Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 28 - KEMBALI KE AWAL
Kasur.
Tidak terlalu mewah, tidak terlalu empuk, namun itu nyata sebuah kasur.
Itu hal pertama yang disadari Ash saat terbangun pagi itu. Bukan tanah keras. Bukan jerami kasar yang bikin gatal. Bukan bunyi terompet perang atau teriakan tentara yang sekarat.
Ash membuka mata perlahan, menatap langit-langit kayu yang berdebu dan seikit rusak.
Namun ia tetap bersyukur karna tak ada darah atau bekas ledakan sihir. Sinar matahari masuk lembut lewat jendela, hangat tapi tidak menyilaukan.
Tenang.
Terlalu tenang.
Dadanya sesak. Dia duduk cepat, napas terengah, mencari ancaman yang tidak ada. Tangan refleks meraih ke samping untuk sihir, mana sudah berkumpul di telapak tangan, siap meledak.
Tapi tidak ada musuh. Tidak ada monster. Tidak ada ksatria Varnhold dengan armor emas yang mau memenggal kepalanya.
Hanya kamar kecil. Meja kayu sederhana. Lemari kecil. Jendela dengan tirai putih yang berkibar pelan.
Vairlion.
Mereka sudah kembali.
Ash menghela napas panjang, mana di tangannya perlahan padam. Keringatnya dingin. Mimpi tadi terasa nyata. Mimpi tentang Fort Silvergate. Tentang mayat-mayat yang berserakan. Tentang darah yang mengalir seperti sungai.
Ketukan di pintu membuatnya tersentak.
"Ash, kau sudah bangun?" suara Eveline terdengar dari luar. "Razen bilang kita harus ke guild pagi ini. Ada yang perlu diurus."
"Iya, tunggu sebentar!" Ash bergegas ganti baju, mencuci muka dengan air dingin dari baskom. Airnya segar, membuat kepalanya lebih jernih.
Dia menatap cermin kecil di dinding. Wajahnya terlihat lebih tua dari dua bulan lalu saat pertama kali datang ke dunia ini. Mata lebih lelah. Ada bayangan di bawahnya yang tidak hilang meski dia tidur delapan jam semalam.
"Ayo cepat atau aku tinggal," ancam Eveline dari luar.
Ash buru buru keluar.
---
Pagi di Vairlion terasa seperti mimpi yang aneh.
Jalan jalan ramai dengan pedagang yang teriak menawarkan barang. Anak-anak berlarian mengejar satu sama lain sambil tertawa. Adventurer duduk santai di depan tavern, minum ale meski baru jam delapan pagi, ngobrol keras tentang quest kemarin.
Tidak ada yang terlihat seperti baru selamat dari perang.
Tidak ada yang tahu bahwa di perbatasan, ratusan orang baru saja mati.
Ash berjalan di samping Eveline dan Razen, melewati pasar pagi yang penuh warna. Bau roti segar bercampur dengan aroma daging panggang. Penjual ikan teriak dengan suara parau. Kucing gemuk tidur di atas tong kayu.
Kehidupan normal.
Ash hampir lupa bagaimana rasanya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Eveline sambil melirik ke arahnya. Matanya tajam seperti biasa, tapi ada kekhawatiran di sana.
"Iya. Cuma... belum terbiasa," jawab Ash. "Terlalu tenang."
Razen tertawa pahit. "Aku mengerti. Setelah pertempuran besar, dunia normal terasa... aneh. Seperti ada yang salah meski tidak ada yang salah."
"Berapa lama sampai terbiasa lagi?"
"Beberapa minggu. Mungkin sebulan." Razen menatap pasar dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Atau mungkin tidak pernah. Tergantung orangnya."
Eveline tidak berkomentar, tapi tangannya sedikit lebih dekat ke belati yang tersembunyi di pinggangnya. Kebiasaan. Selalu siap untuk ancaman yang bisa datang kapan saja.
Mereka sampai di guild.
Vairlion Adventurer's Guild sama ramainya seperti biasa. Papan quest penuh dengan kertas kertas penugasan. Adventurer berkerumun di depan counter, komplain tentang bayaran atau bertanya detail quest. Resepsionis melayani dengan sabar meski kelihatan lelah.
"Ayo," ucap Razen sambil mengangguk ke arah papan quest. "Kita butuh quest ringan untuk readjust. Jangan ambil yang terlalu berat dulu."
Ash mendekati papan, matanya scan kertas kertas itu.
Quest F-rank: Kumpulkan 10 Sky Herb di bukit utara. Bayaran: 20 copper.
Quest E-rank: Basmi wolf pack di hutan barat. Bayaran: 1 silver.
Quest F-rank: Bersihkan basement toko Gunther dari slime. Bayaran: 15 copper.
Ash menatap quest terakhir itu. Slime. Monster tier paling rendah. Mudah. Tidak berbahaya.
