NovelToon NovelToon
Warisan Pedang Naga

Warisan Pedang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Reijii

Serial ini mengisahkan perjalanan Chen Feng, seorang pemuda yang menjadi satu-satunya keturunan keluarga pemburu naga setelah desa kecilnya di Tanah Seribu Pegunungan dibakar dan orang tuanya terbunuh oleh Sekte Ular Hitam. Dengan bimbingan Ye Linglong, putri dari klan pemburu naga terkemuka, Feng belajar mengendalikan kekuatan naga yang mengalir dalam dirinya—kekuatan yang tidak hanya berasal dari kemarahan akan kehilangan, melainkan dari kedamaian dan pemahaman tentang cinta serta tanggung jawab.

Melalui serangkaian ujian yang menguji keberanian, pengendalian diri, dan pemahaman tentang cinta serta masa lalu, Feng harus menghadapi dendam yang telah berlangsung berabad-abad antara keluarganya dengan Sekte Ular Hitam. Ia menemukan bahwa kekuatan sebenarnya bukanlah dari kemarahan atau kekerasan, melainkan dari kemampuan untuk menerima rasa sakit, menyatukan apa yang terpisah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9: Pertempuran Di Gerbang Langit

Angin dingin menerjang wajah semua orang saat Hei Yu dan pasukannya berdiri menghadang jalur di depan Gerbang Langit. Cahaya matahari sore yang kemerahan menerangi wajah-wajah penuh dengan kemarahan itu, membuat mereka tampak seperti makhluk dari dunia bawah yang keluar untuk menghancurkan segalanya.

“Kamu berpikir kamu bisa menghalangi kita?” tanya Ye Chen dengan suara penuh dengan tantangan. Ia telah menarik pedangnya sepenuhnya, dan kilatan kebiruan tipis menyala di sekitar bilahnya. “Kita sudah siap menghadapi kamu dan pasukanmu yang tidak berharga itu!”

Hei Yu hanya menyeringai dan mengangkat pedang hitamnya yang mengeluarkan aura gelap pekat. “Kamu masih terlalu muda untuk mengerti kekuatan apa yang kamu lawan, bocah muda. Sekte Ular Hitam telah menunggu selama berabad-abad untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik kita!”

Tanpa berlama-lama, salah satu anggota Sekte Ular Hitam menyerang dengan cepat ke arah rombongan. Ye Chen segera menghadangnya, dan pertempuran pun dimulai. Pedang bertabrakan dengan suara keras seperti guntur, dan percikan api menyala setiap kali bilah bertemu.

Sementara itu, lima anggota Sekte Ular Hitam mengelilingi Feng dan Linglong. Linglong menarik tombaknya dengan cepat, menghalangi serangan dari dua penyerang sekaligus. Gerakannya anggun namun penuh kekuatan, seperti seorang tari peperangan yang telah menguasai seni pertempuran sejak kecil.

“Jaga dirimu!” teriaknya ke Feng saat berhasil membuat salah satu penyerang mundur dengan tendangan kaki yang kuat.

Feng hanya mengangguk dan fokus pada lawan-lawan yang menghadanginya. Kali ini, dia tidak membiarkan kemarahan menguasainya. Dia fokus pada aliran energi alam di sekitarnya, merasakan setiap gerakan lawan-lawan sebelum mereka bahkan mulai bergerak. Dengan gerakan yang lambat namun presisi, dia menghindari setiap serangan dan memberikan kontra yang tepat sasaran.

Salah satu penyerang mencoba menyerangnya dari belakang dengan pedang yang menyala energi hitam. Tapi Feng sudah merasakan keberadaannya. Dia berbalik dengan cepat, mengangkat tangannya dengan tenang. Kalung di lehernya menyala dengan cahaya keemasan yang stabil, dan bidang energi muncul tepat waktu untuk memantulkan serangan itu kembali ke penyerang.

Penyerang itu terlempar ke belakang dengan suara keras, namun segera berdiri kembali dengan wajah yang penuh dengan kekaguman dan takut. “Bagaimana mungkin kamu bisa mengontrol kekuatan itu dengan begitu mudah?” bisiknya dengan suara tidak percaya.

“Karena aku sudah mengerti bahwa kekuatan bukanlah tentang memaksakan kehendakmu pada dunia,” jawab Feng dengan suara yang tenang namun penuh kekuatan. “Ia tentang menyatu dengan apa yang ada di sekitar kita dan menggunakan kekuatan itu untuk kebaikan.”

Di sisi lain medan perang, Ye Chen sedang berjuang melawan tiga penyerang sekaligus. Meskipun ia sangat terampil, jelas bahwa dia mulai tertekan oleh jumlah lawan yang lebih banyak dan kekuatan mereka yang tidak biasa. Saat salah satu penyerang siap menyerangnya dari belakang, Feng muncul dengan cepat dan menghentikan serangan itu dengan tangan yang menyala energi keemasan.

“Terima kasih,” ujar Ye Chen dengan napas yang tersengal-sengal. “Kita harus bekerja sama jika ingin mengalahkan mereka.”

“Setuju,” jawab Feng dengan senyum kecil. Bersama-sama, mereka menghadapi lawan-lawan mereka dengan koordinasi yang luar biasa. Gerakan mereka saling melengkapi, membuat setiap serangan lawan menjadi sia-sia.

Sementara itu, Linglong telah mengalahkan semua lawan-lawan yang menghadangnya dan kini menghadapi seorang pemimpin pasukan Sekte Ular Hitam yang kuat. Wanita itu berpakaian jubah hitam dengan lambang ular berbisa di dada, dan menggunakan rantai dengan mata bajak di ujungnya sebagai senjata.

“Kau adalah putri Keluarga Ye yang terkenal,” ujar wanita itu dengan suara yang kasar seperti batu yang bergesekan. “Aku akan membawa kepalamu sebagai hadiah untuk pemimpin kita!”

Wanita itu menyerang dengan cepat, rantainya melayang di udara seperti ular yang ingin menyerang mangsanya. Linglong menghindari dengan gesit, menggunakan tombaknya untuk memblokir setiap serangan yang hampir mengenai dirinya. Setelah beberapa saat bermain catur dengan lawan itu, dia melihat celah di pertahanannya dan menyerang dengan cepat. Tombaknya menusuk tepat di sisi dada wanita itu, membuatnya terjatuh ke tanah dengan suara gemetar.

Pada saat yang sama, Feng dan Ye Chen berhasil mengalahkan semua lawan mereka. Hanya Hei Yu yang tersisa berdiri di tengah medan perang yang berantakan, dengan wajahnya penuh dengan kemarahan dan kekaguman.

“Kalian memang lebih kuat dari yang kuharapkan,” ujarnya dengan suara yang rendah dan penuh dengan ancaman. “Tapi ini belum selesai. Aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku, bahkan jika aku harus menghancurkan seluruh dunia untuk mendapatkannya!”

Hei Yu mengangkat kedua tangannya ke atas kepalanya, dan energi gelap mulai mengumpul di sekitarnya dengan cepat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya, dan ukurannya tampak membesar. Udara menjadi sangat dingin, dan tanah mulai bergoyang seperti terjadi gempa bumi kecil.

“Awas!” teriak Ye Tianhong dari kejauhan. Semua orang menoleh dan melihatnya berdiri di puncak bukit dekat Gerbang Langit, bersama dengan beberapa prajurit kerajaan yang membawa senjata besar. “Dia sedang menggunakan teknik pembunuhan yang dilarang—teknik yang menghabiskan nyawa penggunanya untuk mendapatkan kekuatan yang luar biasa!”

Hei Yu mengeluarkan teriakan yang menusuk telinga, lalu menyerang dengan kekuatan penuh ke arah Feng. Gelombang energi hitam besar melesat dengan kecepatan luar biasa, menghancurkan segala sesuatu yang ada di jalurnya. Feng segera berdiri di depan semua orang, mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk membendung serangan itu.

Kalungnya menyala dengan sangat terang, dan bayangan besar Naga Putih Tianwu muncul di belakangnya. Energi keemasan mengalir dari tubuh Feng seperti sungai yang meluap, bertemu dengan gelombang energi hitam dengan suara seperti ledakan kilat yang mengguncang seluruh daerah.

Ketika percikan cahaya dan asap akhirnya menghilang, Hei Yu terlihat terbaring lemah di tanah, dengan tubuhnya terluka parah. Energi gelap yang menyelimuti dirinya mulai menghilang, dan wajahnya tampak lebih tua puluhan tahun dalam sekejap.

“Kamu tidak akan menang, Chen Feng,” bisiknya dengan suara yang lemah. “Pemimpin kita akan datang dan mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kita. Dia jauh lebih kuat dariku…”

Sebelum dia bisa melanjutkan, dia mengeluarkan bola asap hitam besar dan menghilang ketika asap itu menyebar. Ye Chen ingin mengejarnya, tapi Feng menghalanginya dengan tangan.

“Biarkan dia pergi,” ujar Feng dengan suara yang tenang. “Sekarang dia sudah tidak memiliki kekuatan untuk menghalangi kita lagi. Kita harus fokus pada tujuan kita—mencapai gua dan mengambil Pedang Naga.”

Rombongan mulai membersihkan medan perang dan merawat prajurit yang terluka. Meskipun mereka berhasil mengalahkan pasukan Sekte Ular Hitam, beberapa prajurit terluka parah dan tidak bisa melanjutkan perjalanan. Dengan berat hati, Feng memutuskan untuk mengirim mereka kembali ke Kota Yunlong bersama dengan beberapa prajurit yang masih sehat untuk menjaganya.

“Hanya aku, Linglong, dan Chen yang akan melanjutkan perjalanan,” katanya kepada Ye Tianhong yang telah mendekati mereka. “Jalur ke gua akan semakin berbahaya, dan lebih baik jika hanya kita yang pergi untuk mengurangi risiko yang harus dihadapi.”

Ye Tianhong mengangguk dengan rasa hormat. “Aku percaya pada kamu, Feng. Semoga naga membimbing langkahmu dan memberimu kekuatan untuk menyelesaikan misimu.”

Dengan itu, Feng, Linglong, dan Ye Chen melanjutkan perjalanan mereka menuju gerbang gua tersembunyi di puncak Gunung Tianwu. Matahari mulai terbenam di balik pegunungan, menciptakan warna jingga dan merah yang indah di langit. Mereka tahu bahwa ujian terbesar masih menunggu mereka di depan, tapi mereka siap menghadapinya bersama-sama.

1
andi
luar biasa
sambo
👌👌👌
lukman
krren
ciko
luar biasa
bara
mantap
Nanik S
Lanjut terus
Nanik S
Untungnya Ye Fang masih selamat
adul
kerrn
adul
lanjut
zaka
kerrn
dfos
mantap
fajar
👍👍👍
fajar
✊️✊️✊️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!