Valentine dan Valerie, si Twins V, telah tumbuh menjadi dua wanita dewasa dengan kepribadian unik yang selalu membuat orang-orang di sekitar mereka geleng-geleng kepala. Kepolosan, keberanian, dan cara berpikir mereka yang di luar nalar kerap menghadirkan tawa sekaligus kekacauan, terutama bagi kedua orang tua mereka.
Di tengah candaan tentang keinginan cepat menikah, mimpi-mimpi aneh, dan celetukan tak terduga, Twins V terus membawa kejutan baru. Lalu, keseruan dan kekacauan apa lagi yang akan mereka ciptakan selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
It's show time
Pelayang itu masih memandangi Ale dan Valen ragu karena dia juga takut membahayakan orang lain. Tapi saat melihat keyakinan kedua wanita kembar yang ada di depannya dia akhirnya mengangguk.
"Tolong jaga diri kalian, dan maafkan saya jika harus merepotkan kalian," ucap pelayan itu sambil membungkukan badannya.
Valen mengangguk mengerti apa yang ada di pikiran pelayan itu, "Tenanglah, mereka juga ada urusan dengan kami, jadi kami tidak merasa di repotkan sama sekali," sahut Valen santai.
Pelayan itu sekali lagi mengangguk dan undur diri dari sana, karena dua sejoli yang biasa membuat onar itu malah memanggilnya untuk melayani mereka. Sedangkan Ale dan Valen melanjutkan makan mereka dengan mata yang masih mengamati mereka berdua.
*
"Cepat ambilkan apa yang kami pesan, kami sudah lapar!" ucap perempuan itu yang memerintahkan sang pelayan dengan wajah angkuhnya.
Pelayan itu tak ingin menjawab karena dia sudah menahan kesalnya sejak tadi, tapi dia harus ingat untuk melakukan pekerjaaannya sesuai apa yang di pesankan Valen dan Ale.
"Baik, apa lagi yang ingin kalian pesan?" tanya pelayan itu dengan sopan.
"Pergilah, nanti kami akan memanggil kalian lagi," usir sang laki laki.
Pelayan itu segera pergi karena tak tahan dengan mereka berdua, sementara Valen dan Ale masih mengamati dalam diam apa yang di lakukan kedua sejoli itu. Valen dan Ale sudah sangat geram dengan apa yang di lakukan oleh dua sejoli itu apa lagi Valen karena sang laki laki tadi sudah menendang nendang mobil kesayangannya.
"Al, cari tahu siapa mereka, kalau memang masih ada hubungan sama perusahaan apa cari tahu juga di perusahaan mana."
Ale mengambil tablet yang ada di tasnya dan dengan santai dia mengotak atik keyboardnya untuk mencari tahu siapa mereka sebenarnya. Bukan hal susah karena kebetulan mobil yang mereka kenakan menghadap ke arah cafe dan bertepatan ada di jarak pandang yang bisa Ale dan Valen lihat.
"Sofyan putra kedua keluarga Jamal, dan yang perempuan Karina seorang model iklan yang baru saja selesai membintangi sebuah iklan di salah satu perusahaan yang di ada di bawah Arlo," ucap Ale memberitahu sang kakak soal identitas dua sejoli yang membuat ulah itu.
Valen mencermati setiap info yang Ale berikan dan tak lama terdengar suara gebrakan meja dari arah depannya.
Brakkkk....
"Kan tadi kami berdua minta yang paling spesial di sini, tapi kenapa ini hanya makanan begini? Apa ini yang di punya cafe ini hah?" teriak Sofyan di depan pelayan itu.
Pranggg....
Bahkan Sofyan juga sudah melempar piring makanan itu ke lantai karena dia marah dengan apa yang di hidangkan sang pelayan pada mereka berdua.
"Apa-apaan kalian ini, kenapa setiap datang kemari selalu membuat ulah? Dan apa kalian pikir kelakuan kalian ini mencerminkan diri kalian?" bentak pelayan yang di bentak Sofyan tadi.
"Lo berani bentak gue hah?"
