Gurial Tempest
Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.
Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.
Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.
Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.
Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.
Inilah awal kisah Gurial Tempest.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Griffin Gurun.
Malam turun perlahan di atas gurun.
Langit berwarna nila gelap, bertabur bintang seperti butiran garam di kain hitam. Angin malam menggeser pasir dengan bunyi shhhh… shhhh… seolah gurun sedang berbisik.
Di barisan paling depan, Chika berjalan sambil menggandeng tangan Princess.
Pedang Lumina di punggungnya memantulkan cahaya bulan, sementara Hero Sword di dadanya berkilau samar.
Chika tiba-tiba bernyanyi dengan suara sumbang tapi penuh semangat.
“La~ la lalala~
Chika dan Princess memimpin~
La~ la lalala~
Chika dengan Hero Sword-nya~ ♪”
Princess ikut, walau nadanya naik-turun seperti burung tersedak.
“La~ la~ laaa~!”
Di belakang mereka, rombongan berjalan beriringan: Vivi melayang santai, MK.99 berdengung pelan, Selena melangkah anggun dengan payung, Marianne sambil mencatat sesuatu di buku, Beatrix dengan tangan terlipat, Emila waspada, dan Marvin di paling belakang dengan wajah lelah.
Beatrix tiba-tiba berteriak,
“HEI, GORILA! HENTIKAN NYANYIAN ITU!”
Chika menoleh sambil tetap bernyanyi.
“La~ la—”
BLUP.
Kaki Beatrix mendadak tenggelam sampai betis.
“Apa-apaan—?!”
Pasir di sekelilingnya berputar seperti pusaran kecil.
Beatrix menunjuk ke bawah.
“Lihat! PASIRNYA NGGAK SUKA SUARAMU!
TAPI TOLONG WOI—!!!”
SHLURRRRP—
Tanah di bawah mereka amblas sekaligus.
Selena, Marianne, Beatrix, Emila, bahkan Vivi yang melayang rendah ikut tersedot.
“EH?!”
“WOI WOI WOI—!”
“INI BUKAN BAGIAN DARI RENCANA—!”
Vivi mendecak pelan.
“…Pasir Hida. Aku benci tipe pasir yang lapar.”
Princess menjerit sambil menarik tangan Chika.
“Chikaaa! Pegang aku! Aku takut!”
Chika sendiri gemetar.
“Chika juga takut, Princess!! Ini bukan pasir biasa, ini pasir jahat!”
Selena berusaha menggerakkan kakinya tapi malah makin tenggelam.
“Marvin! Bantu aku saja dulu!”
Marianne langsung memelototinya.
“HEI! JANGAN EGOIS, VAMPIR!”
Beatrix melambai panik.
“AKU SUDAH SETENGAH MATI DI SINI, KALIAN MALAH ANTRI DISLAMATKAN?!”
MK.99 berbunyi BZZT pelan.
“MK.99 tidak menyukai situasi ini… Lebih baik aku kembali tidur di Havenload…”
Lalu mesin punggungnya menyala.
WUUUUUM—
MK.99 melayang turun dan langsung mencengkeram Chika, Princess, dan Vivi sekaligus.
“Muatan pas. Jangan paksa aku membawa lebih banyak tubuh organik.”
Selena, Marianne, dan Beatrix langsung serempak:
“OI ROBOT PAYAH!!”
Emila mencoba mengaktifkan sihirnya, tapi aura cahayanya malah tersedot pasir.
“Kenapa energiku juga diserap…? Aku tak bisa terbang!”
Marvin menghela napas panjang, mengusap wajahnya.
“…Terjebak dengan kumpulan wanita ribut dan satu anak.”
Ia mengangkat suara.
“Jangan banyak bergerak! Pasir ini bereaksi pada getaran!”
Beatrix malah teriak lebih keras.
“YA MAKANYA CEPET TOLONG AKU, GODZILLA!!!”
Marvin memutar mata.
“…Kalian…”
Ia melangkah mendekat dan mengangkat Selena dulu.
Selena refleks melingkarkan tangan ke pundak Marvin.
“Kamu menyelamatkan aku dulu… aku suka.”
Beatrix langsung melotot.
“OI BODOH! JANGAN CUMA VAMPIR ITU YANG KAU ANGKAT!”
Marianne terisak dramatis.
“Huhuhu… robot raksasa Teatan-ku belum selesai… aku malah dimakan pasir…”
Marvin mendengus, lalu mengangkat Emila, Beatrix, dan Marianne sekaligus dengan satu tangan masing-masing.
Begitu Emila terbebas, auranya menyala lagi.
Ia melayang perlahan ke udara, rambut birunya berkibar.
Kini di tangan Marvin tergantung dua ilmuwan perempuan.
Beatrix mendesis.
