Ceni yang tak lama ini baru kehilangan sang sahabat untuk selamanya, kini ia harus menelan pahit nya kehidupan karena harus kehilangan untuk yg ke sekian kali nya yaitu sang kakek tercinta.
Sebelum kematiannya, sang kakek sempat memberikan sebuah giok dan cincin dengan ukiran rumit dan kuno, yg kata nya warisan turun temurun.
Bagaimana kah kisah kelanjutan nya.?
Nantikan kisah Ceni di cerita ini.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon astiana Cantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan Pangeran Mahkota
"Omong kosong apa ini,? Mohon maaf atas kelancangan ku kaisar, permaisuri, tapi Ying Zu adalah putri ku, bagaimana bisa kalian mengakui nya sebagai putri kandung." Ucap Ying San setengah berteriak.
Walaupun ia bersikukuh tidak terima demi menjaga reputasi nya sebagai ayah yang penyayang, tapi di balik itu semua ada ketakutan luar biasa yang memenuhi pikiran nya, takut akan identitas Ying Zu yang sebenarnya terbongkar bahwa memang benar Ying Zu adalah putri kandung kaisar, apabila hal itu terbongkar maka hancur sudah ambisi yang selama ini ia susun demi sebuah gelar.
"LANCANG." Ucap pangeran mahkota dengan nada menekan.
"Jaga sikap mu tuan Ying, lawan bicara mu adalah kaisar dan permaisuri, Ku harap jaga batasan mu." Ucap pangeran mahkota lagi dengan nada tenang tapi tegas.
Walaupun putra mahkota masih bisa berbicara tenang, tapi ketahuilah bahwa saat ini pangeran mahkota mati-matian meredam amarah nya kala melihat langsung wajah seorang pria yang merebut adik nya sewaktu bayi dan menyebabkan ibunda nya terus murung setiap hari nya sambil menatap gundukan tanah yang ternyata bukan lah jasad adik nya.
"Apa kau yakin bahwa Zu'er adalah putri mu wakil Ying San.?" Tanya kaisar menatap lekat pada wajah Ying San.
Sedetik kemudian ying San sempat gelapan tapi ia berhasil menormalkan kembali ekspresi nya lalu berkata.
"Tentu saja yang mulia, karena Ying Zu adalah putri ku dan juga Lin Shen." Ucap Ying San dengan penuh keyakinan.
Kaisar pun melambaikan tangan nya mengkode para pengawal yang sudah datang membawa ketiga orang yang pernah di bayar Ying San untuk rencana jahat nya 17 tahun silam.
Ketiga nya pun di dorong menghadap kaisar dengan tangan yang sudah di ikat rantai begitu pula kalung besi yang menempel di leher tahanan itu.
Mata Ying San pun membola dengan jantung berdegup kencang kala melihat kedua tabib wanita dan juga tabib istana bersimpuh di sebelah nya yang saat ini sedang berdiri.
"Katakan." Titah kaisar.
"Ampun yang mulia, hamba mengaku salah, hamba terpaksa melakukan itu hanya demi melindungi keluarga hamba." Ucap tabib istana dengan pakaian compang camping meminta belas kasihan.
"Ampuni kami juga yang mulia, ini semua karena dia yang memaksa kami menukar bayi Permaisuri dan bayi nyonya Lin Shen." Ucap tabib wanita menunjuk Ying San sambil menangis.
"Benar yang mulia." Ucap tabib wanita lain nya.
"Omong kosong, aku tidak mengenali kalian, kenapa kalian memfitnah ku." Teriak Ying San.
"Kau yang berbohong, buat apa kau menukar bayi-bayi itu.?" Teriak salah satu tabib wanita, hilang sudah rasa takut nya selama ini terhadap Ying San.
"Jangan apa-apa kan suami ku yang mulia, dia adalah suami yang baik." Ucap selir Ran angkat bicara.
"Oh itu wajah selir nya ya, aku sudah tidak sabar ingin merusak wajah nya yang seorang wanita penggoda itu." Ucap bibi pertama sambil menyingkap lengan baju nya.
Selir Ran pun menelan ludah nya dengan susah payah kala melihat wajah bengis bibi pertama.
Sedangkan para tamu hanya menonton saja karena mereka penasaran dengan apa yang terjadi saat ini.
