NovelToon NovelToon
Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kelahiran kembali menjadi kuat / Pemain Terhebat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jullsr red

Di bawah langit kelabu yang digelayuti takdir dan dendam yang belum terbalas, Lin Zhantian melangkah memasuki babak baru dalam perjalanan kultivasinya. Setelah menanggung penghinaan panjang yang menggerogoti martabat keluarganya, ia kini berdiri di ambang perubahan besar—bukan lagi sebagai pemuda lemah yang dipandang rendah, melainkan sebagai bara api yang tersembunyi di balik abu.

Bab ini menyoroti pergulatan batin Lin Zhantian saat ia menyadari bahwa kekuatan sejati tidak hanya lahir dari teknik dan energi spiritual, tetapi juga dari tekad yang tak tergoyahkan. Di tengah tekanan klan, tatapan sinis para tetua, serta bayang-bayang kejeniusan para rivalnya, ia menemukan secercah peluang—sebuah warisan kuno yang seolah memilihnya sebagai penerus.

Namun, jalan menuju kejayaan tidak pernah sunyi dari ujian. Energi liar yang mengamuk di dalam tubuhnya hampir merobek meridiannya, menguji batas ketahanan fisik dan jiwanya. Dalam kesunyian malam, saat semua orang terlelap dan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jullsr red, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 — Tinju Penembus Punggung

Fajar menyingsing dalam balutan kabut tebal yang menyelimuti puncak gunung terpencil itu. Uap putih keabu-abuan bergelayut di antara pepohonan tua, menjadikan dunia seolah terendam dalam lautan susu yang tak bertepi. Jarak pandang terpangkas, garis-garis batang pohon memudar, dan setiap tarikan napas terasa dingin menusuk paru-paru. Gunung itu sunyi, namun di balik kesunyian tersebut, sebuah tekad sedang ditempa dalam deru napas yang berat dan terengah.

“Hu… hu…”

Di hutan lebat belakang puncak gunung, di sebuah tanah lapang kecil yang dikelilingi pepohonan tinggi menjulang, terdengar suara napas yang kasar dan intens. Jika seseorang menembus tirai kabut dan mendekat, ia akan melihat sosok bocah bertubuh kecil tergantung pada dahan pohon yang kokoh. Kedua tangannya mencengkeram batang kasar itu erat-erat, sementara tubuhnya naik turun dengan ritme yang berat, ditopang sepenuhnya oleh kekuatan lengannya.

Tubuh kecil itu bukan sekadar bergerak biasa. Setiap ayunan dan tarikan dilakukan dalam postur yang ganjil dan penuh tekanan, memaksa seluruh ototnya—dari bahu, punggung, hingga perut dan paha—berkontraksi serempak. Pada pergelangan tangan dan kakinya tergantung bongkahan besi hitam yang berat, berayun pelan mengikuti gerak tubuhnya. Keringat menetes deras dari pakaian yang telah basah kuyup, membasahi besi-besi itu hingga berkilap oleh cairan asin perjuangan.

Bocah itu adalah Lin Zhantian.

Sejak kecil, kehidupannya tidak pernah mengenal kemewahan. Tidak ada ramuan mahal yang mengalir deras, tidak ada guru-guru tersohor yang membimbing tanpa lelah. Namun ayahnya telah menanamkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada harta—keteguhan hati dan kerja keras. Di dunia di mana bakat bawaan dan sumber daya menentukan jarak seseorang melangkah, ketekunan adalah satu-satunya senjata yang ia miliki untuk menantang mereka yang lahir dengan keunggulan.

Butir-butir keringat mengalir ke matanya, memicu rasa perih yang menyengat. Rahangnya mengatup erat, giginya bergemeretak menahan rasa sakit. Ia dapat merasakan setiap serat ototnya bergetar, asam laktat menggerogoti, tubuhnya menjerit meminta istirahat. Pada saat seperti itu, kebanyakan orang akan melepaskan genggaman dan terjatuh ke tanah, menyerah pada kelelahan.

Namun suara ayahnya bergema dalam ingatannya: hanya ketika tubuh mencapai batasnya, barulah batas itu bisa ditembus.

Ia tidak boleh berhenti.

