Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.
Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.
Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.11
Kantin yang tadinya riuh oleh suara sendok, tawa, dan ocehan mahasiswa kini memiliki dua pusat perhatian, meski hanya satu yang sadar akan hal itu. Riuh rendah yang biasanya menjadi latar tetap berjalan seperti biasa. Dentingan sendok yang beradu dengan mangkuk, bunyi kursi yang diseret tanpa permintaan maaf, suara seseorang memanggil temannya dari ujung ruangan, hingga aroma gorengan yang bercampur dengan minuman dingin dan makanan kampus yang tidak pernah benar-benar berubah rasanya. Semua bergerak dalam ritme yang sudah terlalu akrab bagi siapa pun yang sering menghabiskan jam kosong di sana. Namun hari itu, ada sesuatu yang bergeser. Bukan secara kasat mata, Bukan sesuatu yang bisa ditunjuk dengan jari atau dijelaskan dengan satu kalimat sederhana. Melainkan sesuatu yang terasa seperti perubahan arah angin yang hanya disadari oleh orang-orang tertentu.
Di satu sisi, meja panjang dekat jendela masih dipenuhi Ryn Moa, Namjoon, dan geng kecilnya yang belum juga kehabisan energi. Tawa mereka sesekali lebih keras dari meja lain, seolah dunia di sekitar mereka tidak memiliki alasan untuk bersikap pelan. Cahaya matahari masuk dari jendela besar di samping meja itu, jatuh tepat di atas rambut Ryn Moa yang diikat setengah, memantulkan kilau lembut setiap kali ia menunduk atau menoleh. Namjoon duduk berhadapan dengannya, posturnya santai, punggung bersandar ringan ke kursi, satu tangan menopang dagu. Ia mendengarkan, benar-benar mendengarkan, bukan sekadar mengangguk sambil menunggu giliran bicara. Sesekali ia tersenyum kecil, bukan senyum yang dibuat-buat, melainkan senyum yang muncul karena sesuatu yang dikatakan Ryn Moa memang menarik atau menghibur.
Di sisi lain, tiga pemuda yang duduk beberapa meja dari sana perlahan-lahan kehilangan fokus pada makanan mereka. Sendok masih di tangan. Gelas masih di dekat bibir. Tapi perhatian mereka sudah berpindah, seperti jarum kompas yang tiba-tiba berbelok arah. Bukan karena rasanya tidak enak, Melainkan karena satu nama dan satu wajah. Taehyung awalnya hanya ingin minum, Itu saja. Ia datang ke kantin dengan niat sederhana, mengisi perut sebelum kelas berikutnya. Tidak ada rencana, tidak ada ekspektasi, tidak ada alasan khusus untuk berlama-lama. Kantin baginya hanyalah tempat singgah, bukan tujuan. Tangannya sudah hampir mengangkat gelas, ketika matanya tanpa sengaja melirik ke arah yang tidak ia rencanakan.
Gerakan itu begitu alami, hampir refleks seperti tubuhnya sudah lebih dulu tahu ke mana harus melihat, bahkan sebelum pikirannya sempat memutuskan dan berhenti. Taehyung mengangkat alis ketika melihat Ryn duduk bersama Namjoon. Bukan karena pemandangannya aneh. Justru karena terlalu… tidak terduga. Ryn Moa, gadis yang sering ia lihat mondar-mandir dengan ekspresi setengah gugup, setengah berani, kini duduk tenang di depan Namjoon, senior yang dikenal sedikit dingin dan jarang terlihat di tengah keramaian.
Ada sesuatu yang tidak sinkron di kepalanya. Seperti potongan puzzle yang tiba-tiba tidak cocok dengan gambar yang selama ini ia bayangkan, meski ia sendiri tidak sadar bahwa ia sudah membentuk gambaran itu sejak awal.
“Eh,” gumamnya.“Itu bukan… Ryn Moa?”
Nada suaranya rendah, lebih seperti bicara pada diri sendiri daripada bertanya. Ia tidak berniat menarik perhatian siapa pun. Bahkan jika Jungkook dan Jimin tidak menjawab pun, ia mungkin akan tetap menatap ke arah yang sama, mencoba memahami perasaan ganjil yang tiba-tiba muncul. Jungkook yang sedang asyik men-scroll ponsel otomatis menoleh mengikuti arah pandangan Taehyung. Kebiasaan lama, jika Taehyung berhenti bicara atau menatap terlalu lama ke satu arah, biasanya ada sesuatu yang menarik di sana. Jungkook mengangguk.
“Iya. Sama Namjoon hyung.”
Jawaban itu datang terlalu cepat, seolah fakta tersebut sudah jelas bagi semua orang, kecuali Taehyung. Jungkook bahkan tidak menambahkan apa pun, tidak merasa perlu menjelaskan lebih lanjut. Baginya, itu hanyalah satu pemandangan biasa di antara banyak dinamika kampus yang ia lihat setiap hari. Jimin yang sejak tadi sibuk mengaduk minumannya ikut menoleh. Matanya menyipit sedikit, mengamati dengan lebih serius. Tidak seperti Jungkook yang cenderung melihat segalanya sebagai bahan candaan, Jimin punya kebiasaan membaca suasana, terutama suasana hati orang-orang di sekitarnya.
“Wah… mereka kelihatan dekat.”
