Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Sementara itu, malam turun pelan di atas halaman Mansion besar kediaman Gustavo. Lampu-lampu taman menyala temaram, memantulkan bayangan panjang di lantai batu. Axlyn duduk di salah satu kursi taman yang tersedia tak jauh dari ayunan, matanya awas mengamati sekeliling, sementara gadis kecil yang dijaganya tertawa riang mengejar kupu-kupu malam.
Meski sebenarnya ia sedang dibebas tugaskan, karena perutnya yang sakit dan hampir saja membuatnya keguguran. Namun, Axlyn membutuhkan udara malam yang segar untuk menjernihkan pikirannya untuk bisa mengambil keputusan yang tepat. Siapa sangka Hezlyn melihatnya yang sedang pergi menuju halaman, hingga gadis itu mengikutinya dan berakhir menemaninya di sana. Walau Hezlyn malah sibuk bermain sendiri pada akhirnya.
Tangan Axlyn tanpa sadar bergerak ke perutnya yang masih datar. Belum terlihat apa-apa. Namun ia tahu, di sana ada dua nyawa kecil yang tumbuh diam-diam. Dua detak jantung yang pernah tercipta dari satu malam yang tak pernah ia sesali, meski lelaki itu bahkan tak mengenalinya lagi.
Axlyn mengembuskan napas perlahan. Ia sudah memutuskan sejak awal. Ia tak akan mengganggu kehidupan Kay lagi. Tak akan memaksanya mengingat tentangnya. Tak akan menuntut pengakuan atas dua janin yang tumbuh di rahimnya. Jika lelaki itu telah melupakannya, maka ia akan belajar menerima peran sebagai bayangan… sebagai seseorang yang pernah ada, namun tak lagi dikenali.
“Akak Alyn!” Hezlyn berlari menghampirinya, memeluk pinggangnya.
Axlyn tersenyum lembut, menunduk dan mengusap rambut halus itu. “Hati-hati larinya, nanti jatuh.”
Pekerjaan ini bukan pekerjaan ringan. Ancaman selalu ada. Ia tahu betul risiko menjadi pengawal anak dari keluarga berpengaruh, apalagi ia tahu persis keluarga dari Spencer maupun Kay. Satu kelengahan bisa berarti bahaya. Ia sudah pernah berada di posisi itu lima tahun yang lalu, hingga nyawanya sempat terancam.
Dan sekarang, ia tidak lagi sendirian. Jika sesuatu terjadi padanya… bukan hanya dirinya yang menanggung akibatnya. Dokter dan Kakaknya—Sherin sudah memperingatkan bahwa kehamilan kembar membuatnya lebih rentan kelelahan. Ia harus mengurangi aktivitas berat. Menghindari stres berlebihan.
Namun, apa yang Axlyn lakukan sekarang? Dia bahkan bertarung dengan musuh terlatih, hingga tadi sempat mengalami pendarahan. Tindakan yang begitu egois sampai mempertaruhkan nyawa dua calon bayinya. Disisi lain, ia ingin bersikap profesional melindungi Hezlyn.
Berhenti dan membayar dendam pembatalan kontrak kerja menjadi pilihan yang terdengar logis dan terbaik untuk saat ini. Meski jumlah dendanya sangat fantastis, tetapi ia teringat dengan ucapan Kakaknya yang akan membantu membayarkan denda tersebut. Ia bisa mengundurkan diri, pergi jauh, menjaga kandungannya hingga lahir dengan aman. Membesarkan kedua anaknya tanpa bayang-bayang masa lalu.
Namun jika ia pergi sekarang… berarti ia harus menjauh dari Kay. Tiga bulan lagi… hanya tiga bulan sampai masa tugasnya selesai. Tiga bulan di mana ia masih bisa melihat lelaki itu, meski hanya dari kejauhan. Mendengar suaranya. Mengawasinya tanpa perlu menuntut apa pun. Ia tak butuh pengakuan. Ia hanya… belum siap benar-benar kehilangan Kay untuk kesekian kalinya.
Langkah kaki yang dikenalnya membuat jantungnya bergetar. Spencer terlihat keluar dari pintu samping rumah, berbicara singkat pada seseorang sebelum akhirnya pandangannya tanpa sengaja bertemu dengan Axlyn.
Tatapan itu… tatapan yang selalu membuat Axlyn ketakutan setiap kali mata mereka bertemu. Ingatan tentang pertarungan sengit lima tahun yang lalu di kota Xennor masih jelas dalam ingatan Axlyn sampai kapanpun. Dimana Spencer dengan kejam menyiksa kakaknya, membunuh siapapun tanpa kenal belas kasihan.
