"Meiji....!" Teriaknya memeluk jenazah putranya.
Pada akhir hidupnya Lily menyadari, semua orang yang ada di sekitarnya adalah pengkhianat. Cinta mereka palsu!
Berakhir dengan kematian tragis.
Karena itu kala mengulangi waktu, dendam seorang ibu yang kehilangan putranya, membuatnya tertawa arogan dan berucap...
"Bukan kamu, tapi aku yang membuangmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan
Hujan perlahan turun di luar sana. Cahaya matahari menembus kaca jendela. Hujan di tengah cahaya matahari, Lily terpaku tersenyum menatap ke arahnya.
Sedangkan pandangan mata Neiji tertuju padanya. Perlahan wajahnya tersenyum."Apa yang membuatmu berubah? Dulu kamu adalah anak yang baik. Mengejar Dilan seperti Dilan adalah tujuan hidupmu?" Tanyanya.
"Karena terkadang dunia dapat begitu kejam. Cara terbaik bukanlah balas dendam, tapi membuat cangkang keras untuk melindungi diri sendiri. Dan itulah yang sedang aku lakukan. Membangun dinding tinggi, dimana aku dapat menonton dan bersembunyi..." Kalimat dari Lily tersenyum pahit.
Mungkin pemuda ini menyadari segalanya. Lily bagaikan bukanlah Lily yang dulu lagi. Tapi bagaimana pun rupanya begitu terlihat menawan dan indah."Seperti hujan di tengah cahaya matahari..."
"Apa?" Tanya Lily pada orang ini.
"Cinta yang terbalaskan adalah hujan di tengah cahaya matahari. Kamu tidak bisa mengeluh pada matahari karena terlalu panas. Kamu tidak bisa marah pada hujan karena membuat harimu terlihat menyedihkan. Cinta adalah hujan di tengah cahaya matahari..." Ucap Neiji tersenyum pada wanita di hadapannya.
Lily menatap ke arahnya, rupa yang mirip dengan Meiji kecil. Hanya saja orang ini mengenakan kacamata, ditambah bekas luka di wajahnya. Tapi benar-benar seperti putranya. Putra kecilnya yang pernah berkata di lokasi syuting pada ibunya.'Ibu seperti hujan di tengah cahaya matahari...'
'Hujan di tengah cahaya matahari?' Tanyanya dulu pada putra kecilnya.
'Tidak tau, tapi ibu hanya terasa seperti hujan di tengah cahaya matahari. Jika kita saling merindukan, hujan di tengah cahaya matahari, itu juga adalah Meiji...' Kalimat manis dari putranya yang makan dengan lahap. Saat beristirahat di lokasi syuting.
Pria ini mirip dengan Meiji? Tentu saja, orang ini adalah ayah biologisnya. Apa memiliki hati yang hangat sama dengan putranya? Sebelum mengulangi waktu, dirinya sama sekali tidak dekat dengan orang ini.
"Kenapa menangis?" Tanya Neiji, mengambilkan tissue untuknya. Benar! Tanpa terasa air matanya mengalir.
"Kamu jahat!" Ucapnya meraih tissue.
Neiji tertawa kecil. Untuk pertama kalinya dirinya melihat pria ini tertawa."Jahat?" Tanyanya.
"Benar! Jahat..." Tiba-tiba saja tanpa aba-aba wanita ini memeluknya.
Perlahan Neiji membalas pelukannya. Entah kenapa segalanya bagaikan dalam keheningan.
"Aku ingin melihatnya dalam dirimu..." Batin seorang ibu yang merindukan putranya. Meiji...benar! Anak itu adalah putranya dengan Neiji. Sialnya kenapa dirinya tidak menerima uluran tangan Neiji untuk bertanggung jawab sebelum waktu terulang. Meninggalkan Dilan, tidak keras kepala tentang kasih sayang keluarganya.
Mungkin... waktu tidak perlu terulang. Dan dirinya dapat berusaha mencintai pemuda ini perlahan. Tinggal di rumah kecil yang tenang bersama suami dan putranya yang manis.
"Kali ini aku memilihmu..." Gumam Lily, suara yang disertai isakan.
Neiji menghela napas, membalas pelukannya. Tapi sorot matanya seperti berbeda."Apa ada yang menyakitimu? Ceritakan saja, aku adalah calon suamimu. Meskipun aku tidak memiliki kekuasaan. Tapi aku akan berpihak padamu."
Apa yang ada dalam pikirannya? Orang ini adalah miliknya. Lily sudah membalas perasaannya, karena itu..."Tidak boleh menangis..."
"Orang yang menyakitimu aku ingin mengetahuinya..." Batinnya, penuh dendam.
"Aku hanya terlalu menyukaimu. Karena itu aku menangis..." Kalimat yang diucapkan seorang ibu yang menyesali keputusannya. Dirinya merindukan putranya. Sangat! Amat sangat merindukannya. Bagaimana anak rupawan bagaikan malaikat itu, begitu cerdas, begitu dewasa. Tapi harus mengalami kematian yang menyakitkan?
