Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Mona diam sejenak lalu tersenyum, senyum yang membuat hatiku semakin tak tenang.
“Gini saja, Rania… kamu ikuti saja permainan Monika. Sampai kamu berhasil mendapatkan harta dari Bram.”
Aku terdiam. Jantungku berdetak tak karuan. Saran itu terdengar kejam… tapi juga masuk akal.
“Maksud kamu… aku harus pura-pura baik sama dia?” tanyaku lirih.
Mona mengangguk pelan. “Kamu lagi hamil, Rania. Kamu harus mikir masa depan anakmu. Mas Bram itu suamimu secara sah. Kamu punya hak. Kalau Monika mau tinggal serumah dan pasang wajah malaikat di depan Bram, ya kamu juga bisa.”
Aku menggigit bibir bawahku. Selama ini aku hanya mengikuti perasaan. Terluka, marah, cemburu. Tapi mungkin benar kata Mona… aku harus mulai berpikir dengan kepala dingin.
“Monika itu licik,” lanjut Mona. “Dia gak mungkin datang tanpa tujuan. Jangan jadi korban terus. Sekali-sekali kamu yang pegang kendali.”
--
Perkataannya menancap dalam di pikiranku.
Aku pulang dengan langkah pelan. Di sepanjang perjalanan, bayangan senyum manis Monika terlintas di kepala. Sikapnya yang lembut di depan Mas Bram, tapi berubah tajam saat hanya ada aku dan dia.
Sesampainya di rumah, suara tawa terdengar dari ruang tengah.
“Mas, tambah lagi ya sayurnya,” suara Monika terdengar lembut.
Aku menarik napas panjang, lalu masuk dengan wajah setenang mungkin.
Mas Bram menoleh. “Rania, kamu dari mana?”
“Aku dari rumah Mona, Mas,” jawabku pelan.
Monika menoleh padaku dan tersenyum manis. “Rania, sini duduk. Aku sengaja masak kesukaan Mas Bram.”
Dulu, hatiku pasti sudah panas melihat adegan itu. Tapi kali ini tidak.
Aku tersenyum. “Wah, terima kasih, Kak Monika. Baik sekali ya masih perhatian sama madu kamu.”
Kalimatku terdengar lembut, tapi menyisakan makna.
Monika sempat terdiam sesaat, sebelum kembali tersenyum tipis. Mas Bram tampak tak menyadari apa pun.
Aku duduk di sebelah Mas Bram, lalu dengan pelan memegang tangannya.
“Mas, besok kontrol kandungan ya? Kata dokter, usia kandunganku sudah masuk bulan yang penting. Aku butuh Mas.”
Aku menatapnya penuh harap.
Wajah Mas Bram langsung berubah. “Tentu, Rania. Kamu dan bayi kita lebih penting.”
Aku bisa melihat senyum Monika yang mulai memudar.
Dalam hati aku berbisik, ini baru permulaan.
Kalau Monika ingin bermain, maka aku juga akan bermain.
Tapi kali ini, aku tidak akan kalah.
Monika dengan anggun mengambilkan nasi dan lauk pauk ke piring Mas Bram. Tangannya bergerak pelan, seolah ingin menunjukkan betapa perhatian dan lembutnya dirinya.
“Aku suapin ya, Mas,” ucapnya manja.
Tanpa menunggu jawaban, ia benar-benar menyuapkan nasi itu ke mulut Mas Bram.
Suasana meja makan seketika terasa canggung.
Biasanya… dadaku sudah terasa panas. Tanganku mungkin sudah gemetar menahan emosi. Tapi kali ini tidak.
Aku justru tersenyum.
“Nah gitu dong, romantis,” seruku ringan sambil menopang dagu dengan tangan.
Monika sedikit tersentak. Mungkin ia berharap melihat wajahku memerah karena cemburu. Tapi yang ia dapat justru senyuman santai.
Mas Bram terlihat kikuk. “Rania, ini cuma—”
“Gak apa-apa, Mas,” potongku lembut. “Aku senang kok lihat Mas bahagia.”
Kalimatku terdengar tulus… meski di baliknya ada rencana yang mulai tersusun rapi.
Aku mengambil segelas air dan meminumnya pelan, menatap mereka tanpa beban. Justru aku yang terlihat paling tenang di meja itu.
Monika kembali menyuapi Mas Bram, tapi kali ini gerakannya tak lagi seanggun tadi. Ada kegelisahan yang tak bisa ia sembunyikan.
“Oh iya, Mas,” ucapku santai. “Tadi siang aku sempat telepon pengacara yang dulu bantu urus berkas pernikahan kita.”
Sendok di tangan Monika berhenti.
“Berkas apa?” tanya Mas Bram heran.
Aku tersenyum tipis. “Cuma memastikan saja, Mas. Soal hak istri dan hak anak yang dikandung secara sah itu bagaimana. Biar nanti gak salah paham.”
Wajah Monika langsung berubah tegang.
Mas Bram menatapku dalam. “Rania, kamu kenapa tiba-tiba bahas begitu?”
Aku mengangkat bahu. “Gak kenapa-kenapa. Aku cuma belajar jadi istri yang lebih dewasa. Kata Mona, perempuan itu harus pintar menjaga masa depannya.”
Nama itu membuat Monika tampak makin tak nyaman.
Aku berdiri pelan dari kursiku. “Lanjutkan saja makan romantisnya ya. Aku ke kamar dulu, capek.”
