Ceni yang tak lama ini baru kehilangan sang sahabat untuk selamanya, kini ia harus menelan pahit nya kehidupan karena harus kehilangan untuk yg ke sekian kali nya yaitu sang kakek tercinta.
Sebelum kematiannya, sang kakek sempat memberikan sebuah giok dan cincin dengan ukiran rumit dan kuno, yg kata nya warisan turun temurun.
Bagaimana kah kisah kelanjutan nya.?
Nantikan kisah Ceni di cerita ini.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon astiana Cantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memasuki Wilayah Hutan Kematian/Ilusi
"Jangan berpikir yg bukan-bukan Ying Zu, tak semua orang bisa belajar kultivasi, dan tak semua orang yg tidak bisa kultivasi akan menjadi sampah masyarakat, ada banyak cara untuk menjadi kuat." Ucap Ceni.
Ying Zu hanya terdiam tanpa berbicara lebih lanjut.
"Maaf nona, kalau pertanyaan ku menyingung mu." Ucap Ying Zu merasa bersalah.
"Kau tidak menyinggung ku Ying Zu, aku hanya berbicara." Ucap Ceni.
Ying Zu hanya menghela nafas berat, sungguh ia takut kalau-kalau menyinggung perasaan penyelamat nya.
"Ying Zu, apa perjalanan masih sangat jauh ya.?" Tanya Ceni.
"Ya nona, perjalanan menuju kekaisaran memakan waktu berhari-hari, tapi.." Ucap Ceni tak sanggup menyelesaikan ucapan nya.
"Tapi apa Ying Zu.?" Ucap Ceni penasaran.
Ying Zu pun menghela nafas tak berdaya.
"Aku bahkan tidak memiliki uang sama sekali." Ucap Ying Zu hampir menangis.
Ceni hanya tersenyum geli melihat wajah Sengsara Ying Zu.
"Jangan menangis Ying Zu, percaya lah uang bisa datang dari mana saja, tangkap ini." Ucap Ceni seraya melempar kan Satu kantong uang yg ia ambil dari saku baju ketua bandit.
HAP
Ying Zu pun berhasil menangkap nya dengan mudah.
"No_nona ini, ini koin emas dan tahil perak." Ucap Ying dengan mata terbelalak.
"Punya ketua bandit, anggap saja kompensasi karena mereka sudah membunuh pelayan mu dan melukai mu Ying Zu." Ucap Ceni.
Ying Zu pun meremas kuat kantung uang di tangan nya, ketika ia mengingat kembali pelayan kesayangan nya yg sudah ia anggap sebagai saudara sendiri tiada di tangan para bandit yg di bayar Ying Ru.
"Aku akan membalas kematian pelayan ku padamu Ying Ru." Gumam Ying Zu penuh dendam.
Ceni yg dapat mendengar gumaman Ying Zu di sebelah nya pun hanya tersenyum kecil.
"Balas lah kematian pelayan mu Ying Zu, karena nyawa harus di bayar dengan nyawa." Ucap Ceni menyemangati Ying Zu.
Ying Zu pun mengangguk mantap dan tanpa mereka berdua sadari, saat ini kedua nya telah memasuki area lembah Kematian yg di takuti semua orang ketika melewati nya sebab kalau pikiran kosong akan termakan tipu daya alam ilusi yg muncul secara alami di tanah tersebut.
Ying Zu pun seketika menyadari sesuatu, kini ia melihat sekelilingnya dengan bingung sebab ia melupakan sesuatu.
Ceni yg menyadari raut wajah Ying Zu yg kebingungan pun bertanya.
"Ada apa Ying Zu, kenapa ekspresi mu seperti itu. ?" Tanya Ceni.
"Seperti nya kita memasuki area lembah Kematian, tanah ilusi." Ucap Ying Zu dengan mata yg membola sempurna.
Ceni pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling nya saat ini, dan benar saja, hutan yg di sebut lembah Kematian ini penuh dengan kabut seakan berada di alam mimpi, bagi orang lain mungkin menakutkan tapi tidak bagi Ceni, jiwa keingintahuan nya yg tinggi membuat nya tertarik dengan yg nama nya lembah Kematian yg tanah nya bisa menciptakan sebuah ilusi yg di ciptakan oleh pikiran rumit kita sendiri di akibatkan rasa takut dan kalut padahal hal itu hanya lah pandangan kita semata sedangkan tubuh kita tidak bergerak dan hanya berada di tempat semula dimana kita berhenti berjalan.
"Nona, jangan berhenti, teruskan berjalan karena kalau tidak kita akan terperangkap di dunia pikiran kita sendiri." Ucap Ying Zu memperingati Ceni.
