"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"
Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".
Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.
Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.
"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."
Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: RUNTUHNYA PILAR ADIWANGSA
BAB 33: RUNTUHNYA PILAR ADIWANGSA
Dinginnya apartemen rahasia itu seolah membeku saat wajah Elvan muncul di monitor CCTV. Elvan—sosok yang selama sepuluh tahun ini menjadi tameng hidup bagi Alana, orang yang rela menghancurkan siapa pun demi adiknya—kini berdiri berdampingan dengan Bastian dan unit Mawar Putih.
Alana merasa dunianya terbalik. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak, napasnya tersengal seolah oksigen di ruangan itu telah berubah menjadi racun.
"Kenapa, Kak Elvan?" bisik Alana pada layar monitor, suaranya nyaris hilang. "Kenapa Kakak tega?"
Di monitor, Elvan tampak menghela napas panjang. Wajahnya tidak terlihat gembira; ada lingkaran hitam di bawah matanya, menunjukkan bahwa ia juga tidak tidur. "Alana, kau harus mengerti. Adiwangsa Group sedang di ambang kehancuran. Wilhelm dan Tuan Besar Dirgantara telah memblokir semua aset kita di seluruh dunia. Ribuan karyawan kita akan kehilangan pekerjaan, dan keluarga kita akan dipenjara karena kasus pencucian uang yang mereka susun untuk menjebak kita."
"Jadi Kakak menukarku dengan perusahaan?!" teriak Alana ke arah interkom.
"Bukan cuma perusahaan, Alana!" suara Bima tiba-tiba terdengar dari belakang Elvan. Bima, si kakak ketiga yang merupakan komandan pasukan elit, muncul dengan seragam taktisnya. "Mereka menyandera istri dan anak-anakku! Mereka mengancam akan mengirimkan kepala keluargaku jika aku tidak membantunya membawamu kembali ke laboratorium!"
Satu per satu, wajah kakak-kakaknya muncul. Arya dan Gio juga ada di sana, menunduk dengan rasa bersalah yang amat dalam. Hanya Satya yang masih berada di samping Alana di dalam apartemen, namun Satya sendiri kini tampak pucat.
"Al..." Satya berbisik, tangannya yang memegang laptop bergetar. "Aku baru saja menemukan data baru. Ternyata... kita berenam bukan saudara kandungmu, Alana."
Alana menoleh dengan patah-patah. "Apa maksudmu, Kak Satya?"
"Ayah kita, Tuan Adiwangsa yang lama, mengadopsi kita berenam dari panti asuhan yang berbeda-beda hanya untuk satu tujuan: Menjadi pelindung bagi 'Aset Roseline'—yaitu kau. Kita dididik, dibiayai, dan dijadikan konglomerat hanya untuk menjadi pengawal pribadimu," Satya menjelaskan dengan suara serak. "Dan sekarang, saat 'pemilik' aslimu—Tuan Besar Dirgantara—meminta asetnya kembali, kakak-kakak kita merasa kontrak mereka sudah selesai. Mereka lebih memilih menyelamatkan diri dan keluarga kecil mereka sendiri daripada mati demi 'aset' yang bukan darah daging mereka."
Suasana di Luar Apartemen – Pengepungan Total.
Elvan memegang pengeras suara, suaranya menggema di lorong gedung apartemen yang sepi. "Alana! Keluar sekarang! Tuan Besar Dirgantara berjanji tidak akan menyakitimu jika kau kooperatif. Dia hanya ingin melakukan prosedur pemurnian serum. Kau akan tetap hidup, Al! Kau akan tetap menjadi adik kami!"
"PEMBOHONG!" teriak Kenzo dari samping Alana. Kenzo meraih pistolnya, meski tubuhnya masih bersimbah darah. "Ayahku tidak akan membiarkannya hidup setelah serum itu diambil! Dia akan melenyapkan Alana agar rahasia tentang hubungan darah mereka tidak pernah terungkap!"
Kenzo menatap Alana dengan tatapan yang sangat menyakitkan. Jika benar mereka adalah saudara tiri, maka cinta mereka adalah sebuah dosa besar. Namun, di saat yang sama, Kenzo tahu bahwa hanya dia satu-satunya orang yang tidak akan mengkhianati Alana malam ini.
"Alana, dengarkan aku," Kenzo memegang kedua bahu Alana. "Kakak-kakakmu telah menyerah pada rasa takut mereka. Tapi aku... meskipun seluruh dunia memanggilku anak haram atau saudaramu, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu."
