NovelToon NovelToon
Sekertaris Tanpa Gaji

Sekertaris Tanpa Gaji

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Keluarga / CEO
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Sabrina Rasmah

Bagi Syren Fauzana, nasib sial itu bentuknya nyata: menabrak pria angkuh di lobi kantor, merusakkan jam tangannya yang "kelihatan butek", dan dengan berani menuduh pria itu penipu.
Syren pikir urusannya selesai setelah ia memaki pria itu. Namun, dunianya runtuh saat ia masuk ke ruang wawancara dan menemukan pria "penipu" yang sama duduk di kursi CEO dengan senyum menyeringai.
Satu jam tangan rusak, utang seratus juta, dan sebuah kontrak kerja paksa tanpa gaji. Syren terjebak. Ia tidak tahu bahwa menjadi sekretaris Julian Aldrin bukan sekadar soal melunasi utang, tapi awal dari drama panjang yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

benar benar apes

Begitu sampai di depan rumah, dia sudah disambut oleh pemandangan yang paling tidak ingin dia lihat: Ardi yang lagi asyik nyuci sepeda sambil pasang muka kepo maksimal.

"Wih, pengantin baru pulang nih! Eh maksudnya, calon pegawai kantoran," ledek Ardi begitu Syren baru saja melepas helm.

Syren mendengus, "Bacot lo, Cil! Minggir gue mau masuk."

"Dih, galak amat. Gimana interview-nya? Diterima nggak? Atau lo langsung diusir satpam gara-gara muka lo kayak orang belum mandi?" Ardi malah makin sengit membuntuti Syren masuk ke dalam rumah.

Syren menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang tamu. "Gue diterima, tapi..."

Ardi langsung duduk di samping kakaknya, matanya berbinar jahil. "Tapi apa? Lo jadi OB? Atau lo disuruh jagain parkiran?"

"Gue jadi sekretaris CEO-nya, Di. Tapi gue nggak digaji setahun," ucap Syren lemas sambil menatap langit-langit rumah.

Hening sejenak, lalu tawa Ardi meledak sampai dia hampir terguling dari sofa. "HAH?! SETAHUN NGGAK DIGAJI? Lo kerja apa ikut romusha, Kak?! Kocak banget! Lo pasti buat ulah ya di sana?!"

"Udah deh ah, lo diem aja!" ancam Syren dengan mata melotot. "Nggak usah bilang Mama sama Papa soal ini, dan nggak usah minta duit sama gue! Minta aja sana sama Mama atau Papa!"

Ardi tertawa terbahak-bahak, seolah penderitaan kakaknya adalah hiburan paling lucu sore itu. "Kasian bener princess! Udah jomblo, kerja rodi lagi!"

"Udah ya, Di!" Syren yang emosi sudah sampai di ambang batas langsung melepas sepatu pantofelnya yang sedari tadi masih nangkring di kakinya, lalu mengejar adiknya masuk ke dalam rumah.

"Mbak, bercanda kali!" Ardi menjerit panik sambil lari terbirit-birit.

Plakk!

"Aduh!" bokong Ardi sukses jadi sasaran empuk tamparan Syren.

Keributan mereka terhenti ketika Ridwan, papa mereka, muncul dari ruang tengah sambil membawa koran sore. "Kenapa sih kalian berdua ini berantem mulu? Dari dulu nggak pernah akur!"

"Ini nih, Ardi ngeledekin aku terus, Pa!" adu Syren sambil menunjuk Ardi yang masih mengusap bokongnya yang perih.

"Udah, udah. Mandi sana, Syren. Terus makan malam," kata Ridwan menengahi. "Dan kamu Ardi, ganti bajumu itu, udah basah kena air."

"Iya, Pa," jawab Ardi dan Syren kompak.

Di tempat lain, di rumah besar Julian Aldrin, suasana jauh lebih hening, tapi tidak kalah tegang. Julian sedang duduk di sofa mewah, memegang iPad-nya, sibuk memeriksa laporan keuangan harian.

"Julian, Julian... mau sampai kapan kamu tidak menikah? Nenek sudah pengin gendong cicit, tahu," kata Arum, Nenek Julian, dengan suara yang tegas.

Wiona, ibu Julian, yang duduk di samping sang Nenek, mencoba menenangkan. "Biarlah, Bu. Julian masih cari yang pas. Kan sudah Nenek jodohkan berapa kali, Juliannya nggak mau."

"Tapi lihat dia, sudah tua, Wiona! Umurnya sudah mau kepala tiga!" Arum tidak mau kalah.

"Nek, umurku masih 27 tahun!" sahut Julian kesal, akhirnya buka suara karena terus-terusan jadi bahan gosip nenek dan ibunya.

"Itu sudah tua, dasar cucu nakal! Nenek dulu umur 20 sudah punya dua anak!"

