"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."
Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.
Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.
Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.
Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Dalam Cengkeraman Badai
PERJALANAN pulang dari Gereja San Pietro tua terasa seperti prosesi pemakaman bagi Aria. Di dalam mobil SUV yang melaju membelah kabut malam, keheningan bukan lagi sekadar ketiadaan suara—itu adalah entitas yang berat, menyesakkan, dan mencekik. Dante duduk di sampingnya, matanya terpaku pada jalanan di depan, sementara tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat kuat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol seperti akar pohon yang tua dan keras.
Aria melirik ke luar jendela. Hujan mulai turun, membasahi kaca mobil dan membiaskan lampu-lampu jalan menjadi garis-garis cahaya yang buram. Ia bisa merasakan sisa panas di tempat Dante mencengkeram lengannya tadi. Ada rasa sakit yang berdenyut di sana, namun itu tidak sebanding dengan rasa takut yang kini mulai menjalar di perutnya.
Ia telah membuat kesalahan fatal. Bukan karena ia mencoba melindungi rahasia Dante, tapi karena ia melakukannya dengan cara yang membuat pria itu merasa tidak berkuasa. Dan bagi pria seperti Dante Moretti, kehilangan kendali adalah penghinaan tertinggi.
"Dante," panggil Aria pelan. Suaranya bergetar, memecah kesunyian yang tegang itu. "Aku sungguh tidak tahu kau sudah memegang dokumen itu. Aku hanya ingin..."
"Diam, Aria," potong Dante. Suaranya tidak keras, namun sangat tajam—seperti gesekan pisau pada batu asah. "Satu kata lagi yang keluar dari mulutmu, dan aku akan memastikan kau tidak akan punya suara lagi untuk bicara dengan siapa pun sampai aku mengizinkannya."
Aria tersentak. Ia menelan ludah dan kembali menatap jendela. Ia tahu saat ini bukan waktunya untuk membela diri. Dante tidak sedang mencari penjelasan; dia sedang berada di puncak badai emosinya sendiri.
Begitu mereka sampai di vila, Dante tidak menunggu sopir membukakan pintu. Ia keluar dari mobil, berjalan memutari kap mesin, dan menarik pintu di sisi Aria dengan sentakan kasar. Tanpa sepatah kata pun, ia menyambar lengan Aria dan menyeretnya masuk ke dalam gedung.
Para pelayan dan pengawal yang mereka lewati langsung menundukkan kepala. Mereka semua tahu suasana hati sang Bos. Tidak ada yang berani bernapas terlalu keras saat Dante Moretti lewat dengan mata yang menyala karena murka.
Dante tidak membawa Aria ke kamar utama. Ia justru membawanya menuju ruang kerja di lantai atas, lalu membanting pintu kayu ek itu hingga berdentum keras di belakang mereka. Ia melepaskan cengkeramannya, membuat Aria terhuyung dan menabrak rak buku di sudut ruangan.
Dante berdiri di tengah ruangan, melepaskan jaketnya dan melemparkannya ke lantai. Ia mulai melonggarkan dasinya dengan gerakan yang sangat agresif.
"Kau pikir kau sangat pintar, bukan?" Dante berbalik, menatap Aria dengan tatapan yang bisa menghancurkan kaca. "Seorang pengacara lulusan terbaik, putri dari Julian Vane. Kau pikir kau bisa menyelinap keluar dari rumahku, menipu pengawalku, dan melakukan transaksi di belakang punggungku?"
"Aku tidak mencoba menipumu!" teriak Aria, kemarahannya mulai bangkit mengimbangi rasa takutnya. "Enzo mengancam akan menyebarkan berita itu! Aku tidak ingin keluargamu hancur karena skandal masa lalu ayahmu!"
Dante tertawa, sebuah suara yang sangat kering dan menyeramkan. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Aria bisa mencium bau mesiu dan keringat di tubuh suaminya.
"Kau pikir aku peduli pada skandal?" Dante mencengkeram bahu Aria dan menekannya ke rak buku. "Duniaku dibangun di atas skandal dan tumpukan mayat, Aria! Aku tidak peduli jika seluruh dunia tahu Lorenzo Moretti adalah seorang pembunuh. Yang aku pedulikan adalah kau—istriku sendiri—berjalan keluar dan menyerahkan lehermu pada musuh!"
