Dunia telah berubah menjadi permainan maut.
Gerbang dimensi terbuka, monster meluap ke bumi, dan manusia terpilih membangkitkan kekuatan luar biasa yang disebut "Hunter". Namun, Kenzo tidak seberuntung itu. Dia hanyalah seorang Cleaner—pemulung mayat monster kelas rendah yang direndahkan dan dianggap sampah masyarakat.
Nasibnya berubah saat ia dikhianati dan dibiarkan mati di dalam Dungeon level tinggi oleh timnya sendiri. Di ambang maut, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem God Level Extraction Diaktifkan!]
[Target: Black Shadow Wolf (Grade A). Ekstraksi Berhasil!]
[Anda Mendapatkan Skill: Kecepatan Bayangan!]
Siapa sangka, pemulung yang dulunya diinjak-injak kini bisa mencuri bakat, kekuatan, hingga ingatan dari makhluk apa pun yang ia sentuh.
Satu per satu Hunter pengkhianat ia jatuhkan. Satu per satu monster penguasa ia jadikan batu loncatan. Dari pembersih sisa pertempuran, Kenzo bangkit menjadi predator puncak yang akan mengekstrak seluruh dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FAJAR IMPERIUM DAN SI PEMBAWA BERITA
Di atas langit, kapal induk Shadow of the Void yang dulunya adalah alat pemusnah massal alien melayang diam seperti monster yang sedang mengawasi mangsanya.
Kenzo berdiri di anjungan utama, tangannya di saku celana, matanya menatap kerlip lampu Jakarta yang mulai menyala. Di sampingnya, Lyra sibuk memijat pelipisnya sambil menatap ribuan notifikasi diplomatik yang masuk.
"Kenzo, lo sadar nggak apa yang udah lo lakuin?" suara Lyra serak. "Belum ada ras dalam sejarah galaksi yang bisa dapet status 'Mandiri Penuh' secepat ini. Lo baru saja nendang meja judi para dewa, dan sekarang mereka semua lagi nyiapin pisau buat lo."
Kenzo cuma mendengus, asap rokoknya mengepul tipis di ruangan hampa udara itu. "Dunia ini emang udah kacau dari awal, Lyra. Mereka cuma terlalu pengecut buat ngakuin kalau aturan mereka itu cuma sampah yang dibungkus rapi."
Pintu geser di belakang mereka terbuka. Hana masuk dengan langkah tegap. Rambut peraknya diikat kuda, dan baju tempurnya yang sobek di bagian bahu memperlihatkan luka goresan energi yang belum sepenuhnya sembuh.
"Guru, si Arka sama orang orang PBB yang bermuka dua itu sudah nunggu di bawah," lapor Hana. Ada nada sinis di suaranya. "Dunia lagi nahan napas. Mereka pengen tau lo bakal jadi pahlawan atau jadi tiran baru."
Kenzo mematikan rokoknya di lantai logam kapal senilai triliunan kredit galaksi itu. "Aktifkan pilar cahaya. Kita turun dengan gaya yang bikin mereka sadar siapa pemilik tempat ini sekarang."
Detik berikutnya, sebuah pilar cahaya hitam perak menghujam jantung Jakarta. Bukan ledakan, tapi tekanan Mana nya begitu padat sampai semua orang di radius satu kilometer terpaksa berlutut karena dadanya sesak. Dari dalam cahaya itu, Kenzo melangkah keluar.
Ribuan kamera drone langsung menyorot. Di depan Kenzo, berbaris Hunter Rank S dari berbagai negara dan pejabat pejabat yang biasanya cuma bisa saling sikut di sidang internasional.
Kenzo nggak butuh mikrofon. Kenzo suntikkan suaranya langsung ke dalem batok kepala setiap manusia di planet ini lewat jaringan Mana global yang udah diabajak.
"Dengerin gue baik baik, kalian semua," suara kenzo bergema di kepala mereka, dingin dan nggak terbantahkan. "Gue nggak balik ke sini buat dengerin pidato perdamaian yang manis atau janji janji sampah. Gue balik buat ngasih tau kalau Bumi bukan lagi tempat mainan alien."
Kenzo natap kerumunan itu dengan pandangan meremehkan. "Mulai detik ini, nggak ada lagi yang namanya Amerika, Cina, atau Indonesia. Buang semua bendera kalian ke tempat sampah. Mulai sekarang, cuma ada satu federasi, Federasi Bumi. Siapa pun yang masih mau main politik pecah belah atau korupsi energi Mana, gue sendiri yang bakal kirim kalian ke neraka tanpa perlu lewat Gate."
Suasana mendadak sunyi senyap. Kenzo bisa liat muka muka pucat para presiden yang biasanya sombong. Tapi dia nggak peduli. Di galaksi luar sana, predatornya jauh lebih ngeri. Kalau mereka nggak bisa bersatu di bawah kaki gue, mereka cuma bakal jadi santapan pembuka buat alien alien itu.
"Selamat datang di era baru," tutup kenzo. "Era di mana manusia berhenti jadi mangsa dan mulai jadi pemburu."
Selesai urusan panggung sandiwara di Monas, Kenzo langsung cabut ke lab bawah tanah Arka. Baunya masih sama bau kabel angus dicampur kopi basi yang udah seminggu nggak dibuang. Arka lagi sibuk ngutak atik mesin raksasa yang warnanya ungu gelap, kelihatan kayak jantung mekanis yang lagi sekarat.
"Belum mati lo, Bos? Padahal gue udah taruhan sama Valeria kalau lo bakal balik dalam bentuk potongan daging," sapa Arka tanpa nengok dari monitornya.
"Sori udah bikin lo kalah taruhan," kenzo nyengir.
"Gimana progresnya? Gue nggak mau nunggu ribuan tahun cuma buat sampe ke Andromeda."
Arka menghela napas, terus neken satu tombol gede. Hologram kapal Leviathan muncul, tapi desainnya udah berubah total. "Teknologi alien itu lemot, Bos. Mereka pake energi matahari. Mana cukup buat lari antar galaksi. Jadi, gue buat sesuatu yang lebih gila Shadow Drive."
"Gimana cara kerjanya?" Hana nanya, dia kelihatan penasaran banget sambil nyender di bahu Kenzo.
"Simpelnya gini mesin ini nggak terbang di ruang angkasa biasa. Dia ngerobek dimensi, bikin celah bayangan, terus kita 'seluncuran' di dalemnya. Kita bisa sampe ke Andromeda dalam hitungan minggu," jelas Arka semangat. "Masalahnya cuma satu baterainya."
"Baterai apa?" tanya Kenzo.
"Gue butuh jantung Sovereign buat jadi aki cadangan. Dan karena lo satu satunya Sovereign yang gue kenal, gue nggak mungkin motong jantung lo, kan?" Arka ngelirik gue.
Kenzo diem sebentar. dia inget Tiamat yang sekarang dia kurung di dasar laut Jakarta. "Tiamat. Pake dia. Dia udah setuju buat jadi sumber energi sebagai ganti nyawa rasnya yang tersisa. Jadiin dia aki mobil galaksi kita."
Malam harinya, pas Jakarta lagi pesta pora ngerayain kemenangan diplomatik, Kenzo milih meditasi di puncak Shadow World Tree. Tapi ada yang aneh. Sistem gue rasanya kayak kena virus. Notifikasinya distorsi, warnanya berubah ubah, dan Kenzo mulai liat potongan memori yang bukan milik nya.
Tiba tiba, hawa di sekitar gue jadi dingin banget. Baunya kayak besi karatan dicampur bau tanah kuburan. Sesosok bayangan muncul di depan gue. Bukan bayangan gue, tapi sosok yang pake baju zirah hancur dengan helm yang udah retak setengah.
"Siapa lo?" kenzo langsung nyabut pedang hitam dia. "Mau mati dua kali?"
"Gue adalah kegagalan yang lo gantikan," suara sosok itu kayak gesekan amplas di logam. "Gue adalah Sovereign dari era sebelum manusia pinter nulis sejarah. Dewan manggil kami 'Sovereign Pertama'. Kami dikirim ke Andromeda bukan buat menang, tapi buat dibuang."
Sosok itu nunjuk ke langit, ke arah galaksi Andromeda yang kelihatan tenang tapi mematikan. "Jangan pergi ke sana jadi pahlawan buat Dewan, Kenzo. Pergi ke sana buat cari kuburan kami. Cari tau kenapa sistem yang lo banggain itu sengaja didesain buat bunuh pemiliknya sendiri pas mereka udah terlalu kuat."
Kenzo mau nebas dia, tapi dalam sekejap dia hancur jadi debu perak dan ilang ditiup angin laut. Dia ludah ke samping.
"Sovereign Pertama, ya? Makin lama makin banyak aja berengsek yang mau main teka teki sama gue," gumam Kenzo.
Pagi harinya, persiapan udah selesai. Kenzo kumpulin tim kenzo Hana, Freya, Lyra, sama lima puluh Hunter Rank S yang udah dia "cuci" otaknya biar loyal cuma sama gue. Kapal Leviathan udah siap di orbit Pluto, nunggu komando terakhir.
Kenzo berdiri di anjungan, ngerasain getaran mesin Shadow Drive yang mulai nyedot energi dari Tiamat di bawah sana. Hana berdiri di samping nya, dia pegang hulu pedangnya kenceng banget.
"Guru, kalau omongan hantu semalam bener... kita mungkin nggak bakal bisa balik lagi ke Bumi," bisik Hana.
Kenzo nengok ke dia, terus gue pegang dagunya dikit. "Lo takut?"
Hana natap mata kenzo, matanya yang perak berkilat berani. "Selama gue di samping lo, Guru, gue nggak peduli kita mau ke surga atau ke lubang wc galaksi sekalipun."
Kenzo nyengir. "Bagus. Itu jawaban yang gue mau."
"Aktifkan Shadow Drive! Cabut!"
Dunia di depan jendela observasi mendadak terlipat kayak kertas. Semuanya jadi item pekat selama beberapa detik sebelum meledak jadi warna ungu keemasan yang luar biasa indah.
Tapi keindahan itu cuma sebentar. Di depan kita, udah ada armada besar yang nunggu. Simbolnya familiar banget IHA. Tapi kali ini mereka punya teknologi yang kelihatan jauh lebih ngeri daripada yang ada di Bumi.
"IHA lagi? Mereka bener bener kayak kecoa, nggak mati-mati," gerutu Kenzo sambil nyiapin pedang. "Hana, siapin pasukan. Kita kasih tau mereka kenapa mereka harusnya tetep diem di lubang persembunyian mereka."
[Status Kenzo: Grand Monarch in Uncharted Space.]
[Misi Aktif: The Andromeda Purge - Tahap 1.]
[Peringatan: Energi Sovereign Kuno terdeteksi di sektor ini.]
Perang di antara bintang bintang baru saja dimulai, dan kali ini, nggak bakal ada aturan yang bisa nahan gue lagi.