Dunia telah berubah menjadi permainan maut.
Gerbang dimensi terbuka, monster meluap ke bumi, dan manusia terpilih membangkitkan kekuatan luar biasa yang disebut "Hunter". Namun, Kenzo tidak seberuntung itu. Dia hanyalah seorang Cleaner—pemulung mayat monster kelas rendah yang direndahkan dan dianggap sampah masyarakat.
Nasibnya berubah saat ia dikhianati dan dibiarkan mati di dalam Dungeon level tinggi oleh timnya sendiri. Di ambang maut, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem God Level Extraction Diaktifkan!]
[Target: Black Shadow Wolf (Grade A). Ekstraksi Berhasil!]
[Anda Mendapatkan Skill: Kecepatan Bayangan!]
Siapa sangka, pemulung yang dulunya diinjak-injak kini bisa mencuri bakat, kekuatan, hingga ingatan dari makhluk apa pun yang ia sentuh.
Satu per satu Hunter pengkhianat ia jatuhkan. Satu per satu monster penguasa ia jadikan batu loncatan. Dari pembersih sisa pertempuran, Kenzo bangkit menjadi predator puncak yang akan mengekstrak seluruh dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
THE SHADOW SOVEREIGN's RISE (PENUTUP ARC 1)
Jakarta malam itu rasanya aneh. Nggak ada suara knalpot bising atau teriakan pedagang kaki lima. Yang ada cuma suara desis listrik dari papan iklan digital yang mati nyala, dan hawa dingin yang nggak masuk akal.
Di puncak gedung pusat Shadow Faction, Kenzo berdiri sendirian. Jubah Sovereign’s Mantle-nya berkibar berisik kena angin kencang, tapi badannya kaku kayak patung. Matanya yang merah menyala nggak berkedip, natap satu titik di langit utara.
Ada sesuatu yang dateng. Dan itu bukan pesawat jet.
"Bos... lo harus liat ini," suara Elara pecah di earpiece Kenzo. Dia kedengeran kayak orang yang baru liat hantu. "Sensor Mana kita nggak cuma merah, tapi error. Sistem gue nggak bisa baca level energinya. Dia bukan Hunter, Ken... dia itu bencana alam yang punya kaki."
Kenzo narik napas panjang. Udara di sekitarnya mendadak bau belerang dan besi. "El, evakuasi semua orang ke bunker. Sekarang. Jangan ada yang berani nongol ke atap kalau nggak mau mati konyol."
"Tapi Ken, Valeria sama Freya mau naik."ucap elara.
"Gue bilang suruh mereka diem!" bentak Kenzo, dan seketika tekanan Mana nya bikin lantai beton di bawah kakinya retak retak halus. "Ini bukan lawan yang bisa mereka ajak main main. Jaga markas. Biar gue yang urus kakek kakek ini."
Baru aja Kenzo selesai ngomong, sebuah garis perak membelah awan hitam Jakarta. Kecepatannya gila.
BOOOOOM!
Ledakan itu nggak panas, tapi tekanannya bikin semua kaca di lantai teratas gedung Naga Perak pecah berkeping keping. Debu semen ngepul hebat. Di tengah kawah yang baru aja terbentuk di atap gedung, seorang pria berdiri santai.
Zirah yang dipake pria itu putih berkilau, bersih banget sampai rasanya nggak pantes ada di Jakarta yang kotor. Rambutnya putih panjang, wajahnya tenang kayak orang lagi meditasi, tapi aura di sekelilingnya tajam banget sampai oksigen di sana kerasa pedih di paru paru.
"Jadi ini dia... naga kecil yang bikin keributan di samudra?" Suara pria itu jernih banget, tiap katanya kerasa kayak sayatan pisau. "Gue udah ngebantai naga jauh sebelum leluhur lo tau cara bikin api, Nak."
Kenzo nyengir sinis, biarpun tangannya yang megang hulu pedang hitam sedikit gemeteran bukan karena takut, tapi karena adrenalin yang meledak. "Banyak orang tua yang ngerasa abadi sampe mereka ketemu gue, Tua Bangka. IHA beneran udah nggak punya harga diri ya sampe harus gali kuburan buat nyari bantuan lo?"
