NovelToon NovelToon
Pedang Penakluk Langit

Pedang Penakluk Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

di Benua Roh Azure, kekuatan adalah segalanya. Ye Yuan, seorang murid luar dari Sekte Pedang Surgawi, ditakdirkan menjadi sampah seumur hidup karena Dantian-nya yang direbut kembali. Saat ia didorong ke dalam keputusasaan dan dibuang ke Lembah Kuburan Senjata, ia mendengar panggilan. Bukan dari pedang suci yang berkilauan, melainkan dari sebilah pedang besi hitam yang patah dan berkarat. Pedang itu bukan sekedar rongsokan; ia adalah pecahan dari "Penyegel Langit" yang dulu digunakan oleh Dewa Perang kuno untuk memenggal bintang. Dengan pedang patah di tangan, Ye Yuan bersumpah:"Jika Langit menindasku, akan kubelah Langit itu. Jika Dewa menghalangiku, akan kupatahkan leher Dewa itu!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Raungan Naga dan Runtuhnya Aula

Aura yang memancar dari Ye Yuan bukan lagi sekadar tekanan Qi manusia. Itu adalah Tekanan Naga (Dragon Might).

Lantai emas di bawah kakinya retak dan amblas, tidak mampu menahan berat gravitasi yang tiba-tiba meningkat di sekitar tubuhnya. Sisik-sisik emas gelap yang tumbuh di lengan dan lehernya berdenyut, memancarkan panas yang membuat udara di sekitarnya berdistorsi.

Mata reptil emasnya menatap lurus ke arah mumi Jian Wuhui.

"Kau bilang aku iblis?" suara Ye Yuan menggema, berat dan parau. "Kalau begitu, bersiaplah untuk dihakimi oleh Rajanya Iblis."

Mumi Leluhur Jian Wuhui meraung tanpa suara. Insting mayat hidupnya menjerit bahaya, tetapi perintah terakhir yang tertanam di otaknya—Lindungi Harta, Bunuh Musuh—memaksanya untuk menyerang.

Mumi itu melesat maju, meninggalkan bayangan abu-abu. Pedang berkarat di tangannya, yang merupakan Senjata Roh Tingkat Tinggi yang telah kehilangan rohnya, diayunkan dengan kekuatan Inti Emas yang membusuk.

[Tebasan Kematian: Pembusukan Tulang!]

Gelombang energi abu-abu itu mengarah ke leher Ye Yuan.

Kali ini, Ye Yuan tidak menghindar. Dia juga tidak menangkis.

Dia mengangkat tangan kirinya yang kini bersisik.

BANG!

Suara benturan logam terdengar nyaring.

Mata Gu Tian dan Yan Lie nyaris melompat keluar dari rongganya.

Ye Yuan... menangkap bilah pedang Leluhur Sekte Pedang Surgawi dengan tangan kosong!

Cakar-cakar naga yang tumbuh di jari Ye Yuan mencengkeram bilah berkarat itu. Energi abu-abu yang mematikan itu mendesis saat menyentuh kulit emas Ye Yuan, tapi tidak bisa menembusnya. Darah Naga Asli di dalam tubuh Ye Yuan membakar segala bentuk energi kotor.

"Pedangmu tumpul, Orang Tua," desis Ye Yuan.

Ye Yuan meremas tangannya.

KRAK!

Bilah pedang pusaka sekte itu... retak.

Lalu, tangan kanan Ye Yuan yang memegang Pedang Penakluk Langit bergerak.

"Tidurlah."

WUUUUUNG!

Ye Yuan menusukkan pedang besarnya lurus ke depan.

Pedang itu kini diselimuti api emas—campuran antara Api Bintang Dingin dan energi Darah Naga.

[Sutra Pedang Asura - Bentuk Naga: Tusukan Jantung Emas!]

Kecepatannya tidak terlihat mata telanjang.

JLEB!

Pedang hitam besar itu menembus dada kering mumi Jian Wuhui, menghancurkan sisa-sisa zirah kuno yang dipakainya, dan menembus punggungnya.

