NovelToon NovelToon
Greta Hildegard

Greta Hildegard

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Bullying dan Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: spill.gils

Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vanderbilt

Greta melangkah masuk ke apartemennya yang kecil dan sunyi, tempat satu-satunya ia bisa merasa sedikit aman dari kejamnya dunia luar. Ia meletakkan tasnya dengan lunglai di atas meja, lalu berjalan menuju jendela. Di sana, di atas ambang jendela yang sempit, terdapat sebuah pot kecil berisi bunga daisy yang mulai mekar—satu-satunya "teman" yang setia menunggunya pulang.

​Greta duduk bersimpuh di samping jendela, jemarinya yang gemetar menyentuh helai kelopak bunga daisy itu dengan sangat lembut. Ia menatap bunga itu dengan mata yang berkaca-kaca, seolah sedang menatap cermin jiwanya sendiri.

​"Apa yang harus kulakukan?" bisiknya lirih, suaranya pecah di tengah keheningan kamar. "Aku takut... sangat takut untuk pergi ke sana."

​Ia membayangkan gerbang kediaman Vanderbilt yang menyerupai rahang monster, siap menelannya bulat-bulat. Namun, setiap kali ia ingin menyerah, bayangan dirinya yang terusir dari sekolah dan luntang-lantung di jalanan Kanada yang dingin terus menghantuinya.

​"Jika aku menolak, aku akan kehilangan segalanya, Daisy," ucapnya lagi sambil membelai bunga itu. "Hanya sekolah itu yang kupunya. Jika aku dikeluarkan, aku tidak punya tempat untuk pulang. Aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini..."

​Air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya yang masih terasa perih bekas tamparan tadi siang. Konsekuensi menolak ajakan Eleanor Vanderbilt jauh lebih mematikan daripada rasa takutnya. Ia harus memilih antara masuk ke sarang singa dengan martabat yang mungkin akan hancur, atau melarikan diri namun kehilangan satu-satunya masa depan yang ia perjuangkan dengan darah dan air mata.

​Greta memejamkan mata erat-alih, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia harus berangkat. Malam ini, hidupnya berada di ujung tanduk.

Waktu seolah berlari mengejar Greta. Setelah perdebatan batin yang melelahkan, ia akhirnya bersiap. Greta mengenakan gaun selutut berwarna putih tulang dengan potongan sederhana namun elegan, dipadukan dengan cardigan rajut berwarna abu-abu muda untuk menghalau dinginnya malam Kanada. Ia membawa tas selempang kulit kecil berwarna cokelat tua, satu-satunya tas terbaik yang ia miliki, yang tersampir pasrah di bahunya. Meski sederhana, aura Greta malam itu tampak berbeda—rapuh namun sangat cantik di bawah temaram lampu jalan.

​Ia melangkah keluar dari apartemen dan berjalan menuju halte bus dengan hati yang berdebar kencang. Baru saja ia mendaratkan tubuhnya di bangku halte yang dingin, seorang pria tiba-tiba duduk di sampingnya.

​"Nona cantik, malam-malam berdandan mau kemana?" ucap pria itu dengan nada santai.

​Greta tersentak dan menoleh dengan cepat. Matanya membelalak mendapati Luca Blight yang duduk dengan kaki menyilang, tampak asyik mengunyah roti panggang di tangannya.

​"Lu.. Luca?!!.. Apa yang kau lakukan di sini?.." ucap Greta kaget, jantungnya hampir copot karena ia mengira itu adalah orang asing yang berniat jahat.

​"Aku.. sebenarnya tadi ingin ke apartemenmu, tapi aku melihatmu cantik seperti ini jadi aku mau mengikutimu saja," ucap Luca sambil tertawa kecil, pipinya menggembung karena masih mengunyah roti. Ia menelan rotinya lalu menatap Greta dengan tatapan menyelidik yang lebih serius. "Jadi, mau kemana kamu dengan pakaian serapi ini?"

​Greta terdiam sejenak, meremas tali tasnya. "Aku.. aku diundang oleh ibu Norah ke rumahnya.." ucap Greta lirih.