"Dia punya dokumen aslinya, Dante! Laporan otopsi itu..."
"Aku yang menulis laporan otopsi itu!" teriak Dante tepat di wajah Aria.
Aria membeku. Matanya membelalak tak percaya.
"Aku yang memalsukan laporan aslinya sepuluh tahun yang lalu," lanjut Dante, suaranya kini kembali merendah namun lebih berbahaya. "Aku yang memastikan dunia percaya ibuku mati karena sakit. Dan aku yang menyimpan dokumen asli itu di dalam brankas pribadiku. Apa yang dibawa Enzo tadi hanyalah salinan palsu yang sengaja aku biarkan bocor agar aku bisa memancing tikus-tikus seperti dia."
Dante melepaskan Aria, lalu ia berjalan menuju mejanya dan mengambil sebotol wiski. Ia meminumnya langsung dari botol tanpa menggunakan gelas.
"Kau jatuh ke dalam jebakan yang sangat sederhana, Aria. Dan yang paling menjijikkan adalah kau melakukannya karena kau pikir kau 'melindungiku'. Aku tidak butuh dilindungi oleh seorang wanita yang bahkan tidak tahu cara memegang pisau dengan benar."
Aria merasa wajahnya memanas karena malu dan amarah. Ia merasa bodoh. Ia merasa seperti anak kecil yang mencoba ikut bermain di meja orang dewasa.
"Lalu kenapa kau begitu marah?" tanya Aria dengan suara yang sedikit bergetar. "Jika kau sudah tahu semuanya, jika itu semua adalah jebakanmu, kenapa kau bereaksi seolah-olah aku baru saja mengkhianatimu dengan musuh terbesar?"
Dante meletakkan botol wiski itu dengan hentakan keras. Ia kembali mendekati Aria, kali ini dengan langkah yang lebih lambat, lebih terhitung.
"Karena kau meninggalkan rumah ini tanpa pengawalan," bisik Dante. Ia mengangkat tangannya, jemarinya yang dingin mengusap leher Aria—tepat di tempat pria bayaran tadi hampir mencekiknya di pelabuhan. "Karena kau membuat dirimu rentan. Kau tahu apa yang akan terjadi jika aku terlambat satu menit saja di gereja itu? Enzo tidak akan memerasmu, Aria. Dia akan membawamu ke ayahmu. Dan Julian Vane tidak akan ragu untuk memotong jari-jarimu dan mengirimkannya kepadaku satu per satu."
Dante mendekatkan wajahnya, napasnya yang beraroma alkohol menggelitik kulit Aria. "Aku tidak marah karena rahasia itu. Aku marah karena kau mengabaikan satu-satunya aturan yang kuberikan padamu: Kau adalah milikku. Dan tidak ada barang milikku yang boleh keluar tanpa izin dariku."
Aria menatap mata abu-abu itu. Ia melihat obsesi di sana. Ia melihat kegelapan yang begitu murni hingga tidak ada ruang untuk logika. Dante tidak peduli pada niat baiknya. Dante hanya peduli pada kepemilikannya.
"Jadi aku hanyalah barang bagimu? Sama seperti pistolmu? Sama seperti mobilmu?" tanya Aria getir.
Dante terdiam sejenak. Ia menyentuh dagu Aria, mengangkatnya agar wanita itu tidak bisa berpaling. "Kau lebih berharga daripada pistolku, Aria. Tapi prinsipnya tetap sama. Aku tidak membiarkan senjataku berkarat, dan aku tidak membiarkan istriku diculik oleh pecundang seperti Enzo."
Dante melepaskan dagu Aria dan berbalik menuju jendela besar yang menghadap ke danau. "Besok pagi, aku akan mengirim Enzo kembali ke ayahmu. Dalam kepingan-kepingan kecil."
Aria merasa mual mendengar itu. Kekejaman Dante adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia biasakan.
