Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TRAUMA
07:12 AM. Ruang Kerja Bawah Tanah.
Suara derit floppy disk yang berputar di dalam drive eksternal terdengar seperti suara gergaji mesin di tengah keheningan laboratorium bawah tanah Raka.
Bagi telinga orang awam, itu hanya suara mekanis tua yang mengganggu. Namun bagi Raka, suara itu adalah detak jantung dari sebuah masa lalu yang seharusnya sudah dikremasi dan abunya dilarung ke laut dalam.
Raka tidak langsung membuka data itu. Ia memiliki protokolnya sendiri.
Ia mengambil sebatang rokok, menyulutnya satu satunya kebiasaan buruk yang ia izinkan sebagai pengingat bahwa ia masih manusia dan menatap layar monitor airGapped yang tidak terhubung ke jaringan internet manapun. Laptop itu adalah benteng. Sistem operasinya dibangun di atas kernel Linux yang dimodifikasi total, tanpa jejak identitas produsen, tanpa pintu belakang.
Sambil menunggu dekripsi data yang menggunakan algoritma AES-256 berlapis, pikiran Raka melayang kembali ke dua belas tahun yang lalu. Ke sebuah tempat yang tidak ada di peta Lembah Hitam di perbatasan utara.
Flashback: Dua Belas Tahun Lalu.
Saat itu, Raka belum menjadi Hantu. Ia adalah Sersan Satu Raka Wardhana, aset berharga dari Unit Klandestin 09. Di usianya yang baru dua puluh empat tahun, ia sudah memegang rekor sebagai operator termuda yang mampu mengintegrasikan keahlian tempur infanteri dengan peperangan elektronik tingkat lanjut.
"Raka, fokus. Jangan cuma mainkan jarimu di keyboard, pastikan matamu tetap pada teropong," suara berat Kolonel Yudha terdengar melalui radio.
Raka tersenyum tipis saat itu. Ia sedang berada di sebuah gubuk reyot, mengendalikan dua drone pengintai mini sambil secara bersamaan meretas jaringan radio militer pemberontak. Ia adalah pusat saraf dari operasi tersebut.
Timnya, yang terdiri dari empat orang termasuk Liana, sang ahli transmisi yang selalu berdebat dengannya tentang protokol enkripsi sedang bergerak menuju kamp utama musuh untuk mengambil data intelijen tentang perdagangan senjata pemusnah massal.
Semua berjalan sempurna. Terlalu sempurna.
"Data sudah di tangan, Kolonel. Kami bergerak ke titik ekstraksi," lapor Raka.
Namun, jawaban yang ia terima bukan instruksi penjemputan. Melainkan suara statis yang panjang, diikuti oleh suara asing yang dingin. “Target terkunci. Luncurkan rudal.”
Raka membeku. Ia melihat melalui layar drone nya sebuah rudal jelajah milik militer mereka sendiri sedang meluncur menuju posisi timnya.
Pengkhianatan itu datang dari dalam. Seseorang di markas besar ingin menghapus jejak operasi ini, beserta semua orang yang terlibat di dalamnya.
"LARI! LIANA, LARI!" Raka berteriak di radio.
Ledakan itu membelah bumi. Cahaya putih membutakan segalanya. Raka terlempar sejauh sepuluh meter, tubuhnya menghantam batu cadas. Hal terakhir yang ia ingat adalah pemandangan rekannya yang tertelan api, dan perasaan dingin saat menyadari bahwa negara yang ia bela baru saja mencoba menghapusnya dari sejarah.
Masa Kini. Flashback off
Raka tersedak asap rokoknya sendiri saat lamunannya terputus. Di layar monitor, baris demi baris data mulai terbuka. Matanya yang tajam memindai barisan kode hexadecimal dengan kecepatan yang tidak manusiawi.
"Tidak mungkin..." bisiknya.
Data itu bukan sekadar pesan teks. Itu adalah cetak biru teknis. Sebuah proyek bernama AEGIS-7.