​"Diundang?!!.. Dalam rangka apa?.." tanya Luca seketika, matanya membelalak tak percaya. Ia tahu betul siapa Eleanor Vanderbilt dan bagaimana perlakuan Norah pada Greta tadi siang. Tidak mungkin undangan itu hanya sekadar acara minum teh biasa.

​Greta hanya menggelengkan kepalanya lemah, tidak mampu menjelaskan rahasia di balik berkas perpindahan sekolahnya yang membuat Eleanor penasaran.

​Luca terdiam, ia berhenti mengunyah. Raut wajahnya yang tadi jenaka kini berubah menjadi sangat protektif. Ia tahu Vanderbilt Estate bukanlah tempat yang ramah untuk gadis sebatang kara seperti Greta.

​"Itu sarang singa, Greta. Kamu tidak boleh ke sana sendirian," ucap Luca tegas.

"Baiklah, aku ikut ya, Greta!" ucap Luca sambil berdiri tegak, membuang bungkus roti panggangnya ke tempat sampah dengan gerakan mantap.

​Greta seketika panik. Matanya bergerak gelisah menatap ke sekeliling halte. "Ja.. Jangan.. Luca. Sepertinya ia tidak ingin siapapun selain aku di sana.. aku tidak mau kau ikut terseret masalah ini," ucap Greta dengan nada memohon.

​Luca terdiam sejenak, menatap mata Greta yang berkaca-kaca. Ia bisa merasakan ketakutan hebat yang memancar dari gadis di depannya. "Baiklah.. setidaknya aku akan menunggu di luar. Aku tidak akan membiarkanmu masuk ke sana tanpa ada seseorang yang menjagamu dari balik gerbang. Ayo, aku antar!"

​Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Luca langsung menggenggam tangan Greta. Jemarinya yang hangat dan kokoh membungkus tangan Greta yang sedingin es, memberikan sedikit rasa tenang yang sudah lama tidak Greta rasakan. Ia menuntun Greta menuju motor besar miliknya yang terparkir tak jauh dari sana.

​Luca membantu Greta mengenakan helm, memastikan talinya terpasang dengan benar sambil menatap wajahnya sejenak. "Pegangan yang erat, oke?" bisiknya lembut.

​Saat motor itu melaju membelah udara malam Vancouver yang menggigit, Greta ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya melingkarkan tangannya di pinggang Luca. Ia menyandarkan kepalanya di punggung lebar Luca, menghirup aroma parfum maskulin yang bercampur dengan dinginnya angin malam. Di atas motor itu, di tengah kecepatan dan deru mesin, Greta merasa dunia yang kejam sejenak menghilang. Luca sesekali mengusap tangan Greta yang melingkar di perutnya dengan satu tangan, seolah ingin meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

​Kehangatan itu mendadak sirna saat motor Luca berhenti di depan gerbang besi raksasa yang menjulang tinggi. Kediaman Vanderbilt tampak seperti kastel tua yang angkuh dan mengintimidasi. Di depan gerbang, berdiri empat orang penjaga bertubuh besar dengan setelan jas hitam rapi dan alat komunikasi di telinga mereka. Tatapan mereka sangat tajam, langsung mengunci ke arah motor Luca.

​Luca mematikan mesin motornya, namun ia tetap menggenggam tangan Greta sebelum gadis itu turun.

​Greta turun dengan kaki yang terasa lemas. Ia melangkah mendekati para penjaga itu, sementara Luca memperhatikannya dengan rahang mengeras dari atas motor.

​"Nama saya Greta... Saya diundang oleh Nyonya Eleanor Vanderbilt," ucap Greta dengan suara yang berusaha ia buat stabil.

​Salah satu penjaga melihat daftar di tabletnya, lalu memberikan isyarat kepada rekannya untuk membuka gerbang besar itu perlahan dengan suara gerit besi yang memekakkan telinga.

Setelah melewati gerbang besi yang berat, salah satu penjaga bertubuh tegap memberikan isyarat agar Greta mengikutinya. Langkah kaki Greta terdengar bergema di atas jalan setapak yang terbuat dari batu alam yang tersusun rapi, membelah taman depan yang sangat luas. Di sisi kiri dan kanan, lampu-lampu taman berbentuk lentera klasik memancarkan cahaya kekuningan yang redup, menyinari patung-patung marmer dan tanaman yang terpangkas sempurna.