"Kakak ipar benar, bila perlu kita hajar sampai babak belur." Ucap bibi kedua.
Nyonya Lin Shen hanya menatap datar ke arah Ying San dan juga selir Ran, mata nya yang dulu penuh binar cinta kini hanyalah ada benih dendam yang mulai tumbuh mengakar.
Sangkalan demi sangkalan pun di lontarkan Ying San, kaisar yang sudah muak pun melempar kan salinan bukti-bukti kejahatan Ying San di hadapan nya.
Ying San dengan tangan gemetar pun membuka dokumen itu, sedetik kemudian ia pun terhuyung lalu dokumen yang berisi tangan nya pun terlepas.
"Tidak, tidak mungkin, hancur sudah, semua nya sudah hancur." Gumam Ying San.
Ying Ru dan Nyonya tua Ying pun menghampiri Ying San yang tengah syok.
Lalu kaisar pun kembali ke singgasana nya lalu mengumumkan suatu hal yang membuat para tersangka terduduk lemas.
"Tabib istana, dan juga para tabib wanita yang sudah mengkhianati kepercayaan kaisar, di jatuhi hukuman penjara seumur hidup."
"Sedangkan untuk wakil jenderal ying San di turun kan jabatan nya menjadi rakyat biasa dan di usir dari kekaisaran ini karena sudah menipu kaisar dan juga menyiksa keturunan kaisar, adapula kejahatan selir dan putri nya Ying Ru yang merencanakan pembunuhan kepada putri Zu maka akan di jatuhi hukuman cambuk 100 kali lalu di asingkan ke hutan perbatasan yang tandus." Titah kaisar.
Dengan ini kaisar menjatuhkan hukuman pengasingan buat keluarga Ying, mengingat Ying San pernah berjasa di Medan perang maka dari itulah Ying San beserta keluarga nya selamat dari hukuman penggal.
"Ini tidak adil, ini tidak adil yang mulia." teriak Ying San begitu pula istri dan putri nya, tak lupa juga nyonya Ying.
Mereka histeris ketika di seret oleh para pengawal agar memasukkan mereka ke penjara sebelum keesokan hari nya di asingkan.
Ketika para tahanan itu sudah pergi, kini keadaan sudah kembali tenang, dan para tamu yang masih hadir pun menikmati pesta yang di adakan di istana termasuk permainan Guzheng dan tarian-tarian yang memanjakan mata dan pendengaran kala mendengar alat musik di mainkan dengan merdu.
"Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu adik ipar.?" tanya bibi pertama pada Lin Shen.
"Tidak, aku sudah merasa puas melihat penderitaan mereka, seperti nya jalan menuju pengasingan akan sangat menyenangkan buat mereka." gumam Lin Shen tersenyum jahat yang tidak di sadari semua orang.
.
putri Zu pun kembali ke tempat duduk nya.
"Selamat putri Zu, akhirnya kau bisa bersama orang tua kandungmu lagi." Ucap Ceni tersenyum.
"Terimakasih nona Ceni, ini semua berkat mu, kalau saja tidak ada nona yang menyelamatkan ku, mungkin saja sampai ke alam baka pun aku tidak mengetahui yang sebenarnya." Ucap Putri Zu tersenyum simpul pada Ceni.
"Itu semua sudah takdir putri, aku hanya perantara." Ucap Ceni.
Pandangan pangeran mahkota tertuju ke arah Ceni, tak jarang pula ia curi-curi pandang sehingga membuat jantung nya berdegup kencang.
Sedari tadi Ceni memang sudah mengetahui bahwa pangeran mahkota selalu melirik nya, tapi ia hanya mengabaikan hal itu, Ceni bukan tidak tau maksud tatapan pangeran mahkota itu, sebagai wanita dewasa, ia paham dari pandangan nya saja seperti layak nya orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi Ceni tidak ingin menjalin hubungan apapun dengan pangeran mahkota sebab ia akan segera pergi meninggalkan istana cepat atau lambat, walaupun Ceni tidak punya tujuan tapi ia bertekad akan menjadi pengembara di dunia antah berantah ini.
Bersambung.
lanjut up yg bnyak thor💪💪💪💪
3 hari aja kering tak berbekas... tapi gak pake garem
lanjut up lagi thor💪💪💪💪💪