NovelToon NovelToon
Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa / Komedi / Slice of Life / Urban
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Roda Nasib yang Berderit

Pagi setelah kebakaran itu tidak diawali dengan aroma kopi yang nikmat, melainkan bau sangit yang menusuk hidung. Namun, sebelum matahari benar-benar tinggi, kejutan besar sudah menunggu di depan kedai yang menghitam itu.

Sebuah mobil patroli polisi datang. Bukan untuk menyegel kedai Gia, melainkan untuk menjemput bukti. Rian, dengan ketenangan yang luar biasa, menyerahkan kartu memori dari kamera sensor geraknya kepada pihak berwajib.

"Pastikan rekaman di detik ke-45 tidak terlewat, Pak. Wajah pelakunya sangat jelas di sana," ujar Rian datar, sambil melirik ke arah jalan raya di mana ia tahu Niko mungkin sedang menunggu berita kemenangannya.

Gia berdiri di samping Rian, tangannya masih menggenggam erat sapu yang ia gunakan untuk membersihkan sisa abu. "Apakah ini akan cukup, Rian?"

Rian menoleh, memberikan senyum tipis yang menenangkan. "Di mata hukum, bukti digital yang valid itu sulit dibantah, Gia. Apalagi ditambah saksi mata dari warga desa yang melihat mobil itu mondar-mandir semalam. Niko terlalu sombong, dia pikir dia tak tersentuh di desa kecil ini."

Sementara itu, di sebuah vila mewah yang disewanya di pinggiran kabupaten, Niko sedang bersulang dengan segelas wine mahal. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, merasa puas. Ia yakin, setelah kebakaran itu, Gia akan datang merangkak padanya, memohon untuk dibawa pergi dari kemiskinan dan ketakutan.

Tok! Tok! Tok!

"Masuk! Apa beritanya sudah menyebar?" teriak Niko tanpa menoleh.

Pintu terbuka, namun bukan suara asistennya yang terdengar, melainkan suara berat dan tegas. "Tuan Niko Mahendra? Kami dari kepolisian resor. Anda kami tahan atas dugaan sabotase, pembakaran dengan sengaja, dan percobaan penghilangan nyawa."

Gelas di tangan Niko jatuh, pecah berkeping-keping di lantai marmer. Isinya yang merah pekat meresap ke dalam karpet, persis seperti api yang semalam ia sulut. "Apa? Kalian gila?! Kalian tahu siapa ayahku? Ini pasti kesalahan! Si kuli bangunan itu pasti memfitnahku!"

"Kami memiliki bukti rekaman video yang sangat jelas, Tuan. Silakan ikut kami sekarang, atau kami terpaksa menggunakan kekerasan," tegas petugas polisi itu sambil mengeluarkan borgol yang berkilat dingin.

Niko diseret keluar dengan tangan terikat di belakang punggung. Wajahnya yang biasanya angkuh kini dipenuhi ketakutan dan kehinaan. Tidak ada jas mahal yang bisa melindunginya dari dinginnya logam borgol itu.

Kembali di kedai, suasana haru biru menyelimuti halaman. Tanpa ada yang menyuruh, warga desa datang kembali. Kali ini mereka tidak membawa ember, melainkan membawa kayu, paku, cat, dan makanan.

"Gia, jangan sedih ya. Kami semua bantu bangun lagi. Suami saya tukang kayu, dia bilang kayu jati di gudang kami bisa dipakai buat bikin meja baru," ujar Mbak Siska sambil menyodorkan sebungkus nasi rames untuk Gia.

Gia tidak bisa menahan air matanya. "Terima kasih, Mbak. Terima kasih semuanya..."

Rian, yang tangannya masih diperban, tampak sibuk mengatur para pemuda desa. Ia tidak lagi bicara dengan bahasa "tukang utang", tapi benar-benar seperti seorang arsitek senior yang sedang memimpin proyek mercusuar.

"Kita akan buat konsepnya lebih terbuka," Rian menjelaskan pada Pak Jaya sambil menunjuk bagian atap yang hangus. "Kita gunakan sisa kayu yang masih kuat, tapi kita beri sentuhan industrial. Biarkan bekas apinya tetap terlihat sedikit di beberapa sudut sebagai pengingat, bahwa kedai ini pernah diuji tapi tidak mati."

Gia mendekati Rian, memperhatikan pria itu bekerja. "Rian, kamu nggak istirahat? Tanganmu luka."

Rian berhenti sejenak, menatap Gia dengan mata yang lelah tapi berbinar. "Gia, membangun ulang sesuatu yang hancur itu obat paling mujarab buat luka. Dulu, aku nggak punya kesempatan buat bangun ulang namaku di Jakarta. Tapi di sini, bersama kamu... aku ngerasa setiap paku yang aku tancapkan adalah langkah baru buat hidupku."

Gia tersenyum, lalu ia mengambil kuas cat. "Kalau gitu, biarkan aku yang cat bagian depannya. Aku mau warnanya hangat, seperti senja di warung kopi kita dulu."

Di tengah kesibukan itu, Rian tiba-tiba mendekat dan berbisik di telinga Gia. "Setelah kedai ini berdiri lagi, ada satu hal yang mau aku lakuin, Gia."

"Apa?"

"Aku mau ke Jakarta. Bukan untuk sembunyi lagi, tapi untuk ambil kembali hakku dan bersihin namaku. Dan aku mau... kamu ikut di sampingku. Bukan sebagai manajer pemasaran, tapi sebagai alasan kenapa aku harus menang."

Gia terpaku. Kalimat itu terasa lebih manis dari kopi karamel manapun yang pernah ia buat. Ia menatap Rian, pria berbaju flanel yang kini tampak lebih gagah dari CEO manapun di Jakarta.

"Aku ikut, Rian. Ke manapun, asal ada kopinya," jawab Gia mantap.

Pengerjaan kedai dimulai dengan semangat baru. Di antara deru gergaji dan ketukan palu, rahasia-rahasia lama perlahan menguap bersama asap sisa kebakaran. Mereka tahu, perjalanan ke Jakarta tidak akan mudah. Niko mungkin sudah ditangkap, tapi "naga" yang lebih besar—ayah Niko—pasti tidak akan tinggal diam.

Namun bagi Gia dan Rian, jika mereka bisa selamat dari api semalam, mereka percaya mereka bisa selamat dari badai apapun yang menunggu di depan sana.

1
Satri Eka Yandri
penasaran pov gia wktu di kota,di fitnah apa yah?
Sefna Wati: ayo baca bab selanjutnya kak
biar GK penasaran waktu gia di kota kenapa difitnah🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!