Mumi itu mematung. Api hijau di matanya berkedip-kedip liar.

"T... Tidak..."

Energi Inti Emas yang tersisa di dalam mayat itu mencoba meledak keluar untuk menghancurkan musuh bersamanya.

"Kau mau meledakkan diri?" Ye Yuan menyeringai buas. "Pedangku belum kenyang!"

Pedang Penakluk Langit bersinar terang. Daya hisap yang mengerikan muncul dari dalam bilahnya.

Alih-alih meledak, energi Inti Emas murni itu disedot paksa ke dalam pedang Ye Yuan. Tubuh mumi itu bergetar hebat, semakin lama semakin kering, hingga akhirnya berubah menjadi debu tulang yang rapuh.

Prukk...

Sisa-sisa jubah dan debu Leluhur Sekte Pedang Surgawi jatuh ke lantai.

Satu-satunya yang tersisa hanyalah sebuah Cincin Penyimpanan Kuno yang jatuh berdenting di tumpukan emas.

Ye Yuan menyambar cincin itu dengan cepat.

"LELUHUR!!!" Gu Tian menjerit histeris. Dia baru saja menyaksikan leluhurnya—simbol kekuatan sektenya—dihancurkan dan diserap menjadi debu oleh seorang buronan.

"YE YUAN! KAU HARUS MATI SERIBU KALI!"

Gu Tian kehilangan akal sehatnya. Dia melupakan bahaya, melupakan harta naga. Dia hanya ingin Ye Yuan mati.

Gu Tian meledakkan Darah Esensi-nya sendiri untuk meningkatkan kultivasinya ke batas maksimal Setengah Langkah Inti Emas.

Dia mengangkat kedua tangannya. Sebuah pagoda emas raksasa terbentuk dari Qi di atas kepalanya.

[Teknik Terlarang Sekte Pedang: Pagoda Penekan Iblis!]

Pagoda itu jatuh menimpa posisi Ye Yuan.

Ye Yuan baru saja menyerap energi besar, tubuhnya kaku sesaat karena recoil (hentakan balik) dari teknik naga. Dia tidak sempat menghindar.

"Mati kau!" teriak Gu Tian.

Namun, sebelum pagoda itu menghantam kepala Ye Yuan...

SRIIING!

Sebuah dinding es biru transparan yang sangat tebal muncul entah dari mana, membentengi Ye Yuan dari atas.

BOOM!

Pagoda emas menghantam dinding es.

Dinding es itu retak, tapi tidak hancur.

Ye Yuan menoleh kaget.

Di belakangnya, Mu Bingyun berdiri dengan wajah pucat. Pedang Bilah Beku-nya terangkat tinggi, menahan beban serangan Gu Tian. Darah menetes dari sudut bibir indahnya.

"Guru Mu..."

"Cepat pergi, Bodoh!" teriak Mu Bingyun, suaranya tidak lagi dingin dan tenang, melainkan mendesak. "Ruangan ini akan runtuh! Sumber energinya sudah kau telan!"

Benar saja. Dengan hilangnya Darah Naga dan matinya Penjaga (Jian Wuhui), kestabilan dimensi Aula Harta Naga mulai runtuh. Langit-langit mulai retak, bongkahan batu raksasa jatuh menimpa para kultivator di bawah.

Lantai emas mulai terbelah, memperlihatkan jurang ketiadaan di bawahnya.

"Harta karunnya jatuh ke jurang! Tidak!" teriak Yan Lie serakah, mencoba menangkap emas-emas yang jatuh.

Ye Yuan menatap Gu Tian yang masih berusaha menekan pagoda emasnya untuk menghancurkan perisai es Mu Bingyun.

"Tua Bangka Gu," Ye Yuan menunjuk wajah Gu Tian dengan pedangnya.

"Hari ini aku ampuni nyawamu. Bukan karena aku baik, tapi karena aku ingin kau hidup dalam ketakutan."

