"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Perjanjian di Balik Tirai Putih
BAB 13: Perjanjian di Balik Tirai Putih
Pagi di lantai tujuh rumah sakit itu dimulai dengan sunyi yang mencekik. Arini terbangun saat cahaya matahari mulai mengintip dari celah tirai, namun baginya, cahaya itu terasa terlalu menyilaukan untuk jiwanya yang sedang meredup. Di samping ranjangnya, kursi lipat itu kosong. Rangga sudah berangkat dua jam yang lalu. Laki-laki itu harus menempuh perjalanan jauh dengan transportasi umum menuju gudang alat medis tempatnya bekerja demi upah harian yang tak seberapa.
Arini menatap telapak tangannya sendiri. Jari-jarinya kian kurus, kulitnya tampak pucat kebiruan. Ia teringat bagaimana Rangga semalam tertidur sambil duduk, menggenggam tangannya seolah-olah Arini akan hanyut terbawa arus jika pegangan itu dilepaskan. Hati Arini perih. Ia tahu Rangga sedang menghancurkan dirinya sendiri demi memperpanjang napas Arini.
Aku tidak bisa membiarkan ini berlanjut, batin Arini. Cintaku padanya tidak boleh menjadi belenggu yang menyeretnya ke dasar jurang.
Suara ketukan pintu yang ritmis dan berwibawa membuyarkan lamunannya. Arini sudah tahu siapa yang datang. Ia telah mengirim pesan itu semalam, sebuah undangan untuk sang algojo masa depannya sendiri.
Ibu Sarah masuk ke dalam kamar. Penampilannya sesempurna biasanya—setelan sutra mahal, rambut yang tertata rapi, dan aroma parfum yang mengingatkan Arini pada dunia kemewahan yang seharusnya ditinggali Rangga. Wanita itu menatap Arini dengan pandangan datar, tanpa kebencian yang meledak-ledak seperti sebelumnya, namun ketenangannya jauh lebih menakutkan.
"Kamu terlihat sangat menderita, Arini," ujar Ibu Sarah, suaranya dingin namun jelas. Ia tidak duduk, tetap berdiri di kaki ranjang seolah ingin menunjukkan jarak status di antara mereka.
Arini mencoba menegakkan punggungnya, menahan rasa pusing yang mendadak menyerang pangkal kepalanya. "Terima kasih sudah datang, Bu."
"Aku datang karena kamu bilang kamu memiliki penawaran yang tidak bisa kutolak. Katakan, apa yang ingin kamu bicarakan?"
Arini menarik napas panjang yang terasa menyakitkan di dadanya. "Ibu menang. Saya menyerah. Saya tidak sanggup lagi melihat Rangga membuang harga dirinya di depan orang-orang rendahan hanya untuk membayar rumah sakit ini. Kemarin... dia harus membersihkan tumpahan kopi di bawah kaki orang yang dulu dia pecat."
Ibu Sarah sedikit terkejut, namun segera menutupi ekspresinya. "Itu pilihannya sendiri. Aku sudah memberinya jalan keluar, tapi dia memilihmu."
"Dan saya memilih untuk mengembalikannya pada Ibu," suara Arini bergetar. "Saya ingin Ibu mengambilnya kembali. Kembalikan semua asetnya, kembalikan posisinya di perusahaan, dan kembalikan martabatnya. Saya tidak ingin dia menjadi buruh kasar hanya untuk menunggui mayat yang sedang berjalan seperti saya."
Ibu Sarah mendekat satu langkah, matanya menyipit. "Apa imbalannya untukku? Jika aku melakukannya, Rangga akan tetap kembali padamu dengan kekayaannya, dan itu tidak mengubah rencanaku."
"Tidak, Bu. Jika Ibu memenuhi permintaan saya, saya akan membuat dia membenci saya. Saya akan membuat dia pergi dari hidup saya atas kemauannya sendiri, dengan rasa jijik yang begitu besar sehingga dia tidak akan pernah menoleh lagi ke belakang. Dia akan menganggap saya sebagai wanita paling hina yang pernah dia temui".
Keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa menit. Hanya ada bunyi monitor jantung yang berdetak pelan. Ibu Sarah tampak menimbang-nimbang. Tawaran ini adalah sesuatu yang ia idamkan selama berbulan-bulan: pemisahan total antara Rangga dan Arini tanpa ia harus menjadi pihak yang disalahkan.
"Bagaimana caranya?" tanya Ibu Sarah.
"Bawakan saya seseorang. Seorang pria yang bisa berpura-pura menjadi kekasih lama saya atau siapa pun. Buat seolah-olah saya selama ini hanya memanfaatkan Rangga untuk pengobatan saya, dan sekarang setelah saya merasa punya pilihan lain yang lebih kaya atau lebih menjanjikan, saya membuangnya. Rangga pria yang punya harga diri tinggi, Bu. Jika dia tahu cintanya dikhianati dan dimanfaatkan secara materi, dia tidak akan pernah mau kembali."
Air mata Arini akhirnya jatuh, mengalir deras membasahi pipinya yang tirus. Mengucapkan kalimat-kalimat itu terasa seperti menelan duri.
Ibu Sarah menatap Arini dengan tatapan yang sedikit berbeda. Mungkin ada sedikit rasa kagum yang muncul—bahwa wanita yang dianggapnya parasit ini ternyata sanggup melakukan pengorbanan yang begitu brutal. "Kamu benar-benar mencintainya, ya?"
Arini tersenyum getir di tengah isak tangisnya. "Sangat mencintainya, Bu. Sampai saya rela dia membenci saya daripada melihatnya hancur bersamaku."
"Baiklah," ujar Ibu Sarah tegas. "Aku akan mengatur semuanya. Sore ini, saat Rangga pulang dari pekerjaannya, segalanya akan dimulai. Aku akan mengirimkan aktor yang sangat meyakinkan. Dan sesuai janjiku, begitu Rangga keluar dari pintu kamar ini dengan rasa benci, detik itu juga seluruh pemblokiran rekeningnya akan kucabut. Dia akan menjadi Rangga Adiguna kembali."
Ibu Sarah berbalik, hendak melangkah keluar, namun ia berhenti sejenak. "Satu hal lagi, Arini. Setelah ini terjadi, kamu harus pindah dari rumah sakit ini. Aku akan mengirimmu ke klinik khusus di luar Jawa. Kamu akan mendapatkan pengobatan terbaik secara rahasia sampai... sampai akhir. Rangga tidak boleh menemukanmu lagi."
"Saya mengerti," bisik Arini.
Setelah Ibu Sarah pergi, Arini memeluk lututnya di atas ranjang. Tubuhnya berguncang hebat karena tangis yang ia tahan agar tidak terdengar oleh perawat di luar. Ia merasa sangat kotor. Ia merasa seperti sedang menggali kuburan bagi kebahagiaannya sendiri.
Maafkan aku, Rangga... maafkan aku, rintihnya berkali-kali.
Rasa pusing di kepalanya semakin hebat, namun Arini mengabaikannya. Ia mulai melatih raut wajahnya di depan cermin kecil. Ia harus terlihat dingin. Ia harus terlihat angkuh. Ia harus terlihat seperti wanita yang selama ini hanya mengincar harta Rangga. Ia harus membunuh Arini yang lembut dan menggantinya dengan sosok monster yang akan membuat Rangga muak.
Waktu terus berjalan menuju sore hari. Setiap detiknya terasa seperti lonceng kematian bagi cinta mereka. Arini menatap bunga mawar yang dibawa Rangga kemarin—bunga yang dibeli dengan uang hasil keringat laki-laki itu. Ia mengambil bunga itu, mencium aromanya yang mulai layu untuk terakhir kalinya, lalu meremas kelopaknya hingga hancur.
"Ini demi kamu, Ga. Agar kamu bisa kembali terbang tinggi, tanpa ada beban yang menyeretmu jatuh," gumam Arini dengan mata yang kini kosong, seolah jiwanya sudah mati lebih dulu sebelum tubuhnya.
Sore pun tiba. Suara langkah kaki Rangga yang ia hafal mulai terdengar di koridor. Dan di dalam kamar, "pria asing" kiriman Ibu Sarah sudah duduk di samping ranjang Arini, bersiap untuk memulai sandiwara paling menyakitkan dalam sejarah hidup mereka.