Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Noah tidak tersenyum. Namun untuk pertama kalinya malam itu, ada sesuatu seperti kelegaan tipis di wajahnya. Noah ikut bahagia, ingatan Kay tentang Axlyn perlahan kembali.
Namun, disisi lain ia juga merasa takut jika kembalinya ingatan Kay bersamaan dengan kemunculan wanita yang menghabiskan malam panas dengan Kay di Praha. Jika itu benar terjadi, maka Axlyn yang akan semakin terluka.
“Aku tahu, Kay,” jawab Noah lirih. “Dan kali ini… aku tidak akan menghentikanmu. Namun, kau harus siap untuk memilih… antara Axlyn dan wanita yang kini tengah mengandung anakmu jika ingatan dan wanita itu kembali muncul di saat yang sama.”
Kay tidak mengatakan apapun lagi. Sebab apa yang Noah katakan memang benar. Jika ia bisa mengingat masa lalunya dengan Axlyn, lalu apa yang terjadi ke depannya?
Disisi lain, kini dirinya secara tidak langsung terikat dengan wanita yang tidak sengaja ia tiduri ketika di Praha. Dimana kemungkinan besar, wanita itu kini tengah mengandung anaknya… darah daging keluarga Xavier. Mampukah Kay memilih antara Axlyn dan wanita itu jika saat itu tiba?
“Pikirkan baik-baik, Kay! Agar kau bisa memiliki jawaban yang paling tepat jika saat itu datang padamu,” ucap Noah yang setelah itu berjalan pergi meninggalkan Kay di ruangan itu sendirian.
...****************...
Ruang kerja itu remang, hanya diterangi lampu meja yang menyisakan bayangan panjang di dinding. Kay berdiri mematung di depan jendela, memandangi pantulan dirinya sendiri di kaca. Di sana, ia melihat wajah yang tegas namun kosong oleh ketidakpastian.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Hatiku jelas memilih Axlyn, tetapi pikiranku dan juga keluargaku pasti akan memilih wanita itu… wanita yang mengandung darah dagingku,” gumamnya pelan.
Kay lantas beralih duduk, menyandarkan kepala pada sandaran kursi. Jika benar ia dan Axlyn pernah memiliki hubungan yang dekat. Mengapa tak ada satu pun orang yang membicarakannya secara terang? Mengapa semuanya terasa seperti rahasia yang sengaja dikubur? Apakah sejak awal tidak ada yang menyukai Axlyn jika bersamanya? Bahkan kecelakaan yang membuatnya hilang ingatan tentang Axlyn, mungkin saja ada campur tangan dari keluarganya?
Tidak… Kay segera menepis pemikiran konyol tersebut. Sebab ia tahu keluarga Xavier tidak akan berbuat seperti itu, apalagi sampai melukainya hanya untuk memisahkan dirinya dengan Axlyn. Bahkan jika Kay memutuskan bersama pengemis, Papah, Mamah dan yang lainnya pasti juga akan menyetujuinya tanpa ragu.
Kay ingin mencari tahu tentang ingatannya yang hilang. Ingin menggali kembali masa lalu yang hilang itu. Ada sesuatu di hatinya yang menolak untuk menganggap Axlyn sebagai orang baru di hidupnya.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuat napasnya tertahan. Dimana nama Papah Luca tertera dilayar ponselnya. Kay menghela napas cukup panjang sebelum menerima panggilan telepon tersebut dengan malas.
Kay mengangkat panggilan itu dengan cepat. “Ya, Pah.”
Suara berat di seberang terdengar tegas seperti biasa. “Kay, mereka akhirnya mulai menemukan petunjuk.”
Degh....
Kay seketika menegakkan tubuhnya. “Maksud Papah petunjuk tentang… dia?”
“Hmm, benar!” Jeda sejenak. “Wanita itu kemungkinan besar masih di dalam Kota Praha. Dan informasi terakhir yang kami terima, dia memang sedang mengandung, Kay!”
Dunia Kay terasa mengecil. Wanita itu memang benar sedang mengandung…Anaknya. Disaat ia baru saja menemukan kebenaran bahwa Axlyn adalah bagian dari masa lalunya yang terlupakan selama lima tahun ini. Wanita yang tetap berhasil mengacaukan perasaannya, disaat dirinya bahkan tidak mengingat apapun tentangnya.
