NovelToon NovelToon
SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

Status: sedang berlangsung
Genre:Agen Wanita / Identitas Tersembunyi / Romansa
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANJI

17:30 PM. Dermaga Tua Aghia Marina, Pesisir Selatan Yunani.

Matahari mulai turun dengan anggun, menyentuh garis cakrawala Mediterania dan mengubah permukaan air menjadi hamparan emas cair yang berkilau. Angin musim dingin masih bertiup, namun kali ini ia membawa aroma garam dan kayu pinus yang menyegarkan, bukan lagi aroma es yang menakutkan.

Raka berdiri di ujung dermaga kayu yang sudah mulai lapuk namun tetap kokoh. Ia mengenakan mantel wol panjang berwarna hitam, tangannya terbenam di saku. Di belakangnya, sebuah perahu kayu kecil bernama 'The Liana' yang baru saja ia beli dan perbaiki secara diam-diam selama tiga bulan terakhir, tertambat dengan tenang. Perahu itu tidak besar, tapi cat putihnya yang bersih dengan garis biru tua di tepiannya tampak mencolok di antara perahu nelayan lainnya.

Liana berjalan mendekat dari arah jalan setapak tebing. Ia mengenakan syal merah pemberian Ibu Kostas yang melilit lehernya dengan hangat. Langkahnya melambat saat ia melihat sosok Raka yang berdiri membelakangi matahari, tampak seperti siluet pahlawan dari novel-novel klasik yang mereka jual di toko.

"Raka? Bimo bilang kau sedang mengecek pasokan kayu bakar di pelabuhan," panggil Liana, suaranya terbawa angin. "Kenapa kau berdiri di sini seperti sedang menunggu kapal induk?"

Raka berbalik. Senyumnya tidak lebar, tapi matanya memancarkan ketenangan yang belum pernah Liana lihat sebelumnya. Ia mengulurkan tangan, sebuah ajakan yang tak terucap. "Kemarilah, Li."

Liana mendekat, menyambut tangan Raka yang besar dan hangat. "Ada apa? Kau terlihat... berbeda sore ini."

Raka tidak langsung menjawab. Ia menuntun Liana menuju pinggiran dermaga, lalu menunjuk ke arah perahu kecil di bawah mereka. "Kau lihat itu?"

Liana melihat nama yang tertera di haluan perahu. Matanya membelalak, tangannya menutupi mulut karena terkejut. "Kau... kau menamainya 'The Liana'? Sejak kapan kau punya perahu, Raka?"

"Sejak aku menyadari bahwa seorang hantu tidak butuh pelarian lagi, tapi butuh cara untuk menikmati laut," jawab Raka pelan. "Aku membelinya dari Pak Kostas tiga bulan lalu. Bimo membantuku memasang mesin yang... yah, sedikit lebih canggih dari standar nelayan lokal."

Raka mengajak Liana turun ke dalam perahu. Mereka duduk di bangku kayu yang telah dialasi bantal empuk. Perahu itu bergoyang pelan mengikuti irama ombak, menciptakan suasana yang intim di tengah luasnya samudra.

"Raka, ini luar biasa," bisik Liana, jemarinya mengusap kayu perahu yang halus. "Tapi kenapa sekarang? Setelah mimpi buruk semalam, aku pikir kau akan membenciku karena masih terjebak di masa lalu."

Raka meraih kedua tangan Liana, menggenggamnya erat di atas pangkuannya. "Justru karena semalam, Li. Aku sadar bahwa kita tidak bisa hanya bersembunyi di dalam rumah batu itu selamanya. Kita harus punya sesuatu yang benar-benar milik kita, sesuatu yang melambangkan kebebasan, bukan pelarian."

Raka menarik napas panjang, matanya menatap dalam ke mata hijau Liana yang kini memantulkan cahaya senja. "Selama sepuluh tahun di Unit 09, misiku adalah kehancuran. Lalu misiku berubah menjadi perlindungan. Tapi semalam, saat aku melihatmu menggigil ketakutan, aku sadar misiku yang sesungguhnya belum selesai."

"Apa misimu yang sesungguhnya?" tanya Liana dengan suara bergetar.

"Memastikan bahwa setiap kali kau membuka mata, kau tahu bahwa kau bukan lagi bagian dari eksperimen siapa pun. Kau adalah wanita merdeka. Dan aku..." Raka berhenti sejenak, suaranya menjadi sangat emosional. "Aku ingin menjadi pria yang mendampingimu, bukan hanya sebagai pelindung, tapi sebagai pasangan hidup yang nyata."

Raka merogoh saku mantelnya. Bukan sepucuk senjata yang ia keluarkan, melainkan sebuah kotak kecil berbahan beludru hitam. Di dalamnya terdapat sebuah cincin dengan batu safir biru yang jernih, dikelilingi oleh butiran berlian kecil yang berkilau seperti bintang.

Liana tersentak, air matanya mulai mengalir tanpa bisa dibendung. "Raka..."