Tapi ada sesuatu di kepalanya yang berteriak. Sesuatu yang bilang "ini terlalu mudah, pasti ada jebakan, pasti ada yang salah".
Dia menggeleng keras, mencoba usir pikiran itu.
Ini cuma slime. Bukan ksatria LightOrder. Bukan monster Class S. Cuma slime bodoh yang bergerak lambat dan bisa dibunuh dengan batu.
"Aku ambil yang ini," ucap Ash sambil melepas kertas quest basement.
Razen mengerutkan kening. "Quest F-rank? Kau yakin? Kau sudah rank C."
"Aku butuh yang ringan. Untuk... penyesuaian."
Eveline menatapnya lama, lalu mengangguk. "Aku ikut. Untuk jaga jaga."
"Aku juga," tambah Razen. "Kalian berdua masih trauma. Aku tidak mau ada yang panik dan ledakkan setengah kota."
Ash tertawa kecil meski tidak sepenuhnya lucu. "Aku tidak akan panik karena slime."
"Kita lihat saja," ucap Razen sambil berjalan ke counter untuk register quest.
---
Toko Gunther adalah toko alat pertanian di distrik timur. Pemiliknya, seorang pria gemuk paruh baya dengan kumis tebal, menyambut mereka dengan sumringah
"Oh syukurlah ada yang ambil quest ini!" ucap Gunther sambil menyeka keringat di dahinya. "Slime di basement sudah berkembang biak! Sekarang ada belasan! Mereka makan semua persediaan gandumku"
"Tenang pak, kami akan bersihkan," ucap Razen dengan nada menenangkan. "Berapa lama slime itu sudah di sana?"
"Sekitar dua minggu. Awalnya cuma satu atau dua. Tapi sekarang... sekarang aku tidak berani turun lagi." Gunther membuka pintu basement yang ada di belakang toko. "Hati-hati ya. Basement gelap dan licin."
Ash menatap tangga kayu yang turun ke kegelapan. Bau lembab naik dari bawah.
Dadanya sesak lagi.
Basement gelap. Seperti kereta saat Fort Silvergate di mana mereka bersembunyi dari kesatrian Varnhold. udara busuk Seperti benteng di mana dia menemukan tentara Lunaria yang terluka parah, mengerang minta tolong tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ash?" suara Eveline membuatnya sadar. "Kau mau turun atau tidak?"
"Ya. Ya, aku turun." Ash menarik napas dalam dan mulai turun tangga.
Basement memang gelap. Hanya sedikit cahaya dari celah celah papan lantai di atas. Razen menyalakan torch, memberikan penerangan.
Dan di sana, di sudut sudut basement, puluhan slime bergerak lambat. Tubuh mereka seperti jelly hijau yang transparan, tidak berbahaya, hanya makan gandum yang berserakan.
Slime biasa.
Tapi entah kenapa, Ash merasa seperti sedang menghadapi monster raksasa.
Tangannya bergetar sedikit saat dia mulai kumpulkan mana.
"Tenang," bisik Eveline di sampingnya. "Ini cuma slime. Kau bisa lakukan ini."
Ash mengangguk. Dia membentuk bola api kecil di tangannya. Cuma bola api kecil. Untuk slime.
Tapi saat dia lempar bola api itu...
BOOM!
Ledakan jauh lebih besar dari yang seharusnya. Api menyambar ke segala arah, membakar tidak hanya slime tapi juga tumpukan gandum, dinding kayu, dan bahkan langit-langit basement.
Razen berteriak. Eveline menarik Ash mundur cepat.
Api mulai merambat. Asap hitam memenuhi basement.
"KELUAR! SEKARANG!" teriak Razen sambil mendorong mereka berdua ke tangga.
Mereka berlari naik, batuk batuk karena asap. Gunther di atas berteriak panic.
"APA YANG TERJADI?! KENAPA ADA ASAP?!"
"AMBIL AIR! CEPAT!" Razen sudah berlari ke sumur di belakang toko, mengambil ember.
Butuh sepuluh menit untuk padamkan api. Saat selesai, basement Gunther hangus. Gandum habis terbakar. Dinding penuh jelaga. Slime memang mati semua, tapi dengan collateral damage yang... berlebihan.
Gunther menatap basement-nya dengan wajah pucat. Lalu menatap Ash dengan mata lebar.
"K... kau bilang cuma basmi slime..."
"Maaf pak," ucap Ash dengan suara kecil. "Aku... aku tidak sengaja..."
Razen menghela napas panjang. "Kami akan bayar ganti rugi. Berapa kerugiannya?"
Setelah negosiasi panjang dan menyakitkan, mereka harus bayar 3 silver untuk ganti rugi gandum dan perbaikan basement. Quest-nya cuma bayar 15 copper.
Rugi besar.
Mereka keluar dari toko Gunther dengan wajah lesu.
