NovelToon NovelToon
Friendzone With Idol

Friendzone With Idol

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Cinta Murni / Kekasih misterius
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diculik Idol

Gedung agensi lama itu berdiri kokoh namun terasa dingin. Takara melangkah menyusuri koridor-koridor kaku, jemarinya terkadang menyentuh dinding beton yang terasa tak bernyawa. Di matanya, dinding-dinding ini sudah mulai runtuh dan berganti dengan taman vertikal yang ia rancang. Ia bisa membayangkan di sudut gelap ini nantinya akan ada cahaya matahari yang menembus masuk, dan di sana, jembatan kayu miliknya akan membelah kolam air yang menenangkan.

"Sirkulasi udaranya terlalu kaku," gumam Takara sambil mencatat sesuatu di tabletnya.

"Pantas saja mereka sering merasa sesak."

Setelah hampir dua jam berkeliling melakukan observasi awal, Takara melipat kembali perangkat kerjanya. Ia merasa matanya sudah mendapatkan cukup banyak informasi untuk eksekusi tahap pertama.

"Oke! Saya sudah cukup melihat, dan sepertinya saya bisa ke hotel sendiri," kata Takara pada staf agensi yang setia mengekor di belakangnya. Ia merasa butuh udara segar untuk menetralkan rasa gugupnya.

"Anda yakin? Kami sudah menyiapkan mobil untuk mengantar Anda," tanya staf itu dengan nada ragu.

Takara terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana. "Tentu saja saya tahu jalannya! Saya ini asli Korea yang kebetulan bermigrasi ke Australia. Tenang saja, insting jalanan Seoul saya masih ada."

Takara pun berpamitan. Ia menyeret kopernya yang berat menuju area trotoar di depan gedung. Udara sore Seoul mulai terasa menggigit. Namun, baru saja ia hendak mencari taksi, sebuah mobil van hitam dengan kaca yang sangat gelap berhenti mendadak tepat di depannya.

Belum sempat Takara bereaksi, pintu geser mobil itu terbuka dengan cepat. Seorang pria bertubuh tegap, yang tampaknya adalah staf keamanan, dengan cekatan mengambil alih koper perak Takara dan memasukkannya ke bagasi belakang.

"Eh? Apa-apaan ini?! Tunggu!" teriak Takara panik.

Namun, sebuah tangan kuat menarik lengannya, membawanya masuk ke dalam kabin mobil yang remang-remang. Pintu tertutup rapat dalam sekejap, meninggalkan kebisingan jalanan Seoul di luar sana.

Takara baru saja hendak melayangkan protes keras saat ia melihat sosok yang duduk di pojok kursi belakang. Sosok itu memakai hoodie hitam besar, masker yang diturunkan ke dagu, dan topi yang diputar ke belakang.

"Hai Takara!" pekik sosok itu dengan suara serak yang sangat familier.

Takara terpaku. Napasnya tertahan di tenggorokan. "Jake?"

"Sshhh! Pelankan suaramu, Ra!" Jake tertawa, matanya menyipit membentuk bulan sabit, ekspresi yang tidak bisa dipalsukan oleh iklan megatron mana pun.

Jake segera menarik Takara untuk duduk lebih dekat. Di dalam kabin mobil yang luas dan beraroma parfum maskulin bercampur aroma kopi itu, jarak ribuan kilometer yang selama ini memisahkan mereka mendadak hilang. Takara bisa melihat dengan jelas bulir keringat kecil di pelipis Jake, laki-laki ini pasti baru saja menyelinap keluar dari sesi latihan.

"Lo... lo gila ya? Gimana kalau ada yang lihat? Gimana kalau agensi tahu?" Takara masih mencoba mengatur detak jantungnya yang berantakan.

"Tenang, ini mobil manajemen yang sudah gue 'sewa' sebentar lewat bantuan manajer gue yang paling baik hati," Jake menunjuk ke arah kursi pengemudi di mana seorang pria hanya mengangguk sopan tanpa menoleh. "Gue nggak tahan nunggu besok. Begitu staf di bawah bilang 'arsitek dari Australia' sudah selesai survei, gue langsung lari ke parkiran."

Jake menatap Takara dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Wah... rambut baru? Dan setelan ini... lo beneran kelihatan kayak arsitek sukses sekarang. Gue hampir nggak ngenalin kalau lo bukan sahabat gue yang suka nangis gara-gara tugas maket."