“Levi, Regis dan yang lainnya hampir bisa memastikan lokasinya dengan pasti. Jika tidak ada hambatan, dalam waktu dekat dia akan segera ditemukan.”
Kalimat itu seharusnya melegakan. Namun justru dadanya terasa semakin sesak.
“Papah ingin kamu siap,” lanjut Luca. “Jika benar anak itu darah dagingmu, kau harus bertanggung jawab dengan menikahinya.”
“Baik, Pah! Kay mengerti!” ucapnya lirih.
Setelah panggilan berakhir, Kay tetap memegang ponselnya lama sekali. Dua jalan terbentang di hadapannya. Di satu sisi, masa lalu yang hilang dalam ingatannya yaitu Axlyn dan perasaan yang tak bisa ia jelaskan saat ini. Ada dorongan kuat untuk mengingat, untuk memastikan apakah hatinya pernah tertambat padanya. Jika benar mereka pernah saling mencintai, maka kehilangan ingatan ini adalah pengkhianatan paling kejam.
Di sisi lain, masa depan yang nyata… seorang wanita yang tengah mengandung anaknya. Anak yang tidak meminta untuk dilahirkan dalam kebingungan dan ketidakpastian. Tanggung jawab itu nyata. Begitu mendesak seolah tak bisa ditunda.
Kay berdiri dan berjalan mondar-mandir. Noah bahkan baru saja membicarakan tentang kemungkinan itu. Siapa sangka, Kay bahkan langsung dihadapkan dengan pilihan yang tidak ingin muncul dalam hidupnya.
“Kalau aku terus berusaha mengingat tentangnya… apa berarti aku ingin lari dari tanggung jawab?” bisiknya frustasi.
Namun jika ia memilih fokus pada masa depan dan mengabaikan Axlyn, bagaimana jika ternyata wanita itu adalah bagian penting dari hidupnya? Bagaimana jika justru dialah yang pernah mengisi ruang hatinya sebelum semuanya hilang?
Kepala Kay kini terasa semakin berat. Untuk pertama kalinya sejak kehilangan ingatan, Kay merasa benar-benar takut. Takut jika kebenaran yang ia temukan nanti akan memaksanya memilih. Takut jika kedua jalan itu tak pernah bisa berjalan berdampingan.
Ia menutup mata, mencoba menangkap kembali bayangan samar seorang wanita berseragam hitam, berdiri tegap dengan tatapan tajam. Namun matanya melembut setiap kali menatapnya. Dan di saat yang sama, terlintas bayangan seorang perempuan lain… sendirian, mungkin tengah memegang perutnya yang membesar, membawa darah dagingnya tanpa kepastian.
Kay hanya mampu mengepalkan tangan sekuat mungkin sebagai pelampiasan rasa frustasinya. Masa lalu seakan memanggilnya untuk kembali, sedangkan masa depan tengah menuntutnya. Dan ia berdiri di tengah-tengah, di ambang keputusan yang akan menentukan untuk siapa dirinya sebenarnya.
Axlyn atau wanita itu?
Tanpa ia ketahui bahwa sesungguhnya mereka adalah orang yang sama.
“Ya, Tuhan! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kenapa aku harus dihadapkan dengan dua pilihan yang sangat sulit?” gumam Kay dengan wajah frustasinya.
Niat hati membantu Spencer untuk sekalian melampiaskan rasa frustasinya mencari keberadaan wanita itu. Eeeh… siapa sangka, ia malah kembali dipertemukan dengan wanita dari masa lalunya yang perlahan membuka ingatan yang selama ini telah terkunci rapat.
Bersambung….
𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘬, 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘦𝘢𝘳𝘴 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢... 🤭😭
slalu menyimpulkan sendiri,,jgn sampai anak mu knp knp Baru kamu nangis nangis,dan bilang maafkan mamah yg tidak bisa menjaga kalian,, padahal dirimu yg slalu salah paham dan bisa di egois
malah si dispenser yang duluan nemuin siapa wanita yang selama ini di cari keluarga Xavier🤭🤭
𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢? 🤔
𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢..
𝘏𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 😌😌😌