"Dan untukmu," Dante melanjutkan tanpa menoleh. "Hak istimewamu berakhir malam ini. Tidak ada lagi perpustakaan. Tidak ada lagi dokumen logistik. Kau akan tetap berada di kamarmu sampai aku memutuskan sebaliknya. Marco akan berdiri di depan pintumu 24 jam sehari. Kau ingin menjadi tawanan? Maka aku akan memperlakukanmu sebagai tawanan."
"Kau tidak bisa melakukan ini, Dante! Aku istrimu, bukan narapidana!"
Dante berbalik dengan senyum miring yang sangat kejam. "Di rumah ini, perbedaannya sangat tipis, cara mia. Sekarang, keluar dari ruanganku sebelum aku melakukan sesuatu yang akan kau sesali besok pagi."
Aria ingin berteriak, ingin memukul dada pria itu, namun ia melihat kilatan di mata Dante yang memberitahunya bahwa pria itu sedang berada di ambang batas kesabarannya. Dengan tangan yang mengepal, Aria berbalik dan keluar dari ruangan itu.
Di luar pintu, Marco sudah menunggu dengan wajah tanpa ekspresi.
"Silakan, Nyonya," ucap Marco singkat, memberi isyarat ke arah tangga menuju kamar.
Aria berjalan dengan langkah yang berat, merasa seolah-olah setiap langkahnya menyeret rantai yang tak terlihat. Ia masuk ke kamar utamanya—yang kini terasa lebih seperti sel penjara yang mewah—dan mendengar pintu ditutup serta suara kunci diputar dari luar.
Tiga jam berlalu. Aria duduk di ambang jendela, memeluk lututnya sambil mendengarkan suara hujan yang semakin deras. Ia merasa sangat terisolasi. Dunia di luar sana sedang bergerak, ayahnya mungkin sedang merencanakan sesuatu, dan ia terjebak di sini bersama seorang pria yang ia cintai sekaligus ia takuti.
Tunggu. Cintai?
Aria segera menepis pikiran itu. Tidak, ia tidak mungkin mencintai Dante. Apa yang ia rasakan hanyalah Stockholm Syndrome, atau mungkin sekadar ketergantungan karena Dante adalah satu-satunya pelindungnya di dunia yang gila ini. Namun, ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa saat Dante menciumnya di bawah guyuran air panas tadi sore, ia merasa seolah-olah ia telah menemukan rumahnya.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Aria menoleh dengan cepat. Dante masuk ke dalam kamar. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan jubah tidur sutra hitam. Ia terlihat lebih tenang, namun auranya masih terasa mengintimidasi.
Dante tidak mengatakan apa-apa. Ia berjalan menuju tempat tidur dan berbaring di sisi kirinya, menatap langit-langit.
Aria tetap diam di ambang jendela.
"Tempat tidur ini terlalu besar untuk kau tiduri sendirian di jendela, Aria," ucap Dante datar.
"Aku lebih suka di sini," sahut Aria ketus.
Dante menghela napas panjang. Ia bangkit dan duduk di tepi tempat tidur, menatap Aria melalui kegelapan kamar yang hanya diterangi oleh lampu taman dari luar.
"Kemari," perintahnya.
Aria tidak bergerak.
Dante berdiri dan berjalan mendekati Aria. Ia berhenti tepat di depannya, lalu ia mengulurkan tangannya. Bukan untuk mencengkeram, melainkan untuk menyentuh pipi Aria dengan lembut.
"Kau pikir aku adalah monster, bukan?" tanya Dante pelan.
"Kau baru saja mengatakan ingin memotong-motong orang dan mengurungku di kamar. Apa menurutmu itu perilaku manusia normal?"
Dante tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kesedihan yang tersembunyi. "Normal adalah kata yang tidak pernah ada dalam kamusku sejak aku melihat ayahku membunuh ibuku dengan racun arsenik."
Aria terdiam. Ia menatap mata Dante, mencari kejujuran di sana.
"Aku melihatnya, Aria," lanjut Dante, suaranya bergetar karena emosi yang ia tahan selama bertahun-tahun. "Aku melihatnya mengganti botol obat ibu setiap malam. Aku baru berusia sepuluh tahun, tapi aku tahu ada yang salah. Aku mencoba memberitahu pelayan, tapi mereka semua takut pada Lorenzo. Aku mencoba memberitahu polisi, tapi mereka semua ada di saku ayahku."