"Aku tau Ying Zu, kau jangan khawatir." Ucap Ceni yg saat ini masih menunggangi kuda nya dengan kecepatan pelan.
"Aku merasa di dunia dongeng berkabut-kabut begini." Batin Ceni.
Ying Zu menatap horror sekeliling nya yg seakan mencekam tapi dia terus melajukan kuda nya dengan pelan sambil sesekali melihat ke arah Ceni di samping nya yg sibuk sendiri.
Ya Ceni saat ini sedang bernyanyi.
Tiba-tiba_
🎶 Kau bertakhta di atas tanah mereka_
Kau menjelma bagai iblis berwujud manusia.
Seketika tubuh Ceni menegang ketika mendengar seseorang menyambung lirik lagu nya.
"Buset siapa yg nyanyi, itu lagu modern woi, masa ia ada yg bisa nyambungi di dunia kuno ini." Batin Ceni.
Lalu dia pun melirik Ying Zu yg masih berfokus ke arah depan agar tak masuk perangkap tanah ilusi.
"Ilusi pasti ini." Gumam Ceni.
.
Sedangkan tak jauh dari Ceni dan Ying Zu berada, berdiri lah seorang pemuda yg tadi nya mengangkat kapak nya hendak memotong kayu tapi tak jadi sebab ia mendengar seseorang bernyanyi lalu tanpa sadar menyambungi lagu tersebut.
Dia pun melepas kan kapak nya begitu saja.
"Siapa tadi yg bernyanyi, apa aku salah dengar hingga spontan bernyanyi lagu yg berasal dari dunia modern." Ucap pemuda tersebut.
"Aku tidak tau ini ada dimana, tolong aku siapapun, kata orang-orang yg terjebak di sini , mereka bilang ini lembah Kematian, istilah seperti itu hanya ada di dunia novel, setiap ada yg lewat di luar sana pasti mengira suara minta tolong ku adalah suara hantu." Ucap pemuda itu putus asa.
.
Sedangkan Ceni tiba-tiba menghentikan kuda nya dengan mendadak, dan itu berhasil membuat Ying Zu berteriak agar Ceni tak menghentikan laju kuda nya.
"Nona ku mohon jangan berhenti." Ucap Ying Zu panik melihat Ceni yg tertinggal di belakang nya.
Tapi Ceni tak menggubris Ying Zu, pendengaran nya yg tajam menangkap sebuah suara yg penuh keputusasaan.
"Ada yg aneh di dalam sana." Gumam Ceni.
Tanpa membuang waktu lagi, Ceni pun melajukan kuda nya memasuki area hutan yg di sebut lembah Kematian itu.
" NONAAAAAA." Teriak Ying Zu panik ketika Melihat Ceni menghilang di balik Kabut.
Ying Zu dengan sedikit derai airmata membasahi pipi nya pun melajukan kuda nya menyusul Ceni.
Sedangkan Ceni saat ini menatap penuh waspada di area sekeliling nya, dia mencoba berteriak dan benar saja dugaan nya, suara nya memantul dan menggema di dalam hutan itu.
"Kalau di dalam sini suara memantul, lalu siapa kah tadi yg menyambung lirik lagu yg ku nyanyikan.?" Gumam Ceni.
Di dalam batas kabut, seorang pemuda yg melihat tak jauh dari hadapan nya seorang gadis menatap penuh kebingungan pun berteriak minta tolong.
"TOLONG."
Sejenak Ceni terperanjat lalu menoleh ke arah suara yg menggema dengan kata " Tolong."
"Aku yakin aku tidak salah dengar." Gumam Ceni menoleh ke sana kemari tapi tak melihat apapun.
Sedang kan seorang pemuda yg berdiri di hadapan Ceni sedang berusaha menggapai Ceni tapi ia tak bisa, tangan nya hanya menggapai angin tanpa bisa menyentuh.
"Tolong aku siapapun itu."
Suara lirih itu lagi dan lagi membuat Ceni penasaran setengah mati, dan ia pun memilih turun dari kuda nya.
"Hello, siapa,? Apakah kau bisa mendengar ku.?" Ucap Ceni pada seseorang yg tidak ada di hadapan nya.
"Kau bisa mendengar suara ku?" tanya pemuda itu seakan ada secercah harapan.
Sekarang Ceni bisa dengan jelas mendengar suara pemuda tersebut.
"Woah Daebak, aku bisa berbicara dengan arwah hahaha." Ucap Ceni tertawa girang.
Bersambung.
jadi ga sabar.....
lanjut up lagi thor💪💪💪💪💪