Berawal dari utang panci 1.500 koin emas, Feng—murid "sampah" Level Nol tanpa sihir—justru memutarbalikkan tatanan tiga alam semesta!
Bersenjatakan Sistem Dewa Asal Mula yang menukar kalori makanan menjadi kekuatan fisik pembelah surga, serta ditemani Buntel, naga buncit yang menjadikan pedang pusaka dan zirah dewa sebagai camilan renyah, Feng memulai perjalanan kultivasi paling brutal.
Dari meratakan Balai Penegak Hukum sekte, mengacaukan turnamen elit demi akses kantin gratis, merampok gudang senjata di Alam Dewa, hingga akhirnya meninju Sang Pencipta Kosmos di ujung semesta. Semuanya membuktikan satu hukum mutlak: Sihir paling sakti sekalipun akan hancur lebur di hadapan tamparan sandal jepit orang yang sedang kelaparan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PESTA BARBEKYU DAN BUMBU JARUM BERACUN
Sepuluh menit kemudian, Arena Naga Langit resmi berubah fungsi. Tempat yang seharusnya jadi saksi pertumpahan darah itu kini lebih mirip dapur hajatan sekte. Wasit yang masih berkeringat dingin terpaksa menyuruh sepuluh panitia menggotong panggangan besi raksasa ke tengah lapangan pasir.
"Pak Wasit! Kecap manisnya kurang ini!" teriak Feng sambil mengiris paha Kera Iblis pakai belati pinjaman. "Masa paha segede batang pohon beringin cuma dikasih dua botol?! Lada hitamnya mana?!"
"I-itu stok terakhir di dapur panitia, Tuan Muda Feng," sahut wasit sambil gemetar, menjauhi tubuh monster yang masih pingsan dan berasap itu.
Di tribun VIP, Tetua Agung Yue akhirnya menyerah. Dia memijat keningnya yang berdenyut kencang, lalu menekan tombol pelepas pada rantai emas yang mengikat leher Buntel.
Naga perak itu langsung melesat turun ke arena seperti bintang jatuh.
"Kyuk! Kyuk!" Buntel melompat-lompat kegirangan di samping panggangan, lidahnya menjulur tak sabar.
"Nah, kompor utamanya datang. Buntel, semburan api sedang saja! Jangan sampai gosong, nanti rasanya pahit!" perintah Feng sambil menata potongan daging sebesar bantal di atas jeruji besi.
Wush!
Buntel membuka rahangnya, menyemburkan api perak yang panas namun sangat presisi. Api itu menjilat-jilat irisan daging raksasa tersebut. Lemak dari daging Kera Iblis mulai menetes, mendesis nyaring saat menyentuh bara. Aroma daging bakar yang luar biasa gurih dan sedikit pedas langsung menyapu seluruh stadion.
Ribuan murid yang awalnya terdiam karena ngeri, kini mulai menelan ludah berjemaah. Suara perut keroncongan terdengar bersahut-sahutan dari bangku penonton.
"Harum sekali..." gumam seorang murid faksi dalam tanpa sadar.
Long Chen yang duduk di barisan depan menutup hidungnya dengan jijik, meski jakunnya naik turun menelan ludah. "Dasar orang-orang barbar! Ini turnamen suci, bukan warung makan!"
Di saat semua perhatian tertuju pada aksi masak gila di tengah arena, sebuah bahaya mematikan sedang mengintai dari titik buta.
Di tribun penonton paling atas yang tertutup bayangan atap stadion, sesosok pria berjubah hitam menyeringai di balik kain penutup wajahnya. Dia adalah pembunuh bayaran tingkat Master Puncak. Secara perlahan, dia mengangkat sebuah tabung bambu kecil ke depan mulutnya. Di dalam tabung itu, bertengger sebuah jarum hijau setipis rambut. Jarum itu sudah direndam dalam Racun Sembilan Ular Neraka selama tujuh hari tujuh malam.