Suara Sofyan sudah menggema di seluruh cafe itu saking kerasnya dan Sofyan juga sudah mengangkat tangannya untuk memukul pelayan tadi, tapi tangan Sofyan di cekal dari belakang dengan erat bahkan dia tak bisa bergerak sedikit pun karena saking kuatnya cekalan itu.
"Jangan main tangan di tempat umum, ini bisa di pidanakan nanti," ucap Valen santai.
Ya, siapa lagi yang mencegah itu jika bukan Valen dan Ale yang sudah berdiri di samping mereka sejak tadi. Sofyan menoleh ke belekangnya dan nampak di sana wajah datar Valen yang datar dan dingin.
Erin yang ada di sebelah Sofyan langsung berdiri tak terima dengan apa yang di lakukan Valen pada kekasihnya itu. Tapi saat Erin akan menghardik Valen, Ale sudah lebih dulu berpindah dari tempatnya ke depan Erin dan menatapnya santai.
"Eitsss, mau kemana lo?" cegah Ale pada Erin.
Erin menaikkan sebelah alisnya geram karena di hadang oleh Ale. Dia ingin mendorong Ale tapi sayangnya respon Ale juga sangat tepat. Dia langsung menghindar dan Erin pun malah terdorong ke depan, yang lebih usilnya lagi Ale sengaja menselonjorkan kakinya untuk membuat Erin tersandung.
Dan... Brukkk....
"Aw...."
"Erin....." panggil Sofyan panik.
Erin terjerembab ke depan dengan wajah yang langsung terantuk lantai.
"Upsss... sengaja..." Ucap Ale sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya sembari mengejek ke arah Erin dan juga Sofya.
Semua orang tertawa melihat Erin yang di kerjai oleh Ale. Sofyan sendiri langsung menolong Erin agar dia bangun. Dia menatap geram melihat Valen dan Ale yang mengganggunya.
"Ada urusan apa kalian ikut campur? Gue nggak ada urusan sama kalian,"
Valen mencebikkan bibir bawahnya ke arah Sofyan dan mengejeknya kembali. Dia sudah bersedekap dan ingin sekali menghabisi Sofyan yang banyak bertingkah di depannya padahal apa yang dia kenakan saat ini bukan karena miliknya karena orang tuanya menyuruh kakaknya untuk menjual salah satu bagian terpenting di tubuhnya demi kesenangan Sofyan dan juga Erin. Jamal gelao mata dan memaksa kakak Sofyan melakukan segala cara agar mereka bisa hidup mewah seperti sekarang.
Miris, itu yang ada di benak Ale dan Valen. Ingin rasanya mereka mencabik semua badan Sofyan dan Erin begitu juga dengan kedua orang tua mereka.
"Kami memang belum ada urusan dengan kalian, tapi sikap kalian di sini sangat mengganggu. Apa lo pikir ini cafe milik lo, sampai lo bisa seenaknya teriak dan mengganggu ketenangan orang lain yang ada di sini. Memangnya lo ini siapa?
Bukan siapa siapa juga tapi belagunya setinggi langit!" omel Ale pada Sofyan.
Mata Sofyan membola tak terima dengan apa yang di lontarkan oleh Ale. Dia berdiri dan hendak menghajar Ale tapi Valen sudah mengambil ancang ancang jika memang Sofyan mengambil tindakan kekerasan setelah ini.
Bugh....
Valen menendang perut Sofyan sampai Sofyan terjengkang ke belakang dan menabrak beberapa meja yang ada di sana.
"Shhhh...."
Sofyan sudah meringis pelan karena kesakitan, dan Erin yang sudah tak merasakan sakit pun mengambil bangku di sana untuk di pukulkan ke arah Ale.
Dan...Brak.....
Ale berhasil menendang kursi itu dengan keras dan membuatnya pecah berkeping keping.
Tapi setelah itu Ale menendang Erin juga dengan keras dan membuat Erin kembali jatuh di sebelah Sofyan. Mereka berdua meringis kesakitan menerima tendangan dari Ale dan Valen.
"Kalian berdua bakal kami laporin ke polisi!!!" ancam Sofyan.
Valen tersenyum smirk menakutkan dan menggeleng pelan ingin sekali menertawakan Sofyan dan Erin saat ini.
