Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!
Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.
Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.
Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.
Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan mencurigakan
Mayra tidak bisa tidur malam itu.
Jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul dua dini hari, tapi matanya masih terbuka lebar menatap langit-langit. Pikirannya terus berputar seperti kaset rusak, memutar ulang setiap detail pertemuan dengan keluarga Prasetyo sore tadi.
Ekspresi Arman saat menerima telepon itu. Cara dia terburu-buru keluar. Senyumnya yang dipaksakan saat kembali. Dan yang paling mengganggu--cara dia menggenggam tangan Mayra setelah itu, terlalu erat, seolah berusaha meyakinkan dirinya sendiri, bukan Mayra.
Mayra membalikkan tubuhnya, meraih ponsel__ di nakas. Layarnya menyala, menampilkan wallpaper foto mereka berdua saat liburan ke Bali tahun lalu. Di foto itu, Arman memeluk Mayra dari belakang, keduanya tersenyum lebar dengan background sunset di Pantai Uluwatu.
Kapan terakhir kali mereka sebahagia itu?
Jari Mayra membuka WhatsApp, mencari chat dengan Arman. Pesan terakhir dari dia jam tujuh malam tadi:
("Sudah sampai rumah, sayang? Istirahat yang cukup ya. Love you. ❤️")
Mayra sudah membalas dengan emoji ciuman dan ucapan selamat malam. Tapi hatinya terasa kosong saat mengetik kata-kata itu.
Dia scroll ke atas, membaca percakapan mereka minggu-minggu terakhir. Sebagian besar diisij dengan pesan singkat Arman: "Lagi meeting", "Lembur lagi", "Capek banget hari ini", "Maaf telat balas".
Kapan terakhir kali mereka punya percakapan panjang yang bermakna? Kapan terakhir kali Arman meneleponnya hanya untuk mendengar suaranya? Kapan terakhir kali dia bilang "aku rindu kamu" dan benar-benar terdengar seperti dia merindukannya?
Mayra menarik napas panjang. Mungkin dia terlalu overthinking. Mungkin Arman memang hanya sibuk dengan pekerjaan dan persiapan pernikahan. Tujuh hari lagi mereka akan menikah, mungkin dia nervous, sama seperti Mayra.
Tapi firasat buruk itu tidak mau pergi.
Mayra menutup mata, berusaha tidur. Tapi bahkan dalam kegelapan, pikirannya tetap tidak tenang.
...----------------...
Pagi datang terlalu cepat.
Mayra terbangun dengan kepala pening dan mata perih. Cermin kamar mandi menunjukkan pantulannya yang mengerikan, mata bengkak, wajah kusam, rambut kusut.
"Great," gumamnya sambil membasuh wajah dengan air dingin.
Hari ini dia ada meeting dengan klien di kantornya--sebuah event organizer bernama "Luminary Events" di daerah Kemang. Mayra bekerja sebagai senior event planner di sana sejak lulus kuliah tiga tahun lalu. Dia mencintai pekerjaannya,mengatur acara, mewujudkan visi klien, melihat senyum bahagia mereka saat acara berjalan sempurna.
Pekerjaan itu yang membuat dia tetap waras di tengah kehidupan keluarga yang kacau dan hubungan dengan Arman yang akhir-akhir ini terasa hambar.
Mayra bersiap dengan autopilot--mandi, makeup natural untuk menyamarkan kantung mata, blazer abu-abu dengan celana hitam, dan heels moderat. Perfect! dia kemudian turun ke bawah dengan tas kerja di bahu.
Di ruang makan, hanya ada Bi Ijah--pembantu rumah tangga yang sudah bekerja sejak Mayra kecil--yang sedang menyiapkan sarapan.
"Selamat pagi, Nona Mayra," sapa Bi Ijah dengan senyum hangat. "Sudah saya siapkan roti panggang dan kopi susu seperti biasa."
"Terima kasih, Bi," Mayra tersenyum tulus pada wanita paruh baya itu, satu-satunya orang di rumah ini yang benar-benar peduli padanya.
"Nona terlihat capek. Tidak tidur nyenyak?" tanya Bi Ijah dengan nada khawatir.
