Ragnar Aditya van Der Veen—pria berdarah campuran Indonesia–Belanda—memiliki segalanya: karier mapan di Jakarta, wajah tampan, dan masa lalu yang penuh gemerlap. Namun di balik itu semua, ia menyimpan luka dan penyesalan yang tak pernah benar-benar sembuh. Sebuah kesalahan di masa lalu membuatnya kehilangan arah, hingga akhirnya ia memilih kembali pada jalan yang lebih tenang: hijrah, memperbaiki diri, dan mencari pendamping hidup melalui ta’aruf.
Di Ciwidey yang sejuk dan berselimut kebun teh, ia dipertemukan dengan Yasmin Salsabila—gadis Sunda yang lembut, sederhana, dan menjaga prinsipnya dengan teguh. Yasmin bukan perempuan yang mudah terpesona oleh penampilan atau harta. Baginya, pernikahan bukan sekadar cinta, tapi ibadah panjang yang harus dibangun dengan kejujuran dan keimanan.
Pertemuan mereka dimulai tanpa sentuhan, tanpa janji manis berlebihan—hanya percakapan-percakapan penuh makna yang perlahan mengikat hati. Namun perjalanan ta’aruf mereka tak semulus jalan tol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia yang Disembunyikan
Langit Jakarta sore itu kelabu. Hujan menggantung tanpa benar-benar turun, seperti emosi yang tertahan terlalu lama.
Di apartemennya, Clara duduk di meja kerja dengan laptop terbuka. Wajahnya tenang, tapi pikirannya berputar cepat. Ia bukan perempuan yang bertindak tanpa perhitungan. Semua yang ia lakukan selalu punya tujuan.
Di layar laptopnya terpampang salinan laporan kecelakaan lama Ragnar.
Bukan soal tabrakan itu sendiri.
Tapi tentang satu detail kecil yang selama ini tidak pernah diangkat ke publik.
Seorang anak kecil yang duduk di boncengan motor saat kecelakaan itu terjadi mengalami trauma berat. Bukan luka fisik serius, tapi gangguan psikologis yang membuatnya takut pada suara kendaraan bertahun-tahun setelahnya.
Nama anak itu: Siti Rahma.
Dan alamatnya… Ciwidey.
Clara menyandarkan tubuhnya perlahan.
“Kalau Yasmin tahu bahwa kecelakaan itu bukan sekadar luka ringan…” gumamnya.
Ia tersenyum tipis.
________________________________________
Di Ciwidey, Yasmin sedang membantu Siti Rahma—gadis kecil yang kini berusia lima belas tahun—menghafal surah pendek di mushala.
Rahma adalah anak dari ibu yang dulu terjatuh saat kecelakaan itu.
Yasmin tahu Rahma sempat takut naik motor berbulan-bulan setelah kejadian tersebut. Tapi perlahan, dengan dukungan keluarga dan waktu, ketakutan itu memudar.
Ia tak pernah menyalahkan lelaki pengemudi mobil waktu itu sepenuhnya. Ia melihat bagaimana lelaki itu panik, membantu, bahkan kembali beberapa kali memastikan kondisi korban.
Namun ia tidak pernah tahu apakah lelaki itu tahu dampak panjang yang ditinggalkannya.
Sore itu, Rahma tiba-tiba bertanya, “Teh Yasmin, benar ya dulu yang nabrak ibu itu orang yang mau melamar teteh?”
Yasmin terdiam.
“Kata orang-orang, dia kaya dan sekarang masuk berita.”
Yasmin tersenyum lembut. “Iya.”
Rahma menunduk. “Aku dulu takut banget sama mobil putih itu. Setiap dengar suara rem, aku gemetar.”
Hati Yasmin mencelos.
Ia tidak pernah benar-benar mendalami dampaknya selama ini. Ia hanya melihat permukaan.
“Sekarang?” tanya Yasmin pelan.
Rahma tersenyum malu. “Sekarang sudah biasa. Tapi dulu rasanya seperti dunia runtuh.”
Kalimat itu terngiang lama di kepala Yasmin.
Dunia runtuh.
Apakah Ragnar tahu bahwa kelalaiannya pernah membuat seorang anak merasa seperti itu?
________________________________________
Di Jakarta, Ragnar menerima telepon dari seseorang yang tak ia duga—ibu dari Rahma.
“Saya hanya ingin memastikan, Pak Ragnar,” suara perempuan itu terdengar ragu, “apakah benar Anda yang dulu menolong kami di Bandung?”
Ragnar menutup mata sesaat. “Iya, Bu.”
“Ada yang menghubungi saya. Mengatakan bahwa saya harus berbicara pada media tentang trauma anak saya.”
