Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Pagi itu, sinar matahari Yogyakarta yang hangat masuk melalui jendela besar kantor Pak Richard.
Rangga sudah berdiri tegak di sana, mengenakan kemeja formal tanpa jas, mencoba mengembalikan citra profesionalnya meskipun wajahnya masih sedikit pucat.
Tak lama kemudian, Fabian melangkah masuk bersama Linggar.
Langkah Fabian terhenti seketika, matanya menyipit melihat sosok yang semalam ia tinggalkan di Malioboro kini berada di ruangan yang sama.
"Pak Richard, ada apa ini? Kenapa dia ada di sini?" tanya Fabian dengan nada suara yang jelas-jelas menunjukkan rasa terganggu.
Pak Richard berdehem, mencoba mencairkan suasana.
"Fabian, perkenalkan secara resmi. Rangga akan bergabung dalam proyek ini sebagai konsultan manajemen ahli. Pengalamannya di Jakarta akan sangat membantu efisiensi kita."
Fabian tertawa sinis. "Konsultan ahli? Atau seseorang yang sedang menggunakan kekuasaan bisnisnya untuk urusan pribadi? Kita tidak butuh intervensi dari orang luar yang tidak mengerti medan di Yogyakarta, Pak Richard."
"Urusan bisnis tetap bisnis, Fabian," sahut Rangga dingin. "Dan jika saya melihat ada ketidakefisienan dalam rencana yang Anda buat, itu adalah tugas saya untuk mengoreksinya."
"Mengoreksi atau mencari perhatian?" balas Fabian sengit.
Ketegangan di ruangan itu memuncak. Linggar hanya berdiri mematung, menatap kedua pria itu dengan perasaan muak.
Perdebatan tentang anggaran dan manajemen waktu mulai melenceng menjadi sindiran-sindiran pribadi yang tajam di hadapannya.
"Cukup!" Pak Richard memotong dengan suara tegas.
"Kita tidak punya waktu untuk berdebat di sini. Kita harus meninjau lokasi proyek di kawasan perbukitan sekarang juga."
Begitu mereka keluar menuju lobi, Fabian langsung menarik kunci mobilnya.
"Linggar, kamu sama aku. Kita harus bahas teknis lapangan di jalan."
Rangga dengan cepat menghadang langkah mereka.
"Oh, tidak bisa. Sebagai konsultan, saya harus berdiskusi banyak hal dengan penanggung jawab lapangan. Linggar sama aku."
Fabian mendengus, "Dia asisten Pak Richard, dan dia bekerja denganku!"
"Tapi aku lebih mengenalnya!" balas Rangga tak mau kalah.
Keduanya saling menatap tajam, seolah siap meledak kapan saja. Linggar yang sejak tadi diam, akhirnya menghela napas panjang dengan raut wajah yang sangat lelah.
Ia melangkah maju ke tengah-tengah kedua pria dewasa yang bersikap seperti anak kecil itu.
"Cukup!" teriak Linggar pelan namun menusuk. Ia menatap Fabian dan Rangga bergantian dengan tatapan dingin.
"Kita tidak akan pergi dengan dua mobil. Itu pemborosan waktu dan bahan bakar. Kita pakai satu mobil perusahaan, Pak Richard yang akan menyetir, dan saya duduk di belakang sendirian. Titik!"
Linggar berjalan melewati mereka berdua tanpa menoleh lagi, masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya dengan keras.
Rangga dan Fabian hanya bisa terdiam, saling lirik dengan penuh dendam, sebelum akhirnya terpaksa masuk ke dalam mobil yang sama dalam keheningan yang mencekam.
Keheningan di dalam mobil itu begitu pekat hingga suara kunyahan kecil pun terdengar sangat jelas.
Pak Richard fokus menyetir di depan, sementara Rangga dan Fabian duduk di kursi tengah dengan jarak sejauh mungkin—masing-masing menempel ke pintu kiri dan kanan.
Linggar, yang duduk di baris paling belakang, tampak sama sekali tidak peduli dengan aura perang dingin di depannya.
Ia dengan santai membuka bungkusan kertas berisi lumpia Semarang yang masih hangat dan stoples kecil kue kering yang dibawanya dari rumah.
Aroma rebung yang gurih dan wangi mentega kue langsung memenuhi kabin mobil.
Linggar menggigit lumpianya dengan nikmat. Rangga, yang sejak pagi memang belum sempat sarapan dengan layak, menelan ludah.
Perutnya mendadak keroncongan mendengar suara renyah itu.
Ia melirik melalui spion tengah, mencoba menarik perhatian Linggar.
"Linggar, aromanya enak sekali. Aku mau satu," ucap Rangga dengan nada yang dilembut-lembutkan, berharap ada sedikit belas kasih dari mantan sekretarisnya itu.