Takara memukul lengan Jake pelan, air mata haru mulai menggenang di pelupuk matanya. "Dan lo... lo makin kurus, Jake. Kenapa sih? Gue bawa banyak banget makanan dari Tante Dami dan Mama di koper."

Jake tersenyum lembut, kali ini tatapannya berubah menjadi lebih dalam dan hangat. Ia meraih tangan Takara yang masih gemetar, menggenggamnya erat di balik kegelapan kaca mobil.

"Gue nggak butuh makanan itu sekarang, Ra. Gue cuma butuh lihat lo ada di sini, di depan gue. Nyata," bisik Jake.

Di tengah hiruk pikuk Seoul yang melaju di luar jendela, untuk beberapa menit ke depan, dunia hanya milik mereka berdua di dalam van hitam itu. Sebuah reuni rahasia yang jauh lebih indah daripada kampanye iklan paling megah sekalipun.

Mobil van hitam itu melaju tenang, membelah kemacetan Seoul yang mulai dihiasi lampu-lampu neon. Takara memperhatikan jalanan dari balik kaca gelap, hingga mereka memasuki sebuah kawasan perbukitan yang tenang namun dijaga sangat ketat. Arsitektur bangunan di sini terlihat sangat eksklusif, minimalis, dan memancarkan kemewahan yang tenang.

"Jake... kita di mana?" tanya Takara dengan nada cemas sekaligus kagum. Ia mengenali atmosfer ini, kawasan elit di Gangnam yang biasanya hanya dihuni oleh para petinggi pemerintahan, pengusaha raksasa, atau aktor-aktor Chungmoro kelas A.

"Ini rumah gue," jawab Jake santai sambil melepas topinya dan menyandarkan punggung. "Bukan dorm. Ini unit yang gue beli dari hasil menabung selama bekerja di industri ini. Tempat gue buat benar-benar 'ngumpet' kalau lagi butuh ketenangan."

Takara terbelalak. Ia menatap Jake, lalu menatap gedung apartemen mewah di depannya. "Lah! Kirain lo bakal beli rumah di Brisbane. Gue pikir target lo setelah sukses itu punya properti di Gold Coast atau di pinggiran Brisbane biar bisa dekat sama Ibu."

Jake terkekeh, suara tawanya terdengar berat namun sangat renyah di telinga Takara. Ia menoleh ke arah Takara, menatapnya dengan binar mata yang sulit diartikan.

"Kalau di Brisbane gue maunya buat rumah, tapi yang dirancang sama lo," kata Jake lembut.

Kalimat itu seketika membuat lidah Takara kelu. Ia bisa merasakan wajahnya memanas. Jake tidak sedang bercanda; nada suaranya terdengar sangat serius dan penuh harapan.

"Gue beli ini buat investasi dan tempat tinggal selama gue masih kerja di Korea," lanjut Jake sembari menarik koper Takara keluar dari bagasi setelah mobil berhenti di basement pribadi. "Tapi rumah masa depan gue... rumah yang bener-bener tempat pulang, gue pengen itu jadi mahakarya pertama lo setelah lo jadi arsitek hebat."

Mereka masuk ke dalam unit apartemen Jake melalui lift pribadi. Begitu pintu terbuka, Takara disuguhi pemandangan city light Seoul yang menakjubkan dari jendela setinggi langit-langit. Apartemen itu sangat rapi, didominasi warna abu-abu, putih, dan kayu gelap. Sangat modern, tapi bagi Takara, tempat ini terasa sedikit "sepi" untuk seseorang sehangat Jake.

"Lo beneran tinggal sendiri di sini?" tanya Takara sambil meletakkan tasnya.

"Kadang-kadang. Kalau lagi libur atau cuma pengen tidur tanpa gangguan berisik member lain," jawab Jake. Ia segera menuju dapur dan mengambilkan sebotol air untuk Takara. "Ayo, buka kopernya. Gue udah nggak sabar pengen liat 'harta karun' dari Brisbane."

Takara berlutut di atas karpet bulu yang tebal dan membuka kopernya. Aroma rempah-rempah langsung menyeruak memenuhi ruangan mewah itu. Jake langsung berjongkok di sampingnya, matanya berbinar melihat stoples-stoples kue dan bungkusan sambal teri.

"Ya ampun, Ra... bau sambal teri ini lebih enak daripada parfum mahal mana pun di dunia!" seru Jake. Ia mengambil satu stoples kue kering buatan Yumi dan langsung memakannya. "Gila, rasanya persis kayak waktu kita duduk di teras rumah lo sepuluh tahun lalu."