"Itu..." mulai Razen sambil menatap Ash. "Itu kenapa kau berlebihan. Kau pakai sihir berbahaya padahal lawannya cuma slime."
"Aku tahu! Aku cuma... aku tidak bisa kontrol!" Ash frustasi dengan dirinya sendiri. "Di kepalaku, aku tahu itu cuma slime. Tapi tubuhku bereaksi seperti sedang menghadapi monster raksasa!"
Eveline tiba-tiba tertawa.
Ash dan Razen menoleh ke arahnya dengan terkejut.
Eveline tertawa. Bukan senyum kecil. Bukan cuma sudut bibir terangkat. Tapi tertawa beneran. Suara keluar, bahu bergetar, mata sedikit berkaca karena terlalu kena lucu.
"Kau..." Eveline mencoba bicara tapi masih tertawa. "Kau ledakkan basement... karena slime..."
Ash menatapnya, lalu mulai tersenyum meski masih merasa bodoh.
Razen juga ikut tersenyum. "Ini pertama kalinya aku lihat adventurer rank C kalah dari slime."
"Aku tidak kalah! Slime-nya mati!"
"Basement-nya juga mati," tambah Eveline sambil masih tertawa.
Dan entah kenapa, Ash juga mulai tertawa. Tertawa karena absurditas situasi. Tertawa karena setelah seminggu penuh melihat kematian dan kehancuran, dia akhirnya bisa tertawa lagi karena hal bodoh seperti ini.
Mereka bertiga berdiri di jalan, tertawa seperti orang gila, sementara orang orang di sekitar menatap mereka aneh.
Tapi Ash tidak peduli.
Untuk pertama kalinya sejak Fort Silvergate, dadanya terasa sedikit lebih ringan.
---
Malam hari, Ash duduk sendirian di balkon kamarnya, menatang kota Vairlion yang mulai sepi. Lampu-lampu menyala di jendela jendela. Suara hiruk pikuk pasar sudah digantikan dengan ketenangan malam.
Dia menatap tangannya. Tangan yang tadi pagi hampir membakar habis basement karena overthinking. Tangan yang di Fort Silvergate membunuh tentara Varnhold.
Tangan yang masih gemetar kadang-kadang tanpa alasan jelas.
"Trauma itu normal."
Ash menoleh. Razen berdiri di ambang pintu balkon, membawa dua cangkir ale.
"Boleh aku duduk?"
"Tentu."
Razen duduk di sampingnya, memberikan satu cangkir ke Ash. Mereka minum dalam diam sebentar.
"Aku dulu sama sepertimu," ucap Razen akhirnya. "Setelah pertempuran pertama di LightOrder, aku tidak bisa tidur selama seminggu. Setiap kali tutup mata, aku lihat wajah-wajah orang yang kubunuh. Setiap kali dengar suara keras, aku langsung ambil pedang."
"Lalu bagaimana kau... mengatasinya?"
"Waktu. Dan terima bahwa aku tidak akan pernah jadi seperti dulu lagi." Razen menatap ale-nya. "Orang yang pernah lihat perang, pernah membunuh, pernah melihat teman mati... mereka berubah. Itu tidak bisa dihindari. Yang bisa kita lakukan adalah... belajar hidup dengan perubahan itu."
"Aku tidak mau jadi monster."
"Kau tidak akan. Selama kau masih punya orang yang kau sayang. Selama kau masih bisa tertawa karena hal bodoh seperti meledakkan basement." Razen tersenyum kecil. "Monster itu yang tidak merasa apa-apa lagi. Kau masih merasa. Itu bagus."
Ash menatap kota lagi. "Terima kasih, Razen."
"Sama-sama. Sekarang tidur. Besok kita coba quest lagi. Yang lebih mudah. Mungkin kumpulin bunga atau semacamnya."
Razen berdiri dan masuk ke kamar.
Ash duduk sedikit lebih lama, menikmati angin malam yang sejuk.
Di suatu tempat, di atap bangunan seberang, seseorang mengamatinya.
Sosok kecil dengan jubah hitam. Anak laki-laki yang terlihat sekitar sepuluh tahun. Dia duduk santai di tepi atap, kaki menggantung, menatap Ash dengan mata yang terlalu tua untuk usianya.
Di tangannya, sebuah jam saku tua berdetak pelan.
Anak itu tersenyum kecil.
"Selamat datang kembali, Ash," bisiknya pada diri sendiri. "Pelan-pelan. Perlahan tapi pasti. Mau tak mau. Takdirmu sudah di tetapkan."
Lalu dia berdiri dan menghilang ke dalam bayangan, seperti tidak pernah ada.
Ash tidak melihatnya. Dia sudah masuk ke kamar dan menutup pintu balkon.
Malam berlanjut dengan tenang.
Tapi di kegelapan, roda-roda takdir mulai berputar.
Dan perang yang lebih besar menunggu di cakrawala.
kalau bisa crazy up thor🤭🤭🤭