menutup matanya rapat-rapat dan berhenti melawan halusinasi tersebut. Ia memusatkan seluruh kesadarannya pada getaran nyata di sekitarnya. Ia menyadari bahwa kakinya sebenarnya tidak sedang berada di sel, melainkan sedang berdiri di atas akar pohon besar yang dikelilingi lumpur beracun.
Kaelan melepaskan Qi Bulan Dingin dalam ledakan radial yang sangat terkendali.
Teknik Bulan Dingin: Pemurnian Embun Langit.
Hawa dingin yang suci memancar keluar, membekukan spora-spora jamur di udara dalam radius dua puluh meter. Halusinasi itu pecah seperti kaca. Kaelan melihat Elara sedang mengayunkan tombaknya ke arah pohon kosong dengan mata terbelalak, sementara Rian sedang meringkuk sambil menangis di tepi lubang lumpur.
Kaelan melesat, memukul titik saraf di tengkuk Elara dan Rian untuk membuat mereka pingsan sejenak dan menghentikan efek racunnya. Ia menyampirkan Rian di bahunya dan menarik tangan Elara.
"Hanya sedikit lagi," bisik Kaelan sambil melompat melewati akar-akar pohon dengan kecepatan maksimal, tidak membiarkan spora jamur itu kembali mendekat.
Saat mereka berhasil keluar dari zona kabut hijau, Kaelan mendapati mereka berada di sebuah dataran tinggi yang menghadap langsung ke sebuah bangunan hitam berbentuk bunga mekar yang raksasa. Laboratorium Bunga Hitam.
Kaelan menurunkan Rian dan Elara yang mulai sadar kembali. Wajah mereka pucat dan penuh keringat dingin.
"Apa yang terjadi?" tanya Elara sambil memegangi kepalanya yang pening.
"Kalian baru saja melihat neraka masing-masing," jawab Kaelan sambil menatap bangunan di depan mereka. "Dan sekarang, kita akan memasuki neraka yang sebenarnya."
Di gerbang laboratorium, terlihat beberapa sosok yang tidak bernapas, berdiri tegak dengan akar-akar tumbuhan menjalar keluar dari mata mereka. Penjaga 'Manusia-Tanaman' yang diceritakan Elara sedang menunggu.