“HEI GODZILLA! JANGAN ANGKAT AKU KAYAK KUCING BASAH!”
Marvin menatapnya datar.
“Kau cerewet sekali… mau aku lempar balik ke Havenload?”
Marianne menoleh ke Beatrix sambil menyeringai.
“Tuh dengar… udah diselamatkan malah ngomel.”
Di depan, MK.99 masih melayang sambil membawa Chika, Princess, dan Vivi.
Chika melihat ke belakang, tersenyum lebar.
“Kelompok kita makin rame ya!”
Princess mengangguk kuat-kuat.
“Dan makin seru!”
Vivi menghela napas.
“…Makin berisik.”
MK.99 berdengung lemah.
“Sistem merasakan kerja lembur… Tidak ada reward dari Vivi…”
Angin gurun bertiup, membawa suara mereka pergi ke malam.
Di tengah pasir lapar, teriakan, dan keluhan…
…party Hero Sword berjalan maju.
Lebih ribut.
Lebih kacau.
Tapi… lebih hidup.
...----------------...
Tak lama kemudian, barisan mereka akhirnya mencapai desa timur—gerbang besar dari kota gurun yang besok akan menjadi pusat parade.
Obor-obor kristal di sisi jalan menyala kebiruan, memantulkan cahaya ke dinding batu pasir yang diukir motif spiral. Bendera-bendera parade sudah dipasang, berkibar pelan tertiup angin malam. Bau rempah, minyak lampu, dan pasir hangat bercampur jadi satu.
Marvin berhenti di depan gerbang, menatap ke dalam kota dengan mata yang dalam dan berat.
Tangannya mengepal.
“Nayla…” gumamnya.
“Tunggu aku… Aku pasti menyelamatkanmu.”
Nada suaranya rendah, hampir seperti doa.
Selena yang berdiri di sampingnya melirik, lalu mendekat setengah langkah.
“Marvin…” katanya pelan tapi menusuk.
“Jangan cuma mikirin Nayla. Pikirkan aku juga…”
Matanya sedikit berkilau. Bukan marah—lebih ke cemburu yang disimpan rapi.
Marvin menoleh.
Ia tersenyum lembut, bukan senyum bercanda, tapi senyum yang bikin Selena langsung kaku.
“…Aku mikirin kalian semua,” katanya.
Selena terdiam. Mukanya memerah.
Beatrix tiba-tiba nyelonong berdiri di tengah mereka.
“Eh… eh… eh? Ini kenapa suasananya kayak drama sore?”
Selena langsung mendorong kepala Beatrix ke samping.
“Kau lagi, kau lagi! Selalu muncul di momen penting!”
Beatrix oleng.
“WOI! Kepalaku itu aset intelektual!”
Di depan rombongan, Marianne berhenti dan membuka gulungan kain yang dibawanya.
Di dalamnya: sebuah pedang ramping… tapi panjang dan aneh.
Bilahnya mengilap perak kebiruan, dengan enam lubang besar sejajar di bagian atas bilah. Di tengahnya mengalir garis energi biru gelap seperti nadi bercahaya.
Chika mendekat dengan mata berbinar.
“Waaah… Marianne! Kamu bikin senjata buat bertarung?!”
Marianne mengangguk bangga, mengangkat pedangnya dengan dua tangan.
“Iya! Untuk jaga-jaga. Soalnya selama ini aku cuma ngandelin Teatan…”
Ia mengayunkannya ringan.
WSSSH—
Udara terbelah, pasir di tanah terangkat sedikit seperti tersedot.
Vivi mendekat sambil tersenyum licik.
“Hihi… ternyata kamu jenius senjata juga ya. Tapi…”
Ia menunjuk lubang-lubang besar itu.
“Itu buat apa? Dan pedangmu gede banget… Cocoknya malah buat Marvin.”
Marianne mendengus.
“Ini bukan lubang hiasan! Ini port energi. Bisa nembakin meriam mini, roket kecil, dan juga ningkatin kecepatan tebasan. Dan walaupun kelihatan besar, ini ringan buat aku!”
Ia menebaskan lagi.
FWOOM—
Semburan angin biru melesat ke depan dan menghantam dinding batu gerbang, meninggalkan bekas goresan bercahaya.
Emila memperhatikan dengan mata tajam seorang kesatria.
“Kau sangat berbakat, nak… Dari mana asalmu?”
Marianne berdiri tegak.
“Kerajaan Teatan, Kapten.”
Emila tersenyum kecil.
“Hmmm… menarik. Bagaimana kalau aku menjadikanmu muridku… seperti Chika?”
Chika langsung melonjak.
“IYA! AYOK, MARIANNE!”
Marianne membeku satu detik… lalu meledak.