Ia tidak boleh kendur.

Enam bulan lagi akan diadakan perbandingan keluarga—pertarungan antar generasi muda klan. Jika ia ingin berdiri tegak di hadapan semua orang, jika ia ingin mengangkat kembali martabat ayahnya yang telah lama terpuruk, maka ia harus memeras setiap tetes darah dan keringatnya mulai sekarang.

Kepalanya mulai terasa ringan, pandangannya berkunang-kunang. Namun tepat ketika kesadarannya hampir goyah, seberkas kehangatan aneh muncul dari dalam tubuhnya. Seperti api kecil yang menyala di kedalaman sumsum tulang, panas itu menyebar perlahan namun pasti.

Mata Lin Zhantian mendadak berbinar.

Itu adalah sisa khasiat ginseng merah.

Beberapa hari lalu, tanaman spiritual yang awalnya disiapkan untuk menyembuhkan luka ayahnya akhirnya, atas desakannya sendiri, diberikan sepenuhnya kepadanya. Ginseng merah itu memang hanya ramuan spiritual tingkat satu, namun bagi seorang pemuda di tahap Penempaan Tubuh, khasiatnya bagaikan hujan di padang tandus.

Dalam waktu singkat, perubahan pada tubuhnya terasa nyata. Kekuatan ototnya meningkat drastis, tulang-tulangnya terasa lebih padat, dan aliran darahnya lebih deras. Ia bisa merasakan pertumbuhan itu dengan jelas—sebuah transformasi yang tak mungkin dicapai hanya dengan latihan biasa dalam beberapa hari.

Namun kekuatan ramuan tidaklah abadi. Setelah lima hari, khasiat utamanya mulai memudar. Meski demikian, tidak seluruh energi obat itu hilang. Sebagian tertimbun jauh di dalam daging dan tulangnya, menunggu saat yang tepat untuk diperas keluar.

Dan saat itu adalah sekarang.

Ketika tubuhnya mencapai titik paling haus akan kekuatan, sisa energi tersebut akhirnya terpicu, terdesak keluar oleh kebutuhan yang mendesak. Otot-ototnya yang lelah menyambutnya bak serigala kelaparan, melahap setiap percik daya yang tersisa.

Kehangatan itu menyusup ke dalam setiap serat otot. Dalam kesadarannya yang terfokus, Lin Zhantian seolah mendengar sorak-sorai halus dari jutaan sel tubuhnya. Rasa perih dan lelah perlahan menguap, digantikan oleh semburan energi baru yang segar dan kuat.

“Ha!”

Dengan satu tarikan kuat, ia mengayunkan tubuhnya, melepaskan diri dari dahan, berputar di udara, dan mendarat dengan mantap di tanah. Ia meluruskan punggungnya. Tulang-tulangnya berbunyi retak pelan, dan ia menyadari tubuhnya terasa sedikit lebih kokoh.

Tahap Penempaan Tubuh Tingkat Ketiga.

Tangannya mengepal erat. Kekuatan yang berdenyut di antara otot-ototnya membuat wajah kecilnya berseri penuh kegembiraan. Sejak mulai berlatih, jarang sekali ia memiliki kesempatan mengonsumsi ramuan spiritual. Tak disangka, sekali merasakannya, hasilnya begitu luar biasa.

“Lumayan.”

Suara berat terdengar dari balik pepohonan.

Lin Zhantian menoleh cepat. Di bawah naungan pohon besar berdiri seorang pria berwajah tegas—Lin Xiao. Biasanya wajahnya kaku dan jarang tersenyum, namun kini sudut bibirnya terangkat tipis.

“Ayah!” seru Lin Zhantian, matanya bersinar.

Lin Xiao mendekat, meneliti tubuh putranya dengan saksama, lalu mengangguk pelan. “Tingkat ketiga Penempaan Tubuh. Tidak buruk.”

Lin Zhantian tersenyum malu. “Semua karena ginseng merah itu.”

Lin Xiao menggeleng ringan. “Ramuan itu hanya tingkat satu. Orang lain mungkin butuh satu atau dua bulan untuk naik dari tingkat dua ke tiga. Ini adalah hasil latihanmu siang dan malam.”