"Ketua Balai Penegak Hukum membayar mahal untuk nyawamu, Bocah," batin si pembunuh. "Satu tetes racun ini bisa melelehkan jantung seorang Daulat Pedang. Kau hanya murid Level Nol. Tubuhmu akan jadi genangan darah hitam dalam hitungan detik."
Si pembunuh menarik napas dalam-dalam. Matanya mengunci leher Feng.
Syuut!
Dia meniup tabung itu. Jarum beracun melesat membelah udara. Tidak ada suara desingan. Tidak ada fluktuasi Qi. Serangan itu murni mengandalkan kekuatan fisik tiupan dan kecepatan angin, membuatnya sama sekali tidak bisa dideteksi oleh sensor energi sihir mana pun.
Jarum itu meluncur lurus ke leher Feng yang sedang membelakangi tribun, sibuk membalik daging. Kematian hanya berjarak beberapa jengkal.
"Wah, matangnya sempurna! Medium well!" Feng tertawa puas.
Dia menancapkan garpu raksasanya ke sepotong daging bagian dada yang paling empuk. Karena masih meneteskan minyak mendidih, Feng melempar daging itu tinggi-tinggi ke udara agar sedikit lebih dingin.
Tepat pada detik itu, jarum beracun memotong jalur lintasan daging. Ujung jarum hijau menancap dalam, tembus tepat ke tengah serat daging Kera Iblis.
Daging itu meluncur turun. Feng membuka mulutnya lebar-lebar.
Hap!
Feng menangkap daging itu langsung dengan mulutnya. Nyam. Kunyah. Telan. Jarum dan racun mematikan itu ikut meluncur mulus ke dalam lambungnya.
Di tribun gelap, sang pembunuh tertawa pelan. Misinya selesai sempurna tanpa ada yang menyadari. "Mati kau, sampah. Ususmu akan hancur dalam tiga tarikan napas."
Satu detik berlalu. Feng memutar lehernya.
Dua detik. Feng mengusap bumbu di sudut bibirnya.
Tiga detik. Feng mendadak membeku. Garpu di tangannya jatuh ke pasir pasir arena.
Matanya melotot lebar hingga urat merahnya terlihat jelas. Wajahnya dengan cepat berubah dari warna kulit normal menjadi merah padam, seolah baru saja direbus hidup-hidup.
"Feng?!" Tetua Agung Yue yang melihat perubahan itu langsung berdiri dari kursinya. "Ada yang tidak beres! Dia tidak bergerak!"
Di sebelah Patriark, Ketua Balai Penegak Hukum menyeringai sangat lebar hingga pipinya yang bengkak bekas tamparan sandal terasa sakit. Dendamnya akhirnya terbayar lunas.
Namun, apa yang terjadi di dalam tubuh Feng sama sekali berbeda dengan harapan sang pembunuh. Di dalam kepalanya, alarm sistem berbunyi sangat nyaring dan berkedip merah terang.
SISTEM: PERINGATAN DARURAT! ZAT KOROSIF TINGKAT DEWA TERDETEKSI DI DALAM LAMBUNG. RACUN SEMBILAN ULAR NERAKA MULAI MENYERANG ORGAN DALAM.
SISTEM: MEMULAI PROTOKOL PENETRALAN OTOMATIS. MENGUBAH RACUN MEMATIKAN MENJADI ENERGI KALORI EKSTRIM.
SISTEM: PROSES SELESAI. VARIAN RASA: BALADO SUPER PEDAS LEVEL 100.
SISTEM: KONDISI TUBUH OVERCHARGE! SUHU INTERNAL NAIK 400%. TUAN HARUS SEGERA MENYALURKAN ENERGI INI, ATAU PEMBULUH DARAH AKAN MELEDAK!
"Pedes... PEDES BANGET!!!" teriak Feng tiba-tiba.
Suaranya menggelegar ke seluruh arena, membuat burung-burung di sekitar Puncak Utama terbang panik. Uap panas menyembur keluar dari hidung, telinga, dan pori-pori kulit Feng seperti ketel kereta uap yang bocor. Dia melompat-lompat di tempat, mengipas-ngipas lidahnya yang menjulur keluar.