​Suasana begitu sunyi, hanya ada suara gesekan gaun Greta dan langkah kaki sepatu bot sang penjaga. Semakin dekat dengan pintu utama, bangunan rumah itu terasa semakin raksasa, seolah siap menghimpit siapa pun yang datang. Pintu utama kediaman Vanderbilt terbuat dari kayu jati hitam setinggi empat meter dengan ukiran rumit dan pegangan emas murni. Penjaga itu mendorong pintu tersebut tanpa suara, memberikan jalan bagi Greta untuk masuk ke dalam kemewahan yang menyesakkan.

​Begitu pintu terbuka sepenuhnya, Greta seolah ditarik ke dunia lain. Penjaga itu menuntunnya melewati aula depan menuju sebuah ruangan besar di sayap kanan bangunan: Ruang Makan Utama.

​Ruangan itu begitu luas dengan langit-langit setinggi katedral yang dihiasi oleh lukisan fresco bergaya Renaisans. Di tengah-tengahnya, tergantung sebuah lampu kristal raksasa (chandelier) yang terdiri dari ribuan butir kristal yang berkilauan, memantulkan cahaya ke segala penjuru arah.

​Di bawah lampu itu, membentang sebuah meja makan kayu mahoni yang sangat panjang, cukup untuk menampung tiga puluh orang. Permukaan meja itu mengkilap seperti cermin, memantulkan deretan peralatan makan yang terbuat dari perak dan piring keramik fine bone china dengan pinggiran emas. Di tengah meja, terdapat rangkaian bunga lili putih segar yang aromanya memenuhi ruangan, bersaing dengan bau lilin aromaterapi yang menyala di sepanjang dinding.

​Lantai ruangan itu terbuat dari marmer putih dengan urat abu-abu yang dingin, sangat kontras dengan karpet beludru merah tua yang membentang di bawah meja makan.

Greta melangkah ragu mengikuti penjaga itu hingga sampai ke meja makan yang luar biasa panjang.

Norah sudah duduk di sana. Wajahnya yang cantik kini tampak tertekuk dengan ekspresi yang sangat tajam, seolah ingin menembus jantung Greta hanya dengan tatapannya.

Norah tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya menatap Greta dengan pandangan yang seolah ingin menguliti gadis itu hidup-hidup. Penjaga yang mengantar Greta kemudian menarik salah satu kursi berat di hadapan Norah dan mempersilakan Greta duduk.

​Kriet...

​Suara kursi yang bergeser terasa begitu nyaring di ruangan yang sunyi itu. Greta duduk dengan kaku, meremas tas kecil di pangkuannya. Sekarang, di meja makan yang luas dan megah ini, mereka berdua hanya duduk berhadapan dalam keheningan yang mencekam.

​Sesaat, mereka berdua saling bertatapan. Mata Norah yang tajam mengunci mata Greta yang tampak lelah namun berusaha tetap tenang. Di balik kemewahan ruangan itu, atmosfer terasa sangat panas karena kebencian yang memancar dari sisi meja Norah. Greta bisa merasakan ketegangan yang luar biasa.

Keheningan yang mencekam itu tiba-tiba pecah oleh suara lembut Greta. Di tengah intimidasi ruangan yang begitu besar, Greta mencoba mengatur napasnya dan memberanikan diri untuk berbicara.

​"No.. Norah.. Rumahmu bagus sekali.." ucap Greta pelan, bibirnya memaksakan sebuah senyum tipis yang tulus namun tampak rapuh.

Setelah Greta melontarkan pujian tentang kemegahan rumahnya, reaksi Norah sungguh di luar dugaan.

​Alih-alih menyombongkan diri atau membalas dengan kata-kata pedas, Norah justru memalingkan wajahnya ke arah lain. Bahunya sedikit terangkat, dan ia memasang muka cemberut yang kentara—seperti anak kecil yang sedang merajuk namun tetap terlihat angkuh. Ia terdiam seribu bahasa, menolak untuk menatap Greta kembali, seolah-olah pujian tulus itu adalah sesuatu yang tidak ingin ia dengar sama sekali.