Ia melihat sendiri bagaimana putranya berlatih tanpa kenal lelah. Ibunya beberapa kali hampir menangis melihat kerasnya latihan itu. Sebagai ayah, hatinya pun teriris. Namun ia tahu alasan di balik kegigihan itu.

Putranya ingin berdiri tegak dalam perbandingan keluarga. Ingin memulihkan kehormatan yang pernah hilang.

“Buang besi-besi itu,” ujar Lin Xiao. “Sekarang kau sudah mencapai tingkat ketiga. Kau boleh mulai mempelajari teknik bela diri.”

Mata Lin Zhantian berbinar seperti bintang di langit malam. Selama ini ia hanya mengandalkan kekuatan mentah tanpa teknik. Kini akhirnya pintu dunia bela diri terbuka di hadapannya.

“Dalam dunia bela diri, teknik dibagi menjadi sembilan tingkat dan tiga kelas,” jelas Lin Xiao. “Tingkat satu hingga tiga adalah kelas rendah, empat hingga enam kelas menengah, tujuh hingga sembilan kelas tinggi. Teknik yang akan kuajarkan adalah teknik kelas rendah tingkat satu—Tinju Penembus Punggung.”

Lin Zhantian mengangguk tanpa kecewa. Ia tahu, langkah harus diambil satu demi satu.

Lin Xiao mengangkat tangannya. “Serang aku dengan seluruh kekuatan dan kecepatanmu.”

Lin Zhantian melempar beban besinya dan melancarkan pukulan sekuat tenaga. Namun Lin Xiao hanya menggeser tangannya, menyapu lengan putranya dengan gerakan ringan. Bunyi “pak!” terdengar jelas. Lengan Lin Zhantian memerah seketika.

“Tinju Penembus Punggung,” ujar Lin Xiao tenang, “mengandalkan tenaga yang melekat pada pakaian. Jika tadi aku menambah sedikit saja tenaga dalam, tulangmu sudah hancur.”

Ia lalu memperagakan sembilan jurusnya. Setiap gerakan mengalir seperti kera raksasa yang merentangkan tubuhnya. Setiap ayunan menghasilkan bunyi “pak!” yang jernih dan berlapis. Satu suara lebih kuat dari yang sebelumnya.

Lin Zhantian menatap tanpa berkedip. Dunia seakan lenyap dari sekelilingnya. Yang tersisa hanya bayangan tinju ayahnya yang menari di udara.

Setelah beberapa kali peragaan, Lin Xiao berhenti. “Sudah ingat?”

Lin Zhantian ragu sejenak, lalu mengangguk.

Ia melangkah maju dan memperagakan sembilan jurus itu. Gerakannya masih kaku dan belum bertenaga, namun urutannya tepat.

Lin Xiao terkejut sekaligus bangga. Bakat pemahaman putranya sangat tajam.

Namun tak ada satu pun suara keluar dari gerakan Lin Zhantian.

“Ayah, kenapa tidak ada bunyi?” tanyanya.

Lin Xiao tersenyum tipis. “Jika semudah itu, teknik ini tak akan bernilai. Ingat, biarkan lengan bajumu mengikuti tenagamu—bukan tenagamu mengikuti lengan baju.”

Sore itu, Lin Zhantian berlatih tanpa henti. Keringat membasahi tanah. Tinju-tinjunya berulang kali menyapu udara. Hingga matahari mulai tenggelam.

“Cukup untuk hari ini,” ujar Lin Xiao akhirnya.

Namun Lin Zhantian tetap berlatih, sepenuhnya tenggelam dalam aliran tenaga di tubuhnya.

Lin Xiao menggeleng dan berbalik pergi, senyum samar di wajahnya.

“Bakatnya luar biasa. Ketekunannya bahkan melampauiku di masa jayaku…”

Baru beberapa langkah ia melangkah—

“Pak!”

Suara tajam dan jernih menggema di hutan.

Tubuh Lin Xiao membeku. Matanya melebar, cahaya gemilang terpancar darinya.

“Sepertinya… bukan sekadar mungkin,” gumamnya pelan. “Melampauiku adalah hal yang sangat mudah baginya.”

1
anggita
ikut ng👍like aja👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!