Raka mengenal istilah Aegis sebagai perisai dalam mitologi Yunani, dan dalam dunia militer, itu adalah sistem pertahanan radar. Namun, Aegis-7 yang ada di depannya adalah sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Ini bukan sistem pertahanan ini adalah sistem subordinasi global. Sebuah jaringan satelit yang dilengkapi dengan pemancar gelombang mikro frekuensi rendah yang bisa memicu overload pada transformator listrik di seluruh dunia.
Jika Aegis-7 diaktifkan, sang pemegang kendali bisa mematikan listrik satu negara, satu kota, atau satu gedung hanya dengan satu klik. Tanpa listrik, komunikasi mati. Tanpa komunikasi, peradaban runtuh. Dan di tengah kekacauan itu, siapa pun yang memiliki kendali akan menjadi tuhan baru.
Namun, yang membuat darah Raka membeku bukanlah skala ancamannya, melainkan tanda tangan digital yang tertanam di dalam kernel sistem tersebut. Sebuah string kode yang sangat spesifik, sebuah pola enkripsi yang hanya diketahui oleh segelintir orang di Unit 09.
"Yudha," desis Raka.
Nama itu terasa seperti racun di lidahnya. Kolonel Yudha adalah mentornya, sosok ayah yang mengajarinya segala hal tentang taktik dan teknologi. Jika Yudha masih hidup, dan jika kode ini adalah miliknya, maka pengkhianatan dua belas tahun lalu memiliki lapisan yang jauh lebih dalam dari yang Raka duga.
Raka bangkit dari kursinya, berjalan menuju dinding belakang laboratoriumnya. Ia menggeser sebuah panel rahasia, memperlihatkan rak rak senjata yang tertata rapi. Ia mengambil sebuah senapan serbu kompak SIG MCX Virtus yang sudah ia modifikasi dengan peredam suara terintegrasi dan optik termal.
Ia memeriksa bolt nya, mendengarkan dentang logam yang familiar. Kesunyian yang ia bangun selama sepuluh tahun terakhir kini terasa seperti penjara. Ia telah mencoba melarikan diri dari masa lalu dengan menjadi hantu, tetapi hantu tidak bisa bersembunyi selamanya ketika kuburannya mulai digali orang lain.
Ia kembali ke komputernya dan mulai mengetik dengan cepat. Ia harus menghubungi satu-satunya orang yang mungkin selamat selain dirinya. Seseorang yang memiliki alasan yang sama besarnya untuk membalas dendam.
Ia mengetik sebuah alamat IP yang sangat rahasia, terkubur di dalam jaringan Dark Web yang paling dalam.
Pesannya singkat
[THE GHOST IS AWAKE. AEGIS IS REAL. MEET ME AT THE GRAVEYARD.]
Raka tahu bahwa dengan mengirim pesan ini, ia baru saja menyalakan suar raksasa yang akan mengundang para pemburu ke pintunya. Tapi ia tidak peduli lagi. Obsesinya terhadap detail teknis dan strategi kini menemukan tujuan barunya.
PSelama sepuluh tahun, ia belajar cara menghilang. Sekarang, ia harus ingat kembali cara untuk berburu.
Ia menanggalkan kaos mikrofibernya, menggantinya dengan tactical undershirt yang terbuat dari bahan anti iris. Ia memasang sabuk taktisnya, mengisi kantong kantongnya dengan gadget yang telah ia sempurnakan mikro drone, jammer frekuensi, dan peledak plastik kecil.
Raka menatap pantulan dirinya di cermin kecil di sudut ruangan. Ia melihat bekas luka bakar kecil di balik telinganya, sisa dari ledakan di Lembah Hitam. Luka itu tidak pernah benar benar sembuh. Luka itu adalah pengingat bahwa ia tidak pernah benar benar mati.
"Kau ingin bermain dengan teknologi, Yudha?" Raka berbicara pada bayangan di cermin, matanya berkilat dingin. "Mari kita lihat siapa yang lebih cepat meretas takdir."
Raka mematikan lampu laboratoriumnya. Kegelapan total menyelimuti ruangan, namun baginya, kegelapan adalah rumah. Ia melangkah keluar melalui terowongan bawah tanah yang terhubung ke sebuah garasi sewaan di blok sebelah, tempat sebuah motor dual sport hitam tanpa plat nomor sudah menantinya.