Helena kira setelah ia memilih menikah dengan seorang duda beranak 3 dan juga menjadi seorang mualaf kehidupannya akan membaik, namun ia salah, karena setelah menikah pun keluarga dan saudaranya tidak pernah berhenti mengusik kehidupannya belum lagi kedua anak tirinya tidak pernah menyukai keberadaannya bahkan Helena tidak pernah mendengar kata 'mama' keluar dari bibir mereka.
Dan suatu ketika, ia mengetahui niat Farhan menikahi dirinya, bahkan alasan mengapa tidak ada satupun keluarga besar Farhan menyukak dirinya. Hatinya benar-benar terluka, cinta yang tulus ia berikan kepada Farhan ternyata hanya dianggap sampah yang menjijikan olehnya.
Helena bertekad, ia akan membalas semua orang yang melukai hatinya agar mendapatkan hal yang setimpal dengan dirinya, karena mulai saat itu, ia akan berpura-pura menjadi lemah dan memaklumi banyak hal demi bisa membalas semua rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdebatan untuk menguji sebuah kebenaran
Setelah jam hampir menunjukkan jam 3 dini hari, Farhan dan wanita bernama Caela langsung keluar dari dalam restoran. Helena langsung membayar makanannya dan keluar mengikuti Farhan.
Diam-diam Helena memesan taksi agar ia lebih dulu sampai di rumah, di sana ia akan langsung menanyakan semua yang ia dengar saat di dalam restoran tadi.
Ia bahkan sudah tidak peduli jika Farhan mengantar wanita bernama Caela itu pulang dulu atau tidak, walaupun Helena lihat mereka langsung berpisah saat di parkiran, tidak dapat di pungkiri jika Helena merasa Farhan juga akan mengantarkan wanita itu pulang, Farhan tidak akan mungkin membiarkan wanitanya pulang sendiri di jam yang masih sedikit rawan di jalanan kecil yang sepi.
Di dalam taksi, Helena tidak bisa lagi membendung air matanya, semua yang ia tahan saat di restoran tadi, ia keluarkan di dalam mobil, membuat sopir taksi sedikit canggung karena ia tidak tahu harus seperti apa menghadapi klien yang sedang kacau.
Begitu sampai di depan gerbang rumahnya, tiba-tiba saja seorang satpam langsung membuka gerbang, mungkin ia mengira jika yang datang adalah Farhan.
"Terima kasih, pa," ucap Helena begitu ia selesai membayar dan keluar dari dalam mobil, satpam itu terkejut melihat Helena yang masuk dengan keadaan yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja.
Setengah jam setelah Helena datang, Farhan sampai di halaman rumahnya, ia memarkirkan mobilnya di garasi, lalu melenggang masuk ke dalam rumah tanpa sadar jika badai yang tidak ia sangka-sangka akan segera datang.
"Mas, dari mana aja?" Farhan terkejut begitu ia masuk kamar, sudah dihadapkan dengan istrinya yang sudah bangun dari tidurnya, Farhan tidak mengira jika istrinya akan bangun lebih cepat, belum menyadari jika pakaian yang Helena masih sama seperti saat ia keluar mengikuti Farhan, rapih dan masih berhijab.
"Loh, Kamu sudah bangun?" tanya Farhan mendekati Helena dan duduk di sebelahnya, siap untuk memainkan dramanya.
"Aku tanya loh mas, mas dari mana saja?" Helena tetap keukeuh meminta jawaban atas pertanyaannya.
Farhan menghela napas pelan, dan membawa tangan Helena ke dalam genggamannya.
"Maaf, pasti kamu kesepian akhir-akhir ini, mas benar-benar sedang banyak sekali pekerjaan, jadi mas harus kembali ke kantor untuk mengerjakan semuanya di sana," lirih Farhan menatap lembut mata Helena.
Helena tidak pernah tahu jika Farhan pandai berbohong, bahkan tatapan matanya benar-benar sangat meyakinkan, sama sekali tidak kelihatan jika ia sedang bersandiwara, apakah selama ini, Farhan juga banyak berbohong kepadanya, mengingat Helena yang begitu mempercayai Farhan karena tatapannya yang terlihat sangat tulus.
Sepertinya Helena akan mengubah rencananya, akan mengikuti alur yang sedang dimainkan suaminya, selagi satpam di depan tadi tidak membocorkan dirinya yang kembali dini hari kepada Farhan. Sepertinya Helena akan berbicara dengan satpam itu saat malam tiba, karena ia minggu ini mendapatkan shift malam.
"Mas pasti cape ya?" tanya Helena menatap sendu suaminya.