Pria itu Siegfried, sang God Slayer cuma senyum tipis. Dia angkat tangan kanannya, dan sebuah pedang gede setinggi orang dewasa muncul dari udara kosong. Gram. Pedang legendaris yang katanya pernah belah naga.
"Gue dateng bukan buat IHA," kata Siegfried sambil melangkah maju, kakinya nggak nyentuh tanah. "Gue dateng karena aroma lo. Bau sistem yang busuk dan evolusi yang dipaksain. Itu noda buat dunia ini."
Tanpa aba aba, Siegfried ngilang.
TANGG!
Kenzo refleks nyilangin pedang hitamnya sama tangan kiri yang udah penuh sisik naga. Benturannya gila banget, Kenzo ngerasa tulangnya mau remuk. Atap gedung di bawah mereka ambles sedalam sepuluh senti.
"Prajurit bayangan? Keluarin semua piaraan lo, Nak. Gue pengen liat seberapa banyak nyawa yang bisa gue tebas malam ini," tantang Siegfried.
"Sato! Leviathan! Keluar lo semua!" teriak Kenzo.
Bayangan raksasa Leviathan muncul dari dasar gedung, ngelilit menara kaca itu kayak pelindung, sementara Sato muncul di samping Kenzo dengan Odachi nya yang udah dialirin api hitam. Mereka ngeroyok Siegfried, tapi pria tua itu gerakannya kayak belut. Licin dan mematikan.
Satu tebasan dari Siegfried bikin tangan bayangan Sato retak. Satu tendangan darinya bikin Leviathan mengerang kesakitan.
Kenzo terengah engah. Jantung naganya detak kencang banget sampai dia bisa denger suaranya di dalem kuping. Sistem di matanya terus-terusan kedip merah, ngasih peringatan kalau badannya udah di ambang batas.
[Peringatan! Kerusakan internal 60%.]
[Saran: Gunakan sisa Point Extraction buat 'Final Sovereign Mode'.]
[Risiko: Peluang kehilangan kemanusiaan 70%.]
Kenzo ngeliat ke arah bawah, ke arah kota Jakarta yang lampu lampunya mulai mati satu per satu. Dia liat markasnya, di mana Elara, Valeria, dan Freya lagi nunggu dia dengan cemas. Kalau dia kalah sekarang, Singapura bakal ngeratain kota ini besok pagi.
"Kemanusiaan?" Kenzo bisik pelan, darah netes dari sudut bibirnya. "Gue udah buang itu pas gue dibiarin mati di tumpukan sampah sepuluh tahun lalu. Sistem! Ambil semuanya! Gue mau kekuatan buat ngehancurin legenda ini!"
[Mengonsumsi 50.000 PE... Memulai Evolusi: Sovereign of the End.]
DUARRR!
Pilar cahaya hitam emas meledak dari badan Kenzo, nembus langit sampai awan di atas Jakarta kebelah. Rambut Kenzo memanjang, warnanya jadi hitam legam dengan kilatan perak.
Sayap naga raksasa yang warnanya kayak kegelapan abadi tumbuh dari punggungnya, nutupin seluruh atap gedung. Matanya? Nggak ada lagi warna manusia. Cuma emas murni yang dingin banget.
Siegfried akhirnya masang muka waspada. Dia megang pedang Gram nya pake dua tangan. "Jadi lo milih jadi monster seutuhnya. Bagus! Mari kita liat siapa yang lebih tajem!"
Dua sosok itu tabrakan di udara. Tiap kali senjata mereka adu, ada kilatan cahaya yang bisa kelihatan sampai Bekasi sama Bogor. Siegfried nebas pake cahaya suci yang silau banget, tapi Kenzo bales pake cakar bayangan dan semburan Dragon's Breath yang warnanya item pekat.
Kenzo nggak cuma pake otot. Dia pake Dominator’s Touch buat narik puing puing beton dan rongsokan helikopter IHA yang tadinya mau nyerang, dijadiin proyektil buat ngehujanin Siegfried.
"Shadow Extraction World Domain!" teriak Kenzo, suaranya kayak ribuan orang ngomong barengan.
