NovelToon NovelToon
Penjara Cinta

Penjara Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Dark Romance
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Patriciaaaa

​"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."

​Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.

​Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.

​Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?

​"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 - Mood Boster

Suara adzan subuh dari masjid bersahut-sahutan, tapi yang benar-benar membuat Aura terjaga adalah alarm dari ponsel yang tergeletak tepat di samping telinganya. Ia mengerjap, menyadari dirinya masih bersimpuh di atas sajadah.

​"Ketiduran lagi," gumamnya dengan suara serak.

​Tadi, pukul tiga pagi ia sudah bangun untuk tahajud. Namun akhir-akhir ini, tubuhnya seolah punya kendali sendiri untuk tumbang. Tugas akhir sekolah menjelang kelulusan benar-benar menguras tenaganya sampai titik nol.

​Dengan nyawa yang belum terkumpul penuh, Aura bangkit, melepas mukena, lalu menyeret langkahnya ke kamar mandi. Dinginnya air wudhu sedikit mengusir kantuk yang menggelayut.

​Pukul tujuh pagi, Aura keluar kamar dengan seragam lengkap, meski langkahnya masih gontai.

​"AWAS!!"

​"Astagfirullah!" Aura hampir saja terjungkal dari anak tangga kalau tidak cepat-cepat berpegangan pada ralling kayu. Di belakangnya terdapat Bima yang merupakan seorang kakak yang super menyebalkan itu. Sama sekali tidak merasa dosa Bima cengengesan menatap Aura yang mulai kesal.

​Aura berbalik, berkacak pinggang dengan napas memburu. "Bisa nggak sih sehari aja nggak usah ngeselin? Aku tuh capek, Kak! Nggak ada tenaga buat ngeladenin bercandaan sampah Kakak!"

​Bima bukannya minta maaf, malah tertawa mengejek. "Katanya mau kuliah di London? Baru dikasih tugas sekolah segitu aja udah tumbang. Gimana tugas kuliah nanti? Bisa pingsan di jalan kamu."

​Aura memayunkan bibirnya, emosinya makin naik ke ubun-ubun. "Emang Kak Bima tahu tugas kuliah kayak gimana? Kuliah aja nggak!"

​"Masih pagi udah ribut aja kalian ini." Suara Bunda Syakirah memutus perdebatan itu. Beliau datang dari arah dapur membawa piring berisi nasi goreng. "Bunda capek dengernya. Kalau masih ada Ayah, pasti kalian udah kena sidang."

​Seketika, ruang makan itu hening. Nama Almarhum Zakaria selalu sukses menjadi rem bagi keributan mereka. Ada kerinduan yang mendadak menyesakkan dada.

​"Sudah, makan dulu. Bunda buatin nasi goreng kesukaan kalian," pinta Bunda lembut.

​Selesai sarapan, Aura segera memesan taksi online. Ia sedang malas berdebat lagi, apalagi saat Bima mulai merayu untuk mengantarnya.

​"Adekku sayang, sesekali Abang anter lah. Abang janji nggak bakal bikin malu," bujuk Bima.

​"Nggak mau! Udah cukup dulu Kakak godain Mawar di depan gerbang. Malu-maluin!" Aura mengabaikan kakaknya dan terus berjalan keluar pagar rumah, tepat saat sebuah mobil hitam berhenti di depannya.

​"Atas nama Aura?" tanya supir taksi itu. Suaranya berat, tenang, dan sangat sopan.

​"Iya, benar," jawab Aura. Ia membuka pintu belakang lalu menatap Bima yang sedang berdiri di depan pintu dengan wajah kesal karena gagal mengantar Aura ke sekolah.

...****************...

Bel sekolah pulang baru saja berbunyi, tapi Aura merasa energinya sudah habis tersedot ujian matematika di jam terakhir. Ia berjalan gontai keluar gerbang sekolah, berniat mencari pangkalan ojek atau memesan ojek online lagi.

​"Aura!"

​Suara bariton yang tenang itu menghentikan langkah Aura. Ia menoleh dan menemukan seorang cowok berdiri di samping motor besarnya. Jaketnya rapi, wajahnya bersih, dan senyumnya tipis tapi sangat ramah.

​"Kak Arfan?" Aura mengerjap. "Kok... ada di sini? Kakak bukannya sudah mulai sibuk?"

​Arfan tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat tulus. "Lagi lewat daerah sini saja, terus ingat kalau jam segini kamu biasanya pulang. Capek ya?"

​Aura menghela napas panjang, bahunya merosot. "Banget, Kak. Rasanya mau pingsan."

​"Kalau gitu, nggak boleh langsung pulang dengan wajah ditekuk begitu," kata Arfan sambil menyodorkan helm ke arah Aura. "Ikut saya sebentar yuk? Kita beli es krim cokelat-mint kesukaan kamu di kedai dekat taman. My treat."

​Aura tertegun. "Kakak masih ingat aku suka es krim itu?"

​"Saya nggak pernah lupa hal-hal kecil tentang kamu, Ra," jawab Arfan santai, tapi tatapannya terkunci pada mata Aura selama beberapa detik terlalu lama.

