NovelToon NovelToon
Kinan

Kinan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Lain / Keluarga
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.

Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.

Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lenyap Untuk Selamanya

Kinan tidak bisa diam walaupun perempuan tua itu mengatakan bahwa energinya akan habis, satu intervensi lagi akan menghapusnya sepenuhnya—bukan mati, karena mati sudah terjadi tapi punah lenyap dari segala kenangan, dari hatinya dan sejarah.

Tapi Kinan melihat sesuatu yang tidak bisa ia biarkan.

---

Maya di telepon.

Malam itu di rumah ibunya suara pecah, tangan gemetar, air mata yang tidak bisa dihentikan.

"Maya nggak bisa lagi, Bu, Maya cinta dia Tapi Maya .. maya nggak ada di sana di pikirannya, dihatinya, ada orang lain selalu ada orang lain."

Ibunya di seberang sana—suara lembut, pengertian datang ber tahun-tahun mengenal."Pulang lah , sayang, tinggal di sini dekat ibu, Jauh dari dia, kamu bisa mencari pekerjaan dan orang baru."

"Maya nggak bisa, Bu." Ia menatap jendela, langit gelap, bintang tidak terlihat. "Maya nggak bisa jauh. Tapi Maya nggak bisa juga dekat dengannya, terjebak dengan cinta sendiri."

Kinan melihat dari Ruang Tunggu, tubuhnya hampir tidak berbentuk—hanya goresan cahaya bergetar. Tapi ia merasakan sesuatu yang familiar dirinya dulu, saat pertama kali jatuh cinta pada Raka, ternyata ada cinta lain menunggu dengan kesabaran, menyayangi tanpa batas.

"Dia akan pergi, Maya sahabat ku, dia akan pergi. Dan Mas Raka... Raka akan sendiri lagi."

"Bukan urusanmu, Kinan, mereka hidup dan berjalan, sementara kamu mati, batas itu ada untuk sebuah alasan."

"Batas itu ada untuk dilanggar, kalau cinta cukup kuat."

Perempuan tua bermata biru tidak menjawab. Ia tahu—sudah terlambat untuk menghentikan.

Dan Kinan turun, apakah ini untuk terakhir kalinya ia tidak peduli.

---

Maya tertidur di kamar masa kecilnya dengan bantal beruang hadiah ulang tahun ketujuh dari Kinan, dengan foto mereka berdua di dinding—dua anak perempuan dengan gigi ompong dan mimpi terlalu besar untuk ukuran kaca mata kehidupan.

Kinan duduk di tepi tempat tidur, tubuhnya tidak terlihat—hanya bayangan di dinding, yang bisa dianggap ilusi cahaya. Tapi Maya merasakan sesuatu, kehangatan menyergap dada dan pikiran, dengan bau bunga mawar menyergap panca indra.

"Nan?" bisiknya setengah sadar. "Lo di sini?"

Kinan tidak bisa berbicara, memang tidak ada suara yang tersisa. Tapi ia bisa menyentuh samar, di dahinya, dingin dan hangat.

Maya tersentak bangun membuka mata, tapi ia tidak melihat siapa-siapa hanya air mata mengalir sedih sebuah pengenalan yang tak kasat mata

"Gue tahu lo di sini, Nan," katanya duduk menatap kekosongan. "Gue selalu tahu. Lo... lo nggak pernah benar-benar pergi, kan? Dari dia, dari gue." Ia merasakan angin berhembus semilir dari pentilasi berputar di ruangan tertutup.

"Gue benci lo, Nan, gue benci lo karena Lo pergi dan gue yang harus jagain. ,"Matanya menyapu ruangan kamar tidur, "Tapi gue sayang lo, Nan, berkat lo dia hidup, lo... lo yang pertama kali ngajarin gue, cinta bisa sebesar itu."

Kinan meraih tangannya tidak tersentuh, tapi ia merasakan—seperti embun menetes dalam ingatan.

"Dia butuh lo, May," bisiknya dengan jiwa dan rasa."Bukan sebagai gue atau pengganti, tapi diri lo sendiri yang kuat, sabar dan selalu ada."

Maya menangis tersendat. "Gue capek, Nan, . menjadi yang selalu ada, nggak pernah dipilih."

"Gue tahu," bisiknya rintih, tubuhnya semakin tipis, dan transparan. "Tapi pilihan... pilihan itu bukan tentang siapa yang lebih baik tapi siapa yang membuatnya lebih hidup. Dan lo... lo membuatnya hidup, May meski Mas Raka nggak tahu, nggak pernah lihat. Lo membuatnya hidup."

"Dan kalau dia nggak pilih gue?"

"Dia bukan bodoh, May, cuma butuh waktu. Dan lo... lo punya waktu? Untuk menunggu?"

Maya menatap kekosongan tiga detik, lima detik, seumur hidup."Gue punya," katanya akhir "Bukan untuk dia, untuk gue, seandainya gue pergi sekarang, apa yang akan terjadi? Gue takut semua kemungkinan buruk muncul"

Kinan tersenyum untuk terakhir kali dalam bayangan jiwa lemah"Itu... itu cukup untuk gue, untuk dia. Untuk... untuk semua yang pernah kita cinta."

