Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 22: Menara Kehancuran
Lantai marmer Istana Aurora bergetar di bawah kaki Elara. Suara gemuruh dari bawah tanah terdengar seperti erangan raksasa yang terbangun dari tidur panjang. Setiap beberapa detik, denyut cahaya merah tua memancar dari celah-celah dinding, menandakan bahwa kristal mana di bawah fondasi istana telah mencapai titik kritis.
Elara berlari menaiki tangga spiral menuju Menara Matahari, titik tertinggi sekaligus pusat kendali sihir kekaisaran. Paru-parunya terasa terbakar, dan gaun tempurnya yang kini koyak tersangkut di beberapa bagian zirah ksatria penjaga yang telah ia lumpuhkan di sepanjang koridor.
"Jangan sekarang... Kumohon, jangan sekarang," bisik Elara pada dirinya sendiri, merujuk pada waktu yang terus menipis.
Ruang Takhta di Langit
Saat ia menendang pintu ganda di puncak menara hingga terbuka, pemandangan yang menyambutnya adalah kegilaan yang murni. Kaisar berdiri di tengah lingkaran sihir yang berpendar darah. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini acak-adakan, dan matanya yang cekung memancarkan keputusasaan yang mengerikan.
Di tangannya, ia memegang Tongkat Kehampaan, artefak yang selama ini disembunyikan sebagai mitos. Tongkat itu terhubung langsung dengan kristal mana di bawah tanah melalui aliran energi yang terlihat seperti pembuluh darah bercahaya.
"Berhenti, Yang Mulia!" teriak Elara, suaranya bergema di ruangan luas itu.
Kaisar menoleh, senyumnya tampak miring dan tidak stabil. "Ah, si pengantin yang bangkit dari kubur. Kau datang untuk melihat mahakaryaku? Jika aku tidak bisa memiliki kekaisaran yang patuh, maka tidak akan ada kekaisaran untuk siapa pun! Aku akan memurnikan kota ini dengan api!"
"Memurnikan? Anda akan membunuh ratusan ribu orang tak bersalah!" Elara melangkah maju, tangannya memegang belati obsidian. "Termasuk keluarga Anda sendiri yang ada di sayap selatan istana!"
"Keluargaku sudah mengkhianatiku sejak mereka membiarkan Ravenhurst hidup!" raung Kaisar. Ia menghentakkan tongkatnya ke lantai, melepaskan gelombang energi yang melemparkan Elara ke dinding batu.
Pengorbanan Sang Putri
Elara terbatuk, merasakan rasa besi di mulutnya. Ia melihat ke luar jendela besar menara. Di bawah sana, ia bisa melihat Alaric masih bertarung di barisan depan, memimpin pasukan Avalon menembus gerbang dalam. Alaric tidak tahu bahwa ia sedang berdiri di atas bom waktu.
Aku tidak bisa membiarkannya mati lagi, pikir Elara. Tidak untuk kedua kalinya.
Elara berdiri dengan susah payah. Ia menyadari bahwa serangan fisik tidak akan mempan selama Kaisar terhubung dengan sumber energi abadi tersebut. Ia harus memutus koneksi itu menggunakan sesuatu yang memiliki frekuensi yang sama dengan kematian.
"Kau ingin tahu rahasia kebangkitanku, Yang Mulia?" Elara mulai berjalan perlahan mengelilingi lingkaran sihir, mengabaikan percikan energi yang membakar jubahnya. "Valerius memang membuka pintunya, tapi jiwakulah yang menahannya tetap terbuka. Karena aku membawa sesuatu yang tidak dimiliki sihirmu: Hutang Nyawa yang Belum Lunas."
Elara menusukkan belati obsidian ke telapak tangannya sendiri, lalu ia merentangkan tangannya di atas lingkaran sihir. Darahnya yang membawa esensi dari dua kehidupan mulai menetes masuk ke dalam aliran energi merah tersebut.
Seketika, warna energi itu berubah. Merah tua yang panas mulai bertabrakan dengan cahaya perak yang dingin dari darah Elara.
"Apa yang kau lakukan?!" Kaisar berteriak panik saat tongkat di tangannya mulai bergetar hebat. "Kau meracuni aliran energinya!"
"Aku tidak meracuninya," desis Elara, matanya kini bersinar dengan cahaya perak yang menyilaukan. "Aku mengambilnya kembali. Energi ini berasal dari bumi keluarga Lane, dan ia mengenali tuannya!"
Detik-Detik Terakhir
Seluruh menara mulai retak. Potongan-potongan batu besar jatuh dari langit-langit. Kaisar mencoba melepaskan tongkatnya, namun energi itu kini justru menyedot jiwanya sendiri sebagai hukuman atas pengkhianatan terhadap sumpah pelindung.
"Tolong aku, Elara! Aku akan memberimu takhta! Apa saja!" tangis Kaisar saat tubuhnya mulai memudar menjadi debu cahaya.
"Aku tidak butuh pemberian dari seorang penakut," jawab Elara dingin.
Dengan satu hentakan terakhir, Elara menarik seluruh energi ledakan itu ke dalam dirinya sendiri, menggunakan tubuhnya sebagai wadah sementara untuk menetralisir daya hancurnya. Rasa sakitnya luar biasa—seperti ribuan jarum panas yang menembus setiap sel tubuhnya.
BOOM!
Ledakan itu terjadi, namun bukan ledakan api yang menghancurkan kota. Itu adalah ledakan cahaya putih yang menyapu seluruh ibu kota, memadamkan semua api peperangan dan melumpuhkan setiap senjata sihir dalam radius sepuluh mil.
Di Antara Reruntuhan
Alaric menyerbu masuk ke ruangan beberapa saat kemudian, menghancurkan pintu yang sudah separuh runtuh. Ia menemukan ruangan itu kosong dari Kaisar. Di tengah ruangan, Elara tergeletak tak berdaya di pusat lingkaran sihir yang kini telah padam.
"Elara!" Alaric menjatuhkan pedangnya dan berlutut, mengangkat tubuh Elara yang terasa sangat ringan dan dingin. "Tidak... jangan lagi. Elara, buka matamu!"
Air mata Alaric jatuh ke pipi Elara. Untuk pertama kalinya, sang Serigala Ravenhurst tampak hancur sepenuhnya.
Elara perlahan membuka matanya. Ia terbatuk pelan, dan sedikit cahaya perak masih tersisa di pupil matanya. "Alaric... apakah kotanya... selamat?"
"Selamat, Elara. Kau menyelamatkan mereka semua," bisik Alaric, mencium keningnya dengan penuh kelegaan.
"Bagus," Elara tersenyum lemah. "Karena aku... aku belum sempat mencoba mahkota yang kau janjikan."
Di luar, fajar menyingsing di atas Ibu Kota Aurora yang baru. Rakyat mulai keluar dari rumah mereka, menatap menara istana yang kini telah kehilangan puncaknya namun memberikan mereka kedamaian. Kaisar telah tiada, dan era lama telah runtuh. Namun di dalam pelukan Alaric, Elara tahu bahwa harga dari kemenangan ini telah mengubahnya selamanya. Ia bukan lagi sekadar manusia yang hidup kembali; ia telah menjadi penjaga abadi dari tanah ini.
qu membayangkan opa"😂
lanjuuut
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