Ye Yuan memegang bahu Mu Bingyun.

"Kita pergi."

Ye Yuan menghentakkan kakinya.

[Langkah Hantu Asura: Sayap Naga!]

Sepasang sayap energi tipis berwarna merah terbentuk di punggung Ye Yuan—efek sementara dari sisa Darah Naga. Dia menyambar pinggang Mu Bingyun, membawanya terbang melesat menuju pintu keluar di atas langit-langit yang runtuh.

"JANGAN LARI!" Gu Tian mencoba mengejar, tapi sebuah pilar batu raksasa jatuh menghalangi jalannya.

BLAARR!

Seluruh aula berguncang hebat.

Ye Yuan terbang zig-zag menghindari reruntuhan batu, membawa Mu Bingyun di satu tangan dan pedang besarnya di tangan lain.

Mereka melesat keluar dari reruntuhan mulut naga, terbang naik menyusuri jurang Ngarai Tulang Menangis, menuju langit yang terlihat seperti garis tipis di atas sana.

Di bawah mereka, gua raksasa itu runtuh total, mengubur ribuan kultivator serakah yang tidak sempat lari, beserta sebagian besar harta karun naga yang tak ternilai.

Hanya mereka yang memiliki reaksi cepat atau berada di dekat pintu keluar yang selamat.

Satu Jam Kemudian.

Di sebuah bukit batu tandus, sepuluh kilometer jauhnya dari Ngarai Tulang.

BRUK.

Ye Yuan mendarat dengan kasar. Sayap energinya menghilang. Dia jatuh berlutut, memuntahkan darah segar yang sangat panas—darah naga yang belum sepenuhnya dia murnikan.

Kulit emasnya perlahan memudar kembali menjadi warna kulit manusia biasa, meski kini terlihat jauh lebih sehat dan berkilau.

Mu Bingyun berdiri di sampingnya, merapikan jubahnya yang sedikit berantakan. Wajahnya kembali dingin, tapi matanya menatap Ye Yuan dengan kompleks.

"Kau benar-benar monster," kata Mu Bingyun pelan. "Menelan darah naga mentah dan membunuh Inti Emas Mayat Hidup..."

Ye Yuan menyeka darah di mulutnya. Dia tertawa lemah.

"Itu karena bantuan Guru Mu. Tanpa dinding es itu, aku sudah jadi bubur penyet."

Ye Yuan kemudian mengeluarkan sebuah cincin penyimpanan kuno dari sakunya—Cincin milik Leluhur Jian Wuhui.

Dan dia juga mengeluarkan sebotol kecil yang berisi tiga tetes cairan merah delima.

"Darah Naga Asli," kata Ye Yuan. "Saat aku menelannya, aku menyisihkan tiga tetes ini sebelum masuk ke perut."

Ye Yuan melemparkan botol itu ke arah Mu Bingyun.

Mu Bingyun menangkapnya, terkejut. "Kau... memberikannya padaku? Kau bisa menggunakannya untuk menembus Tingkat Sembilan langsung."

"Kesepakatan adalah kesepakatan. Bagi dua," Ye Yuan tersenyum tipis, lalu bersandar pada batu besar. "Lagipula, tubuhku sudah mencapai batas. Jika aku minum lagi, aku benar-benar akan meledak."

Mu Bingyun menggenggam botol itu erat. Tiga tetes ini cukup untuk membantunya menembus Ranah Inti Emas. Ini adalah impian seumur hidupnya.

"Terima kasih," katanya tulus.

Dia kemudian menatap ke arah selatan.

"Gu Tian dan Yan Lie selamat. Aku bisa merasakannya. Mereka pasti sedang mengumpulkan sisa pasukan untuk memburumu."

Mu Bingyun melempar sebuah token giok putih kepada Ye Yuan.

"Ini adalah Token Pribadiku. Jika kau pergi ke Kekaisaran Awan Putih di seberang laut timur, tunjukkan ini pada Sekte Teratai Es. Mereka akan memberimu perlindungan."