Takara memperhatikan Jake yang makan dengan lahap. Di tengah kemewahan apartemen Gangnam ini, Jake kembali menjadi laki-laki biasa yang ia kenal. Bukan Jake sang global idol, tapi Jake si anak Brisbane yang merindukan masakan rumah.

"Pelan-pelan, Jake. Nanti tersedak," ujar Takara sambil tersenyum tulus.

"Gue kangen banget sama lo, Ra. Gue kangen suasana ini," bisik Jake di sela kunyahannya. Ia berhenti sejenak, lalu menatap Takara dalam diam.

Takara bergerak cekatan di area dapur minimalis itu. Ia menyusun wadah-wadah berisi sambal teri, kering kentang, hingga bumbu gochujang ke dalam lemari pendingin dua pintu milik Jake yang tadinya hampir kosong melompong, hanya berisi beberapa botol air mineral dan minuman energi.

"Ini semua udah gue tata. Lo sebisa mungkin jangan makan makanan siap saji terus, lihat badan lo udah sisa tulang belulang begini," omel Takara sambil menutup pintu kulkas dengan bunyi klik yang mantap. Ia berbalik dan berkacak pinggang, menatap Jake yang sedang asyik mengunyah kue kering di meja bar.

"Hadeh... iya... iya... lo sama Mama bawel banget dah, tiap hari omelannya sama," jawab Jake sambil memutar bola matanya, namun bibirnya tidak bisa menyembunyikan senyum tipis. Dimarahi Takara justru memberinya rasa familiar yang menghangatkan hati; sebuah perasaan yang tidak ia dapatkan dari staf agensi yang selalu bersikap terlalu sopan padanya.

Takara melirik jam tangan peraknya. Jarum jam sudah menunjukkan angka yang cukup larut. Kesadaran profesionalnya mulai kembali setelah euforia pertemuan singkat ini.

"Setelah ini gue harus ke hotel. Gue besok ada presentasi teknis jam sembilan pagi, dan gue butuh waktu buat review materi lagi di kamar," kata Takara sambil meraih tas tangannya.

"Yaudah, nginep aja di sini," saran Jake enteng. Ia menunjuk ke arah lorong. "Ada kamar tamu yang kosong. Fasilitasnya lebih oke daripada hotel bintang lima mana pun di Seoul, gue jamin."

Takara langsung melotot. "Gak! Gue gak mau buat masalah ya, Jake. Bayangin kalau besok pagi ada staf atau manajer lo dateng terus nemu arsitek dari Australia tidur di sini? Karir gue bisa tamat sebelum dimulai, dan lo bisa kena skandal!"

Jake menghela napas panjang, bahunya merosot. Ia tahu Takara benar. Di industri yang ia jalani, logika seringkali kalah oleh persepsi publik. "Iya sih. Gue cuma... masih pengen ngobrol. Rasanya baru lima menit lo di sini."

Takara mendekat, menepuk bahu Jake dengan lembut untuk menenangkannya. "Gini aja, besok setelah presentasi gue selesai, gue bakal punya waktu luang. Gimana kalau kita rencanakan jalan-jalan? Ke tempat yang aman, yang nggak banyak orang tahu."

Mata Jake langsung berbinar. Rasa kantuk dan lelahnya seolah menguap begitu saja. "Oke! Boleh! Gue tahu satu tempat. Itu area perbukitan di pinggiran Seoul, ada satu galeri seni punya kenalan gue yang tutup buat umum besok. Kita bisa ke sana."

"Nah, itu lebih aman," sahut Takara lega. "Sekarang, panggilkan taksi buat gue, atau minta manajer lo anterin gue ke hotel. Gue harus istirahat."

Jake berdiri, mengambil kembali topinya. "Gak ada taksi. Gue anterin lo pakai mobil ini sampai depan lobi hotel. Tapi lo harus janji, besok malem setelah jalan-jalan, lo harus ceritain detail gimana rasanya tinggal lagi di Brisbane tanpa gue."

Takara tertawa kecil. "Janji. Ayo, jalan sekarang!"

Malam itu berakhir dengan Jake yang mengantar Takara hingga ke depan hotel dengan sangat hati-hati. Ada janji yang menggantung di udara, membuat keduanya tidak sabar menunggu matahari terbit lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!