Linggar bahkan tidak mendongak dari makanannya.
Ia menjawab dengan suara datar tanpa ekspresi, "Beli sendiri, Ngga. Di Malioboro banyak yang jual."
Mendengar jawaban telak itu, Fabian yang duduk di sebelah Rangga tidak bisa menahan diri.
Ia mengeluarkan sebuah permen mint dari sakunya, membukanya dengan gaya yang sangat santai, lalu menikmatinya sambil menyandarkan punggung ke kursi.
"Pfft... Syukurin!" gumam Fabian pelan namun cukup keras untuk didengar oleh Rangga.
"Makanya, Pak CEO, jangan cuma bawa gengsi, bawa bekal juga kalau mau turun lapangan."
Rangga hanya bisa mendengus kesal, wajahnya memerah menahan malu sekaligus lapar. Sementara itu, di kursi belakang, Linggar terus mengunyah makanannya dengan tenang, sesekali menyesap air mineralnya, seolah-olah dua pria sukses di depannya itu hanyalah patung pajangan yang tidak penting.
Pak Richard hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan ketiganya melalui spion depan.
"Kita sudah hampir sampai di perbukitan. Sebaiknya siapkan tenaga kalian, medannya cukup berat," ucap Pak Richard mencoba menengahi.
Mobil berhenti di sebuah area terbuka di kaki perbukitan Menoreh yang sejuk.
Pak Richard turun terlebih dahulu, diikuti oleh Fabian, Rangga, dan Linggar.
Angin pegunungan yang segar berhembus, menerpa wajah mereka yang sejak tadi tegang di dalam mobil.
"Fabian, ikut saya sebentar. Kita harus pastikan batas patok di sisi timur itu sesuai dengan denah asli. Sepertinya ada pergeseran tanah sedikit," ucap Pak Richard sambil membentangkan gulungan besar kertas kalkir.
Fabian melirik ke arah Linggar dan Rangga dengan ragu. Ia berat hati meninggalkan mereka berdua, namun profesionalisme sebagai penanggung jawab proyek memaksanya untuk patuh.
"Baik, Pak. Linggar, aku ke sana sebentar ya. Jangan ke mana-mana," pesan Fabian dengan nada penuh penekanan pada Rangga sebelum akhirnya melangkah mengikuti Pak Richard.
Kini, hanya ada keheningan di bawah pohon beringin besar yang rimbun.
Rangga berdiri mematung, menatap ujung sepatunya yang mulai berdebu.
Perutnya benar-benar terasa perih, dan kepalanya sedikit berdenyut karena asam lambung yang naik.
Linggar memperhatikan sosok pria di hadapannya itu dari sudut mata.
Rangga yang biasanya tampil sangat berwibawa di balik meja mahoni kantornya, kini tampak rapuh dan sedikit pucat di bawah terik matahari.
Rasa kemanusiaan di hati Linggar ternyata masih jauh lebih besar daripada rasa bencinya.
Tanpa berkata-kata, Linggar merogoh bungkusan kertas di tangannya.
Ia mengambil satu buah lumpia terakhir yang masih tersisa—yang tadinya berniat ia simpan untuk nanti.
"Makanlah," ucap Linggar pendek, menyodorkan lumpia itu tepat di depan wajah Rangga.
Rangga tersentak. Ia menatap lumpia itu, lalu beralih menatap mata Linggar yang masih tampak dingin namun tidak lagi setajam tadi.
"Linggar, kamu..."
"Jangan banyak bicara. Makan saja sebelum kamu pingsan dan merepotkan Pak Richard," potong Linggar ketus, meski tangannya tetap menyodorkan makanan itu.
Rangga menerima lumpia itu dengan tangan yang sedikit gemetar.
Ia menggigitnya perlahan. Rasa gurih dan hangatnya seolah menjalar ke seluruh tubuhnya, memberikan energi yang sangat ia butuhkan. Namun, yang lebih manis dari rasa makanan itu adalah perhatian kecil yang diberikan Linggar.
"Terima kasih, Linggar," bisik Rangga tulus.
"Aku tahu aku pantas mendapatkan perlakuan dinginmu, tapi terima kasih karena tetap tidak membiarkanku mati kelaparan."
Linggar hanya memalingkan wajah, menatap hamparan hijau di hadapan mereka.
"Jangan berpikir ini artinya aku sudah memaafkanmu, Ngga. Aku hanya tidak ingin ada berita 'CEO Jakarta pingsan di perbukitan Yogya karena kelaparan' di koran besok pagi."
Rangga tersenyum tipis di sela kunyahannya. Setidaknya, tembok es yang dibangun Linggar mulai menunjukkan retakan kecil, meskipun ia tahu butuh waktu lama untuk meruntuhkannya sepenuhnya.