Farhan tersenyum kecil, lalu menggelengkan kepalanya, "aku tidak cape sama sekali, aku senang mengerjakan pekerjaan ini, selagi kebutuhan kamu dan anak-anak terpenuhi, aku akan dengan sennah hati begadang untuk melakukannya,"
Farhan memperhatikan pakaian yang di pakai istrinya, ia baru sadar jika Helena tidak memakai baju tidur, bahkan memakai hijab.
"Kamu habis dari mana? Kenapa pakai kerudung?" tanya Farhan heran.
Helena menggeleng, "aku tadi mencarimu mas, aku panik karena saat aku terbangun tengah malam, mas sudah tidak ada di sampingku, itulah kenapa aku cepat-cepat berganti pakaian dan mencari kamu di seluruh ruangan, ternyata tidak ada, lalu aku sempat keluar rumah untuk melihat apakah ada mobil yang sering kamu pakai, ternyata tidak ada, jadi aku memutuskan menunggu kamu sampai kembali," cerita Helena dengan tampang meyakinnya.
Jika Farhan saja bisa dengan lancar membohongi Helena, kenapa Helena tidak bisa? Mungkin ia akan berusaha membangun sebuah dinding di hatinya agar tidak lagi mudah luluh dan percaya kepada Farhan setelah banyak hal yang ia tahu dari niat Farhan menikahi dirinya.
Farhan menundukkan kepalanya, merasakan menyesal telah membuat istrinya menunggu.
"Maaf, pasti kamu cape ya cari aku kemana-mana? Kenapa tidak telfon aku saja?"
"Tidak apa-apa mas, aku hanya khawatir kamu kenapa-napa, aku hanya terkejut saja tidak ada kamu di sisiku saat aku terbangun," Helena menerbitkan senyum kecilnya. Dan Farhan percaya.
"Mas," lirih Helena pelan.
Helena ingin menguji Farhan, apakah niat Farhan untuk menghancurkan dirinya seperti ibu kandungnya menghancurkan keluarga Farhan itu benar adanya. Helena akan mencoba meminta hal-hal yang mungkin akan membuat Farhan marah, karena jika Farhan tidak marah itu artinya, Farhan tidak benar-benar memiliki niat untuk menghancurkan dirinya.
"Ada apa?" tanya Farhan lembut.
"Aku tahu aku tidak sopan menanyakan ini, tapi apakah kamu mencintaiku?" tanya Helena menatap Farhan dengan tatapan sendunya.
"Kamu bicara apa? Tentu saja aku mencintaimu, aku berusaha keras untuk selalu membuatmu jatuh cinta kepadaku," ucap Farhan tidak menyadari jika Helena sedang mencoba memancing dirinya yang brengsek keluar.
"Pernikahan kita sudah setengah tahun, tapi kenapa mas masih tidak mau menyentuhku?" tanya Helena, sebenarnya ia sedikit takut menanyakan hal seperti itu, karena ia pernah menanyakannya sekali dan reaksi Farhan di luar dugaannya, ia marah dan mengatakan jika Farhan tidak mau merusak Helena yang umurnya jauh berbeda dengannya.
Helena tidak percaya, karena itu adalah alasan yang sangat klis, mereka sudah menikah, sudah secara dah menjadi suami dan istri, seharusnya tidak ada lagi masalah seperti yang dialami Helena.
"Kita sudah membicarakan ini sebelumnya, aku tidak mau merusakmu,"
"Merusak bagaimana mas? Kita sudah sah me jadi sepasang suami-istri, ini tidak akan jadi masalah juga untukku,"
"Tapi untukku akan menjadi masalah Helena, aku tidak bisa, aku tidak bisa menyentuhmu?"
"Kenapa, mas? Apa karena mas jijik dengan aku? atau mas sedang berusaha menjaga hati seseorang dengan tidak pernah menyentuhku?" tanya Helena menaikkan suaranya. Dan itu memancing amarah yang ada di dada Farhan.
"Kamu terlalu berpikir jauh Helena, aku memang benar-benar belum bisa menyentuhmu, aku ingin menjaga kesucianmu,"
"Aku tanya kenapa mas? Beri aku alasan yang sedikit masuk akal dari alasan-alasanmu sebelumnya! Sebenarnya apa yang sedang kamu jaga? Kesucianku atau hati wanita lain?"
Farhan semakin terpancing, "Jangan berbicara sembarangan Helena, Jangan membuatku mengatakan hal-hal yang membuatku marah!" peringat Farhan.
Helena tersenyum kecut, jadi benar apa yang ia dengar saat di restoran tadi.
"Jangan memiliki anak darinya, aku cemburu," u ap Caela dengan suara yang mampu membuat Helena mual.
"Tidak akan, aku sengaja tidak akan menyentuhnya, aku hanya memperlakukan dirinya sebaik mungkin, agar dia semakin jatuh cinta kepadaku setelah itu akan kubuang dia setelah aku membawanya ke tempat yang bisa merenggut kesuciannya."