Seketika, radius 5 kilo di sekitar Monas sampai Thamrin ketutup kegelapan total. Di dalem sini, Kenzo adalah Tuhan. Ribuan prajurit bayangan muncul dari gang gang sempit, dari bayangan pohon, dari dalem aspal, semuanya nyerbu Siegfried.
"Lo pikir jumlah bisa ngalahin kualitas?!" teriak Siegfried sambil ngelepasin ledakan cahaya yang ngehancurin ribuan bayangan dalam sekejap.
Tapi itu cuma pancingan.
Kenzo muncul tepat di belakang Siegfried. Tangan kanannya yang udah jadi cakar naga yang mengerikan nembus zirah berlian Siegfried dari punggung tembus ke dada.
SLREEEB!
Darah segar warna perak merah netes ke lantai. Sang Pembantai Naga itu diem. Dia kaget. Dia nggak percaya zirah "abadi" nya bisa bolong.
"Zirah lo kuat, Tua Bangka..." bisik Kenzo di kuping Siegfried. Suaranya dingin banget, bikin bulu kuduk berdiri. "Tapi jiwa lo udah karatan. Lo terlalu lama tidur, sementara gue tumbuh di kerasnya jalanan."
"EXTRACTION!" teriak Kenzo.
"TIDAK! JANGAN." teriak siegfried.
Siegfried teriak, tapi telat. Bayangan Leviathan muncul dari bawah dan ngiket badan dia kenceng banget. Cahaya perak dari badan Siegfried mulai ketarik masuk ke dalem badan Kenzo, nyatu sama api hitamnya. Langit Jakarta getar hebat, seolah dunia mau kiamat.
Beberapa menit kemudian, semuanya hening.
Atap gedung Naga Perak udah rata sama tanah. Kenzo berdiri di tengah reruntuhan, balik ke wujud manusianya, tapi tato naga di badannya sekarang punya kilatan perak hitam yang nggak ilang ilang. Di depannya, Siegfried duduk lemas. Zirahnya hancur, dia nggak punya Mana lagi. Dia cuma manusia biasa sekarang.
Kenzo nggak ngebunuh dia. Dia pengen legenda ini tetep hidup buat ceritain ke dunia seberapa ngerinya
Shadow Sovereign.
[Ding! Level 80 Tercapai.]
[Gelar Baru: The Sovereign of Nations.]
[Prajurit Bayangan Baru: Siegfried (Mythical Grade).]
Kenzo natap kamera drone yang masih muter muter di kejauhan. Dia tau seluruh dunia lagi liat. IHA di Singapura pasti lagi gemeteran sekarang.
Valeria, Freya, sama Arka lari ke atap. Mereka berhenti beberapa meter dari Kenzo, ngerasa segen. Aura Kenzo sekarang bener bener beda lebih berat, lebih dominan.
Kenzo nengok, terus ngasih senyum tipis yang biasa dia kasih ke mereka. Tanda kalau dia masih Kenzo yang mereka kenal.
"Lapor, Bos," kata Valeria, suaranya lebih hormat dari biasanya. "IHA baru aja narik semua orang mereka dari Asia Tenggara. Mereka minta gencatan senjata."
Kenzo natap langit subuh yang mulai merah. "Gencatan senjata cuma buat mereka yang selevel sama gue. Kasih tau mereka... mulai hari ini, dunia bakal jalan pake aturan gue."
Kenzo jalan ke pinggir gedung, liat Jakarta yang mulai bangun. Di belakangnya, sosok bayangan Siegfried yang tinggi gede bangkit, sujud di depan tuan barunya.
Di sebuah ruangan gelap yang jauh banget, seseorang nutup tablet yang isinya laporan kejadian Jakarta.
"Dia udah jadi Sovereign," suara itu kedengeran serak.
"Aktifkan tahap kedua. Buka Gate tingkat Bencana di tiga benua sekaligus. Kita liat seberapa hebat naga itu kalau seluruh dunia lagi kebakar."
Kenzo, di puncak menaranya, tiba-tiba ngerasa sistemnya getar.
[Ding! Mempersiapkan: The Global Calamity...]
[Misi Pertama: Temukan 'The Other Sovereigns'.]
Kenzo cuma nyengir. Dia ngerasa laper lagi.
"Dunia ini emang butuh dibersihin," gumamnya sambil natap matahari terbit.