NovelToon NovelToon
Kapan Cinta Datang?

Kapan Cinta Datang?

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Evelyn12

"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."

" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."

"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertengkaran

Dimas memperhatikan wajah Naina yang tertidur pulas di sofa ruang tamu. Ada rasa bersalah karena tidak mengabari Naina atas kepulangannya yang terlambat.

"Mas, sudah pulang?" Ucap Naina yang terbangun dan Dimas segera mengalihkan pandangan.

Naina segera bangkit, dan menyalami Dimas. Tak lupa ia pun mengambil tas kantor yang di di bawa Dimas untuk di letakkan di ruang kerja.

"Mas tunggu saja di meja makan. Biar aku siapkan makan malam."

Lalu, Naina bergegas pergi ke dapur.

"Naina..." Panggil Dimas yang memperhatikan Naina menyendok nasi ke dalam piring.

"Ya, Mas? Mau di banyakin lagi?"

"Bukan. Gak usah repot-repot tadi aku sudah makan di luar."

"Oh," Naina tertunduk lesu. Ia menuangkan kembali nasi yang sempat ia taruh di piring ke dalam tempat memasak nasi tadi. Ia masih berdiam diri di sana menatap Dimas dengan perasaan yang tentu saja kecewa.

"Aku mau istirahat." Ucap Dimas meninggalkan Naina dan masuk ke kamar.

Naina hanya menatap sayu. Ia berjalan menuju meja makan, duduk dan berdiam diri disana untuk beberapa menit. Tak terasa, matanya berkaca-kaca.

"Aku sengaja masak yang banyak dan nungguin kamu pulang, Mas, biar kita bisa makan bersama. Tapi..." Benak Naina, terlihat ia menyeka air matanya.

"Aku pikir, dengan makan bersama kita bisa sedikit mengobrol untuk mengusir kecanggungan ini."

"Aku juga bepikir setelah pindah ke rumah baru kita akan bisa menjadi lebih dekat. Tapi ternyata, malah makin secanggang ini."

Naina tetap berdiam diri di sana, dan menyandarkan kepalanya di meja makan.

Sementara itu, di kasurnya Dimas termenung. Satu tangannya ia jadikan sandaran. Menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang campur aduk.

"Mau dibawa kemana pernikahan ini?"

"Aku masih tidak percaya semua ini sudah terjadi. Begitu cepat. Disaat aku sudah terbebas dari keinginan besar ayah, tapi disisi lain... aku menyakiti hati seorang perempuan yang tidak tau apa-apa."

"Apa yang sebenarnya ada dipikirkan Naina? Bagaimana bisa dengan mudahnya ia menerima pernikahan ini? Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya akan hal ini."

"Apakah dibalik wajah polosnya tersimpan hal yang aku gak tau?"

"Tapi yang jelas, aku yakin Naina pun menerima pernikahan ini cuma karena ingin memperbaiki hidupnya. Pasti. Jadi, kita sama-sama diuntungkan dalam hal ini, bukan?"

"Cinta? Menyebut kata itu pun rasanya aku muak."

"Aku tidak akan terjebak dalam urusan cinta lagi. Akan aku pastikan itu."

Dimas memejamkan mata, ia berusaha untuk tidur agar semua beban pikirannya dapat terlupakan sejenak, tanpa memikirkan perasaan Naina yang ada di luar sana.

*

Terdengar ketukan pintu dari luar. Dimas yang baru saja memejamkan mata, beranjak untuk membukakan.

"Naina? Ada apa?" Tanya Dimas

"Boleh aku masuk, Mas?"

"Ya..." Dimas mempersilahkan.

Naina masuk ke kamar Dimas yang sekaligus ruang kerja suaminya itu. Naina duduk di kursi kecil tak jauh dari meja kerja Dimas. matanya memperhatikan kesegala arah. Terlihat beberapa kertas membuat meja kerja itu berantakan, serta beberapa helai baju yang terletak di atas sofa.

"Maaf masih berantakan." Ucap Dimas.

"Besok aku akan membereskannya," Jawab Naina.

"Gak apa-apa, Nai. Kamu istirahat aja."

Naina menatap Dimas sayu. Dimas yang tidak ingin terjebak dalam suasana itu berusaha menghindar dengan mengalihkan pandangannya.

"Sebaiknya kamu segera tidur." Ucap Dimas

"Sampai kapan kita akan seperti ini, Mas?"

"Jangan menanyakan hal yang aku sendiri tidak tau jawabannya dan aku gak mau membahasnya."

"Sudah satu minggu berlalu, tapi kita masih saja seperti orang asing."

Dimas hanya berdiam diri.

"Sekarang aku mau bertanya sama kamu, Mas." Sambung Naina lagi.

"Apa?"

"Apakah kamu bahagia dengan pernikahan ini?" Naina menatap nanar mata Dimas. Jelas sekali ada kesedihan disana.

"Aku akan mencoba, Nai."

"Mencoba?"

"Iya. Aku akan mencoba untuk menerima semua ini dan membuat kehidupan kita lebih baik kedepannya."

"Mencoba kamu bilang, Mas? Pernikahan bukan untuk coba-coba, Mas."

"Aku tau! Aku tau! Tapi, bisakah kamu tidak membuat aku semakin terbeban, Nai?! Kemarin aku sudah bilang sama kamu. Biarkan aku membiasakan diri!" Kali ini suara Dimas agak meninggi, membuat Naina kemudian menangis tanpa suara. Matanya masih menatap Dimas.

"Jangan bodoh! Apa kamu pikir cinta pandangan pertama itu beneran ada? Aku gak bisa memberikan cinta yang sebenarnya kepada kamu. Aku hanya melakukan ini karena aku terpaksa!" Sambung Dimas.

Naina terbelalak mendengar ucapan Dimas. Air matanya semakin jatuh. "Terpaksa, Mas?" Tanya Naina seakan tidak percaya.

"Kamu gak tau kejadian sebenarnya. Jadi, tolong berhenti menanyakan hal ini. Emangnya apa yang kamu harapkan dari pernikahan terpaksa ini? Cinta dari ku? Tidak!"

Wajah Naina terasa panas, air mata mengalir di pipinya. Ia hanya diam menatap Dimas tanpa bisa mengucapkan satu katapun. Tubuhnya seakan kaku.

"Cukup jalani saja pernikahan ini. Jangan banyak menuntut. Anggap saja, kita sedang bekerja sama. Kamu membantu ku terbebas dari keinginan Ayah. Sedangkan aku, aku membantu hidup kamu agar lebih baik." Sambung Dimas.

"Jadi pernikahan ini dimata kamu hanya sebatas itu, Mas? Kamu seperti tidak menganggap aku sebagai istri kamu." Ucap Naina.

Dimas diam,

"Aku memang hidup dalam kekurangan, Mas. Tapi tidak pernah terpikir olehku jika harus menjual pernikahan demi hidup yang lebih baik."

Naina menyeka air matanya, dan berlalu meninggalkan Dimas yang masih diam mematung.

***

Naina duduk di tepi kasur, ia memeluk kedua lututnya. Ia masih menangis.

"Apa yang sebenarnya terjadi ini? Lalu apa yang harus aku lakukan?"

"Terpaksa...?"

"Kenapa rasanya sakit sekali..."

1
pojok_kulon
Kamunya setia belum tentu dia yang disana juga setia sama kamu Dim 🤭🤭
pojok_kulon
Duh gemasnya
pojok_kulon
Pasti Dimas menunggu cinta pertamanya ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!