Tanpa sadar kini Spencer sudah berada tepat di hadapan Axlyn yang mematung. Pria itu hanya diam memperhatikan Axlyn tanpa mengatakan apapun, sampai suara Hezlyn mengalihkan tatapan mereka berdua.
“Kakak pulang?” tanya Hezlyn dengan senyuman manis di wajahnya yang cantik. “Lalu kapan Mamah akan pulang? Elyn kangen.”
“Tidak akan lama lagi, Hezlyn.” jawabnya singkat. “Malam sudah larut, sudah waktunya kau pergi tidur, bukan?”
“Hehehee… Elyn mau tidur cama Papah Kay. Elyn cedang menunggunya di cini,” jawab Hezlyn disertai kekehan menggemaskan.
“Papah Kay tidak akan pulang ke sini untuk sementara waktu. Sebab ada banyak pekerjaan yang harus Papah Kay maupun Kakak yang harus segera di selesaikan. Sebaiknya kau pergi tidur sekarang,” ujar Spencer sembari memberikan isyarat kepada pengawal lain di sana untuk membawa Hezlyn pergi dari sana.
“Ughh… Padahal Elyn ingin tidul cambil memeluk Papah Kay,” gerutu Hezlyn dengan wajah cemberut penuh kekecewaan.
Akan tetapi, ia tetap berjalan masuk ke dalam Mansion bersama dengan pengawal dan pelayan pribadinya.
Spencer tidak menanggapi adik kecilnya lagi, ia hanya sedikit menyunggingkan senyuman tipis dengan tingkah menggemaskan sekaligus menyebalkan adik kecilnya itu. Meski begitu, Spencer sangat menyayanginya dan bahkan bersyukur karena kehadiran Hezlyn di saat yang tepat membuatnya menemukan kembali keluarga yang utuh dan bahagia. Meski saat ini masalah kembali muncul dari masa lalu Kakeknya dan juga masa lalunya sendiri.
“Kalau begitu… saya juga akan kembali masuk, Tuan!” pamit Axlyn yang tidak ingin berlama-lama bersama dengan Spencer di sana.
Namun, baru tiga langkah Axlyn berjalan, perkataan Spencer seketika membuat langkahnya terpaku. “Sudah lama 'yah, Axlyn.”
Jantung Axlyn bergetar, sebab ia pikir Spencer akan kembali berpura-pura tidak mengenali dirinya seperti sebelumnya. Lebih tepatnya saat berada di hadapan Kay, Spencer akan bersikap seolah mereka adalah orang asing sejak awal yang tidak memiliki masa lalu yang kelam dan juga rumit.
“Untuk apa kau mengenaliku sekarang?” tanya Axlyn pelan, diselimuti ketakutan.
Dulu, Spencer adalah musuh bebuyutan Kay yang berniat menghancurkan Kota Xennor dan mengubahnya menjadi kerajaan bisnis dunia bawahnya. Persaingan bisnis keluarga mereka berubah menjadi dendam pribadi yang membuat keduanya saling membunuh. Namun waktu mengubah banyak hal. Kini siapa sangka Spencer akan dikenal sebagai sahabat terdekat dari Kay, orang yang bahkan sudah dianggap sebagai saudara kandung sendiri.
Spencer tersenyum singkat, lalu mendekat. “Bisa kita bicara sebentar?”
Axlyn tidak langsung menjawab atau menanggapi, ia hanya terdiam menatap penuh dendam kepada Spencer yang menjadi penyebab kehancuran dan kehilangan dirinya selama lima tahun terakhir ini. Ia tahu kedatangan Spencer padanya hari ini memiliki maksud dan tujuan tertentu padanya.
“Siapa sangka takdir lagi-lagi mempermainkan kita semua,” ujar Spencer tanpa basa-basi.
Wajah Axlyn menegang. “Maksudmu?”
“Aku tahu wanita di Praha yang sedang dicari Kay dan seluruh keluarganya sampai detik ini… adalah kau, bukan?”
Bersambung ….
Aku masih nungguin loh 🤭☺
Dan tanpa Kay sadari, kedua perempuan itu adalah orang yang sama 😝
Wah, seru ini 🤭
Eh, maksudnya mantan bocah psikopat.. Kan Levi udah bukan bocah lagi... ☺✌