“DILATIH OLEH KESATRIA MASA LALU DARI GURIAL TEMPEST?!
AKU MAU!!!”
Ia hampir melompat sambil memeluk pedangnya.
Vivi tertawa kecil.
“Wah… aku ikut senang. Para Hero akan dilatih langsung oleh Kapten Emila.”
MK.99 mendengung malas.
“Aku tidak ikut… Aku ingin tidur dan mendinginkan motherboard.”
Vivi menoleh tajam.
“Siapa bilang?”
MK.99 berhenti melayang.
“…Eh?”
Vivi tersenyum manis tapi berbahaya.
“Aku sudah memprogrammu sangat kuat. Tapi dulu… entah bagaimana… aku salah coding. Dan hasilnya—”
Ia menunjuk MK.99.
“—Kaden pusing tujuh keliling karena kau jadi mesin malas.”
MK.99 berbunyi BEEP BEEP cepat.
“Kesalahan sistem bukan salah unit MK.99.”
Beatrix menyeringai.
“Robot cacat produksi.”
“PROTES,” balas MK.99 datar.
Princess menarik tangan Chika.
“Chika… besok parade ya?”
Chika mengangguk semangat.
“Iya! Dan kita bakal cari Nayla… dan juga Hero lain!”
Marvin menatap gerbang desa lagi.
Di balik tembok itu, lampu-lampu kota berkilau.
Parade, keramaian… dan di suatu tempat, seseorang bernama Nayla menunggu.
Emila berdiri di belakang mereka, tangan di pinggang, suaranya tegas.
“Besok… kita masuk ke kota.
Dan setelah itu… latihan.”
Marianne langsung berdiri kaku.
“LATIHAN?!”
Selena menyeringai.
“Selamat datang di neraka kesatria.”
Beatrix mendengus.
“Hah… kelompok ini makin aneh aja.”
Chika tertawa.
“Tapi seru, kan?”
Angin malam berhembus melewati gerbang.
Di depan mereka:
kota parade.
di belakang mereka:
gurun dan pasir lapar.
Dan di tengah-tengah…
party Hero Sword yang semakin ribut, semakin kuat, dan semakin tak bisa dipisahkan.
Angin malam tiba-tiba berubah arah.
Dari balik bukit pasir di luar gerbang desa, terdengar suara kepakan sayap yang terlalu berat untuk burung biasa.
FWOOOOOSH… FWOOOSH…
Bayangan besar melintas di atas obor kristal.
Marvin mendongak lebih dulu.
“……itu bukan burung.”
Detik berikutnya—
SKREEEEEAAAAAA—!!
Puluhan Griffin Gurun meluncur turun dari langit, tubuh singa pasir dengan sayap elang berwarna cokelat keemasan. Di punggung mereka, bandit-bandit bertopeng hitam mengayunkan rantai dan tombak.
“AAAAAA!!!”
“LARI!!”
Warga desa yang masih di luar gerbang langsung panik. Beberapa ditangkap, diseret ke udara.
Seorang elf perempuan berteriak saat Griffin mencengkeram pundaknya dan terangkat ke atas.
“TOLOOONG!!!”
Princess kecil menutup mulutnya.
“Chika… mereka diculik…”
Chika langsung maju setengah langkah, perisai Lumina muncul di lengannya dengan kilau putih.
“Tidak… bukan di depanku.”
Dia menoleh ke party-nya.
“Semuanya! Lindungi warga! JANGAN BIARKAN SATU PUN DIBAWA PERGI!”
Emila menarik pedang sihir emasnya.
SHING—!
Delapan bilah cahaya berputar di udara di sekelilingnya.
“Formasi tempur!”
Langit malam berubah jadi medan perang.
BENTROKAN DIMULAI
Griffin pertama menyelam ke arah Chika.
Chika mengangkat perisainya.
“Lumina Guard!”
CLAAANG!!!
Cakar Griffin menghantam perisai cahaya dan terpental.
Chika berputar, pedang Lumina menyala putih.
“Radiant Break!”
SHRAAAAK—!!
Tebasan cahaya memotong sayap Griffin. Tubuhnya jatuh menghantam pasir dengan dentuman berat.
Bandit di punggungnya melompat, mengayunkan pisau.
Marvin melompat ke depan.
“Giliran aku.”
Sarung tangan raksasanya membesar dengan aura cokelat kemerahan.
“Titan Knuckle!”
DOOOOM!!!
Pukulan satu tangan menghantam bandit itu seperti boneka kain, terlempar puluhan meter dan menghantam tembok gerbang.
“Jangan sentuh warga!” bentak Marvin.
Di sisi lain, MK.99 melayang naik.
Bahunya terbuka.
CLICK—WHRRRR…
Dua meriam laser biru muncul.
“Mode Extermination.”