Kata dekat diucapkannya santai, tapi entah kenapa, Taehyung merasa ada sesuatu yang bergeser di dadanya. Bukan rasa sakit, bukan pula ketidaknyamanan yang jelas. Namun lebih seperti tarikan halus yang nyaris tidak terasa, tapi cukup untuk membuatnya menyadari bahwa perhatiannya sudah terjerat di sana. Ia tidak langsung menjawab. Tidak juga mengalihkan pandangan. Taehyung menatap lebih lama, Ada sedikit… rasa aneh.
Aneh yang tidak bisa ia beri nama. Bukan cemburu, terlalu dini untuk itu. Bukan kesal, bukan pula iri. Lebih seperti rasa ingin tahu yang muncul tiba-tiba, tanpa izin. Ryn Moa tertawa di sana. Bukan tawa kecil yang sopan, tapi tawa lepas dengan bahu yang sedikit terangkat, wajah cerah, tangan menutup mulut karena malu. Namjoon terlihat mendengarkan, sesekali menunduk sambil tersenyum. Ada keakraban yang tidak berisik, tidak mencolok. Namun justru itu yang membuatnya terasa nyata. Taehyung tidak sadar bahwa bibirnya ikut bergerak.
“Dia lucu ya,” katanya lirih.
Kalimat itu keluar begitu saja. Tidak direncanakan sebelumnya serta tidak disaring. Jimin menoleh cepat, nyaris menjatuhkan sendoknya. Reaksi spontan itu bahkan membuat Jungkook mengangkat kepala lagi dari ponselnya.
“Siapa? Ryn Moa?”. Ucap Jimin .
Taehyung tersadar sedikit terlambat. Seperti seseorang yang baru menyadari bahwa ia berbicara terlalu keras di tengah ruang yang seharusnya sunyi, Ia mengangguk pelan.
“Iya.”
Hening sepersekian detik tercipta di meja mereka. Bukan hening yang canggung, melainkan hening yang penuh makna, jenis keheningan yang biasanya menjadi awal dari ejekan atau candaan. Lalu, Jungkook langsung cengengesan.
“Woaahh hyung… hati-hati. Itu calon rebutannya J-Hope hyung.”
Nada Jungkook penuh godaan. Senyumnya lebar. Matanya berbinar seperti baru menemukan hiburan baru. Ia tidak bermaksud jahat, hanya terlalu menikmati kemungkinan drama kecil yang mungkin akan muncul. Taehyung menghela napas kecil, lalu tertawa ringan.Taehyung hanya tertawa kecil. Tawa yang terdengar santai, seolah tidak ada apa-apa yang perlu dipikirkan lebih lanjut. Seolah kalimat barusan hanyalah komentar iseng yang tidak memiliki arti apa pun. Tapi matanya tetap tertuju pada Ryn Moa. Tidak peduli bahwa Jungkook kembali ke ponselnya. Tidak peduli bahwa Jimin mulai membahas jadwal latihan. Pandangannya masih tertahan di meja itu. Ada sesuatu di sana, rasa penasaran, rasa tertarik. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, apalagi akui.
...⭐⭐⭐...
Sementara itu, beberapa meter dari kantin, dekat tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua, berdiri seseorang yang sudah terlalu lama terbiasa memperhatikan tanpa disadari. Seseorang yang senyumnya biasanya paling terang. Langkahnya terhenti, pandangan matanya terarah pada satu titik yang sama dengan Taehyung, namun dengan perasaan yang jauh lebih rumit.
J-Hope berdiri dengan tangan di saku jaket, posturnya santai seperti biasa. Namun jika diperhatikan lebih dekat, bahunya sedikit turun. Senyumnya tidak selebar biasanya. Matanya mengikuti gerak Ryn Moa. Cara Ryn Moa menunduk malu, cara ia tertawa, cara ia terlihat nyaman dan siapa yang duduk di depannya.
Dia menatap Ryn Moa dan Namjoon dari jauh. Tidak mendekat, tidak menyapa hanya melihat saja. Netra hangatnya redup sedikit seperti lampu yang diturunkan cahayanya agar tidak terlalu silau, atau agar tidak terlalu terasa sakit. J-Hope menghela napas pelan.
“…Jadi kamu sukanya Taehyung,” gumamnya dengan nada pelan.
Kalimat itu tidak ditujukan pada siapa pun. Hanya pada dirinya sendiri. Ia sudah lama menyadari tatapan Ryn Moa pada Taehyung. Cara gadis itu sering terlihat gugup ketika Taehyung lewat, bahkan cara namanya disebut dengan nada berbeda. Namun pandangan J-Hope kembali pada Namjoon dan Ryn Moa.
“Tapi kenapa… kalian berdua terlihat cocok?”
Ada kebingungan di sana. Ada keikhlasan yang belum matang. Ada perasaan yang belum tahu harus berdiri di mana. Dia tersenyum getir, bukan senyum palsu, bukan juga senyum marah. Lebih seperti senyum seseorang yang paham bahwa tidak semua hal bisa ia miliki, meski ia sudah datang lebih dulu. J-Hope memalingkan wajahnya dan pergi tanpa suara. Langkahnya ringan, hampir tak terdengar seperti kebiasaannya. Namun kali ini, ada sesuatu yang tertinggal di belakang. Perasaan, pertanyaan, dan satu cerita yang perlahan mulai berubah arah.
...⭐⭐⭐⭐...
Bersambung....