​Aura yang merasa tersanjung sekaligus butuh mood booster akhirnya naik ke motor Arfan. Ia tidak tahu kalau Arfan sebenarnya sudah menunggu di sana sejak satu jam yang lalu, bahkan dia sudah mematikan ponselnya agar tidak ada yang mengganggu waktu berdua ini.

​Sepanjang jalan, Arfan membawa motornya dengan sangat hati-hati, seolah-olah Aura adalah barang pecah belah yang sangat berharga.

​"Ra," panggil Arfan di tengah deru angin.

​"Ya, Kak?"

​"Katanya kamu jadi ambil beasiswa ke London itu?"

​Aura mengangguk di belakang punggung Arfan. "Iya, doakan ya Kak semoga lancar."

​Cengkeraman tangan Arfan pada stang motor menguat, hingga buku-buku jarinya memutih. Tapi suaranya tetap terdengar sangat tenang. "Tentu. Saya selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu. Tapi kamu tahu kan, di sana jauh? Nggak ada yang jagain kamu kayak di sini."

​Aura tertawa kecil, menganggap itu hanya perhatian seorang kakak kelas. "Kan ada teknologi, Kak. Bisa video call."

​Arfan tidak membalas. Dia hanya tersenyum di balik helmnya. Video call nggak akan cukup buat saya, Aura. Saya harus bisa menyentuh kamu kalau saya mau, batinnya.

Kedai es krim di sudut taman itu cukup sepi. Arfan memilih meja di pojok bawah pohon rindang, tempat yang sejuk dan tenang. Ia menunggu dengan sabar sampai Aura selesai memesan.

​"Ini Kak, beneran Kak Arfan nggak mau?" Aura menyodorkan cup es krim cokelat-mint yang terlihat sangat menggiurkan.

​Arfan tersenyum teduh, menggeleng pelan. "Enggak, Ra. Saya sudah cukup senang lihat kamu makan dengan lahap begitu. Kayaknya ujian matematika tadi benar-benar menguras energi kamu, ya?"

​Aura tertawa kecil sambil menyuap es krimnya. "Bukan lagi, Kak! Rasanya otakku mau meledak. Makanya, ini hadiah paling juara hari ini. Makasih ya, Kak."

​"Sama-sama, Ra. Oh iya," Arfan merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah buku catatan kecil yang sampulnya sangat rapi. "Kemarin saya sempat mampir ke pameran pendidikan. Ada brosur dan catatan kecil soal persiapan beasiswa ke London. Saya rangkumkan poin-poin pentingnya buat kamu, supaya kamu nggak bingung mulai dari mana."

​Aura tertegun. Ia meletakkan sendok es krimnya. "Kak... Kakak sampai repot-repot begini?"

​"Nggak repot, Ra. Saya cuma pengen lihat kamu sukses. Meskipun..." Arfan menggantung kalimatnya, menatap ke arah taman dengan pandangan yang sulit diartikan.

​"Meskipun apa, Kak?" tanya Aura penasaran.

​"Meskipun saya tahu, London itu jauh sekali. Kalau nanti kamu di sana, siapa yang bakal belikan kamu es krim pas kamu lagi stres?" Arfan terkekeh, nadanya bercanda, tapi tatapannya kembali tertuju pada Aura dengan sangat lembut. "Tapi tenang saja, doa saya nggak akan putus buat kamu. Itu satu-satunya cara saya menjaga kamu dari sini."

​Aura merasakan pipinya menghangat. Ia merasa sangat beruntung punya kakak kelas seperti Arfan. Di saat Kak Bima hobinya hanya mengejek, Arfan justru menjadi orang yang paling mendukung mimpinya.

​"Makasih banyak ya, Kak Arfan. Kakak baik banget," ucap Aura tulus.

​Arfan hanya tersenyum tipis. Sangat tipis. "Saya cuma melakukan apa yang menurut saya benar, Ra."

Bersambung.........

Assalamualaikum wr.wb. Terimakasih banyak yang sudah mau membaca novel penjara cinta. Semoga kalian menikmati bacaan yaa dan menikmati alur perjalanan ceritanya. Terimakasih🫶🏻

1
Mawar
😍
Mawar
up terusss
Cahaya_Mentari
akhirnya😍
Mawar
lah kenapa tiba tiba Arfan berubah, bukannya kemarin dukung Aura ke London?
Cahaya_Mentari
Next Chapter😍
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
falea sezi
mawar ma arfan uda nganu ya Thor hmm. tidur bareng gt
My Name Cia: emmm, engga yaa🤭
total 1 replies
Mawar
Kok kayaknya Bima cemburu ya
Cahaya_Mentari
Alah, Arfan caper itu sama Bunda
Cahaya_Mentari
jadi keinget hy adik berkerudung putih, gtu ga sih🤭
Mawar
lanjut terusss
Mawar
baru awal udah di bikin penasaran
Cahaya_Mentari
kayaknya ceritanya bagus nih
Cahaya_Mentari
kok gtu banget sih Bima
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!