Ragnar langsung tahu siapa dalangnya.
“Saya minta maaf kalau masa lalu itu diungkit lagi,” katanya pelan.
“Bukan soal itu,” jawab perempuan itu. “Saya hanya ingin tahu, apakah Anda benar-benar berubah?”
Pertanyaan itu tidak bernada marah. Justru tulus.
Ragnar terdiam cukup lama.
“Saya tidak bisa memutar waktu, Bu. Tapi saya berusaha tidak menjadi orang yang sama.”
Di ujung telepon, perempuan itu menghela napas.
“Anak saya sekarang baik-baik saja. Dan dulu Anda memang datang beberapa kali membantu biaya terapi. Saya tidak ingin masalah ini dibesar-besarkan.”
Ragnar merasakan dadanya sedikit lega.
“Tapi satu hal,” lanjut perempuan itu pelan. “Kalau Anda benar ingin menikah dengan Yasmin, pastikan bukan hanya karena ingin merasa bebas dari rasa bersalah.”
Kalimat itu kembali seperti cermin.
Semua orang mempertanyakan motif yang sama.
________________________________________
Malam itu Ragnar kembali ke Ciwidey tanpa pemberitahuan.
Yasmin terkejut melihatnya berdiri di depan rumah dengan wajah serius.
“Ada yang perlu saya sampaikan,” katanya setelah duduk di beranda.
Yasmin menunggu.
“Ternyata anak yang bersama korban waktu itu mengalami trauma cukup lama.”
Yasmin menatapnya dalam.
“Anda tahu?”
“Saya tahu sekarang.”
Sunyi.
“Saya memang membantu biaya pengobatan. Tapi saya tidak pernah benar-benar memahami dampaknya.”
Yasmin menunduk. “Rahma pernah takut pada suara rem mobil selama hampir setahun.”
Ragnar terdiam, rasa bersalah kembali menyusup.
“Apakah itu mengubah keputusanmu?” tanyanya pelan.
Yasmin menggeleng perlahan.
“Saya tidak melihat Anda sebagai masa lalu itu saja. Tapi saya perlu tahu… apakah Anda siap menerima semua konsekuensinya?”
Ragnar menatapnya lurus.
“Saya siap bertanggung jawab, bukan hanya secara materi. Tapi secara moral.”
Yasmin memandang langit yang mulai gelap.
“Karena menikah bukan sekadar tentang kita,” katanya pelan. “Tapi tentang siapa yang kita lukai dan siapa yang kita sembuhkan.”
Ragnar terdiam, kalimat itu menancap dalam.
________________________________________
Di Jakarta, Clara menerima kabar bahwa ibu Rahma menolak berbicara ke media.
Ia mengepalkan tangan.
“Kenapa semua orang memilih diam?” bisiknya kesal.
Ia tidak menyangka bahwa justru orang-orang sederhana itu memilih menyelesaikan dengan hati, bukan sensasi.
Namun Clara belum menyerah.
Ia tahu ada satu hal lagi.
Sesuatu yang bahkan belum diketahui Ragnar.
Sebuah fakta bahwa pada malam kecelakaan itu, mobil yang dikendarai Ragnar bukan hanya melaju terlalu cepat—
Tapi juga dalam kondisi ia baru saja bertengkar hebat dengannya.
Jika publik tahu bahwa kecelakaan itu terjadi karena emosi yang dipicu pertengkaran cinta, citra Ragnar sebagai lelaki yang “belajar dari kesalahan” bisa runtuh.
Clara menatap layar ponselnya.
“Kalau kamu memilih jalan berbeda dariku, Rag… jangan harap aku diam.”
________________________________________
Di Ciwidey, Yasmin kembali melakukan istikharah malam itu.
Air matanya jatuh perlahan.
Bukan karena takut miskin.
Bukan karena takut hidup di kota.
Tapi karena ia sadar, mencintai seseorang berarti siap menerima seluruh versi dirinya—yang terang dan yang gelap.
Ia berbisik dalam doa, “Ya Allah, kalau dia baik untuk agamaku, kuatkan aku. Tapi kalau hanya akan membuka luka lama, jauhkan dengan cara yang paling lembut.”
Di luar, angin malam berembus pelan.
Sementara di Jakarta, badai baru sedang disiapkan.
Bukan lagi tentang kecelakaan.
Tapi tentang motif.
Tentang emosi.
Tentang apakah perubahan Ragnar benar-benar karena hidayah—
Atau hanya akibat kehilangan seorang perempuan yang kini tak rela ditinggalkan.
Dan ketika kebenaran itu muncul, bukan hanya nama yang akan diuji.
Tapi juga niat yang paling tersembunyi di dalam hati.