"Air! Mana air?!"
Feng menyambar tong kayu raksasa berisi air minum panitia. Dia mengangkat tong seberat seratus kilo itu dengan satu tangan dan menenggaknya sampai habis dalam tiga detik. Tong kayu itu lalu diremasnya hingga hancur berkeping-keping jadi serbuk kayu.
Tapi rasa pedasnya tidak hilang. Tenaga di dalam tubuhnya justru semakin meluap tak terkendali. Otot-ototnya berkedut liar. Lantai batu di bawah pasir arena mulai retak akibat tekanan fisik murni yang memancar dari tubuhnya.
Si pembunuh di tribun atas mematung. Rahangnya nyaris jatuh ke lantai. Matanya terbelalak melihat Feng tidak meleleh jadi genangan darah hitam, melainkan hanya melompat-lompat kepedasan minta minum.
"M-mustahil... Racun itu bisa membunuh monster sekalipun! Kenapa dia cuma kepanasan?!" gumam pembunuh itu dengan napas tersengal, tak percaya dengan penglihatannya sendiri.
Saking terkejutnya, dia mundur selangkah dan tanpa sadar menyenggol sandaran bangku kayu di belakangnya.
Krieek.
Bunyi decitan kayu itu sangat pelan. Di tengah sorak-sorai panik penonton dan suara gemuruh arena, suara itu seharusnya mustahil didengar. Tapi bagi indra Feng yang sedang dalam mode *overcharge* tingkat dewa, suara goresan kecil itu terdengar sejelas petir menyambar di sebelah telinganya.
Feng mendadak berhenti melompat. Matanya yang merah berair karena kepedasan langsung menatap tajam ke arah sudut gelap tribun tersebut. Jarak mereka hampir seratus meter lebih, tapi tatapan Feng mengunci sang pembunuh dengan sangat akurat.
Aura mengerikan yang jauh lebih menakutkan dari monster manapun langsung memancar dari tubuh kurus Feng, menekan dada setiap orang di stadion.
"Mas panitia..." suara Feng terdengar sangat berat, mendesis karena menahan panas di tenggorokannya.
Wasit dan panitia merinding, serempak mundur lima langkah. "Y-ya, Tuan?!"
"Siapa yang iseng menaruh cabai utuh satu karung di daging saya?" tanyanya sambil mengepalkan tinju hingga udara di sekitarnya bergetar hebat.
Para panitia saling pandang dengan wajah pucat pasi. "K-kami sumpah tidak pakai cabai, Tuan! Cuma kecap dan sedikit garam!"
Feng mengusap keringat panas yang mengucur deras di dahinya. Otot kakinya menekuk lambat, menciptakan cekungan kawah yang semakin dalam di pasir arena.
"Oh, bukan kalian ya?" Feng menyeringai. Senyumnya kali ini bukan senyum jenaka yang biasa, melainkan senyum iblis yang sedang menahan amarah bercampur pedas tingkat dewa. "Berarti ada penonton usil yang main lempar bumbu sembarangan dari atas sana."
Wajah sang pembunuh memucat pasi. Niat membunuhnya seketika luntur, berubah menjadi teror murni yang membekukan darahnya. Dia segera berbalik, merapalkan segel tangan berniat menggunakan teknik langkah bayangan untuk kabur dari sekte.
Tapi dia terlambat menyadari monster apa yang baru saja dia beri makan.
"Woy! Mas yang pakai baju hitam di pojok atas sana!" teriak Feng. Suaranya menghancurkan keheningan, membuat ribuan penonton menoleh serentak ke arah tribun atas. "Berani berbuat, berani tanggung jawab! Sini turun, atau saya yang naik buat menyuapi sisa daging super pedas ini ke mulutmu!"
DUAAARRR!
Pasir arena meledak membentuk kawah selebar sepuluh meter. Mengabaikan semua hukum gravitasi dan batas manusia, tubuh Feng melesat ke udara layaknya peluru meriam bertenaga nuklir. Dia terbang lurus membelah angin, mengincar tribun penonton paling atas!