"Begitu?" Tanyanya membalas pelukan wanita ini.
Cahaya matahari di tengah hujan masih terlihat. Anak yang bahkan belum terlahir ke dunia ini. Seorang ibu yang akan mempersiapkan dunia yang lebih indah untuk putranya. Meiji kecil tidak perlu lagi berada di lokasi syuting hingga larut malam hanya untuk mencari perhatian Dilan.
Meiji kecil tidak perlu dibenci, bahkan sempat dipukuli Feno. Tidak perlu mendapatkan tatapan menjijikkan dari semua orang. Karena terlahir sebagai anak hasil perselingkuhan. Bukan perselingkuhan... lebih tepatnya perangkap yang membawa anak tidak berdosa ke dunia ini.
"Menangislah..." Hal yang baru disadarinya, pria ini bukan orang yang buruk. Hanya karena rupanya yang begitu menakutkan. Perilakunya sedingin hujan, tapi mungkin hanya terlalu canggung.
Dirinya tidak akan bertanya apa pria ini mencintainya? Karena mulut manusia dapat berbohong dengan mudah. Tapi jika ini jalan untuk Meiji dapat hidup bahagia, dirinya akan berusaha mencintai pria ini. Akan berpegangan padanya.
Lily melepaskan pelukannya."Jadi makanan apa yang kamu sukai? Aku perlu tau lebih banyak tentangmu."
"Aku tidak menyukai makanan dengan aroma menyengat. Seperti seledri, dan daun mint... selebihnya tidak ada masalah. Aku juga alergi terhadap buah nanas." Jelas pria ini, entah kenapa di pertemuan kali ini terlihat lebih terus terang.
Semuanya mudah untuk diingat. Karena sama dengan Meiji. Jika dipikirkan sekali lagi, ayah dan anak ini memiliki banyak kesamaan. Mungkin tidak akan sulit untuk belajar mencintainya.
"Apa yang paling kamu sukai? Ada hal yang membuatmu tidak nyaman..." Kalimat Lily terhenti kala pemuda ini menatap ke arahnya.
"Yang paling aku sukai...aku akan menjawabnya lain kali. Dalam keadaan yang lebih pantas." Sebuah jawaban canggung lagi. Tapi pemuda ini sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari hadapan Lily.
Jujur saja Lily tidak begitu akrab dengan pria ini sejatinya. Dirinya tidak mengingat hal khusus tentang Neiji.
Mungkin tidak... karena saat tersesat di hutan, seseorang yang diselamatkan olehnya bukan pemuda berkacamata dengan banyak bekas luka di wajahnya. Tapi seorang pemuda rupawan, yang sempat disangka siluman olehnya. Bagaimana bisa ada pemuda yang begitu rupawan di tengah hutan.
Neiji dibantu melangkah keluar dari hutan. Pengalaman yang mungkin biasa bagi Lily. Tapi, sesuatu yang selalu diingat oleh Neiji. Wanita tercantik yang pernah ditemui olehnya.
Dua orang yang mulai berbincang dengan lebih baik kali ini. Pemikiran Lily juga sedikit lebih terbuka tentang orang ini.
Sedangkan Neiji, kesalahpahaman sebelumnya, dirinya tidak akan melepaskannya. Kesempatan untuk bersama wanita tercantik baginya.
***
Sementara itu di tempat lain.
Tubuh Rini dipojokan. Mata Feno menatap tajam ke arahnya."Kenapa kamu setuju dengan perjodohanmu? Aku mencintaimu..."
"Itu hanya untuk membalas jasa ayah dan ibu yang bersedia merawatku. A...aku tidak punya pilihan. Jika dapat memilih aku akan memilihmu. Tapi... hubungan kita...kita..." Rini menunduk dengan air mata mengalir.
Dirinya cantik, jadi selalu pantas untuk mendapatkan segalanya. Cinta dari kekasihnya Alatas, Feno, maupun Dilan.
Siapa yang harus dilepaskan dan dipertahankan olehnya? Itu tergantung performa mereka dan seberapa gila mereka mencintainya.
"Aku akan meminta ijin ibu dan ayah!" Tegas Feno.
"Aku tidak ingin dibenci..." Gumam Rini masih menunduk.
"Tapi aku mencintaimu. Apa kamu tidak mencintaiku?" Tanya Feno padanya.
"A..aku...." Kalimat Rini yang pura-pura lemah tidak berdaya terhenti. Kala Feno mulai mencium bibirnya dengan brutal.
Krak!
Pakaian yang dikenakan Rini dirobek menggunakan cutter.
"Feno hentikan..."
"Hentikan? Jangan harap..."
ervan ati2 mulutmu kelak bakal kena slepet kembaran istrimu....
tp masa sihhh si raja iblis g ngerasa tu muka jelek anakny
masa baktinya udah selesai saat kau melukai Lily
selamat menikmati hari hari sedih mu yaa
jadi bayangin lagi muka nelangsa nya
kasiaaan 😜🤣🤣
lepaskan lah...yg harus dilepaskan 😜🤣🤣