FZZZZT—FZZZTTTT—!!
Sinar biru memotong udara, menembus kepala Griffin satu demi satu. Ledakan cahaya biru mekar di langit malam.
BOOM! BOOM!
“Target dieliminasi. Efisiensi meningkat 73%,” kata MK.99 datar.
Selena berdiri di antara bayangan.
Ia menggigit jarinya sedikit.
Darah mengalir… lalu berubah jadi lingkaran sihir merah di udara.
Griffin menyerbu ke arahnya.
Selena mengangkat tangan.
“Crimson Waltz.”
Darah berubah jadi bilah-bilah tipis yang menari.
SHRRRKT—SHRRKT—!!
Sayap Griffin terpotong, tubuhnya jatuh berderai darah. Selena berputar seperti penari balet di tengah hujan pasir dan merah gelap.
Matanya bersinar liar.
“Terima kasih atas darahmu…”
Vivi membuka keranjang jamurnya.
Jamur ungu berdenyut.
“Maaf ya… ini agak menyengat.”
Ia melemparnya ke udara.
“Spore of Oblivion.”
Jamur meledak jadi kabut ungu.
PSSSSSHHH…
Griffin yang menghirupnya jatuh gemetar, bandit di punggungnya langsung pingsan dengan busa di mulut.
Marianne mengangkat pedang barunya.
Lubang-lubang di bilahnya menyala biru.
VRRRRR—
Booster roket aktif.
“Rocket Cleaver: Barrage Mode!”
Tebasan pertamanya memuntahkan ratusan misil mini berwarna merah-oranye.
FWOOOOSH—FWOOOSH—FWOOOSH—!!!
Langit penuh garis api.
BOOM! BOOM! BOOM!
Griffin meledak satu per satu seperti kembang api neraka.
“AKU BISA TERBANG SAMBIL MENYERANG?! INI KEREN!!” teriak Marianne sambil hampir jatuh karena recoil.
Beatrix mengangkat pistolnya.
Mata senjatanya menyala kuning.
“Awakening: Holo-Plasma.”
Di belakangnya muncul hologram senjata raksasa berwarna emas.
Ia menarik pelatuk.
BZZZZAAAAA—!!!
Plasma hologram menebas horizontal, menyapu tiga Griffin sekaligus, tubuh mereka menguap jadi cahaya.
“Jangan remehkan teknologi.”
Emila melayang naik.
Pedang emasnya berputar.
“Judgment Array.”
Delapan bilah cahaya menusuk turun seperti hujan pedang.
CLANG—CLANG—SHRRRK—!!
Griffin jatuh satu per satu, tertusuk cahaya emas.
Namun…
Masih ada terlalu banyak.
Princess kecil berdiri gemetar di belakang.
“…Aku… aku nggak mau cuma lihat…”
Tangannya mengepal.
Cahaya emas keluar dari tubuhnya.
Rantai-rantai cahaya muncul dari udara dan menyambung ke semua Hero.
CHIIING—!
Chika merasakan tubuhnya lebih ringan.
Marvin merasa ototnya makin berat dan kuat.
Selena merasakan darahnya mengalir lebih cepat.
Marianne mendengar mesinnya meraung lebih keras.
“Ini… apa?” gumam Chika.
Princess membuka mata dengan sinar emas.
“Aku… mau bantu kalian…”
Rantai cahaya menyalurkan kekuatan.
Mereka bergerak serempak.
Chika melompat lebih tinggi dari sebelumnya.
“Radiant Cross!”
Tebasan berbentuk X memotong dua Griffin sekaligus.
Marvin menghantam tanah.
“Earth Breaker!”
Gelombang pasir menghantam kaki Griffin dan menjatuhkan mereka.
Selena menyatu dengan bayangan.
“Blood Mirage.”
Ia muncul di belakang Griffin, menusuk titik lemah.
MK.99 menambah output.
“Overdrive disetujui.”
Marianne menjerit kegirangan.
“AKU JADI PESAWAT PERANG?!”
Namun…
Beberapa Griffin berhasil lolos.
Mereka membawa beberapa warga elf ke langit malam, terbang melewati gerbang besar menuju kota dalam.
“NO!!” teriak Chika.
Langit kembali sunyi.
Pasir dipenuhi bulu, darah, dan sisa bandit.
Princess terhuyung dan jatuh berlutut.
Chika langsung memeluknya.
“Kamu hebat… kamu benar-benar hebat…”
Emila menatap ke arah kota.
“Sebagian lolos…”
Marvin mengepalkan tangan.
“Nayla… dan para elf…”
Selena berdiri di sampingnya.
“Kita kejar mereka.”
Angin malam membawa bau asap dan darah.
Dan di balik gerbang kota besar…
bahaya yang lebih dalam sudah menunggu.