Tiba-tiba, pintu apartemen didobrak dari luar. Bukan oleh unit Mawar Putih, melainkan oleh Gio, si kakak bungsu yang paling dekat dengan Alana. Gio masuk dengan wajah penuh air mata, memegang sebuah alat suntik bius.
"Maafkan aku, Al... aku tidak punya pilihan. Mereka memegang nyawa tunanganku," isak Gio sambil merangkak maju.
"Jangan mendekat, Gio!" Kenzo mengarahkan senjatanya.
"Kenzo, jangan tembak dia!" Alana menghalangi Kenzo. "Dia kakakku!"
"Dia bukan kakakmu lagi, Alana! Dia adalah pengkhianat!"
Dalam kekacauan itu, Siska—yang sedari tadi diam di pojok—tiba-tiba bergerak secepat kilat. Ia merebut alat suntik bius dari tangan Gio dan menusukkannya ke leher Gio sendiri!
"Dasar lemah!" maki Siska. "Keluarga Adiwangsa ternyata isinya cuma pengecut!"
Siska menoleh ke arah Alana dan Kenzo. "Kita harus keluar lewat jalur pembuangan sampah! Aku tahu gedung ini. Raka sering menggunakannya untuk menyelundupkan barang-barang haram. Cepat, sebelum Elvan meledakkan pintu depan!"
Pelarian di Jalur Bawah Tanah.
Alana, Kenzo, dan Satya (yang akhirnya memilih tetap setia pada Alana karena ia merasa Alana adalah satu-satunya keluarga aslinya) berlari menyusuri lorong bawah tanah yang gelap dan bau. Di belakang mereka, terdengar langkah sepatu bot unit Mawar Putih yang dipimpin oleh Elvan dan Bima.
"Kenapa Kak Satya tidak ikut mereka?" tanya Alana di tengah napasnya yang memburu.
Satya tersenyum pahit sambil terus mengetik di tabletnya untuk meretas pintu keluar. "Karena aku yang paling tahu rahasia ibu kita, Elena Roseline. Alana, kau bukan anak Tuan Besar Dirgantara. Itu adalah dokumen palsu yang dibuat Bastian untuk menghancurkan mentalmu agar kau menyerah!"
Alana berhenti mendadak. "Apa?!"
"Bastian bekerja sama dengan Wilhelm untuk memalsukan tes DNA itu!" Satya menunjukkan layar tabletnya. "Kau tetap seorang Von Heist murni. Tuan Besar Dirgantara hanya ingin kau percaya bahwa kalian sedarah agar kau tidak punya alasan untuk mencintai Kenzo lagi. Mereka ingin menghancurkan sumber kekuatanmu... yaitu cintamu pada Kenzo."
Kenzo merasa beban berat di pundaknya terangkat seketika. Ia menarik Alana ke dalam pelukan singkat yang sangat intens. "Kau dengar itu? Kita bukan saudara. Mereka hanya ingin mematahkan hatimu."
Namun, kelegaan itu hanya bertahan sedetik. Sebuah lampu sorot raksasa tiba-tiba menyala dari ujung terowongan, membutakan pandangan mereka.
Di sana, berdiri Elvan dengan wajah yang sangat dingin, memegang senapan runduk. Di sampingnya adalah Wilhelm von Heist yang baru saja mendarat dengan helikopter pribadi di area tersebut.
"Permainan selesai, Alana," suara Elvan terdengar sangat berbeda, sangat hampa. "Serahkan dirimu, atau aku akan menembak Kenzo tepat di jantungnya."
Alana melangkah maju, keluar dari bayangan. Ia menatap Elvan, kakak yang dulu selalu menggendongnya saat ia menangis. "Jika Kakak ingin membawaku, Kakak harus membunuhku dulu. Karena aku lebih baik mati sebagai seorang Adiwangsa yang bebas, daripada hidup sebagai budak Von Heist."
Alana kemudian mengambil sebuah granat asap dari sabuk taktis Satya. "Kenzo, Satya, Siska... lari ke arah dermaga. Biar aku yang menghadapi 'kakak-kakakku' ini."
"Alana, tidak!" teriak Kenzo.
Tapi Alana sudah menarik pin granat itu. Asap putih tebal memenuhi terowongan. Di tengah kepulan asap, Alana berteriak, "KAK ELVAN! JIKA KAU INGIN DARAHKU, DATANG DAN AMBIL SENDIRI!"
Malam itu, Alana bukan lagi mawar yang dijaga. Ia adalah badai yang akan meruntuhkan pilar-pilar Adiwangsa yang telah berkhianat padanya. Perang saudara yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan Alana tidak akan lagi memberikan ampunan.