"Sedikit insomnia, Bi. Mungkin karena deg-degan dengan rencana pernikahan," bohong Mayra sambil menggigit roti panggang.
Bi Ijah mengangguk paham, meski tatapannya seolah tahu ada yang tidak beres. Wanita itu sudah merawat Mayra sejak kecil, bahkan lebih perhatian daripada ibu tirinya. Bi Ijah tahu kapan Mayra berbohong.
Tapi dia tidak mendesak. Itu yang Mayra suka dari Bi Ijah, dia tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam.
Mayra menghabiskan sarapannya dengan cepat, lalu pamit berangkat. Di perjalanan menuju kantor dengan mobilnya, sebuah Honda HR-V putih hadiah dari ayahnya saat lulus kuliah. Mayra mencoba fokus pada pekerjaan hari ini. Meeting dengan klien yang ingin mengadakan intimate wedding di rooftop venue. Seharusnya menyenangkan.
Tapi pikirannya terus melayang ke Arman.
Saat berhenti di lampu merah, ponselnya bunyi. Pesan masuk dari Arman:
("Morning sayang. Hari ini aku ada meeting seharian, mungkin baru bisa telpon malam. Love you ❤️")
Mayra menatap pesan itu dengan perasaan campur aduk. Dia mengetik balasan:
("Okay, semangat kerjanya. Love you too.")
Tidak ada emoji. Tidak ada kalimat panjang. Hanya balasan singkat yang terasa kosong dan hambar.
Meeting dengan klien hari ini berjalan lancar. Mayra berhasil mempresentasikan konsep rooftop garden wedding yang membuat klien, pasangan muda yang sangat in love, excited dan langsung setuju. Melihat mereka berdua saling menatap dengan mata berbinar, tertawa bersama, saling melengkapi kalimat satu sama lain, membuat dada Mayra sesak.
Dulu dia dan Arman juga seperti itu.
Kapan semuanya berubah?
Setelah meeting selesai, Mayra kembali ke meja kerjanya. Dia mencoba fokus membuat proposal detail untuk klien tadi, tapi konsentrasinya buyar. Matanya terus melirik ponsel yang tergeletak di sebelah keyboard.
Tidak ada pesan dari Arman.
Jam makan siang tiba. Mayra pergi ke pantry bersama Dina--sahabatnya sejak kuliah yang juga bekerja di kantor yang sama sebagai graphic designer.
"Kamu kenapa sih, May?" tanya Dina sambil menyerahkan sandwich tuna untuknya. "Dari tadi mukamu kusut banget."
Mayra menghela napas panjang. Kalau ada satu orang yang bisa dia ajak bicara jujur, itu Dina.
"Aku rasanya... ada yang aneh dengan Arman," aku Mayra pelan.
Dina menaikkan alis. "Aneh gimana?"
"Dia jadi jarang ngabarin, sering cancel janji, kalau ketemu juga kayak pikiran dia nggak di aku," Mayra mengaduk kopinya tanpa minat. "Tadi malam juga dia bohong."
"Bohong tentang apa?"
Mayra menceritakan soal Instagram Story yang dia lihat, Arman yang katanya meeting dengan klien tapi tidak bilang kalau itu klien wanita.
Dina terdiam sebentar, ekspresinya serius. "May, ini mungkin terdengar sedikit kasar, tapi... kamu yakin Arman nggak ada apa-apa?"
Pertanyaan itu seperti tamparan.
"Maksud kamu...?"
"Maksud aku, cowok yang tiba-tiba berubah gitu, sering bohong, sibuk sendiri... biasanya ada sesuatu," Dina menatap Mayra dengan tatapan simpati. "Aku nggak mau nuduh yang nggak-nggak, tapi sebagai sahabat, aku harus bilang : better safe than sorry."
Mayra merasakan dadanya sesak. Bagian dari dirinya ingin marah pada Dina karena berpikiran negatif. Tapi bagian lainnya,bagian yang sudah merasakan firasat buruk itu tahu bahwa Dina mungkin benar.
"Kamu pikir aku harus... ngecek?" tanya Mayra ragu.
