Oskar Biru Arkais sorang pemuda yang berusaha mencari arti cinta Sejati,
Dan Si Mahira Elona Luis si Gadis Tomboy yang Tak Pernah Percaya akan Adanya cinta Sejati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"aku menyimpannya di hal-hal sederhana pada tawa yang tak perlu alasan pada diam yang tak canggung pada pulang yang tak perlu dipertanyakan"
ACARA BAKTI SOSIAL PRAMUKA
Matahari pagi menyinari desa terpencil yang menjadi lokasi acara bakti sosial pramuka SMA 2 Nusa Bina. Ratusan siswa pramuka berkumpul di sana, dengan Elona yang mengenakan seragam pramuka lengkap berdiri di depan barisan dengan wajah yang penuh semangat.
“Selamat pagi teman-teman!” teriak Elona dengan suara yang kuat dan jelas terdengar. “Hari ini kita akan melakukan berbagai kegiatan bakti sosial mulai dari membersihkan lingkungan desa, memperbaiki jalan kecil yang rusak, hingga memberikan bantuan makanan dan perlengkapan sekolah untuk anak-anak desa ini!”
Suara sorak dan tepuk tangan meriah menyambut kata-katanya. Saat mereka mulai mempersiapkan perlengkapan yang akan digunakan, sebuah truk besar tiba-tiba datang dan berhenti di dekat lokasi kegiatan. Dari dalam truk itu keluar beberapa orang yang membawa berbagai macam barang – mulai dari alat-alat tukang, bahan makanan, hingga buku dan alat tulis yang banyak jumlahnya.
“Permisi, kakak-kakak pramuka!” ujar salah satu pria yang membawa daftar barang. “Kami dikirim oleh seorang pengirim misterius untuk memberikan bantuan ini untuk acara bakti sosial kalian.”
Elona dan teman-temannya terkejut dan sangat senang. Mereka segera membantu membongkar barang-barang tersebut, sementara Elona melihat daftar barang yang diberikan – di sana tertulis nama pengirim hanya dengan inisial “O.B.A” yang membuatnya langsung mengerti siapa yang sebenarnya memberikan bantuan itu.
“Waduh Elona, ini pasti dari Pak Ketua kan?” tanya salah satu anggota pramuka dengan senyum menyeringai.
Elona hanya tersenyum dan mengangguk perlahan. “Mungkin saja. Tapi yang penting adalah bantuan ini sangat berguna untuk kegiatan kita hari ini. Mari kita gunakan dengan baik ya!”
Saat kegiatan mulai berjalan dengan lancar, sebuah kotak kecil berwarna merah ditemukan di antara barang-barang bantuan. Di atas kotak tertulis kata-kata: “Untuk ketua pelaksana acara – Semoga acara sukses dan selalu semangat meraih cita-citamu.”
Elona membuka kotak dengan hati-hati dan menemukan sebuah mahkota bunga mawar putih yang dibuat dengan sangat cantik, serta sebuah catatan kecil yang berisi doa dan harapan baik. Dia menyimpan mahkota dengan hati-hati dan terus bekerja dengan lebih semangat, merasa bahwa dukungan yang diberikan itu membuatnya lebih kuat untuk menjalankan tugasnya sebagai ketua pelaksana.
Anak-anak desa yang melihat mahkota segera mengelilinginya dengan antusias. “Kakak cantik pakai mahkota dong!” teriak salah satu anak kecil dengan suara ceria.
Dengan senyum lebar, Elona mengenakan mahkota tersebut dan melanjutkan kegiatan bersama teman-temannya. Suasana acara menjadi semakin meriah dengan adanya bantuan yang tidak terduga tersebut, dan semua peserta merasa sangat bersyukur bisa memberikan kontribusi bagi desa tersebut.
DI SEKOLAH – SEBELUM PERGI KE LOKASI BAKTI SOSIAL
Sebelum hari H acara bakti sosial, di ruang kerja OSIS yang sunyi, Biru dan Luna sedang bertengkar dengan suara yang semakin tinggi.
“Bagaimana bisa kamu melakukan hal seperti itu?” seru Luna dengan wajah yang penuh kemarahan. “Kamu malah memberikan bantuan besar untuk acara pramuka yang diketuai oleh Elona! Padahal kamu tahu betul bahwa aku tidak suka dengan dia!”
“Acara bakti sosial adalah kegiatan penting untuk sekolah dan masyarakat, Luna!” jawab Biru dengan suara yang juga mulai meninggi. “Saya memberikan bantuan karena itu adalah hal yang benar dan perlu dilakukan, bukan karena siapa yang menjadi ketua pelaksana!”
“Jangan berpura-pura tidak mengerti!” teriak Luna dengan mata yang berkaca-kaca. “Aku tahu kamu melakukannya karena kamu menyukainya! Kamu bahkan memberikan mahkota mawar sebagai hadiah untuknya bukan?!”
Biru mengerutkan kening dengan tidak suka. “Bagaimana kamu tahu tentang hal itu? Itu adalah hal pribadi yang saya inginkan untuk menjadi kejutan bagi mereka yang terlibat dalam acara tersebut!”
“Saya punya cara sendiri untuk mengetahuinya!” jawab Luna dengan nada yang penuh dendam. “Aku tidak akan pernah mengizinkan dia untuk mengambilmu dariku, Oskar! Aku sudah mencintaimu selama bertahun-tahun dan tidak akan menyerah begitu saja!”
“Saya sudah memberitahumu berkali-kali bahwa saya tidak akan pernah bisa mencintaimu, Luna!” ujar Biru dengan sangat tegas. “Kamu harus menerima kenyataan ini dan bergerak maju dengan hidupmu sendiri! Jangan terus-terusan menyiksa dirimu sendiri dengan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi!”
Luna akhirnya tidak bisa menahan air matanya lagi dan mulai menangis teresak-esak. “Kenapa kamu harus memilih dia daripada aku? Apa yang aku kurang dari dia?! Aku lebih cantik, lebih pintar, dan keluargaku juga sama kaya dengan keluargamu!”
“Cinta bukan tentang siapa yang lebih cantik atau kaya, Luna!” ujar Biru dengan nada yang sedikit lebih lembut namun tetap tegas. “Cinta adalah tentang hubungan hati yang tulus dan saling mengerti satu sama lain. Dan sayangnya, hubungan seperti itu tidak pernah ada antara kita.”
Setelah mengatakan itu, Biru berbalik dan pergi meninggalkan ruangan, menyisakan Luna yang masih menangis di sana. Dia tahu bahwa kata-katanya mungkin menyakitkan hati Luna, tapi dia juga tahu bahwa itu adalah hal yang perlu dilakukan agar Luna bisa akhirnya menerima kenyataan dan bergerak maju dengan hidupnya.
Saat Biru berjalan menuju lokasi acara bakti sosial, dia berdoa agar acara tersebut berjalan dengan lancar dan bahwa Elona akan senang dengan kejutan yang dia berikan. Dia juga berharap bahwa suatu hari nanti Luna akan bisa memaafkannya dan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya untuk dirinya sendiri.