"Kita sudah melewati neraka bersama, Li. Kita sudah mati di Arktik dan lahir kembali di sini," Raka berlutut di lantai perahu yang sempit, mengabaikan martabat militernya. "Aku tidak ingin kita hanya hidup sebagai 'pasangan pelarian'. Aku ingin kita memiliki janji yang diakui oleh dunia ini, bahkan jika dunia ini tidak tahu siapa kita sebenarnya."

"Liana, maukah kau menikah denganku? Secara resmi. Di bawah cahaya matahari, bukan di bawah bayang-bayang?"

Liana tidak bisa berkata-kata selama beberapa detik. Isakannya pecah, ia menarik Raka berdiri dan memeluknya dengan kekuatan yang luar biasa. "Ya... ya, Raka! Seribu kali ya!"

Di atas perahu yang bergoyang pelan, di tengah laut Mediterania yang mulai menggelap, Raka menyematkan cincin itu di jari manis Liana. Ciuman mereka kali ini terasa sakral. Tidak ada lagi rasa takut akan hari esok. Yang ada hanyalah rasa memiliki yang mutlak.

Sentuhan Raka merambat dari wajah Liana ke pinggangnya, menarik tubuh wanita itu hingga tidak ada celah di antara mereka. Gairah yang muncul di sini, di bawah langit terbuka, terasa liar namun penuh dengan kelembutan. Raka mencium leher Liana, menghirup aroma musim dingin yang segar dari kulitnya, sementara Liana mencengkeram mantel Raka, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan pria itu.

"Aku mencintaimu, Liana," gumam Raka di bibir istrinya kini calon istri resminya. "Lebih dari nyawaku sendiri."

"Dan aku mencintaimu, Kaptenku," sahut Liana, suaranya serak oleh emosi. "Terima kasih sudah tidak pernah menyerah padaku."

Raka mulai melepas kancing mantelnya, menyelimuti Liana di dalamnya bersama tubuhnya. Di bawah perlindungan mantel besar itu, mereka berbagi kehangatan yang lebih dalam. Sentuhan fisik mereka menjadi cara untuk meresmikan janji yang baru saja diucapkan. Raka mengecup setiap inci wajah Liana dengan pemujaan, sementara tangan Liana menyusup ke balik kemeja Raka, merasakan detak jantung pria itu yang berdebar kencang bukan karena adrenalin pertempuran, tapi karena cinta yang meluap.

Gairah mereka malam ini adalah sebuah deklarasi kemenangan. Mereka bukan lagi pion dalam papan catur Yudha. Mereka adalah manusia bebas yang memilih untuk saling terikat satu sama lain.

"Ehem! Apakah perahunya sudah siap untuk berlayar atau kalian butuh privasi sampai besok pagi?"

Suara cempreng Bimo memecah suasana romantis tersebut. Mereka menoleh dan melihat Bimo berdiri di ujung dermaga dengan sebuah keranjang piknik besar dan dua botol sampanye mahal.

"Bimo! Kau selalu tahu kapan harus muncul di waktu yang salah!" teriak Liana sambil tertawa dan menghapus air matanya.

"Waktu yang salah? Aku sudah menunggu di balik semak-semak selama tiga puluh menit, kedinginan hanya untuk memastikan Raka tidak lupa dialognya!" Bimo melompat ke dermaga, lalu turun ke perahu dengan kikuk.

Bimo menatap cincin di jari Liana dan tersenyum lebar, sebuah senyuman yang tulus tanpa ejekan biasanya. "Selamat, Li. Selamat, Bro. Akhirnya kalian melegalkannya. Aku sudah menyiapkan dokumen identitas baru kalian untuk pendaftaran sipil di Athena minggu depan. Nama kalian adalah... yah, kita bahas itu nanti."

Bimo membuka botol sampanyenya dengan letusan keras. Pop!

"Untuk kehidupan baru! Untuk 'The Liana'! Dan untuk hantu-hantu yang akhirnya menemukan rumah!" seru Bimo sambil mengangkat gelasnya ke arah langit yang kini sudah dipenuhi bintang.

Mereka bertiga duduk di perahu itu, minum sampanye dan tertawa di bawah cahaya rembulan. Nostalgia tentang masa lalu sesekali muncul, tapi tidak lagi menyakitkan. Mereka membicarakan tentang pernikahan kecil yang akan mereka adakan, tentang siapa yang akan menjadi wali Liana (Bimo bersikeras mengenakan tuxedo), dan tentang masa depan toko buku mereka.

Raka merangkul Liana, menariknya bersandar di bahunya. Saat ia menatap laut lepas, ia tidak lagi melihat musuh yang mengintai. Ia melihat jalan panjang yang tenang.

"Misiku benar-benar sudah berubah, Li," bisik Raka saat Bimo sedang sibuk bernyanyi lagu Yunani yang salah lirik.

"Menjadi apa?"

"Menjadi tua bersamamu."

Liana tersenyum, menutup matanya dalam kedamaian yang sempurna. Di tepi dermaga tua itu, janji telah terikat. Dan bagi dua jiwa yang pernah hancur ini, itu adalah kemenangan paling mulia yang pernah mereka raih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!