​Greta pun membeku di kursinya. Suasana yang tadinya ia harap bisa sedikit mencair, justru menjadi semakin canggung. Norah hanya terus menatap kosong ke arah deretan lukisan di dinding, sementara jemarinya sesekali memainkan serbet kain di samping piringnya tanpa suara.

​Detak jam besar di sudut ruangan terdengar semakin nyaring, mengisi kekosongan di antara mereka berdua yang duduk berseberangan di meja makan yang luar biasa panjang itu.

Suasana di ruang makan itu semakin sunyi dan canggung setelah Norah hanya terdiam dengan muka cemberut. Namun, keheningan itu tiba-tiba pecah oleh sebuah suara yang berat dan penuh wibawa.

​"Sudah datang ya...?"

​Suara itu bergema dari arah lantai atas, merambat turun melalui dinding-dinding marmer yang dingin. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah sepatu hak tinggi yang tegas dan berirama—tuk, tuk, tuk—menuruni tangga utama yang megah. Suara itu semakin mendekat, melintasi aula, hingga akhirnya sosok wanita dengan keanggunan yang mengintimidasi muncul di ambang pintu ruang makan.

​Eleanor Vanderbilt berdiri di sana. Ia mengenakan gaun malam berwarna gelap yang sangat pas di tubuhnya, dengan perhiasan mutiara yang melingkar di lehernya. Tatapannya tajam namun tenang, sangat kontras dengan Norah yang masih tampak emosional.

​Eleanor berjalan perlahan menuju kursinya di ujung meja makan. Ia melihat ke arah Greta, lalu beralih ke arah putrinya yang masih merajuk, sebelum akhirnya kembali menatap Greta dengan tatapan yang sulit ditebak.

​Sambil menarik kursinya, Eleanor menunjukkan sebuah senyuman—senyuman yang terlihat ramah namun terasa sangat menekan di saat yang bersamaan.

​"Ayo kita mulai makan malamnya," ucap Eleanor dengan nada tenang yang mutlak.

1
watno antonio
ayo lanjut thor
spill.gils: terimakasih atas dukungannya, mohon di tunggu 🙏
total 1 replies
claire
ayo Leon ungkapkan identitasmu yang sebenarnya
claire
hahaha situasi yang bisa dibayangkan
claire
sejauh ini Ravelyn masih memegang karakter paling menyebalkan no 1
claire: atur se-ngeselin mungkin thor
total 2 replies
Mbu'y Fahmi
apa itu suruhannya ibu norah, tapi gak mungkin sih.. aah penasaran banget..
Mbu'y Fahmi
apa itu obat yang selalu diminum greta... ah masih banyak teka teki... lanjut thor
spill.gils: terimakasih sudah meluangkan membaca, saya harap Kamu suka dengan ceritanya.
total 1 replies
claire
bab yang sangat baguss
claire
hoooo akhirnya
claire
Ceritanya bagus, membuat penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Setiap bagian disajikan dengan sangat baik, dan tentu saja tata bahasanya sangat nyaman untuk dibaca.
spill.gils: terimakasih 🙏
total 1 replies
claire
oh my weak heart
claire
kompor banget kocag
Mbu'y Fahmi
greta ... masih menjadi misteri..
oke lanjut thor.. seru ceita nya
spill.gils: terimakasih🙏 semoga suka ya
total 1 replies
ninoy
wahh gaya penulisannya apik, seperti baca novel luar.. keren thor, semangat sampai selesai yaa. Saya baru mampir, sudah mau kebut aja bacanya.
spill.gils: terimakasih sudah mau coba Baca, kebetulan memang bikin nya di luar,.. rumah. hehe
total 1 replies
claire
hey Luca, teman mana yang seperti itu
claire
wkwk sesingkat itu
claire
sependapat dengan Eleanor, semakin menarik
claire
inilah saatnya
claire
yaelah keduluan leon😌
claire
wkwkwk kannn batu sih
claire
alamak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!