Langkahku ringan meninggalkan mereka.
Di balik pintu kamar, aku tersenyum kecil.
Benar kata Mona… permainan ini bukan tentang siapa yang paling manja.
Tapi siapa yang paling sabar… dan paling siap menang.
Tok tok.
“Masuk,” seruku pelan, masih duduk di tepi ranjang.
Kupikir Mas Bram yang datang. Tapi saat pintu terbuka, yang masuk justru Monika.
Ia melangkah masuk dengan tenang, lalu menutup pintu kamar di belakangnya. Bunyi klik kunci terasa begitu jelas di telingaku.
“Aku kira Mas Bram,” seruku datar.
Monika tersenyum sinis. “Tidak mungkin dia tidur denganmu.”
Aku berdiri perlahan, menatapnya tanpa gentar. “Benarkah?” sinisku tak kalah tajam.
Wajahnya berubah keras. “Aku gak mau basa-basi! Apa maksud kamu bilang seperti itu tadi di meja makan?”
Aku melipat tangan di dada. “Maksud yang mana?”
“Jangan pura-pura polos, Rania! Soal hak istri sah, soal pengacara! Kamu mau ancam aku?”
Aku tertawa kecil, tapi tanpa rasa takut. “Hak aku dong. Aku juga kan istrinya Mas Bram. Apa salahnya coba?”
Monika mendekat satu langkah. “Kamu itu cuma istri kedua.”
Aku tersenyum tipis. “Tapi tetap istri yang sah. Ada buku nikah, ada saksi, ada hukum yang ngakuin.”
Monika mengepalkan tangan. “Kamu pikir aku takut?”
“Harusnya sih iya,” jawabku ringan. “Karena kalau aku mau, aku bisa bikin semuanya jadi lebih rumit dari yang kamu bayangin.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat keraguan di matanya.
“Kamu berubah, Rania,” ucapnya pelan.
“Aku cuma belajar,” sahutku. “Selama ini aku terlalu baik. Terlalu diam. Dan kamu manfaatin itu.”
Suasana kamar terasa menekan.
“Kamu mau apa sebenarnya?” tanyanya akhirnya.
“Aku cuma mau hak aku dihargai. Aku hamil anak Mas Bram. Dan aku gak akan mundur.”
Monika menatap perutku sekilas, lalu kembali menatapku tajam.
“Kita lihat saja nanti,” gumamnya sebelum berbalik membuka pintu.
Sebelum keluar, ia berhenti sejenak.
“Jangan terlalu percaya diri.”
Aku tersenyum tenang.
“Jangan terlalu meremehkanku.”
Pintu tertutup.
Keesokan paginya, aku sengaja tidak buru-buru bangun. Padahal biasanya sebelum matahari tinggi, aku sudah lebih dulu ke dapur.
Hari ini tidak.
Aku tetap berbaring, menatap langit-langit kamar sambil menunggu.
Tok tok.
Benar saja.
“Rania! Udah siang! Sejak kapan kamu jadi pemalas seperti ini?” suara Mas Bram terdengar dari balik pintu.
Aku tersenyum kecil.
“Tunggu sebentar, Mas,” seruku dengan nada setenang mungkin.
Aku turun dari kasur dengan santai. Tidak terburu-buru. Tidak panik. Kubetulkan rambutku sekilas, lalu membuka pintu.
Mas Bram berdiri di depan dengan wajah kurang senang.
“Kamu gak masak? Monika juga nunggu kamu di bawah,” katanya.
Aku mengerutkan kening tipis. “Kenapa harus aku yang masak?”
Mas Bram tampak terdiam sesaat. “Kamu kan biasanya—”
“Biasanya,” potongku lembut, “aku lagi hamil besar, Mas. Dokter juga bilang aku gak boleh terlalu capek.”
Aku sengaja menekankan kalimat itu.
Wajah Mas Bram sedikit berubah. “Tapi rumah ini tetap harus diurus.”
Aku tersenyum kecil. “Iya. Makanya aku pikir, karena sekarang kita tinggal bertiga… ya bagi tugas lah. Kak Monika juga kan istri Mas.”
Kalimatku terdengar ringan, tapi jelas maksudnya.
Dari arah tangga, terdengar suara langkah.
Monika muncul dengan wajah yang sulit ditebak. “Gak apa-apa, Mas. Aku tadi sudah bikin sarapan.”
Aku menoleh padanya. “Wah, baik sekali ya. Terima kasih, Kak.”
Nada suaraku tulus… terlalu tulus bahkan.
Mas Bram menatap kami bergantian, seolah merasakan sesuatu yang berbeda.
Aku memegang perutku pelan. “Mas, aku pusing sedikit. Boleh ya habis sarapan nanti kita ke dokter? Sekalian cek kandungan.”
Sekali lagi aku memposisikan diri sebagai prioritas.
Mas Bram langsung mengangguk. “Iya, nanti kita pergi.”
Monika terdiam.
Aku melangkah melewati mereka dengan tenang menuju kamar mandi.
Di balik sikap santai dan malas yang kubuat hari ini, ada pesan yang ingin kutegaskan.
Aku bukan lagi Rania yang hanya diam dan menanggung semuanya.
Kalau Monika mau menunjukkan dirinya sebagai istri yang sempurna di dapur… silakan.
Aku akan menunjukkan bahwa posisiku jauh lebih tak tergantikan.
*****