"Dan gue bakal laporin lo dengan tuduhan lo dan keluarga lo udah jual kakak lo untuk di ambil organ dalamnya demi memenuhi gaya hidup kalian yang mewah itu," sahut Valen santai.
Sofyan terkejut dan nampak tergagap mendengar penuturan Valen yang mengetahui rahasia yang dia dan keluarganya simpan rapat rapat.
"Ap-apa maksud lo? Lo cuma mau fitnah gue 'kan? Lo nggak punya bukti 'kan?" tunjuk Sofyan pada Valen.
Valen mengangkat kedua bahunya acuh, dan semua orang yang ada di sana mengecam Sofyan dan keluarganya jika memang benar apa yang di katakan oleh Valen itu.
"Gila, bisa sampai kayak gitu,"
"Iya parah banget, kalau gue punya saudara kayak gitu udah gue habisi duluan,"
Celetukan mulai terdengar di sana dan membuat Sofyan panik, dia tak menyangka jika orang di depannya ini bisa tahu tentang rahasia kelamnya saat ini.
"Lo nggak ada urusannya sama gue, jadi jangan ikut empur lagi atau gue bakal kasih kalian pelajaran!" ancam Sofyan lagi.
"Ck, lo bilang nggak ada urusan? Pikun lo?"
bentak Ale pada Sofyan.
Dia sudah geram sekali melihat wajah Sofyan dan Erin saat ini.
"Tadi pagi lo tiba tiba kejar mobil gue, dan barusan lo tendang mobil gue. Kalau mobil gue lecet atau rusak lo mau tanggung jawab? Lo juga bahayain gue dan kakak gue kalau sampai tadi mobil lo nabrak mobil gue. Dan lagi, kalau sampai mobil gue kenapa napa sudah bisa di pastikan kalau lo nggak bakal bisa ganti rugi semua itu!" jawab Ale datar.
"Jadi mobil tadi milik kalian? Halah paling juga mobil tiruan!" celetuk Erin menyahut.
Valen dan Ale saling pandang saat di bilang mobilnya mobil tiruan.
"Wah, dia nglunjak banget kak..." gemas Ale pada Erin.
Semua orang langsung melihat keluar dan mereka terperangah melihat mobil Valen dan Ale yang di bilang mobil tiruan oleh Erin.
"Heh, mata lo buta ya, itu mobil asli dan cuma ada dua di dunia. Bahkan cuma keluarga tertentu yang bisa membeli mobil itu."
Salah satu dari pengunjung cafe itu yang memang dia juga hobi otomotif sangat tahu mana mobil yang asli dan mana yang tiruan.
"Dan lagi malah mobil kalian yang cuma tiruan, dan harganya juga nggak seberapa. Gitu kok nghina orang, aneh banget!" sahutnya lagi.
"Heh, lo nggak usah ikut campur ya, ini urusan kami. Dan lagi kenapa dengan mobil kami? Lo juga paling nggak mampu belinya." ejek Erin pada pengunjung itu.
Valen menoleh ke sumber suara itu dan dia menyipitkan matanya melihat gadis yang baru saja berani menyahut itu dan otaknya berkelana mengenali siapa gadis yang berani menyahut itu.
"Ck, lo yang buta kali, gimana dia nggak mampu beli sedangkan dia salah satu anak pengusaha berlian dan permata. Di kira lo, yang bisa jadi pemeran iklan karena naik ke ranjang produsernya?" ejek Ale pada Erin.
Mata Erin membulat mendengar penuturan Ale soal dirinya dan gadis yang baru saja dia ejek tadi. Erin sudah mundur selangkah ke belakang karena dia juga takut jika Sofyan akan menghukumnya.
Dan benar saja saat Erin melihat ke arah Sofyan,
terlihat di sana Sofyan sudah menatapnya dengan wajah murkanya.
"Apa itu benar?" tanya Sofyan dingin.
Erin sudah ketakutan melihat wajah Sofyan, dia
sudah ingin berlari dan kabur dari sana tapi entah kenapa kakinya tak bisa di gerakkan sama sekali.
Valen dan Ale saling lirik dengan senyum menakutkan mereka.
"It's show time!"
to be continued...