Ia mencium keningnya tidak tersentuh, tapi terasa lalu hilang.

---

Maya bangun pagi dengan jiwa baru, kedamaian. Orang yang ia kenal, yang ia cinta, yang ia benci—baru saja memberi izin untuk mencoba, berharap menjadi dirinya sendiri.

Ia mengirim pesan ke Raka pertama kalinya sejak hari itu di teras.

Maya: "Gue nggak minta lo jawab apa-apa, Ra Gue cuma mau lo tahu—gue masih di sini bukan untuk menunggu, menjaga karena gue masih ada. Dan kalau suatu hari lo mau... gue harus pergi, gue baik-baik aja, cukup untuk diri gue sendiri."

Lama. Tidak ada jawaban.

Lalu:

Raka: "Thanks, May. Untuk... untuk segalanya."

Bukan jawaban yang ia harapkan tapi cukup untuk sekarang, cukup.

---

Di sisi lain kota, Laras juga merasakan sesuatu.

Ia duduk di apartemennya, menatap ponsel tidak berdering. Raka tidak menjawab pesannya sejak kemarin, menerima tawaran makan siang tidak ada.

Dan sesuatu—seperti angin dingin, bau mawar yang tidak masuk akal—melewati membuat bulu kuduknya berdiri, jantung berdebar tidak karuan.

"Ada orang," bisiknya pada dirinya sendiri. "Ada orang yang... yang nggak suka gue di sini."

Ia berdiri menutup jendela lalu menyalakan semua lampu. Tapi kegelapan yang ia rasakan bukan dari luar, dari dalam diri nya sendiri, tidak bisa lihat, tapi dirasakan bahwa dia ada.

Peringatan.

Sebuah peringatan—lembut, tapi tegas seperti mengatakan: "Hati-hati. Dia bukan milikmu. Bukan milik siapa pun. Dia miliknya sendiri. Dan kamu... kamu hanya tamu."

Laras duduk di lantai berlutut berdoa namun tidak menyerah hanya mengakui bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari strateginya, dari rencananya, dari cinta yang terlalu terencana.

"Gue akan tetap mencoba," bisiknya. "Tapi gue akan... gue akan lebih hati-hati."

Angin reda dan bau mawar menghilang.

Tapi Laras tahu—tahu—bahwa ia tidak sendirian di ruangan ini, ada yang mengamati, melindungi, mencintai dengan cara yang ia tidak bisa pahami.

---

Di Ruang Tunggu, Kinan terbaring.

Tubuhnya hampir tidak ada—hanya secuil cahaya, secuil bayangan. Perempuan tua itu disampingnya, menepuk sesuatu yang hampir tidak bisa disentuh.

"Kamu memberikan untuk dua orang sekaligus."

"Mereka... mereka berdua sayang Mas Raka, dan mereka... mereka berdua sayang aku dengan cara yang beda. Aku nggak bisa memilih, hanya membantu untuk mencari jawaban dari hati masing masing

"Dan kamu? Apa yang tersisa untukmu?"

"Aku sudah punya segalanya, bu, cinta yang nggak pernah mati meskipun aku sudah pergi Itu... itu cukup lebih dari cukup."

Dunia nyata kembali berjalan—Maya di rumah ibunya, tersenyum pada bantal beruang. Laras di apartemennya, berlutut di lantai. Raka di rumah kontrakan, menatap ponsel dengan wajah yang berbeda, siap untuk apa pun yang datang.

"Dia akan baik-baik saja karena kamu."

Kinan tidak menjawab. Ia sudah tidak bisa.

Tapi di sudut Ruang Tunggu—jika ada sudut di tempat tanpa batas—sesuatu tumbuh, kecil, hijau seperti tunas lavender di dunia nyata.

Harapan bukan untuk kembali. Tapi untuk melihat sekali lagi sebelum lenyap selamanya

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
buset antara kisah romantis dan horor ....kadang2 serem ya 🤭
Ddie: ya terkadang cinta bisa membuat romantis dan horor, horor kalau kena tolak, horor dia kawin dengan orang lain, horor cinta tak terbalas ..😄
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
kok AQ serem sih baca nya 😌
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: aq gak berbakat nulis ..enak baca aja 🤣
total 4 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
Raka yang terpuruk dan Maya yang simpati karena ada maksud 🤭...
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: idih 🤣🤣
total 2 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
seperti nya maya mencintai Raka ...dan yang dia lakukan untuk mencari simpati ke Raka ...aah kebanyakan sahabat seperti itu sih 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: nama pasaran malah wkwk
total 6 replies
Soraya
mampir thor
Ddie: terimakasih banyak ya dk
total 1 replies
falea sezi
nyesek bgt baru jg baca/Shame/
Ddie: cinta sejati itu selalu ada dimana pun dk ..walau hidup dalam dimensi lain, kematian
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
aku masih di sini dekap hampa di hati....
mampir 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: yups betul sekali 🤣
total 2 replies
Ddie
mengapa engkau pergi membawa cinta jika membuatku kehilangan? Kematian bukanlah takdir tapi mimpi panjang menghadap Tuhan. Disini aku melihatmu tanpa bisa menyentuh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!