Ye Yuan menangkap token itu. Hangat.

"Kau menyuruhku pergi?"

"Kau tidak bisa tinggal di sini, Ye Yuan. Sekte Pedang Surgawi dan Sekte Gagak Api akan bergabung memburumu. Kekaisaran Roh Azure terlalu kecil untuk menampung nagamu."

Mu Bingyun berbalik, jubah putihnya berkibar ditiup angin gurun.

"Pergilah. Menyeberanglah ke Benua Timur. Di sana, dunia persilatan jauh lebih luas dan kejam. Tumbuhlah menjadi kuat."

"Dan jika kita bertemu lagi..." Mu Bingyun menoleh sedikit, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang sangat, sangat tipis namun mempesona.

"...jangan panggil aku Guru lagi. Panggil aku Kakak Mu."

WUSH!

Mu Bingyun melesat terbang dengan pedangnya, menghilang ke arah utara, kembali ke sekte untuk membereskan kekacauan politik yang akan terjadi.

Ye Yuan duduk sendirian di bukit batu itu. Dia menggenggam token giok di satu tangan, dan Cincin Leluhur di tangan lain.

Pedang Penakluk Langit di dalam perutnya bergetar pelan, sudah tenang dan kenyang.

Ye Yuan menatap ke arah timur. Ke arah laut yang belum pernah dia lihat.

"Benua Timur... Kekaisaran Awan Putih..."

Ye Yuan berdiri. Rasa sakit di tubuhnya perlahan hilang, digantikan oleh semangat baru.

"Baiklah. Babak baru dimulai."

Ye Yuan berjalan menjauh dari matahari terbenam. Bayangannya memanjang di atas tanah tandus, seolah-olah bayangan itu sendiri adalah pedang raksasa yang siap membelah dunia baru.

[AKHIR ARC 2: GURUN DARAH DAN KOTA KUNO]

Rangkuman Bab 35:

Transformasi: Ye Yuan masuk mode Dragon Asura (sementara), kulit emas & kekuatan fisik meningkat drastis.

Victory: Ye Yuan menghancurkan mumi Leluhur Jian Wuhui dan menyerap sisa energi Inti Emas-nya.

Loot: Mendapatkan Cincin Penyimpanan Leluhur.

Escape: Ye Yuan menyelamatkan Mu Bingyun dari runtuhnya dungeon (membalas budi).

Farewell: Ye Yuan menepati janji membagi Darah Naga. Mu Bingyun menyarankan Ye Yuan pergi ke benua lain dan memberinya koneksi.

Next Goal: Menuju Benua Timur/Kekaisaran Awan Putih.

1
Nanik S
pergi ke Benua Timur
Nanik S
Ronde dua pembantaian
Nanik S
Sial benar mereka berdua
Nanik S
apakah Ye Yuan dan Mu Bingyun bisa lolos dari mereka
Nanik S
Mu Bingyun peka sekali
Nanik S
Ye Yusn licin seperti belut
Nanik S
Bisakah Yuan selamat
Nanik S
Mu Bingyun... apakah Ye Chen akan pulang bersama Mu Bingyun
Nanik S
Kenapa tidak diambil cincin Komandan Zhu
Nanik S
Ye Chen.... jangan biarkan mereka membunuh Kakek Gu dan Jin Jinoi
Nanik S
Akirnya pedangnya yang patah kini telah utuh
Nanik S
Maaantap
Nanik S
Yuan ada saja.. ngakak main petak umpet di Neraka 🤣🤣🤣
Nanik S
Ternyata kota itu adalah Kuburan para Dewa dan Iblis
Nanik S
Perjalan baru di reruntuhan kuno
Nanik S
Harusnya menemui Tetua Mu
Nanik S
Mantap Tor... 👍👍👍
Nanik S
Semua masuk jebakan Yuan
Nanik S
Makin seru Tor
Nanik S
Shiiiip
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!