"Bukan ngecek dalam arti stalking atau possessive gitu," Dina menggenggam tangan Mayra. "Tapi kamu berhak tahu kebenarannya. Kamu mau nikah sama dia, May. Kalau emang ada yang nggak beres, lebih baik kamu tahu sekarang daripada setelah menikah."
Mayra mengangguk pelan. Dina benar. Dia berhak tahu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore harinya, Mayra pulang dengan pikiran kalut. Sampai di rumah, dia langsung naik ke kamar dan tergeletak di tempat tidur. Matanya menatap kosong ke langit-langit.
Harus mulai dari mana?
Ponselnya berbunyi. Pesan dari Arman:
("Sayang, maaf hari ini aku nggak sempat telpon. Capek banget. Besok aja ya kita ketemuan? Love you ❤️")
Mayra menatap pesan itu dengan perasaan hampa. Tidak ada panggilan video, tidak ada telepon, bahkan tidak ada voice note. Hanya pesan teks singkat dengan emoji hati yang terasa sangat kosong.
Jarinya bergerak mengetik balasan, tapi tiba-tiba berhenti.
Tunggu.
Sebuah ide gila muncul di kepalanya.
Dengan jantung berdebar, Mayra membuka kontak Arman. Dia scroll ke detail kontak, ada opsi "Share My Location" yang aktif sejak setahun lalu, saat mereka setuju untuk saling share lokasi demi keamanan.
Mayra membuka fitur location sharing.
Lokasi Arman menunjukkan... hotel. The Ritz-Carlton Jakarta, Pacific Place.
Mayra memicingkan mata. Hotel? Untuk apa Arman ada di hotel jam segini? Katanya dia capek dan mau istirahat, kenapa tidak pulang ke rumahnya di Menteng?
Mungkin meeting di hotel, pikirnya. Banyak meeting bisnis yang diadakan di hotel.
Tapi kenapa dadanya merasa cemas seperti ini?
Mayra membuka Instagram, mencari akun The Ritz-Carlton. Dia scroll ke location tag, melihat Instagram Stories orang-orang yang sedang di sana.
Dan jantungnya berhenti berdetak.
Di salah satu Story dari akun random, seorang wanita yang sedang di lounge hotel--background videonya menangkap seseorang yang sangat familiar.
Arman. Duduk di sofa lounge dengan seseorang.
Mayra mem-pause video itu, memperbesar dengan tangan gemetar.
Wanita di sebelah Arman itu...
Tidak.
TIDAK.
Rambut panjang terurai, tubuh langsing dengan dress merah, senyum yang sangat Mayra kenal.
Zakia!
Kakak tirinya.
Mereka duduk terlalu dekat. Tangan Arman ada di sandaran sofa di belakang punggung Zakia. Mereka tertawa bersama, terlihat sangat... akrab.
Ponsel Mayra jatuh ke tempat tidur. Tangannya bergetar hebat. Nafasnya tercekat.
Tidak. Pasti ada penjelasannya. Pasti ini hanya kebetulan. Mungkin mereka memang sengaja ketemu untuk membahas sesuatu tentang pernikahan. Mungkin--
Tapi kenapa Arman tidak bilang? Kenapa dia bilang dia capek dan tidak menyebutkan dia bertemu Zakia?
Kenapa mereka tertawa seperti itu?
Kenapa jarak mereka sedekat itu?
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Mayra. Dadanya sesak, seolah ada yang meremas jantungnya dengan keras.
Dia meraih ponselnya lagi dengan tangan gemetar, menyimpan screenshot Story itu. Bukti. Dia butuh bukti.
Lalu, dengan keputusan yang bahkan dia sendiri tidak percaya bisa dia buat, Mayra berdiri dan meraih kunci mobilnya.
Dia harus ke sana.
Dia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Karena firasat buruk itu sekarang berubah menjadi kecurigaan yang membakar.
Dan Mayra andini Kusumo tidak akan menikah dalam ketidakpastian.
Dia akan mencari tahu kebenarannya.
Malam ini juga.
****
Bersambung...
menunggu mu update lagi