Dante menarik tangannya dari pipi Aria dan mengepalkannya. "Sejak saat itu, aku bersumpah bahwa aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyentuh apa yang aku sayangi. Aku akan menjadi monster yang lebih besar agar aku bisa melindungi apa yang menjadi milikku."
"Tapi kau tidak melindungiku, Dante. Kau mengendalikanku," bisik Aria.
Dante menatap Aria dengan intensitas yang membuat wanita itu merinding. "Bagiku, keduanya adalah hal yang sama. Di dunia ini, jika kau tidak mengendalikan, kau akan dikendalikan. Aku tidak ingin melihatmu berakhir seperti ibuku—layu dan mati di dalam rumah ini karena dia terlalu lemah untuk melawan."
Dante membungkuk, wajahnya sejajar dengan wajah Aria. "Aku keras padamu karena kau harus kuat, Aria. Kau tidak bisa menjadi sekutu jika kau masih memiliki hati yang terlalu lembut. Tapi malam ini... aku menyadari bahwa mungkin aku yang terlalu takut kehilanganmu."
Pengakuan itu menghantam Aria seperti tamparan. Ia melihat kerentanan di mata Dante yang biasanya seperti baja. Pria perkasa ini, yang bisa membantai puluhan orang tanpa berkedip, ternyata memiliki ketakutan yang begitu mendalam akan kehilangan.
Aria memberanikan diri untuk menyentuh tangan Dante yang terkepal. "Dante... kau tidak akan kehilanganku karena skandal atau karena Enzo. Tapi kau akan kehilanganku jika kau terus memperlakukanku seperti tawanan."
Dante menatap tangan Aria yang menyentuhnya, lalu ia menatap kembali ke mata Aria. Tanpa sepatah kata pun, ia menarik Aria ke dalam pelukannya. Ia memeluk wanita itu dengan sangat erat, seolah-olah ia sedang mencoba menyatukan tubuh mereka agar tidak ada lagi jarak.
Aria bisa merasakan detak jantung Dante yang kuat di dadanya. Ia tidak melawan. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan itu.
Malam itu, di dalam kamar yang terkunci di tengah badai Danau Como, mereka berdua tidur di satu tempat tidur yang sama. Dante memeluk Aria dari belakang sepanjang malam, seolah-olah ia adalah harta karun yang paling berharga sekaligus paling rapuh di dunia.
Namun, saat fajar mulai menyingsing, sebuah panggilan telepon di ponsel rahasia Dante mengubah segalanya.
Dante bangkit dengan cepat, mendengarkan suara di seberang sana dengan wajah yang berubah menjadi pucat pasi.
"Apa?" desis Dante. "Kapan ini terjadi?"
Aria duduk di tempat tidur, merasa ada sesuatu yang sangat salah. "Dante? Ada apa?"
Dante menutup teleponnya dan menatap Aria dengan tatapan yang dipenuhi oleh kemarahan yang baru—namun kali ini, kemarahan itu bukan ditujukan pada Aria.
"Ayahmu," ucap Dante, suaranya seperti guntur yang jauh. "Julian Vane baru saja meledakkan gudang utama Moretti di pelabuhan. Dan dia tidak melakukannya sendirian. Dia bekerja sama dengan keluarga Lucchese dari New York."
Aria tersentak. Keluarga Lucchese adalah salah satu musuh tertua Moretti. Jika mereka bergabung dengan ayahnya, maka ini bukan lagi sekadar perselisihan bisnis. Ini adalah perang total.
"Dante, aku..."
"Bersiaplah, Aria," potong Dante sambil mulai memakai pakaian perangnya lagi. "Mulai hari ini, kau bukan lagi sekadar istri. Kau adalah target utama dalam perang ini. Dan kita akan meninggalkan vila ini sekarang juga."
"Ke mana?"
Dante mengambil pistolnya dari meja samping tempat tidur dan memeriksanya dengan gerakan yang dingin. "Ke tempat di mana bahkan iblis pun tidak akan berani mencarimu. Ke benteng Moretti di pegunungan Sisilia."
Aria menyadari bahwa masa tenang mereka—jika itu bisa disebut tenang—telah berakhir. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi.