NovelToon NovelToon
SIAN TARUTUNG TU MEDAN : LUKA DIBALIK JABU

SIAN TARUTUNG TU MEDAN : LUKA DIBALIK JABU

Status: tamat
Genre:Keluarga / Tamat
Popularitas:498
Nilai: 5
Nama Author: Raymond Siahaan

"Di bawah getah nangka yang lengket dan semut hitam yang merayap, aku tidak hanya mengikat janji pada Mama, tapi juga pada takdir yang sedang mengujiku."

Bagi Raymond, pindah dari Gang Serayu ke Perumnas Mandala adalah sebuah harapan akan kemerdekaan. Di sana, ia melihat Bapaknya—seorang PNS yang resik—berusaha membangun dunia baru melalui kandang-kandang ayam yang ditandai dengan cat di kakinya. Sebuah simbol kepemilikan dan harga diri yang coba dijaga di tengah tanah perantauan.

Namun, udara Mandala yang asri pelan-pelan berubah menjadi pekat oleh asap rokok dan tumpukan kertas nomor togel. Bapak yang dulu dipuja sebagai pahlawan, kini berubah menjadi "Si Teleng"—seorang penjudi yang mempertaruhkan segalanya: gaji bulanan, perabotan rumah, hingga keselamatan keluarganya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raymond Siahaan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 : LILIN KECIL DI RUMAH YANG RUNTUH

Tahun itu, aku baru menginjak usia sembilan tahun. Suasana rumah kami yang biasanya tenang mendadak lebih hidup dengan kedatangan Tulang tertua kami. Beliau datang dari kampung dengan membawa semangat besar: menyelesaikan kuliah ekonominya.

Rumah kami menjadi saksi bisu betapa kerasnya Tulang belajar di sela-sela tumpukan buku makroekonomi. Hingga akhirnya, hari yang dinanti tiba. Tulang resmi menyandang gelar Sarjana Ekonomi. Namun, dunia kerja ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Sebagai langkah awal, ia bekerja di sebuah perusahaan farmasi sebagai sales obat.

Setiap pagi, aku melihatnya gagah menunggangi Vespa milik Bapak. Suara mesin Vespa yang khas menjadi pertanda bahwa hari kerja telah dimulai.

Bagian yang paling kami tunggu adalah saat sore hari tiba. Ketika bunyi mesin Vespa Bapak terdengar berhenti di depan pagar, itu adalah kode kebahagiaan. Tulang selalu pulang dengan senyum lebar, mengajak kami berkeliling mencari cemilan sore.

"Ayo, kita cari ombus-ombus atau gorengan!" serunya.

Di balik keceriaan itu, ada interaksi unik antara Tulang dan adikku, Nugrah. Meski masih kecil, Nugrah itu anak yang sangat bijak dan lincah—atau kalau orang bilang, si tikkos. Tulang sering menggodanya, menyuruh Nugrah menyemir sepatu kerjanya atau sepatu Bapak. Anehnya, Nugrah melakukannya dengan senang hati dan penuh ketelitian, seolah ia mengerti arti bakti sejak dini.

Kelincahan Nugrah sempat membuat jantung Mama hampir copot. Pernah suatu hari, ia menghilang dari rumah. Ternyata, si kecil itu berjalan kaki sendirian menuju sekolahku di TK Parulian! Jaraknya lumayan jauh untuk ukuran balita, tapi dia mengingat jalannya dengan luar biasa. Beruntung, seorang tetangga melihatnya di jalan dan langsung membawanya pulang.

"Nugrah mau jemput Abang," katanya polos saat tiba di rumah, sementara Mama sudah hampir menangis karena cemas.

Di balik tawa sore hari, aku sering melihat Tulang termenung. Ia sedang menjalin hubungan lama dengan Nantulang, yang tak lain adalah pariban-nya sendiri. Mereka saling mencintai, tapi ada tembok besar yang menghalangi: rasa rendah diri.

Keluarga Nantulang adalah keluarga berada, sementara Tulang merasa "hanya" seorang sales obat. Ada saat-saat kelam di mana Tulang merasa dunia ini tak lagi berguna. Ia merasa kecil di hadapan cinta sejatinya. Putus asa mulai menggerogoti semangatnya.

Melihat kondisi itu, Mama tidak tinggal diam. Dengan penuh rasa prihatin, Mama berbisik pada Bapak di suatu malam. "Pak, tulang anak-anak sudah hampir menyerah. Kita harus bantu."

Bapak adalah orang yang tegas dan punya jaringan luas. Kebetulan, ia memiliki relasi kuat yang menjabat sebagai kepala di sebuah BUMN percetakan negara di Jakarta. Tanpa menunda waktu, Bapak langsung bertindak.

Bapak menulis sebuah surat—surat yang membawa harapan baru. "Pergilah ke Jakarta, jumpai orang ini. Serahkan surat ini," kata Bapak kepada Tulang dengan nada yang tak membantah.

Dengan sisa semangat yang ada, Tulang berangkat ke ibu kota. Di sana, keajaiban itu terjadi. Relasi Bapak menerimanya dengan baik, dan Tulang langsung diterima bekerja di perusahaan negara tersebut.

Kabar dari Jakarta seperti air sejuk di tengah padang pasir. Tulang tidak lagi merasa minder. Dengan pekerjaan yang mapan di BUMN, ia kembali dengan kepala tegak. Tidak ada lagi yang meremehkannya. Tak lama kemudian, pesta pernikahan besar digelar. Tulang akhirnya meminang Nantulang, pariban yang selama ini ia perjuangkan dalam doa dan air mata.

Vespa Bapak mungkin sekarang sudah tua, tapi setiap kali aku melihat motor itu, aku teringat bahwa kesuksesan seringkali membutuhkan dua hal: kerja keras dari diri sendiri dan dukungan tulus dari keluarga yang tak pernah menyerah pada kita.

Setelah resmi menikah, Tulang dan Nantulang memulai hidup baru yang jauh dari hiruk-pikuk Jakarta. Mereka pindah ke Ambon. Di kota manise itulah, kebahagiaan mereka lengkap dengan lahirnya anak pertama yang aku panggil Lae, bernama Aldo. Foto-foto Aldo yang dikirim ke rumah seringkali menjadi satu-satunya penghibur bagi Mama di tengah badai yang mulai menggulung di rumah kami sendiri.

Rumah kami di Medan tetap menjadi persinggahan bagi saudara-saudara Mama yang lain. Tulang ketigaku sempat menginap cukup lama. Ia bekerja keras sebagai penjual ikan di pasar. Setiap sore, ia pulang membawa sisa ikan teri yang belum laku, berniat untuk menjualnya kembali esok hari.

Namun, di balik pintu rumah kami, sebuah rahasia kelam mulai terungkap. Bapak, yang seharusnya menjadi tiang keluarga sebagai seorang PNS, justru merobohkan rumahnya sendiri. Diam-diam, tanpa sepengetahuan Mama, Bapak terjebak dalam jeratan judi. Gaji bulanannya habis di meja judi, meninggalkan kami dalam kemelaratan yang nyata.

Suatu hari, dapur kami benar-benar kosong. Tidak ada uang sepeser pun untuk membeli beras atau lauk. Dengan perasaan hancur dan terpaksa, Mama mengambil sedikit ikan teri sisa jualan Tulang untuk dimasak agar kami bisa makan. Ketika Tulang pulang dan melihat dagangannya berkurang, ia merasa kesal. Ia tak tahu bahwa di balik ikan yang hilang itu, ada martabat seorang ibu yang sedang berusaha menyambung nyawa anak-anaknya.

Suasana rumah tak pernah lagi tenang. Setiap sudut ruangan terasa panas karena pertengkaran yang tak kunjung usai. Bapak semakin kalap; barang-barang di rumah mulai raib satu per satu. Piring, kipas angin, bahkan mesin ketik kesayangan Tulang yang ia gunakan untuk bekerja pun dijual Bapak demi modal judi.

Suatu siang, saat Tulang sedang sakit dan beristirahat di kamar belakang, keributan pecah. Suara teriakan Mama dan bentakan Bapak memenuhi udara. Mendengar Mama yang terus ditekan, Tulang yang sedang sakit itu tak tahan lagi.

Dengan langkah gontai namun penuh amarah, ia keluar dari kamar. Ia mengambil pisau dari dapur, matanya merah padam menatap Bapak. "Sudah cukup kau menyiksa kakakku!" teriak Tulang sambil mengancam.

Bapak terdiam seketika, nyalinya menciut. Namun bagi kami, anak-anak yang menyaksikan itu, dunia terasa runtuh. Mental kami hancur berkeping-keping. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, berubah menjadi medan perang yang traumatis.

Opung dari pihak Mama pun sudah kehilangan kesabaran. Berita tentang kelakuan Bapak sudah sampai ke telinga keluarga besar. Kami hidup dalam ketakutan yang menetap. Setiap kali Bapak pulang, kami tidak pernah tahu apakah ia membawa roti atau justru akan membawa pergi barang yang tersisa untuk dijual.

Ketenganan menjadi barang mewah yang tak pernah kami miliki. Di balik sosok Bapak yang seorang abdi negara, tersembunyi luka yang sangat dalam bagi kami. Kami belajar tentang hidup dengan cara yang keras: bahwa terkadang, musuh terbesar bukan datang dari luar, melainkan dari orang yang seharusnya paling mencintai kita

Di rumah, suara bentakan dan barang pecah mungkin menjadi musik latar yang memilukan. Namun, begitu aku melangkah keluar pagar rumah dan menuju sekolah, dunia berubah. Bagiku, sekolah bukan sekadar tempat belajar; sekolah adalah tempat perlindungan. Di sana, tidak ada meja judi, tidak ada penagih utang, dan tidak ada air mata Mama yang tersembunyi di balik asap dapur.

Aku sadar betul, aku tidak punya privilese seperti teman-teman yang lain. Aku melihat kondisi ekonomi kami yang hancur dan status broken home yang menghantui. Dalam hati kecilku, sebuah janji tertanam kuat: “Aku harus sukses. Aku harus membawa Mama keluar dari penderitaan ini.”

Ingatanku membawa kembali pada masa kelas 2 SD. Hari itu adalah hari pembagian rapor. Jantungku berdegup kencang saat kepala sekolah memanggil nama-nama juara umum.

"Juara kedua umum kelas dua... jatuh kepada..."

Namaku disebut. Aku berjalan maju dengan seragam yang mungkin tak sebaru teman-temanku, tapi kepalaku tegak. Aku menerima sebuah bungkusan plastik berisi buku tulis dan alat tulis. Hadiah itu terasa lebih berharga daripada emas. Di saat Bapak menjual barang-barang di rumah, sekolah justru memberiku sesuatu untuk membangun masa depan.

Aku pulang membawa buku-buku itu dengan bangga. Aku ingin menunjukkan pada Mama bahwa di tengah kegelapan rumah kami, ada satu lilin yang mulai menyala terang.

Prestasi itu bukan kebetulan semata. Aku menjadikan rasa sakit sebagai bahan bakar. Setiap kali aku mendengar pertengkaran di malam hari, aku akan menutup telinga dan membenamkan wajahku ke dalam buku pelajaran. Jika Bapak menjual mesin ketik Tulang, maka aku akan menjaga pensilku agar tidak hilang.

Keinginan untuk mengubah nasib membuatku konsisten. Dari kelas 3, 4, hingga kelas 5, namaku hampir selalu bertengger di jajaran juara. Aku dikenal sebagai anak yang pendiam namun tajam dalam berpikir. Para guru di sekolah mungkin tidak tahu apa yang terjadi di balik pintu rumahku, tapi mereka tahu aku adalah petarung di dalam kelas.

Hingga tiba saatnya aku duduk di kelas 6 SD. Ujian akhir dan kelulusan sudah di depan mata. Beban di pundakku terasa lebih berat karena aku tahu, setelah ini tantangan akan lebih besar. Namun, melihat deretan piala dan piagam sederhana yang kukumpulkan selama enam tahun ini, aku tahu satu hal: kemiskinan dan kehancuran keluarga bisa merampas masa kecilku, tapi mereka tidak bisa merampas kecerdasanku.

Aku lulus dengan kepala tegak, siap menghadapi badai berikutnya demi sebuah hari di mana aku bisa membalas semua air mata Mama dengan keberhasilan.

1
Aisyah Suyuti
nenarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!