Julian hanya bisa menghela napas pasrah, memilih kembali fokus pada iPad-nya, berharap obrolan soal pernikahan itu segera berakhir.

Syren segera mandi, mengenakan baju tidur piyama gambar beruang kesayangannya, lalu berjalan menuju ruang makan dengan lunglai.

"Gimana tadi, Ren, interview kamu?" tanya Dewi, mamanya, sambil menyendokkan nasi ke piring Ridwan.

"Baik kok, Ma," jawab Syren singkat, berusaha menutupi penderitaannya yang bakal kerja tanpa gaji.

"Baik apanya..." sela Ardi dengan nada mengejek.

Anjir lo! batin Syren emosi. Tanpa aba-aba, kaki Syren langsung meluncur di bawah meja dan menginjak kaki Ardi dengan sekuat tenaga.

"ADUHHH!" Ardi memekik kencang sampai sendoknya terlepas.

"Kenapa, Di?" tanya Ridwan heran melihat wajah anaknya yang mendadak merah padam.

"Enggak, Ma, Pa... cuma... kram dikit," jawab Ardi sambil melotot ke arah Syren yang pura-pura sibuk mengunyah sayur.

"Ya sudah, habisin makanan kalian. Segera tidur, jangan sampai telat lagi besok," pesan Ridwan.

Setelah makan malam selesai, Syren langsung melesat masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Begitu dia merebahkan diri, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Bos Peot masuk.

Bos Peot : "Jangan lupa besok. Awas ya kalau sampai lupa."

"Astaga, bener-bener ini ya bos! Kayak nggak ada kerjaan lain aja neror gue malam-malam!" gerutu Syren.

Jarinya dengan cepat mengetik balasan: "Siappppp pak bosss."

Namun, karena jempolnya yang terlalu bersemangat (atau mungkin karena nasibnya memang lagi apes), dia tidak sengaja memencet tombol Video Call.

"ASTAGA!" Syren panik, jarinya gemetar mencoba mencari tombol cancel, tapi terlambat. Panggilan itu langsung DITERIMA.

Di layar ponselnya, Syren melihat wajah Julian yang sedikit terkejut. Pria itu tampak baru selesai mandi, rambutnya masih agak basah.

"Kenapa, Nona Syren? Ada perlu sesuatu?" suara Julian terdengar tenang.

Gila! Bisa-bisanya gue kepencet video call! batin Syren panik. Lidahnya kelu, tidak tahu harus menjawab apa.

"Emmm... maaf Pak! Nggak sengaja kepencet! Beneran deh Pak saya nggak bohong, suer!" Syren langsung mengangkat dua jarinya di samping kepala membentuk tanda peace, wajahnya sudah merah padam sampai ke telinga.

Julian terdiam sejenak, menatap layar dengan ekspresi datar yang sulit dibaca. "Oke. Selamat tidur, Nona."

Belum sempat Julian melanjutkan kalimatnya, Syren sudah lebih dulu mematikan panggilan itu dengan kecepatan cahaya. Dia melempar ponselnya ke atas kasur dan menenggelamkan wajahnya di bantal. "Bego banget sih lo, Syren! Mau ditaruh di mana muka gue besok di kantor!"

Di tempat lain, Wiona yang sedari tadi berdiri di balik pintu kamar Julian langsung masuk dengan mata berbinar penuh selidik.

"Siapa yang baru saja kamu telepon, Julian?" tanya Wiona sambil melipat tangan di dada.

"Tidak ada, Ma," jawab Julian tenang sambil menyambar kaus bersih dan memakainya.

"Jangan bohong! Mama dengar tadi ada suara perempuan. Kamu video call ya?"

"Cuma karyawan baru," jawab Julian singkat, berusaha mengakhiri interogasi sang mama.

Wiona mengerutkan dahinya, merasa ada yang aneh. "Bagaimana kamu bisa menelepon karyawanmu malam-malam begini? Sejak kapan kamu punya nomor pribadi karyawan baru?"

"Ada lah pokoknya, Ma. Julian mau istirahat," Julian menutup pembicaraan dan berjalan menuju tempat tidurnya.

Di kamar sederhananya, Syren hanya bisa merutuki nasibnya. Dia menatap langit-langit kamar dengan perasaan campur aduk. "Bisa-bisanya gue punya bos kayak gitu. Ganteng sih, tapi nyebelinnya nggak ada obat! Mana harus kerja gratis setahun lagi... hiks."

Syren akhirnya mematikan lampu kamar, mencoba memejamkan mata meski bayangan Jul

ian yang sedang ganti baju tadi masih menari-nari di pikirannya.

" Aaaa astaga ", syren memeluk guling nya dan bisa memejamkan matanya, dan bermimpi indah.

1
Eneng Elsy
julian azalah.. klo gio kan ortu nya matre..
denger kelrg mu bangkrut,, lgsg g drestui
Hennyy Handriani
syren aku padamu
Hennyy Handriani
wah suka alur nya nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!